Cerpen Bagus Sulistio (Rakyat Sultra, 09 Desember 2019)

Sebutir Nasi ilustrasi Istimewa
Sebutir Nasi ilustrasi Istimewa

Hampir lima tahun hidupku tidak ada yang berubah. Hidupku seperti itu-itu saja. Semakin hari semakin melarat. Untuk makan sehari sekali saja harus berangkat pagi pulang petang. Sebelum berangkat kerja, di pagi buta aku harus dengan air dingin. Di tempat kerja, siang hari aku harus mandi dengan peluh tubuh. Pulang kerja, sore hari mandi lagi dengan air dingin. Setiap saat aku selalu mandi, tapi tetap saja tubuh fisikku jelek, dekil tak sedap dipandang.

Aku bekerja di sebuah perkebunan sawit. Banyak yang bekerja di kebun sawit ini. Kebun luas membuat kami harus membagi lahan pekerjaan Walaupun kebun itu rimbun, matahari tetap saja menembus tubuhku. Tentu hitam legam kulitku ini karena panasnya matahari itu.

“Nasibmu malang sekali. Sudah hampir kepala empat tapi belum juga punya istri.” Semacam itulah ucapan-ucapan teman kerja di ladang ketika waktu luang. Cemoohan selalu terlempar bebas dari mulut mereka. Mereka pikir aku ini sebuah robot yang tidak punya hati. Yang bebas diejek sepuas hati.

Aku tahu mereka adalah orang-orang yang berkecukupan. Gaji hasil berkebun sawit cukup membuat dapur mengepul. Istri-istri mereka di rumah sangat ramah ketika mereka pulang. Anak-anak mereka pun bakal girang sambil memegang jajanan warung. Sebenarnya aku sangat bisa seperti mereka. Sayangnya hutang-hutang ini belum terlunasi sehingga aku harus melarat lagi.

Dulu keluargaku orang yang berada. Bahkan kami menjadi salah satu keluarga yang dikatakan kaya dan mempunyai kebun sawit. Kebun sawit tempatku bekerja ini dulunya adalah milik bapakku. Sebelum bapakku menjualnya dan aku bekerja di sini. Hidup memang rumit.

Aku menyesal telah melanggar pantangan itu. Kalau saja aku menuruti perkataan ibu tidak mungkin aku hidup seperti ini. Terkadang aku ingin sekali bunuh diri karena bosan dengan kehidupan. Tapi aku juga tidak mau menyelesaikan pantangan dengan pantangan lain; bunuh diri adalah pantangan yang harus dihindari menurut nenek moyangku. Aku percaya adanya alam lain. Jika aku bunuh diri, pasti di alam lain aku akan lebih menderita. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Karma atas pantangan yang dulu aku lakukan harus kuhadapi. Kutukan ini pasti ada akhirnya, tinggal sabar saja yang perlu kuperbuat.

“Apakah ada acara untuk menghilangkan kutukan ini?” Aku selalu bertanya kepada orang-orang tua dan orang-orang pintar di daerahku tapi tidak ada jawaban pasti dari mereka. Jawaban yang mereka ucapkan terkadang hanya membuat aku semakin putus asa. Tapi ada salah satu orang memberikan jawaban yang membuatku semangat. Jawaban itu datang dari kepala suku.

“Kamu harus selalu berbuat baik terhadap sesama. Itu satu-satunya cara menghilangkan kutukanmu,” jelasnya.

Sejak menerima wejangan dari kepala suku aku semakin gencar berbuat baik. Sebagian hasil kerja kubagi tiga, sepertiga untuk membayar hutang keluarga, sepertiga untuk orang yang lebih melarat dariku dan sepertiga lagi untuk perutku. Hal tersebut aku lakukan selama beberapa bulan dan hasilnya tetap sama. Aku tetap bernasib malang.

Ketika aku sendiri sering kali bayangan masa lalu menghampiri. Aku teringat kejadian itu. Kejadian sepele berdampak besar terhadap hidupku.

***

“Kalau makan habiskan. Jangan selalu menyisakan makanan. Tidak baik!” Bentak Ibu.

“Aku sudah kenyang, Bu.”

“Makanya kalau ambil nasi itu secukupnya. Jangan terlalu bernafsu.”

Sering kali aku berdebat dengan ibu perihal nasi yang tidak aku habiskan. Entah mengapa ibu sangat geram terhadapku ketika menyisakan secuil nasi di piring. Ia sering kali mengatakan hal yang tidak-tidak kalau aku melakukan hal itu.

Bagiku nasi secuil itu tidak ada hubungannya dengan apa yang dikatakan ibu. Bahkan semua yang terucap tidak masuk akal. Tapi ia tetap sering mengancamku tentang kemiskinan, kemalangan, atau kemelaratan sebab nasi yang tidak habis.

Pernah sekal i aku sengaja menyisakan setengah piring nasi. Aku hanya memakan setengah piringnya lagi hanya untuk memancing kemarahan Ibu. Apakah Ibu akan marah atau ia telah bosan memarahi anaknya? Ternyata dugaanku benar. Ia marah semarah-marahnya. Cacian dan makian keluar dari mulutnya. Aku tidak merasa sakit hati, karena aku sudah siap menghadapi ocehannya. Tapi diam dan tertunduk adalah tindakanku untuk menghormatinya sebagai Ibuku.

“Kamu tahu tidak? Kalau ayahmu meninggal karena nasi yang tersisa olehmu bagaimana?”

Aku terkejut dengan ucapan Ibu. Bagaimana ia bisa mengucapkan hal buruk itu. Apakah ia tidak tahu apa yang diucapkan bisa jadi doa?

“Ibu tidak mendoakan hal buruk itu. Tapi apa yang kau lakukan itu ‘pamali’,” jelasnya dengan nada yang mulai menurun.

Untuk menghindari kemarahan ibu yang mungkin bisa memuncak kembali, aku pergi dari rumah. Mengasingkan diri ke dalam hutan. Kebetulan rumahku tidak terlalu jauh dari hutan. Aku pun sering bermain di sana bersama teman-teman. Hutan yang lebat, membuat aku dan teman-teman betah bermain ke sana. Tapi sekarang aku tidak ingin bermain, hanya ingin merenung dan memikirkan apakah ucapan Ibu benar atau tidak. Terkadang ada rasa takut terhadap ucapan Ibu. Ada yang bilang kalau ucapan seorang Ibu sangat manjur. Tapi apakah mungkin dengan alasan yang tidak masuk akal ucapannya bisa terjadi?

Hari semakin sore, aku perlu pulang dan melihat keadaan Ibu. Kebetulan perut ini juga kosong. Harus ada sesuatu yang mengisinya. Hal itu hanya aku dapat di rumahku sendiri.

Baru saja kusampai jalan depan rumah, terlihat banyak orang berkumpul di halaman depan rumah. Sebuah bendera kertas kuning pun menempel di dekat pintu rumah. Aku berlari masuk ke dalam rumah. Betapa terkejutnya aku melihat jasad Ayah tergeletak kaku di atas ranjang bambu.

Ibu menangis menjadi-jadi di samping jasad Ayah. Aku berusaha mendekati jasadnya namun Ibu langsung menggertak, “ini salahmu. Coba saja kau habiskan nasimu. Pasti nasib kita tak begini.”

Aku semakin tidak paham apa yang dimaksud Ibu. Aku hanya bisa terdiam dan mencoba membantu mengurus jasad Ayah ini. Ibu masih saja meraung-raung menangisi meninggalnya Ayah.

Setelah kejadian itu, Ibu sering melamun. Tidak mau bekerja. Aku yang masih berusia tujuh tahun tentu belum bisa mencari nafkah untuk Ibu dan diriku sendiri. Alhasil kami menjual ladang warisan Ayah untuk makan setiap hari.

Semakin hari kondisi Ibu kian memburuk. Banyak tetangga bilang kalau Ibu sudah menjadi gila. Tapi aku tidak percaya terhadap mereka. Aku berusaha menjaga ibu di rumah dan jangan sampai ia lolos keluar rumah. Ketika ia keluar rumah sering kali ia merusak rumah bahkan kebun orang lain. Intinya ketika ia keluar rumah semua menjadi runyam urusan. Karena segala kerusakan yang buat Ibu harus diganti sedangkan kami tidak punya uang untuk mengganti, maka berhutang menjadi jalan satu-satunya.

“Ibu, Ibu kenapa seperti ini,” gumamku ketika melihat ibu duduk sambil menangis sendiri.

Kegilaan Ibu tidak berlangsung lama, hanya berlangsung tiga bulan. Kegilaannya terhenti karena menyusul Ayah ke alam sana. Entah apa alasannya membuatnya menyusul Ayah, aku tidak pasti. Yang jelas pagi itu aku menemukan Ibu badannya tergantung di kamarnya. Tidak ada wasiat bahkan warisan untukku. Hanya ada hutang yang ia tinggalkan untuk anak semata wayangnya ini.

 

Bagus Sulistio, lahir di Banjarnegara, 16 Agustus 2000. Berdomisili di Pondok Pesantren Al-Hidayah,Karangsuci, Purwokerto. Saat ini ia masih berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab dan bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto dan Komunitas Pembatas Buku Jakarta (KPBJ). Karyanya antologi cerpen, di antaranya Indah pada Waktunya (Jejak Publisher, 2018), Ya Allah Izinkan Kami Menjadi Birrul Walidain (Event 7 Pejuang Antologi, 2018) dan Retorik (Ellunar Publisher,2019). Karya lainnya tersiar di beberapa media cetak dan online.