Cerpen Sri Wintala Achmad (Kedaulatan Rakyat, 08 Desember 2019)

Status WA Terakhir ilustrasi Jos - Kedaulatan Rakyat
Status WA Terakhir ilustrasi Jos/Kedaulatan Rakyat 

MATAHARI November sudah terbenam. Darsini menyalakan lampu-lampu di rumahnya yang dibeli dari orang Betawi duapuluh tujuh tahun silam. Bila mengingat hasil usahanya dari berjualan tiwul ayu khas Gunungkidul di Jakarta itu dapat membeli rumah, ia merasa bangga.

Namun ketika menyadari kalau selalu tinggal sendirian di rumahnya yang cukup mewah sesudah suaminya meninggal tiga tahun silam, Darsini merasa sedih. Menikmati kekayaan tanpa seorang anak. Tanpa cucu-cucu yang bila bergurau tampak sangat lacu.

Lantaran kesepian di balik timbunan kekayaannya, Darsini mendambakan seorang pendamping. Lelaki yang bisa meramaikan ruang hatinya. Tempat mencurahkan sisasisa kemanjaannya. Berbagi gagasan hidup tentram di usia tua yang sebentar lagi tiba bersama Desember.

“Tuhan Maha Pemurah.” Darsini yang seolah menyaksikan kehadiran Tuhan itu memegang erat androidnya. Bahagia saat membaca pesan WhatsApp dari Darmaji. Seorang duda muda dari Gunungkidul yang bersedia menikahinya menjelang akhir Desember. “Tuhah berkatilah kami!”

Sungguh malam serasa dihiasi milyaran bintang. Hatinya berbunga-bunga seperti gadis ABG yang baru jatuh cinta. Hasratnya untuk tinggal bersama Darmaji di tanah kelahirannya bukan lagi mimpi indah di siang hari. Karenanya ia menjual rumah dan tanahnya di Jakarta. Uangnya ditransfer ke rekening Darmaji untuk dibelikan rumah mewah di Jalan YogyaWonosari.

Berbekal pakaian tiga koper dan uang sepuluh juta, Darsini naik plane dari Bandara Soekarno-Hatta ke Adi Sucipto. Dengan taksi, ia menuju Gunungkidul. Tempatnya tak jauh dari Taman Kuliner Wonosari. Tempat di mana Darmaji tinggal bersama ayahnya. Barjana, lelaki enampuluhan yang pensiunan guru.

Sesampai tujuan, Darsini heran. Dalam hati, ia bertanya, Ada apa dengan rumah Darmaji yang dikerumuni banyak orang?”

Sebelum mendapat jawaban yang gamblang, telinganya mendengar perkataan dari seorang tak dikenal di sebelahnya. “Darmaji bunuh diri semalam. Ia stress hingga menjadi hampiran pulung gantung. Stress berat sesudah kehilangan uang satu milyar di jalan sewaktu perjalanan pulang dari bank.”

Serasa disambar petir di musim kesembilan, Darsini pingsan di antara kerumunan banyak orang. Ia belum sadarkan diri sesudah pemakaman Darmaji. Ia baru tersadar ketika Barjana mengolesi balsam ke leher, tengkuk, perut, kedua telapak tangan, dan kedua telapak kakinya.

Darsini yang baru tersadar dari pingsannya menampar bibir Barjana yang akan mencium keningnya. Bangkit dari ranjang. “Jangan kurang ajar! Aku bukan perempuan murahan. Sungguhpun kekasihku telah mati bersama musnahnya kekayaanku, namun aku masih memiliki harga diri.”

“Apakah kau lupa denganku?”

“Tidak. Kau, Barjana. Lelaki brengsek yang memutus cintaku sesudah kau dinikahkan ayahmu dengan Surtini, anak juragan mebel. Lelaki yang membuat anak penjual tiwul ayu ini bertaruh nasib di Jakarta karena kemiskinannya.”

“Aku tidak sebrengsek yang kau kira, Dar.” Barjana menggenggam jari jemari Darsini erat-erat. “Aku ingin menebus kesalahanku denganmu di masa lalu. Aku ingin menebus kesalahan Darmaji anakku yang telah menghilangkan uangmu. Aku ingin menikahimu.”

Darsini melepaskan jari-jemarinya dari genggaman Barjana. Berdiri. Meninggalkan Barjana. Meninggalkan rumah yang masih beraroma bunga tabur dan kemenyan. Berjalan di bawah cahaya purnama. Bayangannya lenyap di balik tikungan jalan yang lengang kendaraan.

Barjana yang mengikuti Darsini kehilangan jejak. Sepulang di rumah sewaktu matahari awal Desember terbit, ia mendengar kabar dari orang-orang kalau Darsini bunuh diri di kuburan Darmaji seusai menulis status di WhatsApp, “Aku ingin hidup damai di surga di sisi kekasihku. Darmaji.” ❑-e

 

Taman Kuliner Wonosari, 1 Desember 2019