Cerpen Ricky A. Manik (Padang Ekspres, 08 Desember 2019)

Sirine-Sirine ilustrasi Orta - Padang Ekspres (1)
Sirine-Sirine ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

TAK ada cara lain, Dwi harus menggantikan peran suaminya sebagai periuk beras keluarga. Sejak suaminya dipecat dan mengalami kecelakaan, ekonomi keluarganya praktis ada di tangannya. Sebelum dipecat, suami Dwi bekerja sebagai sopir pada sebuah perusahaan instalasi listrik. Meskipun sebagai sopir, penghasilan suaminya tergolong lumayan karena sering mendapatkan uang dari bagi hasil sisa-sisa potongan kabel pada pemasangan listrik sebuah desa atau sisa uang bensin mobil yang berlebih. Jika sedang ada proyek, penghasilan suaminya membuat Dwi tersenyum manis.

“Tahi lalatmu itu adalah anugrah, Dwi. Diletakan di tempat yang tepat.” Rayu suaminya.

Kalau sudah mendengar rayuan suaminya begitu, Dwi paham. Tetapi dirinya seolah ingin menyangkal pernyataan suaminya itu. Mengapa tepat? Memangnya ada yang tak tepat di tempatnya? Tanya Dwi dalam hatinya.

“Tepat karena ketika dirimu tersenyum, ia memberikan kebahagiaan yang tak terkatakan. Dan, itu yang membuatku menjadi sehat dan bersemangat.” Jawab suaminya yang seolah dapat membaca pikirannya.

“Ah, rayuanmu mengada-ada.” Dwi menjawabnya dengan senyum genit mengulum.

Senyuman itu tentu saja membuat suaminya semakin tidak karuan. Rayuan berujung pada percumbuan disaat itu juga. Entah di dapur atau di ruang tamu. Keduanya bergelora dalam keringat yang menyatu.

Hari-hari mereka tata kehidupan rumah tangga dengan cara sederhana dan harmonis. Sejak memiliki momongan, mereka memutuskan untuk mengontrak sebuah bedeng. Awalnya semua tampak berjalan begitu baik. Namun setelah pemecatan dan kecelakaan itu kondisi kehidupan rumah tangga Dwi berubah. Dwi tak merasakan lagi kehangatan rayuan yang biasa dilontarkan suaminya. Kuyak malah gampang tersinggung dan kerap kalap. Padahal, Dwi cuma ingin suaminya tidak lagi nongkrong sampe larut malam dan mabuk-mabukan. Kalau sudah mabuk, Kuyak seringkali minta dilayani walaupun Dwi sudah tertidur lelap karena lelah seharian bekerja.

Memang, suaminya mendapat pesangon sewaktu dipecat dari pekerjaannya. Tetapi naas, ketika pulang suaminya menabrak seorang ibu yang sedang menyebrang. Suaminya mengalami patah kaki dan ibu itu sempat kritis selama 7 jam sebelum akhirnya meninggal dunia. Entah siapa yang lalai, yang jelas kejadian itu membuat Dwi harus menanggung biaya pengobatan suaminya dan pengobatan ibu itu. Untunglah keluarga ibu itu tidak menuntut apa-apa dari Dwi dan memaafkan suaminya.

***

Dari balik jendela kantor yang berkabut oleh hujan, Dwi melihat satu ranting pohon kering jatuh tertiup angin. Ia teringat akan anaknya yang berlarilari kecil sembari memegang ranting menuju ke arahnya, seolah memberi tahu bahwa ia menemukan sesuatu yang dianggapnya berharga. Ia tidak tahu mana yang berharga mana yang tidak, mana yang baik mana yang tidak baik, mana yang hitam mana yang putih, mana yang saya mana yang bukan saya. Baginya tak ada perbedaan. Dunia cuma satu, kebahagiaan. Pancaran wajah Dwi merindukan anaknya, merindukan dunia Cora, anaknya. Baginya, dunia Cora begitu membahagiakan, begitu satu ketika ibu mendekap dan memberikan susu disaat dingin dan haus. Tak ada realitas kehidupan yang menuntut begitu besar tanggung jawab. Cora hanya bermain, bermain, dan bermain.

Nguing-nguing-nguing!

Bunyi sirine mobil yang melintas di depan kantor memecah lamunan Dwi. Ia melompat dari tempat duduknya dan melihat mobil bersirine apa yang melintas. Hatinya lega, ternyata yang lewat mobil Patwal yang mengiringi mobil tahanan. Entah siapa yang ditahan hari itu. Begalkah, koruptorkah, pembakar hutankah, atau seorang guru agama yang melecehkan muridnya? Siapapun yang ada di dalam mobil tahanan itu, hati Dwi merasa tenteram karena bukan sesuatu yang selalu ia risaukan. Bagi Dwi, suara sirine mobil membuatnya sangat trauma.

Sudah dua minggu suaminya ditahan selepas dari rumah sakit. Masih membekas dalam ingatannya, mobil dengan suara sirine ini membawa suaminya setelah dinyatakan sembuh dari rumah sakit. Meskipun pihak keluarga korban telah memaafkan, namun proses hukum tetap berjalan. Suami Dwi ditahan selama satu tahun lima bulan. Selama penahanan suaminya itu, ia cuma tinggal berdua bersama Cora. Pagi jika hendak berangkat kerja ia harus menitipkan Cora kepada tetangganya dengan upah seperempat dari gajinya. Sisanya hanya bertahan dua minggu. Itu pun sudah sehemat-hematnya.

Gaji yang diterima sebagai pegawai honorer jelas tidak mencukupi. Setiap bulan ia juga harus memberi uang kepada suaminya. Terkadang suaminya memintanya untuk membawa makanan kesukaan Kuyak: patin tempoyak! (Nama Kuyak itu diambil dari kegemarannya meminum kuah gulai tempoyak sebelum makan. Nama Kuyak sebenarnya adalah Suryanto.) Agar kebutuhannya mencukupi, Dwi berjualan godok becinto selepas bekerja. Godok becinto terbuat dari pisang dan dilumuri kuah dari gula aren. Pisang ia dapatkan dari penjual sayur di dekat rumahnya yang ia titipkan setiap kali belanja. Dinamakan becinto karena kuah aren yang kental dan membuat lengket satu godok dengan godok yang lainnya. Setiap orang yang memakan godok becinto buatan Dwi merasa menemukan rasa cintanya yang kadang hilang. Dengan itu pula perasaan cinta Dwi kepada Kuyak tak pernah luntur.

Tambahan penghasilan dari penjualan godok becinto tetap tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup Dwi dan anaknya. Ia pun sudah harus menabung untuk membayar sewa kontrakan yang tidak berapa bulan lagi jatuh tempo. Namun tabungan itu pun selalu kandas agar bisa memenuhi kebutuhan Cora. Dwi selalu berusaha agar kebutuhan susu Cora mencukupi. Dwi ingin Cora menjadi anak yang pintar, bersekolah yang tinggi, punya pekerjaan yang mapan, memiliki suami yang sangat menyayanginya, dan tentu ke semua itu kelak dapat membanggakan dirinya. Harapan tetap harus digantungkan sekalipun berada di bibir jurang, begitu gumamnya setiap kali menghitung laba dari penjualan godok becinto.

***

Nguing-nguing-nguing-nguing!

Lagi-lagi Dwi terperanjat. Spontan ia keluar dari kantor hendak melihat mobil sirene apa yang melintas. Ternyata hanya iring-iringan Calon Presiden yang memulai masa kampanyenya, syukurlah, pikir Dwi. Mereka mengelilingi kota sebagai kosmetik politik mereka. Capres dan tim partai pengusungnya berdiri di sebuah mobil yang atapnya terbuka, melambaikan tangan sembari mengacungkan jari sebagai nomor urut pilihan. Ada tim sukses yang berorasi tentang program Capres dan mengkritik berbagai kelemahankelemahan program yang dilaksanakan oleh pemerintah sebelumnya. Pada iringan yang lain ada yang orang-orang yang berjoget-joget sembari mengacungkan jari. Dwi tak peduli dengan konvoi itu. Baginya siapapun yang terpilih tetap tidak akan mengubah nasibnya. Nasib yang bukan diinginkannya. Bekerja memenuhi kebutuhan keluarga karena suami yang dipenjara dan Cora yang harus dititipkan pada tetangga.

Dwi menginginkan dirinya menjadi ibu yang baik bagi Cora. Dwi tak ingin Cora senasib dengan dirinya yang sedari kecil telah ditinggal ibunya yang menikah lagi. Sementara ayah Dwi hilang saat melaut. Masa hidup Dwi dibesarkan oleh neneknya. Ia pun tak ingin Cora kehilangan kasih sayang dan pelukan hangat dirinya. Ia pun tak ingin Cora kehilangan panutan seorang ayah. Namun saat ini nasib Cora ternyata nyaris sama seperti dirinya, tak merasakan kehadiran ibu dan ayahnya.

Apakah Cora tau arti kekurangan? Barangkali ia tahu, tapi tidak memahaminya. Kelak, ibu akan menghabiskan waktu bersamamu. Bersabarlah, Cora, gumam Dwi lega karena bunyi sirine yang barusan lewat bukan mobil yang dikhawatirkannya. Bila jam istirahat kerja datang, ia selalu memilih pulang. Menemui Cora dan mengajaknya bermain sebentar sebelum kembali bekerja adalah kebahagiaan yang tak terkira. Paling tidak, hingga Cora pulas tertidur, ia meminta Iyas untuk kembali mengawasi Cora.

Nguing-nguing-nguing-nguing-nguing!

Dua buah mobil pemadam kebakaran melaju kencang. Sirinenya membuat kendaraan lain menepi memberi jalan. Kebakaran hebat sedang melanda sekitar sepuluh rumah. Penyebabnya adalah sebuah rumah yang selalu menimbun solar di rumahnya. Dua mobil tanki juga ludes dilahap api. Kebakaran terjadi begitu hebat karena banyak drum-drum berisi ratusan liter solar meledak dan menyebabkan api menyambar cepat ke berbagai tempat. Asap hitam tebal mengepul membumbung tinggi. Ketinggiannya hingga mencapai sepuluh meter lebih. Pohon-pohon yang ada di area sekitar juga habis terbakar. Pemadam kebakaran kesulitan melakukan pemadaman karena tempat kejadian begitu padat penduduk. Kesulitan ini membuat sepuluh rumah itu tak ada yang tersisa oleh api. Aroma solar merebak ke mana-mana. Pemiliknya dikabarkan kabur di saat kejadian.

Hari itu, Dwi sedang pergi berbelanja segala kebutuhan kantor. Setiap kali belanja hatinya resah. Ia selalu ingin berbelanja untuk menyenangkan hati Cora dan bahkan suaminya. Ia membayangkan membeli susu yang katanya mampu mencerdaskan anak. Ia membayangkan membeli mainan yang selalu membuat Cora tersenyum. Ia membayangkan ketika pulang dengan membawa penuh kantongkantong belanjaan sembari disambut oleh Cora dengan wajah riang di muka pintu rumah. Tapi yang dibelanjakan saat itu bukan buat Cora.

Perjalanan pulang menuju kantor selepas belanja, Dwi berpapasan dengan sebuah mobil ambulans yang melaju begitu kencang. Bunyi sirine tak membuat hatinya khawatir. Ia hanya menoleh ke ambulans itu hingga menjauh. Ditatapnya ambulans itu hingga kejauhan. Kemalangan memang bisa datang kapan saja, serupa pencuri, batinnya mengingat saat Kuyak menabrak seorang Ibu hingga meninggal. Ambulans itu sudah pasti selalu membawa kesedihan, entah kesedihan siapa. Kalau saja hati ini ibarat ambulans, pasti ia akan selalu berbunyi sepanjang waktu. Membawa kesedihan demi kesedihan.

***

Api baru bisa dipadamkan setelah beberapa jam. Akibat kejadian itu, ditemukan dua korban sambil berpelukkan di sebuah kamar mandi. Ambulans segera membawa kedua mayat itu untuk proses identifikasi. Tanpa proses otopsi, warga sekitar sudah tau siapa yang menjadi korban. Warga sudah mencoba menghubungi pihak keluarga dan bahkan ke tempat kerja keluarga korban, tetapi belum menemukannya.

Dwi mengambil gawainya dari dalam tas. Ia memeriksa dan melihat ada panggilan tak terjawab sebanyak 35 kali dari beberapa nomor yang berbeda dan beberapa pesan singkat. Dwi membuka dan membaca pesan yang pertama:

Mbak, cepat pulang, rumah kita kebakaran.

 

Jambi, 5 September 2019

Ricky A. Manik. Penulis lahir di Jambi dan bekerja di Kantor Bahasa Jambi dan saat ini sedang menyiapkan buku kumpulan cerpennya