Cerpen Anita Kencana Wati (Analisa, 08 Desember 2019)

Ngebet Viral ilustrasi Toni B - Analisa (1).jpg
Ngebet Viral ilustrasi Toni B/Analisa

AKSI joget Boy, Joni, Rio, Deni dan Rudi yang kocak membuat tamu di pesta ulang tahun Tini tak mampu menahan tawa. Lima sekawan itu memang sudah latihan dan mempersiapkan diri selama tiga hari untuk bisa tampil mengesankan.

Sorak-sorai pun terdengar agar lima sekawan itu terus melanjutkan jogetnya. Sorak-sorai dari kawan-kawan satu sekolah dengan Tini, yang juga satu sekolah dengan Boy, Joni, Rio, Deni dan Rudi. Tini memang mengundang sebagian besar kawan sekolahnya di pesta ulang tahunnya yang ketujuhbelas, malam itu.

Melihat aksi joget mereka mendapat sambutan meriah dari hadirin, Boy dan empat kawannya menjadi makin bersemangat. Tapi mereka juga mulai lupa diri. Mulai lupa etika dan sopan-santun.

Sambil berjoget, Joni usil menarik celana jins Boy yang agak longgar hingga melorot. Saat itu, terdengar suara tawa tamu yang merasa lucu melihat Boy yang nyengir mencoba menarik celananya yang melorot untuk bisa kembali berada di pinggulnya.

Baru sesaat celana jins Boy berada di pinggul, sudah ditarik lagi oleh Rio. Kembali jins Boy melorot. Tamu di pesta ulang tahun Tini kembali bersorak dan tertawa lucu melihat Boy yang lagi berjoget berusaha kembali menarik celananya berada di pinggul.

Merasa aksi joget mereka seperti itu menjadi tontonan yang lucu, lima sekawan itu makin terlena. Aksi joget dengan menarik celana jins Boy terus berlanjut. Joni, Rio, Deni dan Rudi bergantian menarik celana Boy yang hanya bisa nyengir menjadi objek keisengan empat kawannya. Sampai akhirnya lima sekawan itu merasa letih, serta melihat tamu di pesta ulang tahun Tini mulai berhenti tertawa.

Sementara di sudut ruangan pesta, Roni, kawan sekelas Boy, sudah selesai melaksanakan tugasnya merekam aksi joget Boy dan empat kawannya. Roni memang diminta Boy, Joni, Rio, Deni dan Rudi untuk merekam video aksi joget di pesta ulang tahun Tini.

“Bagaimana videonya, Ron?” tanya Boy mendatangi Roni di tempat duduknya.

“Ini, lihatlah sendiri!” Roni menyerahkan HP Boy yang digunakannya untuk merekam.

Boy pun dengan sigap mengambil HP-nya dari tangan Roni. Lalu menonton video penampilan jogetnya bersama Joni, Rio, Deni dan Rudi.

Boy tertawa ngakak. Dia memanggil Joni, Rio, Deni dan Rudi untuk menonton video itu. Lima sekawan itu sama-sama tertawa.

“Cepatlah unggah ke Youtube, biar viral!” ujar Joni.

“Iya, biar ngetop kita,” timpal Rio.

“Iya. Aku yakin banyak yang bakal nonton video kita ini,” kata Deni.

“Cepat, Boy. Tunggu apa lagi? Tujuan kita joget ‘kan memang untuk diunggah ke Youtube!” seru Rudi tak sabar.

“Oke. Sekarang kita unggah ya?” Boy pun mengunggah rekaman video joget mereka tadi.

Lima sekawan itu nampak sangat gembira. Mereka yakin, video joget itu akan viral, dan membuat mereka terkenal. Di zaman sekarang, menjadi viral memang merupakan obsesi banyak remaja, termasuk Boy, Joni, Rio, Deni dan Rudi.

Tapi paginya di sekolah, lima sekawan itu terkejut saat dipanggil ke ruangan guru Bimbingan Penyuluhan (BP).

“Ada apa ya? Kenapa kita dipanggil Pak Surya?” tanya Boy heran. Pak Surya merupakan guru BP di sekolah mereka.

“Memangnya kita bikin salah apa?” gumam Joni.

Sementara Rio, Deni dan Rudi hanya diam. Namun di mata ketiganya terpancar tanda tanya yang sama seperti pertanyaan yang dilontarkan Boy dan Joni.

Lima sekawan itu semakin heran saat Roni juga memasuki ruangan BP.

“Kamu juga dipanggil Pak Surya, Ron?” tanya Boy.

“Iya,” jawab Roni. Wajahnya nampak kesal. “Ini pasti gara-gara kalian memintaku merekam video joget semalam di pesta ulang tahun Tini!”

“Lho, apa yang salah dengan merekam video itu?” tanya Boy heran.

“Iya. Aku rasa pun tidak ada yang salah. Kami cuma berjoget!” sambut Rudi.

“Lagian, apa hubungannya video joget dengan sekolah? Kita melakukannya di luar jam sekolah. Tidak pakai baju sekolah,” timpal Rio merasa tak bersalah.

Tak lama, Pak Surya memasuki ruangan BP. Wajahnya kaku. Ia mengeluarkan HP dari saku bajunya. Lalu membuka aplikasi Youtube.

“Apakah kalian yang berjoget ini?” Pak Surya menunjukkan video joget Boy dan kawan-kawan.

Boy, Joni, Rio, Deni, dan Rudi mengangguk.

“Yang merekam video ini, siapa?” tanya Pak Surya lagi.

“Saya, Pak,” jawab Roni seraya menjelaskan bahwa dia disuruh Boy, Joni, Deni, Rio dan Rudi untuk merekamnya. Sebagai teman, Roni merasa sungkan menolak permintaan itu.

“Yang mengunggah video ini ke Youtube, siapa?” suara Pak Surya kembali terdengar.

“Saya, Pak. Tapi memang atas keinginan kami berlima,” sebut Boy.

“Kenapa diunggah ke Youtube?”

Boy, Joni, Deni, Rio dan Rudi terdiam.

“Kenapa tak ada yang mau menjawab?” volume suara Pak Surya meninggi.

“Maksudnya, supaya bisa viral, Pak,” sebut Boy jujur.

“Viral? Supaya kalian bisa terkenal, begitu?”

“Iya, Pak,” jawab Boy pelan.

“Kalian bangga bisa terkenal dengan joget yang seperti itu?” Pak Surya mendelikkan mata.

Boy, Joni, Deni, Rio dan Rudi tak menjawab. Namun di hati lima sekawan itu tidak terima jika video joget yang mereka unggah ke Youtube di pesta Tini dianggap sebagai masalah bagi sekolah. Apa urusannya dengan sekolah? Begitulah yang tebersit di hati mereka.

“Saya tahu apa yang ada di pikiran kalian! Kalian tidak terima video kalian ini dipermasalahkan oleh sekolah. Iya, kan?” tebak Pak Surya.

Boy, Joni, Deni, Rio dan Rudi terkejut. Bagaimana mungkin Pak Surya bisa menebak pikiran mereka?

“Saya bukan hanya bisa membaca pikiran kalian. Tapi juga isi hati kalian, dari mata kalian!”

Boy, Joni, Deni, Rio dan Rudi terkesiap. Ada rasa takut mendengar ucapan Pak Surya itu. Roni menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia mulai menyadari ada yang salah dalam video joget yang direkamnya itu. Kalau tidak ada yang salah, pastilah sekolah tidak akan mempermasalahkan.

“Kalian merasa video joget itu tidak ada hubungannya dengan sekolah, karena bukan jam sekolah dan saat itu kalian tidak memakai seragam sekolah. Iya, kan?!” tebak Pak Surya lagi.

Kembali lagi Boy, Deni, Rio, Joni dan Rudi terkejut. Tebakan Pak surya benar-benar jitu.

“Baiklah. Sekarang akan saya tunjukkan bagaimana video joget kalian itu telah membawa nama sekolah jadi ikut jelek,” sungut Pak Surya. Ia kembali mengambil HP-nya. Jemarinya kembali membuka aplikasi Youtube.

“Lihatlah! Video yang kalian unggah di Youtube sudah dibagi orang lain yang mengenal kalian berlima sebagai murid di sekolah ini!” Pak Surya menunjukkan video itu kepada Boy, Deni, Rio, Joni dan Rudi.

Mata Boy, Deni, Rio, Joni dan Rudi membesar membaca judul video joget mereka yang dibagi oleh seseorang dengan judul: Joget Tak Sopan Ala Murid SMA Matahari Terbit. Lalu beberapa komentar muncul dari video yang dibagi itu, membawa nama sekolah mereka. Komentar-komentar yang negatif, menuduh sekolah mereka tak mendidik muridnya dalam hal etika dan sopan-santun.

Boy, Joni, Rio, Deni dan Rudi terperangah. Lima sekawan itu baru sadar, bahwa maksud hati mereka yang ngebet viral justru menuai masalah. Hal yang tak pernah mereka bayangkan. Karena yang ada di benak lima sekawan itu, hanyalah bagaimana video joget mereka yang mereka anggap ‘kocak’ tersebut bisa viral. Tak ada niat untuk mempermalukan sekolah.

“Ini surat untuk orangtua kalian dari Kepala Sekolah. Tolong disampaikan. Besok pagi orangtua kalian ditunggu Kepala Sekolah!” Pak Surya menyerahkan surat tersebut kepada Boy, Joni, Rio, Deni, Rudi dan Roni.

Keenam murid SMA Matahari Terbit itu meninggalkan ruangan BP dengan wajah kuyu dan langkah yang lesu.

 

* September 2019