Cerpen Mufti Wibowo (Solo Pos, 08 Desember 2019)

Kudi Seca Mandrawangsa ilustrasi Hengki Irawan - Solo Pos (1)
Kudi Seca Mandrawangsa ilustrasi Hengki Irawan/Solo Pos

Bawor akhirnya merasakan sendiri apa yang pernah dialami Malin Kundang saat menerima undangan dari presiden untuk datang ke istana, tubuhnya mendadak kaku seperti batu. Ia bahkan tak bereaksi apa pun saat melihat istrinya pingsan di hadapannya saking bahagia sekaligus tak percayanya.

“Tak boleh ditawar lagi, kamu mesti pergi, Kang!”

Bawor seperti tak mendengar apa pun yang kata-kata yang berebut melompat-lompat dari mulut istrinya alih-alih terus memainkan asap dari kretek hasil utangan itu. Sejak hujan resmi mengakhiri musim kemarau beberapa hari ini, ia belum lagi men deres. Dia hanya masih menyimpan beberapa kilogram gula untuk toko pelanggan setianya, Babah Sin.

“Mungkin ini jawaban Tuhan sete lah berbagai penderitaan hidup yang ki ta alami, Kang,” kata istrinya dengan keharuan yang dilebih-lebihkan.

“Apa mungkin, Kiai Seca Mandrawangsa memintaku untuk membiarkan manggar-manggar untuk berbuah?” Bawor meragu.

“Kamu telah cukup menyadap nira dan mengolahnya menjadi gula. Kau juga perlu santan untuk membuat jenang, Kang.”

“Dari mana kau belajar bicara sepandai itu, Sri?” gurau Bawor sambil mencubit manja dagu istrinya yang indah itu.

“Telingamu lebih akrab dengan burung-burung yang membuat sarang di rimbun daun kelapa dan suara dari nira yang mendidih di atas kawah, sehingga kau baru tahu betapa indah kata-kata istrimu, Kang,” balas Sri yang bersikap sebel-sebel manja.

***

Malam itu, langit mempertunjukkan konfigurasi indah rasi bintang, tapi udara dinginnya tak sampai dirasakan ujung-ujung syaraf peraba Bawor yang tertahan di selasar rumahnya, ditemani segelas kopi yang hampir sedingin es dan bungkus kretek yang hanya menyisakan dua batang isinya.

“Hampir jam dua belas, Kang,” kata Sri yang menampakkan mukanya di mulut pintu seakan tak ingin membiarkan aroma parfumnya menguar ke mana-mana, ke sembarang hidung.

Bawor melirik ke arah istrinya yang bergenit-genit itu. “Kau cantik sekali, Sri. Apa kau mau pergi mengaj akku kondangan selarut ini.”

Sri mendadak memasang muka cemberut lalu membanting daun pintu sekeras-kerasnya memecah hening malam. Bawor segera lari berjingkat setelah mengingat ini adalah masa subur Sri setelah sepekan menstruasinya.

Terlambat, pintu kamar terkunci dari dalam. Bawor kembali keluar dengan tekad menghabiskan kreteknya sebelum benar-benar ingin tidur. Begitulah Sri, istri yang sangat dicintai Bawor. Sri lima belas tahun lebih muda usia darinya. Entah apa yang membuat Sri begitu tergila-gila kepada Bawor, penderes nira kelapa, sehingga memaksa-maksa ingin dikawini. Sudah lima tahun pernikahan, mereka belum juga dikaruniai anak. Biar begitu, rumah mereka selalu hangat, mengundang iri tetangga kanan-kiri.

Baru mengisap dua kali kretek yang baru dibakarnya, Sri muncul lagi. Kali ini, ia duduk di samping Bawor. Sri mengangkat gelas kopi suaminya lalu menyesapnya.

“Kok dihabiskan?” tanya Bawor heran.

“Ini sudah dingin, aku buatkan lagi yang baru ya?” tanpa persetujuan, Sri bergegas pergi.

Kurang dari lima menit kemudian, gelas kopinya kembali terisi penuh. Bawor tergiur dengan aroma harum yang menguar.

“Kalau kuminum kopi sebanyak ini, mana bisa aku tidur nanti?”

“Kalau kau berani tidur malam ini, aku akan pergi dari rumah ini, Kang,” tukas Sri senewen.

Menyadari kebodohannya, Bawor balas merayu, “Mana mungkin aku bisa tidur jika kau sedang cantik begini, Sri.”

Sri pergi dengan seulas wajah mero na kemerahan setelah sebuah kali mat ancaman mesra, “Takkan kubiarkan mulutmu yang bau tembakau itu menciumku malam ini!”

***

Sri membiarkan suaminya tidur hingga sarapannya masak. Aroma kopilah yang membangunkan Bawor sebelum kemudian mandi. Cukup siang jika ia akan memanjat pohon kelapa hari itu. Tapi, ia sudah memutuskan takkan mengambil nira karena curah hujan yang begitu tinggi. Ia memilih membiarkan nira dalam kaleng-kaleng penadahnya bercampur air hujan itu daripada mendapat komplen dari pelanggannya karena mutu gulanya yang jelek. Dia masih bisa mengerjakan beberapa hal lain untuk mengepulkan dapur Sri.

Tangan Bawor seketika gemetar sehingga kreteknya yang baru dibakar terjatuh ke lantai. Sri malah dibuat limbung; setengah tak sadarkan diri. Semua itu karena di hadapan mereka sekarang duduk seorang presiden yang dalam hitungan jam baru dilantik.

“Sampean itu gimana, saya undang ke istana kok enggak datang?”

“Saya tak enak hati, Pak.”

“Lho, kenapa?”

“Saya kemarin nyoblos gambar kotak sebelah Bapak.”

Tamu itu malah tertawa begitu lepas. “Semua orang juga tahu itu, Kang.”

“Lantas, untuk apa saya diundang ke istana?”

“Lho, kan istana bukan punya saya, siapa pun boleh datang selama tidak punya niat buruk.”

“Saya tak punya niat buruk, Pak. Sumpah!”

“Justru karena itu saya mengundang sampean, Kang.”

“Keperluan apa, Pak?”

“Saya dengar-dengar sampean kan punya senjata ampuh yang sampean peroleh setelah tirakat bertahun-tahun di kawah Slamet.”

“Kudi Seca Mandrawangsa, Pak,” urai Bawor sambil menunjukkan wujudnya kepada tamunya hanya tampak seperti kilatan cahaya keperakan yang menyilaukan.

“Jadi benar?” Wajah sang tamu berubah serius.”

“Dari mana Bapak tahu perihal itu?”

“Sesosok lelaki mendatangiku dalam mimpi tujuh malam berturut-turut.”

“Dia pasti sosok Kiai Seca Mandrawangsa.”

“Sampean juga tahu, gen tikus telah bermutasi dan menjadi resisten terhadap segala jenis hukum di negeri ini. Menurut sosok dalam mimpi itu, sampean dan Kudi Seca Mandrawangsa yang dapat membasmi tikus-tikus tamak itu.”

“Kudi Seca Mandrawangsa mungkin memiliki kekuatan itu, tapi tidak dengan saya yang tidak punya adat sebagaimana priyayi.”

“Lho, karena itu saya perlu datang kepada sampean.”

“Saya rela meminjamkan Kudi Seca Mandrawangsa untuk urusan segenting itu.”

“Saya tak berani lancang, sampean dan Kudi Seca Mandrawangsa sudah satu paket.”

“Baiklah, sejujurnya, saya pun sudah mendapat firasat itu. Beberapa malam terakhir, saya bermimpi, semua manggar yang sebelumnya saya deres menjadi buah kelapa hingga cangkangnya kehitaman yang berarti kaya santan.”

“Aku senang mendengarnya, kuanggap itu persetujuan. Terima kasih Kang Bawor. Tapi, sebelum saya pamit, bolehkan saya tahu mengapa kemarin sampean tak datang ke istana?”

“Baju putih lengan panjang yang datang bersama undangan itu terlalu kecil untuk membungkus perut saya, Pak,” jawab Bawor setengah cengengesan alih-alih mem perlihatkan perutnya yang cembung menyerupai Kudi Seca Mandrawangsa.

Sang tamu dan Bawor tertawa terpingkal-pingkal sehingga membangunkan Sri yang sejak semula pingsan.

***

Kurang dari sepekan kemudian, wajah Bawor muncul di istana. Dia tak memakai baju putih lengan panjang alih-alih mengenakan baju lengan panjang batik khas Banyumas dengan bawahan sarung berwarna putih polos serta alas kaki dari kayu; rambut panjangnya yang digelung rapi tersembunyi di balik peci hitam yang miring tak simetris.

Di depan kamera wartawan istana, membelakangi presiden dan menteri-menteri yang baru dilantik, Bawor berpidato dengan tangan mengacung-acungkan Kudi Seca Mandrawangsa yang menyilaukan semua mata. Bawor mengumbar optimisme bahwa Indonesia akan menjadi negara paling siap menghadapi potensi krisis pangan dunia terburuk sepanjang sejarah manusia, bahkan mengalahkan krisis pangan pada masa Yusuf di Mesir, sebab Indonesia telah mememukan sumber pangan baru, yaitu tikus-tikus serakah musuh negara.

Mendengar itu, semua orang di kompleks istana tertawa terpingkalpingkal, tak terkecuali beberapa yang terus sibuk menyembunyikan ekor dalam celana mereka sebelum sesi foto.

 

Mufti Wibowo. Penulis asal Purbalingga. Bergiat di Komunitas Bunga Pustaka.