Cerpen Maya Sandita (Singgalang, 08 Desember 2019)

Ketika Kepalamu Menjelma Jadi Batu dan Aku Ada di Situ ilustrasi SInggalang
Ketika Kepalamu Menjelma Jadi Batu dan Aku Ada di Situ ilustrasi SInggalang 

HARI-hari berlalu dalam lingkaran waktu yang anti toleran. Selalu diberinya bukti bahwa langkahnya tak pernah berhenti. Bisa kau lihat lewat matahari yang lahir dan berakhir dengan jingga. Atau dari mawar yang kau tanam tempo lalu dalam pot kecil di atas meja, kini sudah mulai merekah kelopaknya.

Lingkaran waktu terus berjalan, tidak cepat tidak pelan, hanya saja ia tak peduli denganmu yang tenggelam dalam kenangan-kenangan.

Aku di sampingmu, menjadi tempat bersandar dan jadi aliran air matamu. Aliran air mata yang berubah jadi katakata saat tangismu sudah reda. Maka menjelmalah aku jadi sesuatu sempurna yang akan memberimu segalagalanya. Pundakku untuk tempatmu bersandar, telingaku yang selalu setia mendengar, juga tangan yang selalu terbuka lebar, menenangkanmu dan coba mengalirkan rasa sabar.

Jika yang kau miliki adalah dendam dan sakit hati, aku punya penawar juga belati. Kau pilihlah mana yang menurutmu lebih berguna. Mengobati luka lebih utama atau kau lebih suka menikamkan senjata ke jantungnya. Tapi kau tidak memilih keduanya. Kau menangis saja. Memelukku lebih kuat dan isakmu terdengar lebih hebat.

Kukira ini bukan waktu yang tepat untuk mengajakmu berdebat bahwa seseorang yang kau tangisi sekarang bukanlah sesuatu yang istimewa juga indah. Jadi diamku mungkin cukup jadi hal terbaik, ditambah dengan mulut tertutup dan emosi yang kutahan agar tak semakin naik.

Kau bagiku sesuatu yang luar biasa dan tak pernah sederhana. Dalam tiap langkah kau seperti anak panah yang dengan fokus menuju ke satu arah. Tapi ketika kali ini kau jatuh, seketika saja otakmu yang lumpuh, tapi kakimu tetap berdiri dengan tangguh. Kerenyit keningku, aku tak paham padamu. Menyaksikan kau sekian lama jadi manusia beku yang tidak hangat lagi padaku, aku cemburu pada manusia itu. Keparat! Kau didekapnya rapat-rapat.

“Bagaimana dengan seluruh rasa yang kau punya sebelumnya? Sudah jadi makanan cacing dalam tanah atau masih di sana sebab kau belum kembali ke hati untuk berbenah?” aku bertanya ketika sesenggukanmu sedikit mereda.

Kau diam saja. Helaan napasmu terasa begitu sesak di dada.

Kuambil segelas air yang sudah sedari tadi kuletakkan di atas meja. Kuberikan padamu dan memintamu minum meski sedikit, “Ini ramuan penawar. Kau hanya kuberi ketika sakit. Di waktu lain, kau sendiri bisa mengambilnya dari mesin pemanas air di samping meja.”

Kau memukul bahuku pelan. Ah, tidak bertenaga seperti biasa. Dulu kau sudah suka memukulku dengan apa saja, terkadang buku sampai tas kerja yang kau bawa. Tidak peduli apa aku kesakitan dan mengaduh beberapa kali. Kau hanya tertawa seolah-olah aku ini mati rasa. Tapi aku suka. Setidaknya kau bahagia.

Tapi, kau, si bodoh yang menangis seperti air matamu tak akan habis. Dua pekan kau tak mau makan meski makanan kesukaanmu yang kubawakan. “Kenyang,” katamu. Kemudian kudengar cacing-cacing diperutmu seolah menabur genderang perang. Sementara tulang selangkamu menonjol dan wajahmu betul-betul terlihat tolol.

Aku masuk ke rumah. Ibumu membuatkan secangkir teh hangat dan ditaruh di sebuah meja bulat. Wajahmu pucat. Sempurna, kau betulbetul seperti orang sekarat.

“Kamu mau teh hangat juga?” tanya ibumu.

Kau tak mau.

Tubuhmu masih panas. Kulihat kau lemas bahkan tersiksa sekali untuk bernapas. Kau batuk beberapa kali. Kau tutup mulut dengan tisu yang satu bungkus besar kau taruh di atas lutut. Segera kau lipat, namun masih kau simpan di tanganmu dengan cukup rapat. Sesuatu merembes dari sana. Merah warnanya.

“Apa itu di dalam tisu?” tanyaku memburu.

Kau lihat sebentar lalu sadar bahwa ada sesuatu yang belum pernah jadi cerita, padaku, sahabatmu. Sampai hari ini, aku tak tahu kau kenapa.

“Oh, ini. Tadi… mmm, anu, eh…,” gumammu tidak jelas. Wajahmu makin pias.

“Batukmu berdarah? Kenapa?”

“Tidak. Aku hanya kurang minum, aku batuk, dan tenggorokanku luka. Itu saja.”

Aku masih belum percaya. Kuminta kau besok ke dokter untuk memeriksakan keadaan. Kau mengangguk lagi, seperti tempo hari. Tapi waktu itu kau hanya mau di kamarmu dan membatu. Menangisi sesuatu yang tak perlu.

Dua minggu itu berlalu dan aku beruntung masih bisa bertemu denganmu dalam tubuh yang masih utuh. Tidak rebah dan berdiri menginjak tanah. Meski kedua pipimu tak lagi tebal dan untuk menahan dingin-lemak di tanganmu tak lagi kebal.

Kau kemudian jadi seseorang yang lain.

Dalam bingkai cermin segilima, matamu merupa jendela yang pecah kacanya. Pandanganmu terlalu tajam dan sesekali sikapmu kulihat terlalu kejam. Kau melihat dan memperlakukan semua makhluk dengan sama sekali tak bijaksana. Kupikir kau gila. Lalu kau memilih mengurung diri, menutup pintu, dan kau kunci.

Aku memaksa masuk.

Kulihat dinding kamarmu penuh siasat perang. Suara desis radio yang kau biarkan menyala seperti intro pengganti tabuh dan genderang. Kau tak bicara. Hanya menatapku dan itu cukup jadi sebuah bahasa yang bermakna. Aku mencerna apa yang tertera, tanpa sadar aku seperti masuk dalam sebuah kepala. Kepala seorang wanita yang perlahan-lahan membatu dan aku ada di situ.

Keluar bukan suatu izin yang kau berikan padaku. Aku tak ingin memaksa. Seperti biasa, aku bahagia melakukan apa yang kau suka. Kucoba bisikkan kata-kata agar kau kembali jadi seseorang bijaksana dan luar biasa. Tapi kepalamu yang batu mengancam akan membunuhku. Kau tak butuh nasihatku.

Di sudut kepala kutemukan belati dengan sebuah nama.

“Obat penawar tak kunjung berikanku rasa ikhlas dan sabar. Dendam mesti kubayar,” pikirmu.

Aku di situ. Di dalam kepalamu. *

 

Batusangkar, 21 Mei 2019