Cerpen Andi Wanua Tangke (Fajar, 08 Desember 2019)

Kapten Kapal ilustrasi Syahrizal - Fajar
Kapten Kapal ilustrasi Syahrizal/Fajar 

SUDAH tiga hari berturut-turut kupu-kupu kuning itu mendatangi rumah seorang janda cantik. Namanya Hermina. Usianya 27 tahun. Lantaran wajahnya cantik—entah siapa yang memulai— sejak tiga tahun lalu, sejak dia berstatus janda, dia lebih dikenal dengan nama janda cantik. Panggilan itu bagi wanita memesona ini tak memprotesnya.

Buktinya kalau ada seorang lelaki yang menggodanya dengan memanggilnya janda cantik, dia membalasnya dengan senyum terkulum. Wanita ini menjanda bukan karena bercerai. Dia sangat mencintai suaminya yang berprofesi sebagai pelaut. Dia ikut kapal pengangkut batu bara di wilayah timur tengah, khususnya di negeri Dubai.  Biasanya sang suami–ketika berlayar–hanya kembali sekali dalam enam bulan.

Tiga tahun lalu terjadilah peristiwa yang tak mungkin dilupakan seumur hidupnya. Suaminya, Aminuddin, 33 tahun, dikabarkan hilang di tengah laut lepas. Ada yang mengatakan dia diculik oleh perompak. Ada juga yang mengatakan dia terjatuh saat terjangan ombak ganas menghantam kapalnya. Dan ada juga yang mengatakan dia bunuh diri dengan sengaja melompat ke laut.

Namun, menurut kapten kapal dan teman-temannya, lelaki pendiam ini tiba-tiba menghilang di saat kapal oleng untuk menyiasati hantaman ombak bak gunung itu. “Yang jelas tak satu pun awak kapal yang melihat Aminuddin  saat dia menghilang di kapal. Apakah dia jatuh ke laut atau sengaja melompat ke laut, kami tidak tahu. Pokoknya misteri. Tiba-tiba hilang,” kata sang kapten, Bambang, waktu itu.

Malam peristiwa itu sungguh mencekam, cerita sang kapten. Kapal sedang dimainkan ombak besar. Sebentar kapal oleng ke kiri, sebentar kapal oleng ke kanan. Kapal terus berjoget di tengah lautan lepas. Ombak bukan hanya memainkan kapal, tetapi juga menghantam dinding kapal. Satu hempasan gulungan ombak membuat air laut tumpah masuk ke kapal lewat jejeran lubang angin yang mirip jendela-jendela kecil itu. “Baru kali ini, sejak saya dipercaya sebagai kapten kapal lima tahun lalu, saya menghadapi tantangan yang mengerikan. Sungguh mengerikan. Bahkan saya berpikir, mungkin inilah akhir perjalanan saya di laut. Bayangan saya, setelah kapal tenggelam, ikan-ikan pun akan menghabisi tubuh saya, termasuk tubuh-tubuh awak kapal lainnya,’’ kenang Bambang.

Dalam suasana gelap mencekam di tengah laut itu, Bambang mengumpulkan awak kapal yang berjumlah 17 orang, termasuk dirinya sebagai kapten. Dalam kegelapan dan kedinginan teramat sangat, Bambang heran lantaran seorang anggotanya bernama Aminuddin tidak ada. Semua awak kapal yang hadir dalam pertemuan mendadak ini tak satu pun yang mengetahui keberadaan Aminuddin. Lelaki berbadan tegak tinggi ini pun memperlihatkan raut wajah cemas dan sedih. Seketika, dia dan awak kapal lainnya menyebar mencari Aminuddin. Namun setelah enam jam mencarinya, Aminuddin tak kunjung ditemukan di kapal. Akhirnya, mereka pun menyimpulkan anggotanya yang satu ini telah hilang. Mungkin jatuh atau sengaja melompat ke laut di saat kapal sedang dilanda goncangan hebat  lantaran amukan ombak yang terus menggoyang kapal.

***

MESKI mayat Aminuddin tak kunjung ditemukan, istrinya tetap terpanggil mengadakan takziah di rumahnya. Sebagai solidaritas pelaut, sang kapten, paling berinisiatif membantu menyukseskan takziah untuk anggotanya ini. Dia menyampaikan kepada istri Aminuddin, Hermina, bahwa segala kebutuhan, baik makanan, minuman, undangan, termasuk tenda untuk ditempati takziah, akan diurusnya. “Ibu tidak usah repot. Nanti kami yang urus semua  kebutuhan takziah ini,” ujar sang kapten kepada istri Aminuddin.

“Pak Kapten baik sekali. Terima kasih atas kepedulian dan rasa simpatinya atas kepergian suami saya,” kata Hermina dengan wajah sedih mengenang suami tercintanya.

“Ah, biasa saja, Ibu. Memang beginilah seharusnya tanggung jawab seorang kapten kalau ada anggota yang terkena musibah. Yang penting, Ibu sabar dan tabah menghadapi cobaan ini. Ikhlaskan kepergian Aminuddin. Doakan terus biar dia tenang di alam sana,” pinta sang kapten sambil tersenyum tipis yang juga dibalas senyum manis Hermina.

“Kalau kapalnya kebetulan berlabuh di Makassar, jalan-jalanlah ke rumah, Pak Kapten. Tentu kedatangannya akan saya sambut dengan baik, minimal akan mengingatkan saya akan memori kebersamaan saat-saat suami saya Aminuddin masih hidup,” pinta Hermina kepada Bambang.

“Tentu, Dek Hermina. Kalau saya ke Makassar, pasti saya langsung ke rumahnya. Dan yang jelas, saya akan terus ingat saudara saya yang bernama Aminuddin, suami Dek Hermina itu. Dia lelaki baik, jujur, dan bertanggung jawab.” Bambang mengindahkan permintaan Hermina sekaligus memuji kepribadian Aminuddin.

“Terima kasih, Pak Kapten.” Hermina kembali melemparkan senyum manisnya yang boleh jadi mendebarkan jantung Bambang.

***

JANDA Hermina duduk santai di teras rumahnya. Dia kaget. Setelah itu dia senyum-senyum sendirian. Kupu-kupu kuning yang pernah terbang dengan bebasnya di rumahnya–setahun lalu–datang lagi sore menjelang senja ini. Seorang keponakannya yang masih duduk di kelas tiga sekolah dasar memburunya. Lantaran keponakannya memegang sapu lidi memburu si kupu-kupu, Hermina bangkit dari tempat duduknya. Dia khawatir, kalau keponakannya itu terus memburu, si kupu-kupu bisa jatuh terkapar, lalu mati. Bayangan peristiwa kematian si kupu-kupu itulah dia takutkan. Dia cemaskan. Buatnya, perburuan kupu-kupu itu harus dihentikan.

“Jangan, jangan, jangan, Nak. Kasihan kupu-kupunya. Biarkan terbang bebas sesukanya. Coba perhatikan cara terbangnya, meliuk-liuk, warnanya, aduh…., cantik kan? Lagi pula, Nak, menurut nenek kita dahulu kala kalau ada kupu-kupu cantik terbang masuk ke rumah dan sempat hinggap di sudut-sudut ruang dapur, itu maknanya akan ada jodoh mau datang.” Hermina menasihati keponakannya yang perempuan itu agar berhenti memburu si kupukupu kuning.

“Ah, Tante. Bisa saja, apa hubungannya kupu-kupu masuk rumah dengan jodoh? O… janganjangan Tante mau kawin lagi?” Dengan perasaan kecewa, sang keponakan, meninggalkan kupu-kupu yang terus terbang di dalam rumah dan tantenya sendirian di teras.

“Anak kecil memang belum paham tanda-tanda seperti itu. Mungkin nanti setelah tumbuh menjadi gadis barulah dia paham dan berharap datang seekor kupu-kupu kuning terbang dengan bebasnya di dalam rumah. Dan hinggap di sudut-sudut di ruang dapur.” Hermina membatin. Dia senang keponakannya berlari meninggalkannya dan si kupukupu kuning.

***

JODOH tak pernah disangka datangnya. Seperti juga si kupu-kupu kuning yang datang ke rumah si janda cantik. Hermina tak pernah membayangkan jodohnya datang yang kedua kalinya—setelah suaminya Aminuddin pergi untuk selamanya—dua tahun lalu.

Hermina kini telah melupakan Aminuddin, minimal fsiknya. Cintanya? Entahlah. Sang Kapten Bambang telah merebut keindahan Ësik Hermina.

Ketika sang suami pergi berlayar, datanglah seorang pemuda ke rumah Hermina. Pada awalnya Hermina heran dan bertanyatanya dalam hati, siapa gerangan pemuda ini dan apa maksud kedatangannya. Namun, setelah mendapat penjelasan bahwa si pemuda itu dulu sempat sibuk mengatur kursi di saat almarhum Aminuddin hendak digelar acara takziahnya, Hermina pun mulai paham. Ternyata tamu ini bernama Anhar, seorang kawan dekat almarhum Aminuddin di saat masih aktif bekerja sebagai awak kapal. Sejak peristiwa hilangnya Aminuddin, Anhar memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai pelaut. Dan sejak itu tak pernah lagi berkomunikasi dengan sang kapten kapal, Bambang.

Setelah Anhar menceritakan misteri tersembunyi selama ini berkaitan dengan hilangnya Aminuddin di kapal yang sedang berlayar itu, raut wajah Hermina agak merah, keningnya berkerut. Bola matanya liar, berkaca-kaca. Dia menahan tangis memedihkan. Dia ingin Anhar terus menceritakan peristiwa berbeda yang pernah disampaikan sang kapten kapal menyangkut hilangnya Aminuddin.

“Jadi malam hilangnya Aminuddin, perjalanan kapal tenangtenang saja. Tidak ada ombak besar? Kapal juga tidak oleng ke kiri dan ke kanan? Tak ada juga hempasan ombak menghantam dinding kapal yang menyebabkan air laut masuk ke dalam kapal?” Hermina menginginkan jawaban kepastian dari Anhar yang sangat paham peristiwa hilangnya Aminuddin di malam pekat itu.

“Benar, semuanya tidak ada. Saat itu kapal berjalan normal. Sebenarnya peristiwa itu saya sudah  berjanji kepada diri saya sendiri untuk tidak mengungkapnya hingga ajal merenggut saya. Namun, dalam sejumlah malam, setelah Ibu Hermina kawin dengan sang kapten, saya terus gelisah. Saya tak bisa tidur. Bayangan almarhum Aminuddin terus membayangi diri saya, khususnya di waktu malam. Saya dilanda ketakutan teramat sangat. Bahkan kadang saya berteriak sendirian. Itu terjadi saat saya mengingat-ingat peristiwa mengerikan ketika kawan saya itu menjulur-julurkan tangannya di laut lepas sebagai pertanda minta ditolong. Lalu menghilang ditelan dalamnya laut.” Anhar menahan tangisnya. Diam membisu, tunduk di depan Hermina di ruang tamu  milik wanita yang kini istri Bambang itu.

“Cukup. Terima kasih ceritanya yang sangat memiriskan hati itu, Anhar!” Hermina menangis. Wanita ini meninggalkan Anhar sendirian. Dia berlari. Berlari kencang membawa amarahnya. Menuju pelabuhan, menunggu datangnya sang kapten. #

 

Andi Wanua Tangke, selain menulis karya sastra, mendirikan rumah buku di Makassar, juga memiliki museum barang-barang antik “Bola Antik La Tangke” di Soppeng.