Cerpen Syarifah Aini (Serambi Indonesia, 08 Desember 2019)

Ibu ilustrasi Istimewa.jpeg
Ibu ilustrasi Istimewa

IBU adalah sosok utama dalam hidupku. Orang yang paling dekat sekaligus paling asing bagiku. Ia seperti sesosok misterius yang tak terjangkau, mengawang jauh. Bukan karena dirinya selalu memakai burqa dan pakaian serba hitam saat keluar rumah, tapi entah karena apa.

Ibu adalah pusat hidupku, teladan terbaikku, ia bahkan guruku di segala bidang. Ibu yang tangan lembutnya begitu perkasa mengajariku dan adik-adikku segala hal. Ibu tak pernah marah bagaimanapun tingkah polah kami anak-anaknya yang jumlahnya tujuh orang. Aku digembleng dengan kasih sayang, penuh keteladanan. Saat usiaku lima tahun, aku sudah bisa mandiri dalam banyak hal. Ibu selalu bercerita bahwa aku sudah hafal juz 30 sejak aku usia lima tahun, aku bisa mandi sendiri, makan sendiri, membereskan mainan, dan membereskan kain-kainku sendiri. Saat itu sudah ada Zainab dan Rafiqa, adikku yang berusia tiga tahun dan sembilan bulan.

Saat ibu melahirkan lagi, Zainab dan Rafiqa sudah pula mandiri. Jarang ada keluarga hari ini yang kusaksikan memiliki tujuh anak seperti Ibu. Namun Ibu piawai mendidik kami, ia tak pernah marah-marah dan bersuara tinggi. Aku pernah melihat ibu-ibu lain panik saat anaknya menangis, bahkan ada yang bersuara tinggi membentak anaknya yang kecil yang sedang tantrum di keramaian. Ibu mengajariku tak boleh begitu pada adik-adik. Ibu mengajari kami berdoa saat ingin marah. Iya, Ibu pun begitu, kok.

Namun ada satu hal yang kerap jadi tanda tanya di benakku. Ibu sering menangis sendiri. Ketika kutanya atau adik-adikku yang lugu bertanya, Ibu selalu menjawab, sedang sakit perut, atau akibat kesakitan bekas operasi melahirkan adik bungsuku, Raihanah, masih terasa nyeri. Usiaku sudah akan 17 tahun saat itu, aku sedang persiapan akan mengambil beasiswa ke Madinah. Kami semua tidak bersekolah formal seperti teman-teman kami yang lain.

Begitu pun seingatku, dulu saat Raihanah belum lahir, Ibu memang sering menangis tengah malam, atau sedang membereskan kain-kain kami, sedang memasak, dan aku sering diam-diam memperhatikan sisa tangisan dan air di mata Ibu. Mungkin Ibu capek, itu selalu yang aku pikirkan. Walau kadang-kadang Ibu memanggil khadimat untuk mengurusi rumah saat terlalu sibuk mengajar kami dan mengisi pengajian atau seminar tentang pengasuhan dan rumah tangga.

Ibu, dan juga ayahku, adalah orang tua yang sukses. Kami hidup baik dan bisa dikatakan mapan. Ayah, walau banyak pekerjaan di luar, selalu pulang dan membantu Ibu mengajari kami. Ayah seorang pengusaha yang kadang harus ke luar kota mengurusi outlet-outlet-nya yang tersebar di daerah-daerah. Ibu dan Ayah selalu kulihat akur. Hanya saja terkadang aku yang mulai dewasa ini berpikir, apa Ibu tidak suka pada Ayah? Tapi Ibu selalu berbicara lembut dan tersenyum sebagaimana saat bersama kami. Tetap saja aku merasakan gelagat dingin Ibu saat berdua saja dengan Ayah. Namun seketika hilang lagi saat kami berkumpul bersama.

Adik lelakiku Omar berusia sembilan tahun dan di bawahnya lagi ada Khalid, tujuh tahun. Keduanya kini kadang-kadang belajar padaku. Aku belajar bersama Ibu tentang pelajaran agama dan kadang-kadang berkumpul dengan teman-teman yang ibu mereka mengaji pada ibuku. Aku juga sering mendengar banyak perkara-perkara penting dan pribadi yang ibu-ibu itu tanyakan pada ibuku. Terutama perkara hidup berumah tangga. Aku rasa terkadang ibu sengaja tidak menyuruhku pergi jauh dari ruang kerjanya atau sengaja membuka pintu hanya untuk melibatkan dan membiarkanku menyaksikan bagaimana ibu-ibu itu mengadu dan curhat pada Ibu. Lalu Ibu mendengarkan, memberi nasihat dan seringkali membagi solusi.

“Tapi memang dalam agama, ia tak harus meminta izin pada kita untuk beristri lagi… jadi, relakan dulu dan syukuri ia tidak memilih jalan dosa dengan berzina.”

“Saya masih belum ikhlas bagaimana pun, apalagi keadaan kami bukan seperti Kakak yang sudah mapan. Untuk kebutuhan sehari-hari saja kami terseok-seok…” keluh seorang ibu sambil sesenggukan menahan tangis.

“Astaghfirullah… bersyukur. Itu saja, Dek. Begitulah cara kita berbahagia dan supaya rezeki terasa berkahnya. Jangan membandingkan kehidupan kita dengan orang lain…” jawab Ibu dan kemudian mengelus pundak ibu tadi.

Kadang aku ingin bertanya apa Ibu bahagia? Namun aku teringat bagaimana sisa air matanya sering aku saksikan, membuatku urung bertanya lagi. Aku juga punya angan bertanya pada Ayah, apa dia tahu bahwa Ibu nyaris saban hari menangis, tapi itu pun aku lupa. Selama bertahun-tahun aku ingin bertanya tapi aku selalu lupa.

Aku beranjak dewasa dan mulai tahu bahwa sebuah rumah tangga dibangun dengan cinta. Cinta menjadi tema yang menarik bagiku sejak aku balig atau pubertas.

“Ibu, apa Ibu menikah dengan Ayah karena cinta?” tanyaku suatu ketika saat kesempatan kami duduk bersama di ruang keluarga. Zainab dan Rafiqa lalu tertawa dan menghentikan membaca sambil mengatakan ‘ciee’. Pipi Ibu terlihat bersemu merah tapi sekejap saja, setelah itu ia menatap Ayah sekilas lalu matanya meredup.

“Mengapa bertanya itu?” Ibu menanggapi, sementara Ayah terlihat hanya menunggu dengan mata jenakanya.

Ayah menurunkan majalah yang sedang dibacanya, mengecilkan volume televisi yang sedang memutar video muratal. Seolah berharap dan menunggu jawaban Ibu sebagaimana juga aku.

“Ya, karena Allah…” jawab Ibu.

“Iya, Lathifa tahu karena Allah, tapi… karena cinta juga kah?” serbuku tak malu-malu.

“Coba tanyakan saja pada Ayahmu,” jawab Ibu enggan.

“Iya,” Ayah hanya menjawab singkat tapi kurasa cukup lugas.

“Tak ada salahnya kan menikah karena cinta? Ali menyukai Fatimah sebelum ia menjadi suami Fatimah. Rasulullah mencintai Khadijah, karena itu beliau tidak menikah selama bersama Khadijah…” aku sesumbar bercerita setelah beberapa hari ini aku membaca Sirah Nabawiyah dan entah kenapa fokus pada hal-hal bertema itu.

Zainab dan Rafiqa kembali cekikikan, ah mereka memang ingin tahu saja.

“Iya, memang tidak apa-apa. Kalau Lathifa apa sudah jatuh cinta pada seseorang?” Tanya Ayah memerangkapku.

“Iya, itu…. sama Bang Yusuf anaknya Amah Nazhira pasti itu, Yah!” teriak Rafiqa spontan. Aku sontak kaget dan malu. Yusuf memang populer karena setiap ada acara di komunitas kami, ia membacakan Alquran. Namun bagiku Hanan jauh lebih tampan, tentu saja kami tidak akan membahas itu, Ibu sudah mengajariku gadhul basyar atau menjaga pandangan, bisa berabe nanti diceramahi.

Kulihat Ibu seperti enggan membahas soalan cinta. Lagi-lagi semua itu terasa begitu misterius bagiku.

***

Jamuan makan istimewa ini sudah dikabarkan seminggu sebelumnya. Kami sekeluarga tiada kurang seorang pun. Lalu ada satu keluarga lagi yang aku lupa namanya tapi aku mengenali wanita di balik burqa itu juga sering hadir di perhelatan besar komunitas kami, di sanalah aku selalu memperhatikan Hanan. Rupanya dia juga hadir hari ini, sepertinya ada pula dua orang adik perempuannya yang masih kecil-kecil dan mirip sekali dengannya. Aku baru sadar, ibu ini pastinya ibu Hanan, melihat wajah kedua adiknya dan juga Hanan, aku bisa menebak seberapa cantiknya ibu Hanan.

Semua duduk khidmat menunggu kedatangan Ayah, entah kenapa, hanya menunggu Ayah saja yang belum hadir, kata Ibu.

“Ayo, dinikmati… kita berdoa lebih dulu, ya.” Kata Ayah yang sudah hadir dan mengucap salam buat kami semua. Semua bersuka-cita dan begitu pula aku yang nyaris melupakan Ibu yang sebulan ini semakin sering kusaksikan menangis atau matanya lebih sembab daripada biasanya. Mungkin aku sedang berbunga-bunga karena Hanan juga.

“Ayah ingin mengenalkan anak-anak Ayah semua… ini semua di sini keluarga, tidak ada orang lain. Mahram kalian. Ini Ummi, panggil saja begitu… Hanan, Laila, dan Hanifa ini saudara-saudara kalian…”

Kerongkonganku tercekat. Aku cukup dewasa untuk memahami semua, saat suatu sore aku mulai lagi membahas persoalan cinta. Ibu, Rasulullah sangat mencintai Khadijah, beliau tak menikah dengan perempuan lain saat bersama Khadijah. Beliau pun tidak rela anaknya Fatimah dimadu. Saat itu Ibu menjawab: tapi kita bukan Khadijah, bukan pula Fatimah, Lathifa… ***

 

Syarifah Aini, anggota Forum Lingkar Pena Aceh. Tenaga pengajar di Dayah Pesantren Baitul Arqam, Sibreh.