Cerpen Gandi Sugandi (Pikiran Rakyat, 08 Desember 2019)

Tatapan KOsong ilustrasi Rizky Zakaria - Pikiran Rakyat (1).jpg
Tatapan KOsong ilustrasi Rizky Zakaria/Pikiran Rakyat 

Selebaran kertas bertulis sayembara burung berkicau itu tertempel di papan pengumuman pos ronda. Dengan saksama, Amar Enjang membacanya. Wajahnya kemudian berseri, bibir tersungging. “Aku akan ikut!” katanya pada Wandi teman sekampungnya yang berdiri bersebelahan. Wandi pun menimpali, “Aku tahu, kau telaten mengurus burung. Ya, semoga kau dapat menjuarainya…”

Kemudian setelah bercakap-cakap beberapa saat, keduanya pergi berbarengan, dan di satu pertigaan jalan berpisah.

Amar tiba di rumah menjelang Zuhur, segera mendekati sangkar berisi burung murai batu yang bergantung di atap teras depan. Lalu bersiul beberapa kali dengan irama yang tetap—dan ini dibalas oleh kicauan burungnya. Kembali, wajah Amar berseri, bibirnya tersungging. Lalu bergumam, “Aku yakin, kau sudah manggung.. dan nanti hari Minggu lusa, kau bisa membawa hadiah..”

Istrinya yang sedang di ruang tengah mendengar suara siulan yang sudah tak asing, segera beranjak menuju teras depan. “Aduuh, Kang… Ini lima belas menitan lagi azan. Nanti saja lagi bermain dengan burungnya. Sekarang, lebih baik mandi, bersiap untuk Jumatan. Masukkan dulu burungnya ke dalam rumah. Jangan sampai kejadian seperti sebulan yang lalu, saat burung Akang digondol maling, kembali terulang.”

Amar menganggukkan kepala, dan istrinya yang mengerti segera ke dalam, membawa kursi dari ruang tamu untuk dipakai sebagai tempat berpijak Amar, sehingga tangannya bisa menjangkau sangkar burung, untuk kemudian dibawanya ke dapur.

***

Sepulang dari mesjid dan setelah makan siang, Amar menggantungkan sangkar burungnya di atap teras depan. Istrinya membawa secangkir kopi. Amar lalu duduk di kursi, menunggu kedatangan Wandi sohibnya. Tak lama, Wandi nampak membawa sangkar yang ditutupi kain, kemudian Amar membuka kain dan menggantungkan berdampingan dengan burungnya.

“Itu burung siapa?”

“Punya Jejen, murai batu yang sudah siap manggung. Katanya dibawa dari kota..”

Saat keduanya duduk, burung Amar berkicau lebih dulu. Wandi yang mendengarnya termenung.. Dan ini menarik perhatian Amar. “Kenapa kau?”

“Aku harap, kau jangan tersinggung ya.. Bila aku katakan saja apa adanya?”

“Iya, kenapa dengan burungku?”

“Aku kira, burungmu sudah berkicau masteran.. Eh, itu kan masih kicauan ngeriwik, yang belum memiliki struktur lagu, ya karena burungnya masih muda. Aku memang jarang ke sini. Aku ragu, kalau burung itu dapat menjuarai sayembara tingkat kecamatan. Memang dulu kau beli di mana?”

“Di pasar burung kota..”

Wandi kemudian berdiri, mendekati kedua burung yang berdampingan itu. Wandi lalu bersiul. Terdengarlah kicauan dari burung yang dibawanya. “Nah.. ini kicauan calon juara. Masteran burung cililin coklat yang bersuara kasar, ngabeset dan rapat menembak.. Ya, meskipun tentu belum sebagus yang sudah juara…”

Amar terpaku. Tebersit dari hatinya untuk memiliki burung yang dibawa Wandi. Otaknya berpikir, tentu harga burung ini mahal, sedangkan saat ini sedang tidak ada uang.  Bila seluruh tabungannya dari hasil kerja sebagai mandor bangunan dibelikan burung kepunyaan Jejen, lalu dari mana untuk kebutuhan sehari-hari?

Wandi tahu apa yang dipikirkan Amar. “Bukankah Jejen salah satu anak buahmu yang berkali-kali ikut bekerja denganmu? Gunakan saja pengaruhmu. Ya, paksa saja sedikit, ditawar murah.”

Amar bergeming. Menyulut rokok. “Bagaimana kalau dia tidak ikhlas?”

“Ikhlas kan nomor sekian. Yang nomor satu burungnya menjadi milikmu. Sudahlah, jangan banyak berpikir. Kapan kau ke rumahnya untuk menawar?”

“Ini juga sedang berpikir..”

***

Sabtu pagi, Amar berjongkok di depan sangkar burungnya. Sudah seminggu memang tidak pergi ke lain kota menjadi mandor bangunan. Saat musim hujan seperti ini, proyek-proyek pembangunan memang tak sebanyak saat musim kemarau.

Tidak seperti kemarin yang antusias di hadapan burungnya, Amar kini lebih sering terdiam, tertegun. Hatinya sangat berhasrat memiliki burung kepunyaan Jejen, sedangkan esok adalah Minggu, sayembara burung berkicau akan dimulai, dan pendaftaraan paling telat adalah nanti pukul 22.00.

Istrinya yang tak tahu keinginan Amar mendekatinya, mencoba menghibur. “Bukankah burungmu itu sudah siap? Lalu apalagi yang kau pikirkan?”

“Aku ragu pada burungku, apakah dapat menjadi juara. Aku malah menjagokan burung punya Jejen.. Tapi katanya, burungnya hanya untuk dipelihara sebagai hobi, bukan untuk diikutkan sayembara. Kecuali kalau ada harga pantas, bisa dijual. Ya, aku ingin memilikinya, supaya menjadi juara.”

Kali ini istrinya ikut pusing. Istrinya tahu, suaminya tergila-gila pada burung kicau. Bila sudah menginginkan satu burung yang disukainya, Amar tak segan-segan untuk menjual barang yang ada di rumah. Bahkan, burung yang pernah hilang pun dibeli dari hasil menjual motor.

Istrinya beringsut tak mau berdebat. Ia bergegas masuk ke rumah, meninggalkan Amar yang masih saja berjongkok, bersarung seraya tak henti mengepulkan asap rokok. Amar memikirkan kata-kata Wandi kemarin. Dia pun tahu, Jejen seorang yang lugu.

***

Hati Amar terus berkobar, tak bisa padam dari hasrat ingin memiliki burung murai punya Jejen. Maka selepas Asyar, walau istrinya tak menyetujui, dengan motornya ia pergi sendiri ke kampung sebelah.

Jejen tampak sedang menyabit rumput di kebun depan rumahnya. Baru satu karung yang penuh terisi rumput, yang satu karung lagi masih kosong. Tahu kedatangan Amar, Jejen menghentikan pekerjaan, segera menghampiri, mengajak Amar ke teras. Keduanya saling bicara.

Rupanya, murai batu punya Jejen adalah hadiah dari pemilik rumah yang pernah diperbaikinya. Mereka terus mengobrol. Sebelum Maghrib, terjadilah jual beli burung murai, meskipun di bawah harga pasar.

***

Pagi-pagi hari Minggu di lapangan kantor kecamatan, berdiri puluhan tiang gantangan dengan sangkar-sangkar burungnya. Suara kicauan bersahut-sahutan, nyaris tak henti. Amar datang bersama Wandi. Amar sepenuh hati yakin, bahwa burungnya dapat juara.

Keadaan riuh di lapang pagi itu, berbanding terbalik dengan Jejen yang termenung di depan kandang ayam. Hatinya masih merasa sakit, karena kemarin tak bisa berkutik saat burung kesayangannya terpaksa dijual murah.

Di lapang, tiga orang juri pun mulai bekerja, menilai kicauan-kicauan. Ada salah seorang juri yang memandang dan mengacungkan jempol ke arah Amar berdiri, sehingga ia menduga bahwa Si Rimba burung miliknya akan juara.

Sementara Jejen kini sudah tak ada di rumah. Dia sedang di perjalanan menuju ke satu perkampungan yang angker di tepi hutan, entah apa yang akan dilakukan.

Sayembara burung berkicau pun usai, dengan gelar juara pertama yang diraih Si Rimba. Betapa gembira Amar. Saat itu juga, banyak orang yang berkantong tebal mendekatinya, hendak membeli Si Rimba. Namun, burung itu tidak dijual karena tidak ada harga yang cocok.

***

Setelah Asyar, Amar tiba di rumah, langsung duduk di teras depan.  Istrinya menyambut. Namun tak berapa lama, dia mengeluh, bahwa sore ini terasa amat capek. Istrinya segera memijiti bahu Amar, dan menduganya masuk angin. “Aku ambil dulu balsam ya. Juga tak ada salahnya, nanti malam dikerok.”

Saat istrinya kembali tiba, tangan kanan Amar sedang memegangi dada kirinya menahan sakit. Tangan kanannya terus saja memegangi dada kirinya. Kedua matanya terkatup rapat, tetapi dari kedua ujung kiri matanya keluar air.

Dari keningnya juga banyak keluar keringat. “Owh.. Owh..” Amar tak henti mengaduh. Istrinya cemas tak kepalang. Dia pun tahu, ini bukan sakit biasa. Pandangan mata istrinya berkali-kali beralih, kadang pada Amar, kadang pada Si Rimba dalam kandangnya yang masih tergeletak di lantai.

Kemudian, Amar terjatuh dari duduk, tertelungkup. Dari mulutnya keluar darah segar. Istrinya menjerit-jerit. Menyesalkan burung juara sayembara, yang harganya harus dibayar teramat mahal. ***

 

Bandung, November 2019