Cerpen Muhammad Abdul Hadi (Republika, 08 Desember 2019)

Guru Honorer ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw
Guru Honorer ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Selepas pulang shalat Subuh, Budi mendapati istrinya terisak-isak sambil menggendong bayi mereka yang sedang menangis. Perempuan itu mengayun-ayun gendongannya untuk meredakan lengkingan tangis bayi yang menyayat-nyayat itu. Budi yang baru saja pulang dari masjid merasa bingung, bagaimana mesti bersikap meng hadapi anak dan istrinya yang sama-sama terisak.

Dengan pandangan iba, ia mendudukkan istrinya di sofa. Tangan kanannya mengelus-elus punggung perempuan yang ia cintai tersebut dengan lembut. Beberapa saat kemudian, tangis istrinya mereda diiringi sengguk-sengguk kecil tertahan. Bayi mereka yang baru berumur empat bulan itu seolah peka dengan perasaan ibunya. Ia ikut berhenti menangis dan mulai berceloteh dengan bahasa yang hanya ia pahami sendiri.

“Berhentilah menangis, Asma. Abang juga sedih melihatmu menangis seperti ini.”

Asma mengangguk-angguk lemah sembari menghapus air mata yang meleleh di pipinya. Istri Budi merasa bahwa batas kesabarannya sudah runtuh. Ia merasa sangat tertekan dengan biaya hidup yang terasa semakin menghimpit.

Berkali-kali ia sudah menumpahkan keluhannya atas gaji Budi yang terlampau kecil sebagai guru honorer. Apalah arti uang sejumlah Rp 700 ribu yang Budi terima setiap bulannya dengan kebutuhan sehari-hari yang sangat mahal. Apalagi, ditambah dengan kehadiran bayi, buah pernikahan mereka. Rasanya beban hidup terasa jauh lebih berat daripada tenaga yang mereka punya untuk menanggungnya. Dengan jum lah uang sekecil itu, ia susah-payah mengatur perbelanjaan yang harus dikeluarkan bulan demi bulan untuk setiap kebutuhan yang mereka punya.

Baca juga: Insiden di Jalan Kirik – Cerpen Abdul Hadi (Suara Merdeka, 20 Oktober 2019)

“Susu untuk Ami sudah habis, Bang,” keluh istrinya tadi pagi yang membuat Budi murung.

Kata-kata yang terlontar dari mulut istrinya bagai anak panah beracun yang menghunjam dadanya. Perasaan kasihan pada Asma membuat tubuh Budi lemas dan tak berdaya. Susu bayi adalah kebutuhan darurat lain yang harus ia penuhi.

Dulu, ia mengira semua ibu bisa me nyusui, tetapi apalah daya ketika bidan yang menangani persalinan istrinya me nyampaikan bahwa payudara istrinya ha nya sedikit mengeluarkan air susu. Mau tak mau, agar anaknya tetap sehat, asupannya harus ditambah dengan susu formula yang harganya lebih mahal daripada beras yang Budi makan setiap hari.

“Kredit sepeda motor yang kita beli juga belum lunas bulan ini. Awal bulan esok, Abang hanya menerima Rp 700 ribu, tentu tidak cukup untuk menutupi semua ke bu tuhan kita. Kalau terus begini, terpaksa As ma juga harus bekerja. Kalau Asma bekerja, lalu siapa yang akan mengurus Ami?”

Baca juga: Cerita Zinnia Gadis Pelantun Shalawat – Cerpen Faris Al Faisal (Republika, 01 Desember 2019)

Budi hanya bisa terdiam.

“Ya, Asma, Abang akan coba pikirkan lagi,” katanya dengan nada lemah. Lalu pi kirannya mengembara jauh ke teman-te mannya yang kira-kira bisa memin jaminya uang untuk menambal kebutuhan sehariharinya. Ah, siapa lagi yang bisa ia utangi?

***

Pekerjaan sebagai guru honorer sedari dulu selalu bagaikan menjadi anak tiri. Sejak enam tahun Budi mengajar, rasanya ga ji yang ia terima tak jauh berbeda. Ber ke balikan dengan guru yang statusnya sudah menjadi aparatur sipil negara (ASN). Hidup mereka sudah terjamin, sedangkan ia yang hanya lulusan diploma II pendidika n agama Islam, dengan berbekal akta mengajar. Tak mungkin ia bisa mendaftar menjadi ASN, kecuali ia bersedia melanjut kan pendidik annya untuk meraih gelar sarjana.

Setelah setahun menabung dari peng hasilan mengajar dan menjadi guru me ngaji, Budi memberanikan diri untuk me nyunting Asma yang kala itu baru lulus pesantren. Usianya tujuh tahun lebih muda dari Budi. Setelah dua tahun menikah, barulah mereka dikaruniai keturunan.

Baca juga: Mister Masbuk – Cerpen Zaenal Radar T (Republika, 24 November 2019)

Tuhan memang tak tertebak dan penuh kejutan. Mereka dianugerahi anak tepat di saat-saat masalah keuangan sedang mem bengkak.

***

Pagi ini, Budi berangkat ke sekolah lebih awal. Beberapa hari yang lalu, ia sudah diberitahu kepala sekolah bahwa hari ini akan diadakan rapat dewan guru. Muridmurid masih sedikit yang bermunculan. Sebagian petugas sekolah telah datang dan membersihkan taman yang diseraki daundaun. Biasanya, apabila diselenggarakan rapat dewan guru, beberapa kelas akan diliburkan karena tidak ada yang mengajar.

Selagi menunggu bel berbunyi, Budi mengeluarkan buku-buku latihan anak muridnya yang kemarin belum tuntas ia periksa. Ia membolak-balik buku tersebut dengan pelan. Kemarin, sering kali ia mengernyitkan dahi setiap kali memeriksa latihan murid-muridnya ini.

Hemm, jarang sekali ada tugas yang di kerjakan dengan sangat baik. Jawabannya jelas dan tulisannya rapi,” celotehnya dalam hati.

Baca juga: Felicia – Cerpen Maya Sandita (Republika, 17 November 2019)

Ia teringat anak muridnya yang berna ma Ratna Asih. Benaknya menerawang wajah anak itu.

“Kasihan gadis kecil tersebut, tiap hari bajunya kelihatan lusuh dan buruk, be berapa kali ia tidak masuk sekolah de ngan alasan membantu bapaknya bekerja. Sa yang sekali, padahal dia anak pintar,” ujar nya dalam hati.

Ia juga tahu muridnya itu hanyalah anak seorang buruh tani musiman. Bapaknya yang bernama Siman adalah tukang tanam padi yang menggantungkan hidupnya dari upah menanam benih di sawah orang lain. Na mun, anaknya santun dan pintar sekali. Ra sanya amat rugi apabila anak secemer lang ini tidak melanjutkan sekolah hanya karena kekurangan biaya. Sementara itu, banyak teman-teman Ratna yang ber kecukup an malah menjadi murid pemalas, nakal, bahkan suka bolos.

Pernah suatu ketika pula, ia berkeliling ke belakang kantin. Budi mendapati bebe rapa muridnya nongkrong sambil merokok. Ke tika ia datang, mereka cepat-cepat mem buang batang rokok yang masih menyala dan menginjaknya seolah-olah tak terjadi apa-apa.

Baca juga: Menunggu Jumat Pagi – Cerpen Khumaid Akhyat Sulkhan (Republika, 10 November 2019)

Demikianlah Budi. Ia merasa banyak yang tidak cocok dan sesuai dengan hatinya. Mulai dari tindak-tanduk murid-muridnya sampai sistem pendidikan yang ada.

“Katanya pelajaran agama, tetapi mu rid-murid hanya dijejali teori-teori. Selepas pulang dari kelas, moral dan akhlak mereka tidak berubah. Teori hanya dipelajari untuk dituliskan kembali di lembar ujian. Belum lagi kurikulum yang terus berganti seiring perguliran rezim pemerintahan. Seolaholah sistem pendidikan hanyalah mainan politik,” cetus Budi suatu ketika.

“Ini kan demi penyesuaian dengan per kembangan zaman,” bantah guru Dhafi yang lebih senior daripada dia.

“Gara-gara itu, murid-murid malahan menjadi bingung menyesuaikan dengan materi kurikulum yang terus berganti.

Selanjutnya, pergantian kurikulum malah dijadikan lahan korupsi bagi pejabat yang berwenang, misalnya melalui proyek penga daan buku di sekolah-sekolah negeri,” bantah Budi berapi-api.

Baca juga: Dia Menyentuh Pipi Orang-Orang – Cerpen Abul Muamar (Republika, 03 November 2019)

Tepat setelah Budi selesai memeriksa buku latihan anak muridnya, bel sekolah berbunyi. Bapak Kepala Sekolah meng umumkan, rapat akan diadakan sepuluh menit lagi. Menunggu dua guru yang datang terlambat. Bukan hanya sikap murid-murid yang tidak sesuai dengan hatinya, beberapa guru juga kerap datang terlambat dan tidak profesional, padahal mereka menduduki posisi sebagai ASN, dan beberapa lagi sudah memperoleh sertifikat keguruan.

***

“Bapak-ibu guru yang saya hormati, sehubungan dengan dikeluarkannya per aturan baru dari Departemen Pen didikan terkait profesionalisme dalam dunia KBM, maka bagi para guru yang belum memiliki gelar sarjana akan diberhentikan sementara dari kewajiban mengajar sampai ia melan jutkan pendidikan dan meraih gelar S-1 kependidikan,” kata-kata kepala sekolah ketika rapat tadi siang terus terngiangngiang di telinga Budi.

Ketika rapat berlangsung, Budi hanya bisa terdiam, menyimak kalimat demi kalimat kepala sekolah yang menyampai kan bahwa banyak sarjana pendidikan yang lebih berhak mengajar daripada guru-guru yang belum sarjana. Pemerintah juga gencar menuntut sertifikasi guru dengan syarat harus memiliki ijazah S-1 terlebih dahulu. Ia malu dan salah tingkah.

Baca juga: Shalawat Ilalang – Cerpen Alim Musthafa (Republika, 27 Oktober 2019)

Usai rapat, dua guru honorer yang bergelar diploma seperti dia menerima surat edaran resmi yang singkatnya berisi: ia tidak boleh mengajar lagi.

Hari itu, Budi benar-benar merasa sa ngat capai. Sepanjang waktu, ia hanya ter ingat pada istrinya. Meskipun ia diberhen tikan secara hormat dari tugas mengajar, ia begitu lelah, marah, sekaligus tak berdaya. Ia hanya merasa seperti sebuah baut kecil di tengah-tengah bangunan besar bernama sistem pendidikan. Baut kecil yang tak berarti apa-apa dan kapan saja bisa dilepas dan digantikan dengan baut-baut yang lebih baru dan lebih kuat.

Ia bingung, dengan apa lagi ia menaf kahi keluarganya. Pikirannya menerawang jauh mencari pekerjaan yang bisa ia laku kan. Ia sadar, mencari pekerjaan saat ini sa ngat susah. Sarjana saja banyak yang meng anggur, apalagi seseorang dengan gelar diploma seperti dirinya.

Budi pun pulang dengan langkah gontai. Sesampainya di rumah, tanpa mengetuk pintu, ia membenamkan tubuhnya di kursi teras depan. Biarlah istrinya yang berada di dalam tidak mengetahui kedatangannya yang lebih cepat daripada hari-hari biasa. Baru saja ia duduk beberapa jenak, seorang laki-laki yang ia kenali sebagai pemilik kontrakan tempat ia tinggal datang meng hampiri.

Baca juga: Shalawat Ilalang – Cerpen Alim Musthafa (Republika, 27 Oktober 2019)

“Pak Guru,” sapa dia.

Dan Budi termenung.

“Iya, silakan duduk,” jawab Budi de ngan hati berdebar-debar.

“Kedatangan saya ke sini bermaksud menagih tunggakan sewa kontrakan yang sudah genap dua bulan belum dilunasi. Apabila awal bulan depan Pak Guru tidak juga membayar, terpaksa rumah ini akan saya sewakan ke orang lain.”

Budi menundukkan pandangan. Tam pak olehnya sepatu yang ia kenakan telah buruk dan usang. Ia sedang berpikir akan memberikan jawaban apa, sebab ia baru saja diberhentikan dari pekerjaannya sebagai guru.

“Saya belum memiliki uang, Pak,” jawabnya serampangan.

“Belum memiliki uang bagaimana? Bukankah gaji guru tahun ini dinaikkan oleh pemerintah? Katanya, Anda guru agama, bahkan janji bayar utang saja tidak ditepati,” laki-laki itu berkomentar agak kasar.

Saat itu, Budi benar-benar merasa bahwa dunia telah runtuh menimpanya.

 

Yogyakarta, 2019

 

Catatan:

Pemutusan kerja yang dialami tokoh cerita, Pak Budi, berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005. Aturan itu menuntut seorang guru harus memenuhi kualifikasi akademik, yaitu memiliki ijazah strata 1 atau diploma IV dan bersertifikat pendidik paling lama 10  tahun sejak aturan tersebut diundangkan pada 30 Desember 2005. Cerpen “Guru Honorer” ini dipersembahkan kepada Farizal Sikumbang.

*KBM: Kegiatan belajar mengajar

 

Muhammad Abdul Hadi merupakan seorang jurnalis kampus Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ekspresi. Di sela-sela waktunya sebagai mahasiswa jurusan psikologi di Universitas Negeri Yogyakarta, ia juga menulis cerpen dan esai.