Cerpen Gusti Eka (Pontianak Post, 08 Desember 2019)

Dilarang Membawa Pulang Apapun Kecuali Kenangan ilustrasi Pontianak Post (1)
Dilarang Membawa Pulang Apapun Kecuali Kenangan ilustrasi Pontianak Post 

Ini adalah tanah yang tak kukenal. Ketika meninggalkan desa terakhir bau tanahnya merasuk. Entah kenapa setiap kali melangkah aku merasa arah langkah menjadi asing pada jalan berbatu ini. Ini akan menjadi perjalanan melelahkan yang pernah kulakukan, sebab aku mesti menyiapkan mental karena di kiri dan kanan jalan pohonpohon melambai dengan curiga, seperti menanyakan sesuatu: apa maumu datang ke sini? Jangan pernah kau bawa pulang kecuali kenangan.

Namun kau datang mengusir perasaan ganjil. Saat itu kau sudah berdiri di depanku. Mengenakan baju putih setengah lengan, dengan celana pendek hitam. Kau menyapa dengan nada yang empuk di telinga dihias senyum ramah, kemudian kau menyuruh kami menunggu. Sedangkan kau pergi ke suatu tempat yang kami tak ketahui. Kemudian kau menghilang, berjalan dengan langkah yang gopoh, kau membawa serupa sebuah tas di punggungmu dengan penuh isi, memakai ikat kepala putih serta berjalan tanpa alas kaki. Itulah pertama aku melihatmu dan mengingatmu hingga hari ini: Pak Komong.

***

“Apakah masih mampu,” katamu.

Aku mengangguk, tak ingin kehilangan muka di depanmu. Sebelum memulai perjalanan ini sebenarnya aku sudah menyiapkan diri. Sebab, perjalanan ke kampung Baduy Dalam harus siap berjalan kaki enam jam. Tak hanya menyiapkan fisik, aku juga sudah menyiapkan mental untuk melakukan perjalanan ini.

Sebagai pemimpin jalan, kau kemudian menghentikan langkahmu. Kau berbalik melihatku dan lima orang di belakangku serta memandangi kami satu persatu.

“Katakan saja, kalau kalian lelah, kita bisa istirahat sejenak.”

“Baik,” jawab kami serentak sambil menghela napas dan mengirup bau tanah Baduy.

“Apakah pohon-pohon di sini boleh ditebang,” tanyaku memecah sunyi.

“Boleh,” jawabmu, “Tapi tidak semua jenis pohon bisa ditebang, dan menebang pohon ada batasnya.”

Kau kemudian melanjutkan jalanmu. Kami mengikuti langkah kakimu. Di kepalaku tumbuh pertanyaan tentang pohon-pohon. Barangkali dalam perjalanan aku akan menanyakan nama pohon-pohon yang ada di tanah Baduy ini. Tapi setelah melihatmu, aku merasa kau masih hati-hati dengan orang yang baru kau kenal. Kendati demikian, kau tetap menyambut kami ramah.

“Di sini, kami hidup dari alam, dari pohon-pohon ini. Jadi kami tidak boleh mengambil semuanya, kami harus menyisakan untuk anak cucu kami. Jika itu terjadi anak cucu kami bisa kelaparan,” kau mengatakan itu tanpa melihat kami.

“Apakah semua anak Baduy Dalam mengenal pohon-pohon?”

“Sejak kecil, anak-anak Baduy Dalam sudah dikenalkan dengan alamnya, termasuk dengan pohon-pohon. Kami mesti paham bertani, itu adalah pendidikan paling dasar bagi orang-orang Baduy Dalam. Makanya kami tidak pergi ke sekolah.”

Aku terkejut mendengarnya. Kemudian pertanyaan-pertanyaan dari kepalaku berdesak-desakan ingin keluar. Secara spontan aku bertanya: Mengapa tidak pergi ke sekolah?

Kau kemudian menghentikan langkah, dan berbalik ke arah kami. Kau menatapku dalam. Aku merasa tidak nyaman dipandangmu dengan cara begitu. Apakah ada yang salah dengan pertanyaanku? Kemudian rasa bersalah lahir dalam benakku, mungkin saja aku telah lancang menanyakan begitu.

Tapi tanpa kuduga, merekah senyum dari wajahmu dan melanjutkan jalanmu.

“Leluhur kami melarang kami menjadi pintar, sebab jika pintar, kami bisa keblinger,” katamu.

Kau kemudian memulai kisahmu. Itulah yang membuatku terus mengingatmu.

***

Seorang anak remaja seperti anak-anak Baduy Dalam lainnya harus pergi ke kota untuk menjual hasil alam bersama orangtuanya. Hari itu, satu kantong sebesar bola basket sudah digendong anak itu dengan dilapisi kain putih yang sudah terikat ke bahu dan punggungnya. Mereka akan berjalan kaki sampai ke kota.

“Itu adalah kali pertama lelaki itu pergi ke kota,” katamu memotong cerita.

“Oh,” kataku. Mengisyaratkanmu agar melanjutkan cerita.

Anak remaja itu sumringah karena di kota dia bisa melihat mobil, sepeda motor, dan gedunggedung tinggi serta hal-hal yang tak pernah dia temui di kampung.

Itu adalah alasan mengapa dia sangat menyukai suasana di kota, maka sejak saat itu kemudian dia lebih sering ke kota, lebih sering berjalan kaki ke kota, lebih sering menginjak jalan aspal panas yang tak pernah membuat kakinya melepuh, dan lebih sering menyaksikan orang-orang kota dengan segala kehidupannya. Dia semakin terjangkit kehidupan kota, mulai menginginkan alas kaki, menggunakan baju kaos bergambar dan memakan makanan yang ada di kota.

“Ayah, apakah aku boleh membawa semua ini pulang?”

“Tidak, jangan pernah kau kotori kampung dengan membawanya pulang.”

“Kenapa aku tidak bisa membawanya? Aku ingin memakai alas kaki, dan baju bergambar ini.”

“Sekali kau membawa pulang, adat menghukummu.”

Remaja itu kemudian menuruti ayahnya, dia melupakan semua keinganannya dan mulai mencari cara agar bisa mengenakan alas kaki dan baju bergambar. Setelah pertama kali dia pergi ke kota, pada hari-hari berikutnya dia lebih sering ke kota bersama ayahnya.

“Itu adalah caranya, agar bisa memakai alas kaki, baju bergambar,” katamu. “Itupun ia kenakan secara diam-diam dari ayahnya.”

Kehidupan kota menawarkan hidup yang berbeda untuknya, dia diam-diam merencanakan untuk hidup di luar adat dan kampungnya. Menjadi Baduy Luar adalah jalan satu-satunya agar dapat merasakan kehidupan kota.

“Ayah, saya mohon ampun. Saya ingin keluar dari kampung dan adat,” katanya suatu hari.

Ayahnya kaget. Dia tidak habis pikir bahwa anaknya ingin keluar adat.

“Kenapa kau ini?”

“Saya ingin tinggal di Baduy Luar.”

Mula-mula Ayahnya tidak mengizinkan anaknya pindah ke Baduy Luar. Sebagai seorang ayah, merupakan sebuah kegagalan jika anak tidak dapat melanjutkan tradisi, dia seperti gagal mewarisi tradisi kepada anaknya.

“Kau perlu ingat, jika kau memutuskan keluar dari adat, jangan sesekali merendahkan orang-orang kita, apalagi orangtuamu. Ingat pesanku itu,” geram lelaki paruh baya itu.

Remaja itu sudah bulat untuk meninggalkan Baduy Dalam sehingga Ayahnya tak mampu membendung lagi. Dia hanya mengizinkan pindah ke Baduy Luar, meski dengan hati yang terkoyak.

“Tidak mudah ayahnya menerima itu semua, bukan hanya gagal mewarisi tradisi, tapi itu bisa mencoreng nama baik ayahnya dalam adat,” katamu dengan nada yang menurun. “Ayahnya adalah tokoh adat,” tegasmu.

Memasuki sebuah pemukiman terakhir menuju Baduy Dalam, kau menghentikan ceritamu. Lalu kau mengisyaratkan kami untuk beristirahat sejenak di sebuah rumah warga. Di rumah yang berdinding dan atap jerami itu terdapat berbagai barang dagang, ada mie instan, snack, dan air minum. Kami disambut ramah seorang pemuda bersama istri dan anaknya.

***

“Apakah semua sudah siap?” kau memulai membuka suara, ketika baru saja kita tenggelam setelah makan siang. Kau makan nasi putih dengan ikan asin serta gula aren. Sedangkan kami memakan nasi putih dan mie instan. Ini belum setengah jalan, masih ada beberapa jam lagi untuk sampai ke Baduy Dalam, kau menyarankan makan siang di sini sebelum menempuh jalan yang lebih melelahkan lagi.

Perjalanan ini seperti kembali ke alam. Kami dilarang mengeluarkan kamera, handphone bahkan sabun mandi. Kami semua dilarang sesuai dengan adat Baduy Dalam.

Jika dilanggar, kami akan di hukum adat. Kami akan menuju ke belahan dunia, di mana orangorang yang hidup di sini menyatu dengan alam, seperti kodrat manusia dari rahim alam.

Namun di Badui Luar, kami masih bisa mengambil gambar dan aku berkali-kali memotret lelaki kurus baju gelap bergambar itu sedang menggendong anaknya.

Aku meminta waktu kepadamu, untuk berkeliling sesudah makan dan mengambil gambar rumah rumah yang ada di sekitar. Melihat dari rumah saja, tidak ada perbedaan yang mencolok, semua dibuat seragam seperti tidak ada kesenjangan yang terjadi.

Begitupula pakaian, aku langsung akrab dengan pakaianpakaian yang orang-orang Baduy kenakan. Baduy Dalam memakai baju putih serta ikat kepala putih, orang-orang Baduy Luar dengan pakaian gelap serta ikat kepala dengan warna yang sama.

“Dia kemudian menikah dan hidup di Baduy Luar, dia menghidupi anak istrinya dengan membuat gula aren yang dijual di kota,” kau melanjutkan cerita dalam perjalanan menuju tanjakan.

“Ini namanya tanjakan cinta,” selamu.

Kami mengangguk, menyimak suara yang keluar dari mulutmu dan melirik kanan kiri, sambil berkali-kali menarik napas.

Seminggu sekali remaja itu pergi ke kota untuk menjual gula aren. Gula aren yang sudah beku dicetak dalam sebuah cetakan kayu. Dua buah hasil cetakan seperti gula aren itu kemudian dibungkus menggunakan daun kering. Setiap bungkus dijual tujuh ribu rupiah.

Aku terkaget mendengarnya. Mengapa menjual gula aren sangat murah? Padahal itu menjadi bahan bagi banyak bumbu masak. Tapi kau mengatakan bahwa itu adalah harga normal.

“Orang-orang kota kerap membeli gula aren dengan harga yang sangat murah, ada yang mengambil lima ribu rupiah per bungkus, bahkan ada yang pernah menawarkan dengan harga tiga ribu rupiah,” lanjutmu.

Tak hanya itu, gula arennya juga sering ditukar dengan mie instan atau gula dan kopi. “Jika sudah berhadapan dengan orang kota, dia seperti tak berdaya,” cetusmu.

“Mungkin dia mudah dibodohbodohi, padahal untuk sampai ke kota dari kampungnya itu sangat jauh, masa pulang dengan tangan hampa, atau uang yang tak seberapa.”

“Pak Komong,” kataku menghentikan cerita. Kau kemudian berhenti lalu memandangku. Agak lama juga aku tak bersuara, kau sudah menungguku mengeluarkan suara. Tapi kau kemudian memecah keheningan.

“Sebentar,” katamu. Kau lalu pergi seperti mengendus sesuatu.

Kau datang dengan dua buah durian segar sepertinya buah ini baru saja jatuh dari pohonnya. Kami lalu membukanya dan memakan durian itu.

“Di sini, durian jatuh bisa kita ambil, meski bukan punya kita pohonnya,” cetusmu.

“Sebab di sini kita saling berbagi hasil alam termasuk buah durian yang ada di Tanah Baduy ini.”

Kami melanjutkan perjalanan, kau tak melanjutkan cerita. Kau lalu masuk ke sungai kecil, membasuh kaki, dan tanganmu dengan beberapa helai daun. Menurutmu, daun-daun itu sering digunakan oleh orangorang Baduy sebagai sabun atau shampo.

***

Kita memang berjalan ke depan, tapi kenangan selalu berjalan ke belakang. Kau seperti ingin menyampaikan sesuatu. Tapi aku ragu menanyakan hal itu. Aku menangkap raut wajahmu, tapi aku menunggu kau yang sendiri menyampaikannya. Barangkali ada sesuatu yang ingin kau sampaikan kepadaku, aku masih menunggu, sampai kita memasuki perkampungan Baduy Dalam. Kau mengantarkan kami pada sebuah rumah sederhana dari lantai kayu dan daun jerami.

“Kalian tidak diperkenankan mengambil sesuatu dari sini,” pesannya pada kami.

“Niko, apakah kau tahu sesuatu?”

Aku menggeleng.

“Orang yang kucerita tadi itu Neldi, tempat kita makan siang di rumahnya tadi,” cetusmu.

“Dan dia adalah anakku,” sambungmu.

Kau lalu berpamitan kepada kami dan pergi. (*)