Cerpen K.Y. Karnanta (Jawa Pos, 08 Desember 2019)

Di Subuh Itu, Lampu-Lampu Dipadamkan Lebih Pagi ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1).jpg
Di Subuh Itu, Lampu-Lampu Dipadamkan Lebih Pagi ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

— untuk Lalita

MESKI telah tuntas ia tenggak lima kaleng minuman beralkohol ringan yang membuat kepalanya terasa sedikit berat, Frans sebenarnya tidak mabuk. Butir keringat yang menggulir di kepala dan lehernya, atau juga sepasang mata merahnya yang memancarkan lemas, lebih disebabkan karena dugaan-dugaan tentang kemungkinan terpelik yang akan dialaminya: apa aku akan dianggap gelandangan? Mungkinkah aku dibui karena minum di taman ini. Ah, kuharap tidak, batinnya, semoga bisa berdamai. Tapi, jika bisa berdamai, mestikah sisa uang untuk hidup sebulan ke depan ini yang mesti kuberi?

Terlintas juga dalam benak Frans adegan yang kerap ia lihat di taman itu pada hari-hari sebelumnya. Beberapa pedagang mainan, makanan, dan minuman rutin berlari-lari kecil setiap kali melihat mobil petugas melintas, bersembunyi entah di mana, untuk kemudian kembali lagi setelah mobil patroli itu pergi. Orang-orang di taman selalu menyaksikan hal itu dengan tersenyum. Beberapa yang lain, yang mungkin baru pertama kali melihat adegan itu, mengamati dengan ekspresi keheranan, dan setelah mereka mendapat jawabannya, rasa heran itu berubah menjadi tawa. Beberapa lagi iseng akan bertaruh dalam waktu berapa menitkah pedagang-pedagang itu akan kembali lagi. Beberapa lagi sama sekali tak menaruh peduli.

Baca juga: Madah – Cerpen K.Y. Karnanta (Jawa Pos, 12 November 2017)

Frans tak menyangka bahwa malam ini justru dirinyalah, yang biasanya menjadi penonton di bangku taman dan menaruh simpati pada pedagang-pedagang itu karena tahu kebanyakan dari mereka adalah warga pendatang, sama seperti dirinya, harus berurusan dengan petugas untuk masalah yang tak bisa ia anggap sepele: menenggak arak di tempat umum. Ah, apa ada yang lebih buruk daripada berurusan dengan polisi di tempat yang jauh dari rumah, batinnya.

Sementara Frans menggumam dalam diam lalu kembali memandang pada sepasang mata di depannya; sepasang mata yang sedari tadi tak henti mendelik garang, petugas itu kembali menghardiknya.

“Berani kamu lihat mataku, hah? Jongkok!” Bentakan sang petugas itu sebenarnya cukup keras, lebih-lebih Frans hanya berjarak sehelai embusan asap dari bibir tebal dengan bekas luka jahitan yang kentara di sekelilingnya. Tetapi Frans bergeming, kecuali matanya yang refleks berkedip terkena semburan ludah sang petugas. Untuk beberapa saat dua pasang mata itu bersitatap seolah hendak menaklukkan satu sama lain. Ketika mata petugas berbaju cokelat kekuningan itu yang memilih berkelit lebih dulu dan mengalihkan perhatian pada dompet, tas kumal berisi beberapa buku yang tergeletak di pinggir bangku, Frans kemudian memandang lemah pada pendar lampu di sekeliling taman.

Baca juga: Panggung Terhukum – Cerpen Ida Fitri (Jawa Pos, 01 Desember 2019)

“Hei, kalau lihat kau punya muka dan mulutmu punya bau, apa salah kalau aku pikir kau ini berandal?” Petugas itu kembali menyalak, kali ini dengan logat yang sangat kentara terlalu dibuat-buat. Frans tahu petugas itu sedang mengoloknya, sejenis olok-olok yang sering Frans dengar dari anak-anak kecil di daerah tempat ia kos; dari beberapa teman kampusnya yang iseng menggoda logat bicaranya, bahkan juga keriting rambutnya; atau dari beberapa tayangan sinetron yang bagi Frans selalu berlebihan, yang sesekali ia lihat saat ia membeli makan di warung kopi tubruk.

“Kalau lihat semalaman ini kau tersenyum-senyum sendiri, apa salah aku menganggapmu gila? Heh, jawab!”

“Sumpah, Pak, saya tidak gila..”.

“Sumpah, Pak, saya tidak gila..” Petugas itu lagi-lagi menirukan logat bicara Frans, namun sedetik kemudian terburu-buru menahan tawa, berusaha mempertahankan aura kegarangan yang telah ia bangun sebelumnya, yang tampaknya membuahkan hasil pada Frans. Saat menggeledah isi dompet Frans dan menemukan kartu pengenal bergambar seorang peminum yang menaiki seekor burung garuda, lambang salah satu universitas negeri terpandang di kota itu, petugas itu sesungguhnya tahu, bahkan sangat tahu, tingkat kewarasan dan kecerdasan orang yang sedang ia hadapi. Meskipun awalnya petugas itu sedikit terkejut, lebih-lebih saat membaca keterangan strata pendidikan setingkat lebih tinggi dari yang biasa ia temui saat menghadapi unjuk rasa mahasiswa, petugas itu memutuskan tak peduli. Kartu mahasiswa terkadang membawa keuntungan tertentu, pikirnya, tetapi dalam soal seperti ini, apalagi dengan seragam yang sedang kukenakan, hal itu tidak bermakna apa-apa.

Baca juga: Lalijiwo – Cerpen Wina Bojonegoro (Jawa Pos, 24 November 2019)

“Baik, kita buktikan. Sekarang kamu push-up dan hitung yang keras. Seratus kali. Salah hitung sekali kuanggap kamu tidak waras. Cepat!”

Frans spontan meletakkan secarik kertas yang sedari tadi ia genggam, tak sempat mengatur napas lalu segera mengambil posisi push-up. Ia tak tahu mengapa ia begitu saja patuh, meski akal sehatnya yang malam itu ia genangi dengan alkohol masih sanggup memutuskan bahwa perintah itu adalah tindakan konyol. Sementara dengan mimik muka yang terlatih, mimik muka penguasa keadaan, petugas itu tertawa-tawa, duduk di bangku beton sambil meraih kertas itu dan memperhatikannya sejenak.

“Kertas macam apa pula yang kau bawa, hah? Nomor togel? Oh..aha, ini surat, surat cinta? Orang seperti kau ini juga bisa jatuh cinta, hah?”

Frans berhenti bergerak, melihat secarik kertas miliknya digenggam kasar.

“Hei, kenapa berhenti? Lanjutkan! Nah, supaya kau semangat, akan kubaca suratmu ini sampai hukumanmu selesai. Hahaha..”

Taman teramat sunyi pada dini hari itu. Bocah-bocah kecil pedagang asongan yang sepanjang hari berjualan meringkuk tertidur sembarangan di celah-celah bangku dan mainan. Bertumpu pada kedua tangannya, perlahan Frans menggerakkan tubuhnya naik turun. Matanya semakin merah ketika petugas bersepatu lars itu mulai membaca tulisannya dengan keras. Keras, dengan logat yang dipaksakan semirip mungkin dengan logat yang lazim dibunyikan orang-orang berwajah dan berperawakan seperti Frans.

Baca juga: Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya – Cerpen Edi Ah Iyubenu (Jawa Pos, 17 November 2019)

Kalau aku mati nanti, Lalita, aku ingin jadi kupu-kupu. Kupu-kupu warna merah, seanggun senja di buku cerita. Kalau kau ingin jadi apa?

Kutanyakan hal itu sebab baru saja kulihat seekor kupu-kupu tergeletak tak bergerak di tempat aku duduk. Kupu-kupu itu berwarna merah jingga seanggun senja. Kulihat ada juga garis hitam kebiruan melengkung di bibir sayapnya. Sebuah perpaduan warna yang ganjil namun indah, menurutku. Kupu-kupu itu tergolek kaku di ujung bangku. Sayapnya tak bergerak meski angin berembus semarak. Awalnya aku menduga kupu-kupu anggun itu mati, tetapi ketika ia kudekati, tiba-tiba ia melesat cepat lalu menghilang di antara rimbun daun yang selalu berayun. Sedang dengan kupu-kupu saja aku tertipu, apalagi dengan yang lain?

Ah, aku jadi tersipu sendiri. Dan karena aku tersipu sendiri itulah tiba-tiba aku mengingatmu, entah kenapa.

Lalita, kini aku sedang duduk di bangku kayu pinggir lapangan, memandang langit yang kini tak merah lagi saat senja. Seperti kau tahu, cuaca kini selalu tak mudah untuk dibaca. Siang begitu terik, malam begitu gigil, angin bertiup tergesa, membuat tubuh yang rapuh dituntut untuk lebih patuh. Kalau tidak, mungkin saja tubuh bisa rentan, pingsan seperti kupu-kupu yang tadi kuceritakan. Meski akhirnya kupu-kupu itu siuman, kurasa tak ada di dunia ini yang menginginkan pingsan. Lalita, seandainya aku adalah kupu-kupu itu, mungkinkah kau akan peduli?

Baca juga: Pengantar Rasa Takut – Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 10 November 2019)

Ah, maafkan aku Lalita. Seharusnya aku tak perlu bertanya seperti itu. Seperti berulang kali kau bilang, ”Perempuan itu tak suka ditanya!” Tapi jujur saja aku masih sering tak kuasa menahan diri untuk tidak bertanya, dan sialnya, aku selalu saja tidak tepat waktu dan tempat untuk bertanya atau bercakap tentang hal yang kau sebut kekanak-kanakan itu. Aku rasa kau pun tahu kenapa aku tak kuasa, meski di saat yang sama kau tak memberi maklum untuk itu semua. Tak apa Lalita, tak apa. Mungkin aku memang hanya boleh menanyakan hal itu pada bayangan, seperti yang selama ini aku lakukan. Lagi pula, bukankah sesuatu akan jauh lebih menarik untuk tidak diperbincangkan, terlebih dipertanyakan. Seperti senja ini, senja yang memucat tampak lemah, ringkih, dan kita tetap tak pernah tahu, mungkin tak ingin tahu, apakah senja pernah bertanya kepada angin benarkah ia tak lagi menyala.

Lalita, mengapa kita tidak terlahir sebagai senja?

Ah, Lalita, sekali lagi, maafkan aku. Baiknya kuceritakan saja padamu tentang taman ini. Taman ini dibuka tepat dua bulan setelah kepergianmu, satu setengah tahun setelah aku datang ke kota ini, lima bulan lebih lima belas hari sejak kau izinkan aku menciummu. Sayang sekali kau tak sempat melihat bagaimana kota kelahiranmu ini berbenah, banyak membuat taman-taman yang indah, segar dipenuhi kembang-kembang yang merekah, dirias kupu-kupu yang selalu terbang merendah. Di beberapa sudut pada taman ini terdapat juga kolam pancuran. Jika malam tiba, air dalam pancuran itu menyala membias penerangan yang dipasang di sekelilingnya.Kalau aku tak salah menghitung, bundar lampu merkuri yang ada di taman itu seluruhnya berjumlah lima puluh dua. Merah, kuning, biru, bahkan seluruh lampu di taman ini selalu berpendar padu. Mungkin kau akan berpikir betapa tidak pentingnya menghitung jumlah lampu-lampu itu. Tapi bagiku tidak. Sering aku merasa iri dengan lampu-lampu itu. Satu jam menjelang magrib mereka dinyalakan bersama-sama, setelah subuh mereka juga dipadamkan dengan cara serupa.

Baca juga: Labirin – Cerpen Khoirul Prasetyo Utomo (Jawa Pos, 03 November 2019)

Lalita, adakah yang lebih indah dari hidup dan mati bersama-sama?

Sejak dua bulan lalu, aku memang cukup sering untuk pergi ke taman ini, seorang diri, menghikmati kupu-kupu, senja, juga lampu-lampu itu. Aku merasa taman ini bisa membuatku sejenak melupakan sesak yang selalu muncul dalam benak: sesak yang rutin tapi tak kutahu ujung muasalnya. Melihat para pengunjung taman bersenda gurau dengan karibnya, anaknya, atau juga pasangannya. Mereka tampak berwajah riang dan tertawa bahagia.

Seperti beberapa bocah yang sedang bermain sepak bola di depanku saat ini. Mereka begitu bersemangat mengejar bola, berteriak pada temannya, tertawa, lalu berlari lagi. Melihat napas mereka yang naik turun, aku berpikir bahwa mereka juga merasa lelah. Lelah karena bahagia atau bahagia karena lelah? Lelah dalam kebahagiaan atau bahagia dalam kelelahan? Entahlah. Yang pasti, aku ikut merasa senang. Perasaan senang itu cukup untuk membuatku tersenyum meski sesungguhnya aku tak dapat memastikan apakah senyumku itu tulus atau gerus. Dan lebih dari itu, aku juga merasa lega. Lega karena ternyata masih ada yang bahagia di kota ini.

Baca juga: Perjanjian Terakhir dengan Mbaureksa Gunung Bogang – Cerpen Bonari Nabonenar (Jawa Pos, 27 Oktober 2019)

Lalita, kau di sana, bahagia juga kan? Percayalah aku selalu berdoa untuk itu.

Oh ya, perihal pesan singkat “amo int viu ni” yang kau kirim dua minggu lalu itu, hingga kini aku tak mengetahui artinya. Awalnya, kukira itu kalimat dalam bahasa Spanyol. Kucari di kamus, aku hanya menemukan int kurang lebih sama dengan neither dalam bahasa Inggris. Lalu, seorang teman baruku yang menjadi native speaker di sebuah tempat kursus bahasa Inggris mengatakan,’amo’ adalah kata-kata Italia yang sepadan dengan I Love dalam bahasa Inggris. Sementara untuk kata-kata yang lain, bule asal Liverpool itu tidak tahu. Selain heran dari mana aku mendapat kalimat itu, dengan muka serius ia malah menuduh kalau aku sedang membuat bahasa sendiri. Kubayangkan senyummu, dan kukatakan bahwa itu tidak mungkin, meski di saat bersamaan aku membatin bahwa itu mungkin saja. Meski bukan sekali ini aku sulit menerka maksud dan sikapmu, kau tidak sedang membuat bahasamu sendiri kan, Lalita?

Sebenarnya waktu kita telepon kemarin lusa aku hendak menanyakan itu. Tetapi kau sama sekali tidak berbicara hal-hal yang membuat aku berkesempatan untuk menanyakan arti kalimat itu. Tetapi tak apa Lalita, tak apa. Denganmu, aku tahu aku harus belajar untuk terbiasa berjarak dengan naluri keingintahuan yang selalu mencemaskan itu. Selama aku masih kau izinkan mendengar suaramu; mendengar kau menyahut ucapanku, perasaanku akan menjadi bocah-bocah yang sedang bermain sepak bola itu. Seperti pernah kau katakan, pengetahuan sering membuat manusia merasa pasti dan memiliki sesuatu, dan memiliki sesuatu membuat manusia lupa bahwa tak ada yang benar-benar bisa dimiliki, kecuali mati. Mati pun, sepertinya, itu juga diberi.

Baca juga: Aroma Tanah Moncongloe – Cerpen Alfian Dippahatang (Jawa Pos, 20 Oktober 2019)

Lalita, kalau aku mati nanti, aku ingin jadi kupu-kupu. Kupu-kupu warna merah, seanggun senja di buku cerita. Kalau kau ingin jadi apa?

“Ingin jadi apa?” petugas itu menghela napas panjang. Sejenak pandangannya menerawang seolah sesuatu membesit dalam pikirannya; sesuatu yang tak begitu jelas namun yang pasti membuatnya beberapa kali tampak menghela napas panjang. Sepasang kucing yang berkejaran dan melintas di depannya menimbulkan bunyi pekak dan membatalkan lamunannya. Kesadaran bahwa Frans tidak lagi ada di sampingnya bersamaan dengan munculnya sebuah perasaan aneh dalam diri petugas itu.

Petugas itu mengembuskan napas panjang, berdiri lalu tergesa memeriksa sekeliling. Lampu-lampu taman menyala temaram diisap hijau dedaunan yang mulai mengembun. Angin dini hari meniup dingin, melukis hening yang samar tergetar oleh bunyi isak dari balik semak yang melingkari pos penjagaan. Dilihatnya Frans terkulai lesu di balik tiang ayunan yang tampak berkarat dan mengelupas bagian tengahnya. Mata Frans memerah, membasah, dengan napas terbata dan bibir sunyi tanpa kata.

Baca juga: Orang Kalah – Cerpen Dadang Ari Murtono (Jawa Pos, 13 Oktober 2019)

Dalam dini hari dan situasi seperti itu selalu muncul sebuah naluri yang tiba tanpa aba, mendesak untuk dilunaskan tanpa mesti dipahami dengan sadar, oleh seseorang yang menemukan keasingan bagi dirinya. Dan naluri yang kurang lebih sama itu pula yang mengantar petugas itu untuk duduk di sebelah Frans sembari menawarkan sebatang rokok.

Tetapi Frans terdiam acuh. Maka sembari tetap memandang mata Frans yang masih basah, petugas itu memutuskan untuk mengelap wajah Frans yang sebenarnya tak lagi berkeringat, dengan jari-jari hitam kekarnya sendiri. Jemari petugas itu menyentuh pipi basah Frans, mengusapnya, berangsur-angsur diam, dan kemudian benar-benar tertahan di sana.

“Bagaimana bisa kamu sampai menangis?” bisik petugas sambil mengamati basah di jarinya.

Baca juga: Wayang Kardus – Cerpen Maria M. Bhoernomo (Jawa Pos, 06 Oktober 2019)

Petugas itu diam-diam menarik napas panjang, sementara matanya kini tak lagi tampak menghardik. Frans dengan sigap kembali melakukan push-up. Tangannya mengepal kuat menyangga tubuh yang kembali dalam posisi horizontal, naik turun menyerupai pegas hidup diiringi suara paraunya yang bergetar menghitung hukuman. “Empat puluh satu, empat puluh dua…”

Petugas itu perlahan beranjak meninggalkan Frans yang sedang melunaskan hukuman, menolehnya sebentar, kemudian masuk ke pos penjagaan. Tepat ketika Frans mencapai hitungan keseratus, samar terdengar gaung azan dari arah selatan bagian taman. Tepat ketika Frans memungut dan hendak membaca kembali surat yang tadi ia tulis, bundar lampu-lampu taman yang berpendar temaram itu dipadamkan lebih pagi dari biasanya.

 

Surabaya, 2008–2019

Kukuh Yudha Karnanta. Tercatat sebagai staf pengajar pada Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, FIB, Universitas Airlangga Surabaya. Alumnus Magister Kajian Budaya dan Media UGM Jogjakarta ini bergiat di Forum Studi Seni Sastra Luar Pagar (FS3LP) dan Komunitas Film Alam Pasti Ilmu Surabaya. Karya-karyanya tergabung dalam beberapa antologi. Di antaranya, antologi cerpen La Runduma, antologi cerpen Surat untuk Anak Presiden, dan antologi puisi Kentrung Jancukan.