Cerpen Manna Wassalwa (Medan Pos, 08 Desember 2019)

Bersama ilustrasi Medan Pos (1)
Bersama ilustrasi Medan Pos

Nyaris setiap hari mata berkaca-kaca. Perasaan sesak kian membengkak di dada. Telinga ini rasanya sudah ingin pecah karena terlalu sering mendengar orang-orang mengatakan bahwa aku sungguh beruntung hanya karena sekarang aku menjalani profesi yang didambakan banyak orang. Ya, aku tahu benar bahwa profesi ini didambakan banyak orang karena sangat menjamin kehidupan.

Bukan hanya hingga ajal menjemput, tetapi juga mampu menjamin kehidupan keluarga yang ditinggalkan kelak. Namun, apa jaminan kehidupan juga bisa menjamin seseorang bahagia? Sebagian mungkin iya, tapi tidak untuk orang-orang yang punya impian lain. Bagi sebagian orang, mungkin harta dan tahta cukup untuk membuat bahagia. Namun, menurutku bahagia adalah ketika kita mampu mewujudkan satu persatu impian yang ada di kepala. Bekerja bagiku bukan tentang cara untuk bertahan hidup, melainkan komitmen untuk tetap berusaha mencapai impian yang berjuta.

Sejak lama aku memperjuangkan impian yang tercipta di kepala dan dada. Menjadi seorang novelis best seller, penulis skenario ternama, sutradara handal, idola terkenal, produser terpandang, sastrawan yang tak mampu diabaikan oleh siapapun, motivator inspiratif, kreator berbakat, dan pemilik kafe dengan nuansa artistik, adalah beberapa dari jutaan impian yang kudamba.

Bukan sekadar ingin menjadi terkenal, lebih dari itu, aku ingin menjadi sosok yang berpengaruh. Sejak lama aku telah memperjuangkan impian-impian itu. Usia 16 tahun namaku sudah ada di surat kabar atas prestasi karena memenangkan perlombaan. Usia 17 tahun namaku ada di surat kabar karena lulus di Perguruan Tinggi Negeri. Usia 18 tahun puisi pertamaku terbit. Usia 19 tahun kuraih juara 1 lomba tulis puisi tingkat nasional. Usia 20 tahun sebuah antologi cerpen beranah nasional memuat cerpenku.

Usia 21 tahun ceritaku yang ada di aplikasi baca online diangkat ke layar lebar dimana aku juga ditunjuk sebagai penulis skenario sekaligus asisten sutradara. Di usia 22 tahun profilku dimuat di surat kabar sebagai seorang pecinta kamus dan kata. Namun, di usia 23 tahun, tanpa bisa menolak, aku harus mengikuti sebuah tes untuk meraih profesi yang sebenarnya tidak aku inginkan.

Papa, Mama, Kakak, dan Abang berharap aku bisa meraih profesi tersebut sehingga aku mencobanya agar tidak membuat mereka kecewa. Ketika semua peserta tes berharap kelulusan, aku justru berkeyakinan pada kegagalan. Jika berakhir gagal pada tes tersebut, aku hanya belum bisa membanggakan keluarga, tetapi tidak mengecewakan. Namun, jika aku tidak mengikuti tes itu sama sekali, sudah pasti mereka akan kecewa.

Aku hanya ingin mengikutinya saja, bukan kelulusan meraih profesi itu yang aku damba, tetapi takdir berkehendak lain. Aku lulus tes tersebut dan kini terpaksa menjalani profesi yang sama sekali tidak pernah aku inginkan. Profesi yang dalam menjalaninya membuatku harus mengenyampingkan perjuangan dalam meraih impian yang sebenarnya.

Aku melihat langit lepas. Tak kupejamkan mata karena itu hanya akan membuat bendungan air mataku jatuh.

“Kau tidak akan berdosa hanya karena menangis.” Kata Raga, sahabatku.

“Aku sudah sangat menyedihkan. Menangis hanya akan membuatku terlihat lebih menyedihkan lagi.” Jawabku dengan tetap menahan air mata tidak jatuh.

“Jika tidak ada yang melihatnya, maka tidak akan terlihat menyedihkan.”

“Bagaimana caranya agar tak terlihat? Kau sedang bersamaku di sini dan kau bisa melihat jika akhirnya aku menangis.” Aku menggelengkan kepalaku dan menegarkan diriku sendiri.

“Kau ingin aku pergi dan membiarkanmu menyendiri untuk saat ini?” Raga sedikit terkejut tetapi ketulusan tersirat dari ucapannya.

“Bahkan saat sendiri pun bisa saja ada orang lain yang sedang mengamati dengan atau tanpa sengaja.”

Suasana hening di antara kami. Lalu dalam hitungan sepersekian detik, Raga menarik dan mendekapku. Seketika semua gelap. Bagaimana tidak? Wajahku menempel rapat di dada bidang Raga. Spontan saja mataku terpejam dan bendungan air mata yang sejak tadi kujaga kini tumpah dan membasahi kaos hitam Raga.

“Kau bisa bersembunyi dengan baik lewat cara ini. Tidak ada yang akan melihatmu menangis, termasuk aku.”

Ya, Raga tidak melihatku menangis, tetapi dia mengetahuinya. Namun, yasudah. Toh, Raga memang sudah tahu sejak lama. Dia orang pertama yang mengetahui kesedihanku atas kelulusan ini.

“Aku tidak sanggup lagi.” Kataku setelah akhirnya tangisku pecah di depan para mentor dan teman-temanku. Setelah menangis rasanya aku menjadi lebih nyaman. Tenang dan perlahan mengantuk.

Aku hanya menunduk lalu menjatuhkan wajahku ke atas meja karena tidak sanggup melihat bagaimana ekspresi mereka mengetahui aku ternyata begitu lemah.

“Assa.”

Tanpa mengangkat wajah dan melihat siapa yang bicara, aku tahu bahwa itu adalah Bang Fachrul, mentorku di dunia perfilman. Dia adalah yang paling tidak pernah marah. Namun, tetap saja aku malu untuk mengangkat wajah apalagi saat ini air mataku berjatuhan di pipi.

“Nangis tidak akan menyelesaikan masalah, Assa.”

Dan aku juga tahu ini suara siapa, Bang Sadri. Mentorku di dunia kepenulisan dan kesusastraan. Dia tidak pernah marah, tetapi dia melatihku dengan ketegasan di atas rata-rata. Aku masih belum berani menunjukkan wajah.

“Kak, ayolah! Jangan menangis seperti ini.”

Suara ini membuatku merasa semakin tidak menentu. Ini suara Alvin, dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Dia adalah pemeran utama dalam film yang skenarionya ditulis oleh diriku tahun lalu dan kini menjadi sutradara dalam film yang sedang kami garap. Dia masih muda, tapi dia bisa lebih dewasa dan tidak mudah patah semangat.

“Kakak pasti bisa melewati semua ini.”

Suara yang selalu memberiku kekuatan. Aku tahu ini adalah suara Kiki, anak perempuan hebat yang menangani produksi film tanpa mengenal lelah. Sering sekali masalah datang, tetapi dia tetap tenang. Tidak seperti aku yang mudah rapuh.

“Aku tidak suka melihat Kakak menangis. Kakak harus tersenyum.”

Suara yang sangat manja, milik perempuan bernama Caca yang kini menjadi pemain utama dari film yang sedang kami garap bersama. Aku sering memotivasinya, bagaimana mungkin sekarang justru aku menunjukkan lelahku di depannya?

“Kakak itu hebat. Jadi kenapa menangis?”

Dan ini suara Maundyni, dia adalah ketua komunitas yang tangguh padahal jauh lebih muda dariku. Aku benar-benar malu karena akhirnya mereka melihatku menangis seperti ini.

“Sudah! Biarkan saja dia menangis.”

Rasanya darahku langsung berdesir. Ini suara Bang Arief. Dia adalah mentor dari semua mentor. Dia adalah mentor kami semua. Dan dia tidak suka melihat kami melemahkan diri seperti yang sedang aku lakukan saat ini.

“Saat ini Assa butuh dukungan, Bang. Bukan tekanan.”

Raga, dia adalah sahabat paling luar biasa. Meski kini sudah menjadi musisi ternama, tetapi dia tetap selalu ada.

“Aku tidak menekannya. Justru kalian yang menekannya. Dia sedang ingin menangis, maka biarkan dia menangis. Jangan memaksanya berhenti menangis.”

Aku tidak mau ada keributan. Jangan sampai mereka ribut karena diriku. Pelanpelan aku mengangkat wajah dan menghapus air mata, walau tetap saja menangis lagi. Raga meraih kedua tanganku di atas meja. Ditatapnya aku lurus dengan pancaran amat tulus.

“Assa, kau masih ingat kan apa prinsip kita dulu? Tidak ada yang harus lebih diprioritaskan antara sekolah dengan impian. Sama, tidak ada yang harus lebih diprioritaskan antara pekerjaan dengan impian. Keduanya sama penting, dan bisa dijalani secara bersama.”

Bersama.

Aku tersentak. Kubuka mata dan pemandangan yang kulihat mengabur. Pelan-pelan aku menyadari bahwa aku sedang berada di dekapan Raga. Dia memang selalu menepati janjinya, bersama.

 

Manna Wassalwa. Penulis adalah Penggiat Sastra MTs N 3 Labuhanbatu Utara.