Cerpen Umi Salamah (Koran Tempo, 07-08 Desember 2019)

Salju Turun Lebih Awal di Tempat Ini  ilustrasi Koran Tempo (1).jpg
Salju Turun Lebih Awal di Tempat Ini ilustrasi Koran Tempo

Kami mulai mati sebelum salju, dan seperti salju, kami terus jatuh—Louise Erdrich dalam novel Tracks.

Sore ini, benar-benar tidak ada salju yang turun atau mencair membasahi permukaan rumput hijau yang tumbuh subur. Tak ada salju sama sekali karena memang belum waktunya musim dingin. Tapi bagi Adam, yang kini berdiri di balkon kamarnya di ketinggian setara bukit menjulang gagah di depannya yang berisi cháteau, ia merasakan salju turun dengan derasnya. Seperti rintik salju dalam badai, ia serasa dingin dan membeku.

Tubuhnya yang terbalut mantel berwarna abu-abu dan syal senada dengan mantel, tidak cukup menghangatkannya. Angin musim gugur yang bertiup dari arah timur, menerbangkan rambutnya yang berwarna putih. Sore hari yang begitu tidak bersahabat. Tapi ia tetap mempertahankan diri berdiam di balkon kamarnya sembari menatap hamparan bunga iris di sebelah kiri.

Baca juga: Aroma Darah di Antara Bunga Eastern Redbud – Cerpen Umi Salamah (Koran Tempo, 22-23 Juni 2019)

Tiga jam yang lalu, di hamparan bunga iris yang didominasi warna ungu itu, ramai diliputi stasiun televisi. Tentu saja bukan untuk meliput bunga iris. Adam sendiri yang menjadi fokus liputannya. Ia masih ingat dengan jelas, apa yang telah dilakukannya di sana. Sebelumnya, ia mandi dengan sabun aroma bunga iris. Kemudian menggunakan pakaian yang sama, yang kini dikenakannya. Ia menyisir rambutnya ke belakang. Lantas mengenakan sepatu bot kulit berwarna cokelat, ia berjalan menyusuri jalan kecil berkeramik yang menghubungkan rumahnya dengan kebun bunga iris. Ia tidak peduli walaupun puluhan kamera terus membayanginya.

Di hamparan bunga iris yang bermekaran, Adam memetik satu demi satu bunga iris. Ia benar-benar jeli memilih bunga iris yang sempurna, berwarna bunga terang, berukuran sedang, mahkota bunganya dikelilingi tiga kelopak, dan warna kuning di setiap kelopak yang menjorok ke dalam. Adam sudah hafal mana bunga iris yang sempurna, lebih dari 40 tahun ia telah memetik bunga iris di kebun ini. Bunga iris yang telah ia petik, ditaruhnya di keranjang.

Adam berjalan tertatih-tatih dibantu sebilah tongkat kayu, menuju kebun bunga iris di bagian tengah. Seperti sebuah keajaiban yang sengaja diukir, sebuah petak tanah kosong menempatinya. Petak tanah yang menjulang, makam Eva, istrinya. Makam yang begitu damai, dikelilingi bunga iris yang menguarkan aroma wangi meneduhkan. Makam yang didesain sendiri oleh Adam sebagai balasan setimpal atas apa yang telah dilakukan Eva sepanjang hidupnya. Susah payang Adam berjongkok di samping makam istri tercintanya. Lantas menaburkan bunga iris yang telah ia petik ke atas tanah merah itu.

Baca juga: Tulisan di Pintu Kamar Mandi Nomor Dua – Cerpen Sukron Hadi (Koran Tempo, 30 November-01 Desember 2019)

“Saya Adam Yudhistira, saya berjanji kepadamu, Eva Yudhistira, akan menikahimu dan menyayangimu sekarang sampai selama-lamanya sebagai istri satu-satunya. Saya siap mengasihimu seperti Tuhan Yesus mengasihi saya. Saya akan setia dan menghormatimu sebagai pendampingku,” ucap Adam dengan suara gemetar. Di pelupuk matanya yang keriput, setetes air mata luruh.

Apa-apa yang dilakukan Adam sempurna direkam oleh kamera milik stasiun televisi. Tanggal 13 September setiap tahunnya, stasiun televisi di Kota Domfront rutin meliput prosesi janji suci Adam kepada Eva. Mereka adalah ikon pasangan romantis abadi di Kota Domfront. Tidak ada pasangan yang mengenal kematian dan berpisah, selain mereka. Adam, menjadi model pria romantis yang diidamkan semua wanita di seantero Kota Domfront. Kesetiaan Adam bahkan menjadi kisah yang tidak pernah padam diceritakan dari mulut ke mulut di kedai kopi.

Masih di posisi yang sama, memori tua Adam tidak pernah luntur tentang Eva. Tubuhnya boleh menua, tapi tidak dengan kenangan demi kenangan yang dirajut bersamanya. Hari ini adalah hari meninggalnya Eva. Bukan sebuah kesedihan, melainkan kebahagiaan yang ditumpuk ulang. Janji suci yang ia ikrarkan untuk Eva, tidak sekadar di mulut. Hatinya setiap hari bahkan mengucapkannya tanpa sadar.

Baca juga: Kisah Ganjil tentang Pria Pemadam Kebakaran – Cerpen Tommy Duang (Koran Tempo, 23-24 November 2019)

Kebun bunga iris ini adalah lambang cinta Adam. Eva sangat menyukai bunga iris ketika ia masih hidup. Entah kenapa, Adam bersyukur Eva meninggal di awal musim gugur. Ia bisa membayangkan jika Eva meninggal di musim dingin. Kebun bunga iris ini akan tertutup salju. Sebelumnya akan gugur dan kelopaknya beterbangan tertiup ganasnya angin musim gugur. Iris yang sempurna dan aroma teduh menenangkan adalah penghormatan Adam bagi Eva.

Aroma teduh menenangkan yang memenuhi rongga paru-parunya mampu membuat Adam tertidur. Ia tidak heran, Eva betah berlama-lama duduk memandangi bunga iris sambil memejamkan mata. Hampir semua wanita di negeri Prancis menyukai bunga iris, termasuk Eva. Awal pernikahan, Adam tidak mengerti kenapa istrinya rela jauh-jauh pergi ke Kota Bordeaux hanya untuk menikmati hamparan kebun bunga iris. Bulan madu pun, Eva memilih mengajak Adam tinggal di Bordeaux. Selama satu minggu menempati hotel mewah di sana, sepanjang siang duduk di kedai kopi dengan latar pemandangan kebun iris. Kawanan burung dara berseliweran terbang di sore hari. Eva menggandeng lengan Adam, bersama-sama memberi makan kawanan burung dara. Jika kebetulan ada tukang foto keliling, Eva mengajak Adam berfoto bersama. Foto-foto yang sekarang memenuhi kamar Adam dan ruang tamu di rumahnya.

Baca juga: Harga Sebuah Sepeda – Cerpen Tjak S. Parlan (Koran Tempo, 16-17 November 2019)

Adam tidak menyangka, pertemuan kaku di restoran klasik Prancis di Kota Paris, berakhir dengan cinta mati. Pertemuan dua keluarga, keluarga Adam dan Eva. Makan malam yang membosankan berlanjut pesta minum wine Sauvignon Blanc. Hanya Eva yang tidak minum wine. Ia memilih memesan secangkir espreso. Kesan pertama yang membuat Adam berkerut curiga. Setelah menikah, ia baru tahu Eva tidak memiliki minat terhadap wine.

Orang tua Adam dan Eva kawan karib dan mempunyai bisnis yang sama, wine. Ayah Eva seorang petani anggur dan pembuat wine Carbenet Sauvignon di Gironde, kawasan pelabuhan di Bordeaux. Wine Carbenet Sauvignon merupakan jenis wine merah. Berbeda dengan ayah Adam, petani anggur dan pembuat wine Sauvignon Blanc di Domfront. Jenis wine putih. Setiap musim produksi, mereka rutin mengadakan pesta bertukar minum wine.

Sebenarnya Adam tidak pernah absen bergabung bersama orang tuanya dalam pesta itu. Tapi ia baru berjumpa dengan Eva di pertemuan tersebut. Eva tidak pernah satu kali pun ikut bergabung. Semula Adam mengira Tuan dan Nyonya Prince hanya mempunyai anak lelaki. Dalam pertemuan itu, Adam dan Eva dijodohkan sebagai perekat hubungan kedua keluarga. Adam menerimanya. Bukan atas dasar cinta. Ia memang belum memiliki perasaan apa pun terhadap Eva ketika menikah dan awal pernikahan. Satu-satunya alasan ia menerima perjodohan itu karena ayahnya mengancam tidak akan mewariskan perkebunan anggur dan cháteau wine jika ia menolak perjodohan itu.

Baca juga: Selamat Pagi Nona Magpie – Cerpen Bayu Pratama (Koran Tempo, 02-03 November 2019)

Perkebunan anggur dan cháteau wine adalah hidupnya. Ia bersumpah demi apa pun, tidak akan pernah melepaskan mimpinya menjadi pembuat wine terkemuka di Prancis. Ia mengucapkan janji suci di dalam gereja, di depan pendeta untuk hidup bersama Eva. Selama tiga bulan pernikahan, ia menyayangi, mengasihi, dan menghormati Eva sebagai pendamping hidupnya. Ya, setidaknya sebelum ia bertemu dengan seorang gadis berusia 20 tahun di restoran pizza dekat rumahnya.

***

Suatu pagi di balkon rumahnya, Adam tengah duduk bersantai sembari membaca koran. Eva sibuk menata teko berisi kopi hitam hangat dan sepiring croissant. Sejak Eva pindah ke rumah Adam, ia memutuskan untuk mengerjakan urusan rumah tangga sendiri. Orang tua Eva mendidiknya menjadi istri yang baik walaupun Adam bersikeras mempertahankan pembantu di rumahnya. Adam tidak ingin memecat para pembantu yang setia kepadanya. Dan Eva mengalah, tetapi tidak dengan urusan perut suaminya. Seperti yang ia ikrarkan di depan pendeta, ia belajar mencintai Adam. Ia berusaha mengikat suaminya dengan makanan. Adam harus candu dengan masakannya agar ia setiap saat merindukannya.

Baca juga: Nikolaus Pu’u Pau – Cerpen Reinard L. Meo (Koran Tempo, 26-27 Oktober 2019)

“Minumlah selagi hangat,” ucap Eva sambil menyodorkan secangkir kopi hitam.

Adam mengambil cangkir berisi kopi hitam. Tanpa melepas pandangan dari baris kalimat di koran, ia meneguk kopi hitamnya. Ada berita yang menarik perhatiannya. Di kolom berita di bawah headline, tertulis “Le Bistrot Saint Julien, Restoran Pizza yang Meraup Keuntungan Bersih Satu Juta Euro”. Sangat menarik. Bagaimana bisa restoran pizza mampu mendapatkan keuntungan bersih sebesar itu? Adam meneruskan membaca hingga akhir berita.

Le Bistrot Saint Julien berjarak dua kilometer dari rumahnya. Restoran pizza baru yang dibuka oleh orang Italia asli. Namanya Antonio, pemuda berusia 26 tahun kelahiran Chianti. Bukan pendapatan yang begitu besar yang diraih restoran pizza itu atau sang pemilik, yang menarik perhatiannya. Tapi ia penasaran pada strategi pemasarannya. Warga Domfront gemar minum wine. Dan Antonio menggunakan kesempatan itu untuk mempromosikan restoran pizza dengan wine Chianti, wine khas Italia.

Baca juga: Kutuk Banaspati; Empat Cerita pada Satu Malam – Cerpen Muhammad Nanda Fauzan (Koran Tempo, 12-13 Oktober 2019)

Wine Sauvignon Blanc dan wine Chianti sama-sama jenis wine putih. Warga Domfront sangat antusias pada wine Chianti, yang terkenal di Italia. Di Prancis, wine Chianti terbilang mahal karena pemerintah membatasi wine dari luar negeri. Itu sebabnya ketika ada restoran pizza sekaligus menyediakan wine Chianti di Kota Domfront, antusiasnya luar biasa meskipun baru dibuka dua bulan lalu.

Adam juga ingin merasakan sensasi meminum wine Chianti di Kota Domfront. Beberapa kali ia merasakan keasamaan sedang wine yang melekat lama di area dinding mulut dibanding di depan mulut. Wine Chianti begitu lembut. Berbeda dengan wine Sauvignon Blanc yang kental, berekstrak kering, dan berasa herbal. Ia memutuskan sore nanti akan pergi ke restoran pizza itu.

Sore itu, Adam pergi ke Le Bistrot Saint Julien sendirian. Ia sebenarnya mengajak Eva untuk menemaninya. Tapi sesuai dengan perkiraan, Eva menolak. Ia lebih memilih menyiapkan makan malam. Ia meminta Adam makan malam di rumah. Dan Adam menyanggupinya karena tujuannya ke restoran pizza itu untuk minum wine, bukan makan pizza.

Baca juga: Dari Tour de France hingga Hemingway – Cerpen Eko Darmoko (Koran Tempo, 05-06 Oktober 2019)

Di restoran Le Bistrot Saint Julien, Adam tidak perlu antre seperti pengunjung lain. Pagi tadi, ia melakukan reservasi satu set. Tentu, ia tidak mau menunggu lama karena harus bergantian dengan pengunjung lain. Sepiring pizza dan sebotol wine Chianti dipesan olehnya. Ia menikmati betul rasa dan aroma wine Chianti. Seorang gadis bergiliran menanyai pengunjung tentang wine Chianti dari meja ke meja yang lain. Gadis yang secara fisik memikat Adam. Wajahnya berbentuk oval, rambutnya berwarna cokelat bergelombang, begitu pun dengan matanya, dan tinggi. Adam tahu gadis itu seorang Italia asli dinilai dari logat bicaranya.

“Permisi, Tuan. Saya ingin mengetahui pendapat Tuan tentang rasa wine kami,” pinta gadis itu saat tiba di meja Adam.

“Kau sudah tahu jawabannya,” jawab Adam tegas.

Gadis ini tersenyum simpul. Ia beranjak dari meja Adam dan tenggelam di sebuah pintu di ujung sana. Kini, ia penasaran bagaimana restoran pizza ini menyediakan wine Chianti yang banyak. Maka, ia menunggu hingga malam hari sampai melewati waktu makan malam. Ia ingin mengobrol berdua bersama gadis itu. Adam mendapatkan kesempatan itu. Gadis itu bernama Luisa, tunangan Antonio. Ia seorang pembuat wine di Chianti. Pembicaraan tentang wine tidak ada habisnya. Adam melupakan ada seorang wanita menunggu di rumah.

***

Sejak Adam mengenal Luisa, ia menyesali pernikahannya. Ia sadar telah terpikat oleh pesona pembuat wine dari Chianti. Ia membayangkan bagaimana hidup bersama wanita yang memiliki kegemaran yang sama. Lebih jauh lagi, ia membayangkan memetik anggur bersama, membuat wine bersama, memeriksa wine di cháteau, dan segala hal yang berhubungan dengan wine. Sangat menyesal. Setiap malam, ia menyampaikan keluhan itu kepada Luisa.

Baca juga: Sepasang Mata Gagak di Yerusalem – Cerpen Han Gagas (Koran Tempo, 28-29 September 2019)

“Kenapa aku tidak bertemu denganmu lebih awal?” tanya Adam pada malam yang panas. Tangan kirinya memeluk tubuh Luisa.

“Tampaknya salju turun lebih awal di sini,” gumam Luisa tidak jelas.

“Kenapa kau membicarakan salju? Sebaiknya kita bicarakan kita,” protes Adam.

Luisa tidak berkata lebih lanjut. Ia menikmati setiap sentuhan Adam di tubuhnya. Ia merindukan sentuhan kulit Adam yang panas, seperti meminum wine. Tanpa mereka sadari, salju benar-benar turun lebih awal.

Pada masa Adam mulai menua, ia menyadari salju memang turun lebih awal. Sejak ia mereguk cinta dari wanita lain, ia menjadi salju. Ia dan Luisa menjadi salju. Mereka menggali kematian di atas kenikmatan. Dan mereka terus jatuh. Sejatuh-jatuhnya.

 

Umi Salamah lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 21 April 1996. Dia menulis novel, cerpen, esai, artikel, dan ulasan buku. Saat ini ia aktif menulis di media massa, baik cetak maupun daring.