Cerpen Muhammad Asri Agung (Rakyat Sultra, 06 Desember 2019)

Orang Asing dan Rumah Pohon ilustrasi Istimewa.jpg
Orang Asing dan Rumah Pohon ilustrasi Istimewa 

Misad kecil terkejut dengan apa yang dilihatnya. Seseorang terbaring di hadapan kedua kakaknya. Begitu menyadari Misad ada di belakang mereka, segera kedua kakaknya itu melayangkan jari telunjuk tepat di depan bibir masing-masing. Misad kecil menutup mulutnya dengan tangan kanan.

“Apa yang telah kalian lakukan?” Tanya Misad setelah merasa tenang.

“Kami menemukannya ket ika memasuki semak itu,” jawab Jusoq sembari menunjuk ke arah semak yang ada di balik pagar kayu.

“Kita sebaiknya membawanya ke tempat rahasia,” ucap Nawaq.

“Apakah kita memiliki tempat rahasia?” Tanya Misad.

“Saat ini, rumah pohon adalah satu-satunya tempat rahasia untuk masalah ini.”

“Baiklah.”

Tak jauh dari tempat mereka berada, sebuah pohon Trambesi berusia duapuluh tujuh tahun berdiri kokoh. Dengan memanfaatkan sisa papan kayu Mahoni yang berlebih dari pembuatan pagar yang mengelilingi rumah mereka, dan dengan bantuan ayahnya, Misad bersaudara membangun sebuah rumah kecil tepat di bagian tengah dari pohon itu. Dan dengan anak tangga yang dibuat melingkari pohon itu dari dasar hingga ke bagian pintu masuknya, rumah pohon itu terlihat sangat kokoh dan agung tanpa dicat dengan warna apa pun.

Setelah bersusah payah membopong anak itu menyusuri anak tangga, akhirnya mereka sampai di bagian dalam rumah pohon. Misad bersaudara membaringkannya di lantai. Kemudian, tanpa percakapan, Misad bersaudara terus menatap wajah anak itu. Setelah beberapa saat mengamati, anak yang terbaring di hadapan mereka akhirnya terbangun.

Anak itu duduk terkulai di depan Misad bersaudara. Tatapannya menyelidik apa saja yang ada di sekelilingnya. Ketakutan segera menyelimuti setiap inci tubuhnya. Bersamaan dengan suara aneh keluar dari perutnya.

“Aku di mana? Siapa kalian?” Ucap anak itu, masih terdiam di tempatnya semula.

“Kenalkan, aku Misad. Dan ini dua saudaraku Jusoq dan Nawaq. Namamu siapa?” Ucap Misad dengan senyum ramah.

“Kau sebaiknya ke rumah. Anak ini lebih terlihat lapar ketimbang takut,” bisik Jusoq kepada adiknya.

Setelah mengerti dengan maksud kakak pertamanya, Misad segera melangkah menuruni tangga, berlari menuju rumah.

“Tenang, adik kuakan membawa makanan untukmu. Kau boleh menjelaskan tentang dirimu setelah makan,” ucap Jusoq menenangkan anak itu.

Memang benar bahwa perut anak itu belum terisi sejak pagi. Beberapa saat kemudian, Misad tiba dengan semangkuk bubur jagung dan segelas susu di masing-masing tangannya. Segera anak itu dengan lahap memakan makanan yang diberikan untuknya. Tanpa mempedulikan tiga bersaudara yang ada di depannya, beberapa menit kemudian bubur jagung dan susu putih itu tandas, Ia hanya menyisakan piring dan gelas kosong.

“Jadi aku di mana?” Tanya anak itu dengan wajah tenang.

“Kau di Wolasi,” jawab Nawaq.

“Kami menemukanmu terbaring tak sadarkan diri. Dari mana asalmu?”Lanjut Jusoq.

“Entahlah. Dari sisa ingatanku, aku tadi memasuki sebuah hutan. Aku bermaksud lari dari kejaran banyak orang. Dan saat sedang berlari, aku seperti menabrak sesuatu. Entah apa yang aku tabrak. Setelahnya aku tak ingat lagi.”

“Kenapa kau lari?” Tanya Misad.

“Aku mengambil beberapa makanan. Tapi aku terpaksa melakukan itu karena aku kelaparan. Aku harap kalian bisa mengerti.”

“Kau mencuri makanan salah satu dari mereka?” Tanya Jusoq.

“Ya. Dari seorang pedagang kaya raya.”

“Sepertinya kau tidak berasal dari tempat ini?”Tanya Jusoq.

“Sepertinya memang begitu. Aku berasal dari suatu tempat yang sangat mengerikan. Tempat di mana tikus-tikus hitam menghuni hampir setiap jimpit ruang dan mencuri banyak uang untuk kepentingannya sendiri. Tempat di mana anjing-anjing dipelihara untuk menjaga harta majikannya. Tempat di mana segelintir orang memiliki banyak makanan dan banyak orang dengan harapan hidup yang kian hari kian suram. Tempat di mana orang-orang yang penuh dengan keterbatasan, datang untuk membela yang tak memiliki batasan.”

“Menyedihkan. Di sini tak ada yang seperti itu. Semua hidup dalam kebersamaan dan keberlimpahan makanan. Meski kadang, Sakkaq dan pesuruhnya sewaktu-waktu keluar dari persembunyiannya dan membuat masalah dengan menyembunyikan anak-anak yang mereka temui. Merekalah gerombolan makhluk pengacau di tempat ini. Tapi kami selalu bisa menanganinya secara bersama-sama. Namun Sakkaq sangat susah untuk ditangkap. Ia sangat cerdas. Suatu kali kami pernah mengepungnya. Dengan mengikuti satu komando, kami memasuki sebuah kawasan hutan. Tahu apa yang kami temukan? Kami menemui ada ratusan pasang rusa yang sedang mencari makanan. Ketika menyadari keberadaan kami, rusa-rusa itu terhentak dan terdiam berdiri menatap kami semua. Situasinya menjadi sangat sulit. Sebab di tempat ini, pembunuhan secara massal sama sekali tidak dibenarkan. Dan seperti yang kamu tahu, kami hanya mencari satu pecundang. Lantas apa benar jika sampai mengorbankan nyawa yang lainnya yang belum tentu bersalah? Setelah itu aku mulai berpikir-pikir: sepertinya, setelah adam dan hawa, Sakkaqlah yang memakan semua buah pengetahuan yang ada di Surga,” ucap Jusoq.

Anak itu menatap lekat-lekat wajah tiga bersaudara yang ada di depannya. Ia kemudian menyadari perbedaan kecil yang ada di antara mereka.

“Aku bisa memberimu uang, sebagai ucapan terima kasih,” ucap anak itu.

“Uang? Apa itu?” Tanya Misad dengan rasa ingin tahu yang besar.

“Di sini tak ada, uang?” Tanya Anak itu.

“Bahkan kami baru mendengarnya,” jawab Misad.

“Uang adalah lembaran kertas yang amat berarti di tempat asalku. Kau hampir bisa menjadi apa pun dengan benda itu. Kau juga bisa membeli permen yang banyak, mainan yang banyak, atau pakaian yang banyak. Di tempat asalku, kau tak akan bisa ke mana-mana jika tak memiliki uang. Kecuali jika kau mau bersusah payah. Atau jika kau benar memiliki kawan di antara banyak orang yang tersenyum ketika berhadapan denganmu.”

“Apa lagi permen itu?”Lanjut Misad.

“Permen adalah sebuah benda kecil yang amat digemari anak-anak di tempat asalku. Tapi kau biasanya akan menyesal ketika telah menjadi dewasa dan mendapatkan banyak lobang di gigimu. Orang-orang dewasa di tempat asalku banyak yang telah mengalaminya.”

“Negeri asalmu aneh. Banyak yang aneh. Apa kita bisa ke sana?” Tanya Misad.

“Jangan! Aku sendiri sebenarnya tak ingin kembali ke sana. Hal-hal aneh itulah yang membuatnya mengerikan!”

“Kenapa begitu?” Tanya Misad.

“Apa penjelasanku belum cukup?” Tanya anak itu.

“Kau bilang, uang adalah hal yang berarti di tempat asalmu. Dan ada banyak tikus yang suka mengambilnya untuk dirinya sendiri. Apa tikus di tempat asalmu itu tidak berambut, bertubuh pendek, dan hanya memakai celana kolor?” Tanya Nawaq.

“Tidak. Justru kebanyakan mereka memiliki tubuh yang baik. Dan mereka berpakaian rapi.”

“O, sangat berbeda. Aku pikir mereka Jeraq. Di sini, satu-satunya makhluk yang suka mengambil hal yang berarti dari yang lain hanyalah Jeraq. Selanjutnya mereka memberikannya kepada Sakkaq. Aku sendiri sangat membenci sifatnya. Mereka pesuruh Sakkaq yang jahat.”

“Tak begitu jauh bedanya. Mereka sama-sama memiliki sifat yang buruk. Tapi, apa aku boleh tinggal di sini? Setidaknya sampai orang-orang yang mengejarku itu lupa dengan wajahku.”

“Sebaiknya begitu. Kami akan mengantarmu bertemu dengan ibu untuk meminta izin. Dan kami akan membantumu.”

***

Waktu terus merangkak maju hingga tak terasa sudah 35 purnama sejak kedatangan anak itu. Hampir seluruh waktu menguap bersama tawa canda mereka di rumah pohon keluarga Misad. Beberapa permainan yang diketahui anak itu, dengan riang ia perkenalkan kepada Misad bersaudara. Bermain sepak bola salah satunya. Dan permainan itu menjadi yang paling digemari Misad bersaudara setelah berhari-hari belajar dan berlatih menendang.

Hingga pada suatu waktu, malam tiba bersama angin yang berembus perlahan. Bulan sabit menebarkan cahayanya dengan tenang. Butir-butir ingatan seorang anak kecil yang berdiri di ambang jendela kamar yang terbuka tiba bersamaan dengan hawa dingin yang menyelinap masuk perlahan. Sementara itu, dari sisi yang gelap, kenyataan dengan berani menantang setiap inci ingatan yang ada. Ia menyaksikan sebuah lorong yang menganga, seperti lingkaran yang terus berputar. Ia berjalan menjauh dari rumah pohon keluarga Misad. Hanya satu teriakan kecil lalu anak itu pun menghilang di lorong yang gelap.

 

Kendari, 2019

Muhammad Asri Agung, seorang petani cabai yang jatuh cinta pada karya sastra Rusia dan Amerika Latin sejak berhenti kuliah. Ia menetap di Wolasi, Konawe Selatan. Anggota Kelas Menulis di Komunitas Teras Rumah Bunyi.