Cerpen Komala Sutha (Analisa, 04 Desember 2019)

Seindah Kedip Bintang ilustrasi Alwie - Analisaw.jpg
Seindah Kedip Bintang ilustrasi Alwie/Analisa 

MASIH kupandangi diriku sendiri di depan cermin. Mulai dari atas kepala hingga bawah kaki. Wajahku, barangkali bisa dibilang tidak jelek. Tapi ukuran tubuhku yang tidak umum dibanding cewek-cewek lain, itu yang membuatku minder.

Sejak kecil tubuhku sudah subur. Hobiku ngemil, tidak siang tidak malam. Masuk SMP, aku mulai mengurangi kebiasaan makan banyak. Mama menyarankan aku diet. Apalagi, aku mulai gaul. Temen-temenku tidak ada yang gendut. Tapi dietku tak berhasil. Aku tak bisa menahan lidah kalau melihat makanan  berlemak.

Pokoknya di SMU, berat badanku harus menurun. Selain tidak nyaman bertubuh berat juga kurang pe-de! Tidak banyak yang gendut di sekolah. Duh, malang benar nasibku!

Tapi, lagi-lagi dietku tak berhasil. Malah sakit. Sayangnya, berat badanku tidak juga turun sedikit pun. Aku hampir frustrasi. Akhirnya, aku kembali semula. Tak melakukan diet, tetap makan banyak dan tidur siang sepuasnya. Nikmat.

“Fad…” Mama berdiri di ambang pintu. Sudah cantik dengan baju barunya yang kemarin sore kami beli di butik langganan Mama. Aku menatapnya. Mamaku sendiri malah tubuhnya langsing. Aku turunan siapa, ya? Papaku juga tubuhnya sedang-sedang saja.

“Udah siap?” Mama mengamati seragam sekolahku. “Sarapan, udah. Apalagi? Ayo, Bayu ama mamanya udah nunggu tuh!”

“Iyaaaaa!” seruku sembari menyambar tas sekolah yang tergantung di kapstok.

”Maaf ya, lama nunggunya? Ini… anak saya, dandannya lama banget,” Mama menyenggol lenganku. Aku mendehem sambil melirik Mama. Ada-ada saja Mama, membuatku malu. Bayu juga pasti memberi penilaian. Masa dandan lama, tak ada hasilnya. Aku tetap saja jelek dan tubuhku masih tetap gendut.

“Bayu, kalo pulang sekolah, bareng Fadia ya? ‘Ntar, Mama suruh Mang Ade jemput kalian!” kata Tante Diah, mamanya Bayu.

“Nggak usah dijemput Mang Ade ah, Ma! Kayak anak kecil aja. Nggak bakal nyasar koq. Kan ada Fadia,” Bayu melirikku dan memamerkan senyum pertamanya padaku. Manis sekali. Tapi aku tidak boleh berharap lebih dari itu. Ah… kalau aja aku tidak gendut!

Sudah seminggu Bayu dan keluarganya jadi tetanggaku. Mereka pindahan dari Jakarta.

***

Jam tiga sore.

“Ada temen-temen kamu tuh! Berempat. Cewek semua. Cantik-cantik, juga…”

“Langsing-langsing,” kulengkapi kalimat Mama yang menggantung. Mama tersenyum dikulum. “Bicara yang jelas dan jujur aja, Ma. Fadia nggak bakalan tersinggung.”

“Bukan gitu maksud Mama, sayang!”

“Bukan gitu gimana? Emang Fadia akui… Fadia gendut, gemuk alias gembrot!” sahutku sembari bangkit dari tempat tidur. Kuseret sandal, lalu pergi ke teras depan. Tadi di sekolahan, mereka sudah janji mau datang ke rumahku sore ini. Tumben memang. Tapi aku tahu maksud kedatangan mereka yang memaksakan datang ke rumahku. Aku sadar gendut dan tidak pantas gaul dengan mereka yang bertubuh langsing.

Mereka kesini bukan mau mengerjakan pe-er, seperti yang dikatakan mereka di sekolah. Tapi, untuk bertemu Bayu. Ah, mereka semua berlagak sok ramah, karena ada maunya.

Dengan rada ogah-ogahan, aku bangkit dari kursi, terus menuju rumah Bayu yang cuma terhalang dua rumah saja dari tempat tinggalku.

Bayu memang cowok baik. Dia dengan sabar mengajari pe-er Matematika yang lumayan sulit pada kami berlima. Usai mengerjakan pe-er, kami ngobrol sambil menikmati udara sore yang mulai terasa sejuk. Tampaknya, keempat sahabat itu masing-masing mencari cara untuk memperebutkan perhatian Bayu.

“Fad, koq diem aja?” Bayu melirikku.

Aku cuma menarik tipis ujung bibirku. Sepertinya, aku lebih baik jadi penonton saja, melihat begitu antusiasnya keempat cewek teman sekelasku di depan Bayu. Dan aku, begitu tidak penting bagi mereka. Mereka sama sekali tak menghiraukan aku.

***

Teeeet…Teeeet…

Kubuka handle pintu.

“Hei…” Bayu memamerkan senyum manisnya. “Ganggu nih?”

“Nggak. Silakan masuk!”

“Mending di teras aja. Gerah.”

Kami duduk di luar. Angin malam meniup tubuhku.

“Nggak ada yang apel, Fad? Ini kan malming.”

Aku mesem. Bayu seperti tidak tahu saja. Siapa sih cowoknya yang mau jadi pacarku, cewek dengan bobot tubuh tujuh puluh kilo? “Aku nggak bakalan punya pacar, Bay.”kataku sendu. “Tubuhku aja gendut. Siapa cowok yang suka?”

“Kamu nggak boleh bicara gitu, Fad,” Bayu melirikku. “Nggak baik. Harusnya kamu bersyukur ama Tuhan. Kamu cantik. Nggak semua cewek punya wajah seperti kamu.”

Terasa hangat menjalari kedua pipiku. Sepertinya, rona merah mewarnainya.

“Bukan cuma berat badan, tapi bentuk tubuh, Bay! Aku nggak narsis banget. Rasanya, aku cewek paling jelek di dunia ini. Semua orang, serasa mengejek aku. Aku minder, Bay!” kutumpahkan segala uneg-unegku. “Aku udah coba diet, tapi nggak pernah berhasil.”

“Fad…” kata Bayu pelan. “Di dunia ini, nggak ada yang sempurna. Coba kamu liat di sekeliling kamu. Masih banyak, cewek yang lebih buruk dari kamu. Tapi mereka tetep narsis!”

Aku diam.

“Pokonya mulai besok, kamu harus pergi dan pulang sekolah bareng aku! Ngerti?”

“Aku malu, Bay… karena aku nggak pantas ada di mobil kamu. Dan nggak mau bikin kamu malu. Kalo seisi sekolah ngeliat kita semobil, waaah… bisa bikin geger! Masa, Bayu yang cakep… bareng buntelan butut!”

Bayu ngakak. “Kamu lucu, Fad. Kamu nyenengin. Kalo aja semua temenku kayak kamu… bisa bikin awet muda!” kata Bayu setelah tawanya berhenti.

Setelah itu Bayu terus mencandaiku. Kucubit keras paha kiri Bayu. Dia meringis. Aneh, koq bicaraku juga  jadi mendadak lancar? Dan aku jadi narsis sekali, sampai lupa bobot tubuhku yang tujuh puluh kilogram. Malam ini Bayu benar-benar membuat perasaanku senang sekali.

***

“Fadia sedih, Ma. Koq udah kelas sebelas… tapi nggak satu pun cowok yang suka ama Fadia.”

“Kamu nggak usah sedih, sayang!”  Mama menyusut air mataku. “Kamu cantik. Sebenarnya, pasti  banyak cowok yang suka kamu.”

“Ah, masa banyak! Satu pun nggak ada! Mama cuma hibur Fadia aja,” aku berbaring di pangkuannya. “Kalaupun ada, pasti cowok itu nggak jauh beda ama aku. Sama-sama gendut.”

Mama terkekeh.

“Mama langsing, Papa nggak gendut. Kak Roni dan kak Ruli juga kurus-kurus. Aku satu-satunya yang gendut di rumah ini,” kataku sedih. Kutatap langit-langit kamar.

“Fad, pasti ada cowok yang suka kamu. Kamunya aja yang nggak tau. Bisa aja, cowok itu diem-diem naruh hati ama kamu, tapi nggak berani nyatain perasaannya. Mungkin malu, atau belum saatnya.”

Aku diam dan mendesah. Sedih sekali.

“Percaya sama Mama, Fad. Suatu saat, mungkin aja ada seorang pangeran yang datang ke kamu dan nyatain perasaan cintanya. Pangeran itu tampan, baik dan berhati mulia. Dan nggak memandang perempuan dari kecantikan lahiriahnya saja.”

Itu di negeri dongeng, Ma. Itu cuma ada di alam khayal.

Aku ke luar rumah. Duduk di kursi rotan yang ada di teras depan. Memandang langit biru, memerhatikan bintang yang mulai bermunculan di sana. Indah sekali. Malam Minggu ini cerah sekali. Andai saja….

“Aku sayang kamu, Fad!”

Aku kaget setengah mati. Hampir saja jantungku copot. Bayu tahu-tahu di depanku.

Ya ampun, apa aku nggak salah dengar? Bayu bilang sayang padaku?

“Aku… nggak percaya!” aku berdiri dan hendak meninggalkan Bayu. Tapi dengan sigap, dia mencekal pergelangan tanganku.

“Kamu tau kan, Fad? Kalo aku nggak pernah liat cewek dari luarnya aja? Aku suka kamu. Aku suka cewek yang seperti kamu. Kamu baik, sederhana, rendah hati dan berhati tulus. Bagiku, kamu yang terbaik. Apa nggak cukup kata-kataku, Fad? Aku suka kamu.”

“Walau aku gendut?”

“Walaupun tubuh kamu sepuluh kali lebih gede dari yang sekarang!”

Ma, ini bukan di negeri dongeng. Ini bukan alam khayalan, kalo seorang pangeran telah datang dan nyatain perasaan cintanya padaku. Dia tampan, baik dan berhati mulia. Dan yang lebih penting, nggak memandang cewek dari kesingnya aja.

Malam Minggu ini, terasa manis sekali. Kupandang langit yang biru. Di sana, berjuta bintang bertaburan. Ada satu bintang yang sangat indah.. Lalu mengedip genit padaku. ***

 

Bandung, 2019