Cerpen Pangga Rahmad (Rakyat Sultra, 03 Desember 2019)

Cinta Tak Ada Syarat ilustrasi Istimewa.jpg
Cinta Tak Ada Syarat ilustrasi Istimewa 

Subuh ketika Asmir Rajenda membunuh Mustafa Kemal di beranda rumahnya, angin meliuk kencang seolah menggiring satu nyawa ke haribaan malaikat, dan dingin laksana gunung es yang meremukkan tulang belakang, hancur lalu berantakan. Dua orang polisi lekas tiba dengan sikap profesional, sekalipun lebih tepat dengan terburu-terburu daripada dengan sikap siaga, keduanya bahkan datang tanpa seragam kedinasan, tanpa kendaraan patroli, tanpa uang jalan atau tanpa uang operasional dari atasan, sebab demikianlah salah seorang dari keduanya berkata, “Kau mengganggu mimpiku saja, Anak Muda. Motor istriku jadi kedinginan.” Mereka lekas meringkusnya setelah tak ada perlawanan berarti, berikut membawa pergi balok sebesar paha orang dewasa sebagai barang bukti di kantor polisi. Aneh, sebab ia justru mengatakan, “Aku tak akan melawan, Pak Polisi. Tangkap saja!”

Kantor polisi setempat itu dekat saja, ada sekira satu kilometer dari lokasi kejadian, atau dari desa itu, hanya melewati satu persimpangan tiga lalu sampai dengan selamat. Tentu lebih terhormat jika kedua polisi itu datang dengan kendaraan patroli sebagaimana sering mereka menggunakannya, tetapi mesti membayarnya dengan kemungkinan Asmir Rajenda melarikan diri, sebab waktu yang digunakan untuk menyiapkan kendaraan itu tentu mengulur banyak kesempatan. Tapi bahkan Asmir Rajenda tampaknya memang tak bernafsu untuk memberontak atau sekadar menolak diringkus, selain bermuka riang seolah baru memenangi judi sebagaimana kerap ia dan warga melakukannya di pos ronda.

Di perjalanan menuju kantor polisi, di atas motor sang istri pak polisi, seorang dari aparat itu berkata, aku tak sabar mendengar pembelaanmu. Dengan tanpa rasa dosa, atau raut muka bersalah, Asmir Rajenda hanya berkata, tak ada pembelaan, kecuali kau mau menerimanya sebagai takdir ilahi.

***

Satu pekan sebelumnya, Asmir Rajenda mengintai rumah Sarah setelah sebelumnya mendengar bahwa Mustafa Kemal akan menemaninya malam ini, sebab orang tuanya tak ada di rumah, sedang pergi keluar kota, katanya. Untuk hubungan kekasih yang telah lama terbangun, hal itu amat lumrah terjadi. Lagi pula, warga desa tak begitu menyoalkannya terutama sebentar lagi keduanya akan berstatus suami-istri.

Baca juga: Dukun Palsu – Cerpen Pangga Rahmad (Rakyat Sultra, 22 Juli 2019)

Dengan langkah hati-hati sebagaimana para pencuri melakukannya, Asmir Rajenda berhenti tepat di seberang kamar Sarah. Dari balik kisi-kisi dinding kamar, ia mengintip demi melihat apa yang dilakukan sepasang kekasih itu. Napasnya tetiba meninggi, geram dibuatnya, sebab, ia tak melihat apa pun di dalam sana. Ia kembali berjalan dan menuju kamar sebelah, lalu menuju dapur, lalu berhenti, dan bergeming. Ia tampak berupaya mendapatkan celah untuk mengintip ke dalam sana, hati-hati. Tak lama sampai tangannya telah mengepal kuat sebagaimana dadanya yang membusung dan napasnya menjadi satu-satu, terburu-buru. Biadab betul mereka, pikirnya, dasar binatang, tak akan lama sampai desa ini dikutuk malapetaka. Sudah kuduga mereka sering melakukannya, katanya kecil dan hanya ia sendiri yang mendengarnya. Demikian segera ia meninggalkan rumah itu, tak sudi melihat tontonan menjijikkan.

Asmir Rajenda, bagaimanapun bukan seorang pembunuh sampai Mustafa Kemal mati di tangannya. Ia orang terpelajar, sarjana muda dari Jakarta, demikianlah warga memberinya perlakuan khusus atas itu, terutama, ia adalah anak muda pertama yang membawa pulang gelar sarjana di desa itu setelah yang lain hanya mampu untuk menikah muda. Para warga senang belaka kepadanya, bahkan tak jarang ia mendapati dua atau tiga orang datang menemuinya untuk sekadar minta pendapat atau saran, dan ia akan memberikannya sebaik ketika ia menceritakan pengalaman-pengalamannya di Ibu Kota. Tapi lain waktu ia bisa lebih menderita daripada mereka yang mengadu nasib kepadanya, dan yang mendengarnya akan merasa menyesal sebab telah datang kepada orang yang hanya bisa memberinya cerita pengalaman.

Baca juga: Lelaki dalam Lukisan – Cerpen Inung Setyami (Rakyat Sultra, 26 November 2019)

Sering ia menceritakan pengalaman-pengalamannya itu, tentu menggaraminya dengan kisah-kisah tragis, sebab, katanya, hanya orang-orang tertentu yang dapat bertahan hidup di sana. Dan, mereka yang mendengarnya akan terkesima berikut merasa takjub begitu rupa, sesekali manggut-manggut seperti mengerti terutama ketika ia menceritakan bahwa ia banyak teman dari beragam kalangan dan latar belakang yang berbeda, karena itulah ia dapat bertahan hidup sampai kini ia bergelar, sebab terbantu atas keberadaan mereka.

Tapi satu hal yang menjadi perhatian serius adalah Asmir Rajenda tak sama dengan anak-anak muda yang lain: ia tak pernah mengganggu atau sekadar merayu gadis-gadis desa sebagaimana ia tak pernah membalas surat-surat mereka, sekalipun ia juga pernah berkisah bahwa banyak kekasihnya di Ibu Kota, dan kerap mematahkan hati mereka dan mencundanginya. Demikian tampaknya ia laik dijuluki sebagai lelaki yang pantas diperebutkan, dan ditangisi. Sebab, ia seorang sarjana, masih muda, tampan, berpengalaman dan berpendidikan. Dan tentu saja, gadis-gadis mestinya patah hati sebab tak mampu merebut hatinya.

Baca juga: Mawar, Hujan, dan Kereta – Cerpen Haryo Pamungkas (Rakyat Sultra, 18 November 2019)

Apa yang diketahui tentang Asmir Rajenda itulah yang begitu menyita perhatian warga. Terutama hubungannya dengan Mustafa Kemal, sungguh tak membenarkan bahwa masih ada kemungkinan untuk keduanya saling benci, mencelakai apalagi membunuh. Demi Tuhan, percayalah! Keduanya lama telah bersahabat bahkan jauh sebelum Asmir Rajenda bergelar sarjana muda, dan warga desa tahu belaka akan hal itu. Sering keduanya menghabiskan waktu bersama. Sekali waktu keduanya akan memancing di telaga hingga petang, lalu membawa ikan-ikan sebesar telapak tangan orang dewasa sebelum didagangkan kepada warga, atau lain waktu menghabiskan malam di puncak gunung dan bercerita dekat perapian sebagaimana sering keduanya berduaan di warung kopi. Tentu saja, bagaimanapun, hal itu membuat Sarah merasa terganggu dan jengkel dengan keberadaan Asmir Rajenda, sebab untuk bercinta atau sekadar berduaan pun, rasanya menjadi seasing dahulu di awal menjadi kekasihnya, saling canggung. Terutama ketika Asmir Rajenda telah balik pulang dari Ibu Kota. Nyaris tak ada kesempatan, pikirnya. Sekali waktu, bahkan, pada satu malam dengan tak sengaja Sarah melihat Asmir Rajenda tengah membuntuti mereka di rumah makan di ujung desa, sekalipun tampak samar-samar, ia yakin itu Asmir Rajenda, dan membuatnya berpikir bahwa ada yang salah dengan lelaki itu. Atau barangkali ia ada suka kepadaku, pikirnya, dan jengkel.

Asmir Rajenda sesungguhnya bukan hanya sekali saja membuntuti mereka sebagaimana Sarah pernah melihatnya. Sering ia melakukan itu, di rumah makan, di perbelanjaan, atau di mana pun. Tentu ia melakukannya selihai ketika seorang mata-mata melakukannya.

***

Sebagian warga menduga-menduga bahwa pembunuhan itu merupakan sikap cemburu seorang lelaki sebagaimana sering itu terjadi, terutama undangan nikah telah disebar, Mustafa Kemal akan mempersunting Sarah pekan depan, atau barangkali ada dendam lama sebagaimana boleh jadi ada pertikaian serius baru-baru ini, tetapi mereka kembali tak habis pikir bagaimana mungkin ia mampu membunuh sahabatnya sendiri, terutama semalam tadi ia dan Mustafa Kemal berikut warga yang lain masih duduk minum kopi dan bermain kartu di pos ronda hingga pukul empat pagi sebelum pembunuhan itu terdengar, sesekali membuat lelucon dan melantur ke sana-kemari, atau lain waktu saling ledek satu sama lain, tentu, hal itu tak akan dilakukan oleh dua orang yang menaruh dendam atau benci atau sakit hati, alih-alih saling pandang.

Baca juga: La Asidi Anak Laut – Cerpen Dul Abdul Rahman (Rakyat Sultra, 11 November 2019)

“Tak ada tanda-tanda kematian,” kata salah seorang warga.

“Benar,” kata yang lain melanjutkan, “tanda-tanda kematian tak ada di wajahnya, gagak tak berkaok dan bau kematian pun tak muncul dari tubuhnya.”

Di permakaman, orang-orang tak lekang membicarakan Mustafa Kemal dan pembunuhnya, terutama mereka yang bersama dengannya malam tadi, padahal kerabat dan saudara dekatnya tengah berkabung habis-habisan, tersedu-sedu dan nelangsa. Mereka bahkan sesekali menyebut nama Sarah sebagai orang paling terluka atas kematiannya, dan sebentar lagi ia akan gila, sebab menjadi gila akan lebih mudah jika diawali dengan patah hati, setidaknya begitulah menurut mereka. Membicarakan satu kematian memang selalu lebih unggul daripada memberi simpati. Segala duga dan kecurigaan itu, bagaimanapun dapat diterima sampai pihak polisi datang dengan informasi yang lebih sahih, jika ada.

Baru pukul delapan pagi interogasi di kantor polisi berlangsung sebelum dimuat dalam BAP. Sebab petugas yang menangani bidang itu ada sedikit urusan yang mesti diselesaikan seperti demikian ia berkata: ada urusan penting. Terutama mesti menunggu Sarah sebagai orang terdekat Mustafa Kemal dan beberapa warga yang lain sebagai saksi, dan tentu saja, menunggu rangkaian pemakaman diselesaikan.

Asmir Rajenda tampak masih segar seolah tak terjadi apa-apa beberapa jam tadi, sesekali membuang senyum kepada warga dan Sarah, dan itu menjengkelkan. Penyidik dibikin aneh, bahkan segera menaruh curiga bahwa di depannya adalah orang yang tak sehat jiwanya. Dan belum sempat ia berkata, Asmir Rajenda bertanya kepada penyidik itu bahwa apa yang mesti ia ceritakan.

Baca juga: Kupanggil Dia Wesa – Cerpen Uniawati (Rakyat Sultra, 21 Oktober 2019)

“Apa pun,” katanya melanjutkan sambil memegangi lembaran berisi identitas Asmir Rajenda, berikut Sarah dan beberapa warga itu di lembaran lain, “tetapi begini, apa yang membuatmu membunuhnya?”

“Keniscayaan.”

“Harap jangan berbelit, saudara Asmir,” kata penyidik itu, tegas. “Jawab saja sesuai pertanyaan.”

“Aku cemburu. Aku mencintainya, dan ia akan segera menikah.”

Penyidik itu tampak senyum tipis dan manggut-manggut sebab demikianlah yang ia pikirkan, dan kembali bertanya mengapa ia mencintai kekasih sahabatnya sendiri sambil menatap kepada Sarah.

“Aku tak mencintai Sarah.”

“Apa maksudmu?”

“Aku mencintai Mustafa Kemal, aku sangat cemburu ia akan menikah, tetapi subuh tadi ia mengacuhkanku setelah kubilang ‘aku menyukaimu’, aku berpikir harus membunuhnya, memukulnya dengan balok, tiga kali, sebab siapa pun tak boleh bersamanya. Dan, sebelum kalian bertanya mengapa aku mencintainya, aku hanya ingin berkata, sebagaimana pernah kalian merasakannya: sebab cinta tak ada syarat.***

 

 Pangga Rahmad, mahasiswa S1 Arsitektur, Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara. tinggal di Jalan Mekar Baru. Kendari.