Cerpen Alvina Briantiningsih (Suara Merdeka, 01 Desember 2019)

Pulang ilustrasi Suara Merdekaw.jpg
Pulang ilustrasi Suara Merdeka

Jam tua di sudut ruangan kembali berdentang keras. Jarum jam menunjukkan pukul dua belas tepat. Cahaya remang-remang menghiasi ruangan penuh dosa itu, bercampur aroma tembakau dan manis parfum perempuan berbaju hitam yang duduk di sudut ruangan dengan segelas wine di tangan kiri. Ia beranjak dari tempatnya saat ketukan pelan terdengar. Dia buka pintu penuh ukiran itu dan tampaklah pria lain membawa gelas kaca berisi cairan bening. Perempuan itu mempersilakan tamunya masuk dan bergabung dengan lingkaran setan penuh dosa.

Ia tersenyum manis sambil menatap jijik orang-orang di depannya. Seolah mereka kawanan babi berbalut kotoran dan lumpur yang begitu menjijikkan. Namun tak masalah, selama mendapat jatah, bermain semalam penuh pun ia mau. Perlahan ia mendekati salah satu pria yang duduk di kursi termewah di ruangan itu dan mengelus pundaknya lembut. Perempuan bermata hitam legam itu lalu membagikan kartu pada tamunya dan mengusap wajah salah satu pria dengan jari lentiknya dan berbisik. “Silakan mulai.”

***

Mentari masih bersembunyi di peraduan saat perempuan itu masuk ke rumah dengan wajah tanpa ekspresi. Ia lempar tas Hermes ke kasur dan langsung membaringkan tubuh di kasur yang keras. Tatapan kosong perempuan itu terarah ke langit-langit kamar yang berwarna putih kusam. Tanpa sadar, air mata menetes membasahi wajah putihnya. Ada kerinduan di hati kecil perempuan itu. Kerinduan pada sosok begitu dekat, tetapi teramat jauh pada saat bersamaan. Satu rasa yang tak bisa ia hilangkan, bahkan setelah dia menkan semua perasaan suka dan duka.

Ingar-bingar kehidupan kota besar sudah ia rasakan sejak kali pertama menginjakkan kaki di sana saat berusia genap dua puluh tahun. Lampu disko, botol wine dan vodka yang berjejer di rak, rokok, tumpukan kartu, dan laki-laki merupakan kehidupannya saat ini. Tak lupa pakaian mahal yang melekat di tubuh serta perhiasan yang menghiasi leher dan telinganya.

Baca juga: Ahli Waris – Cerpen Hartari (Suara Merdeka, 24 November 2019)

Andai bisa memutar waktu, pasti ia takkan memilih pergi dari kampung halaman dan merantau ke kota besar yang asing sendirian. Masih teringat jelas dalam ingatan saat dia pergi dari rumah dengan amarah dan kekecewaan yang tak bisa ia ungkap dengan kata-kata. Berharap dapat menyembuhkan diri dari luka batin, ia justru terjebak lingkaran setan yang tak bisa ia putuskan. Bekerja di klub seperti saat ini bukanlah keinginannya. Namun mau bagaimana lagi, takdir memaksa dia bekerja layaknya boneka pemuas nafsu yang lebih rendah daripada hewan.

Perempuan itu meletakkan lipstik merah di loker dan berjalan ke lantai satu klub. Pakaian hitam di atas lutut memperlihatkan kaki putih jenjangnya. Rambut hitamnya dia biarkan tergerai dengan aroma manis menggoda. Ia lalu melayani satu per satu tamu yang duduk di kursi dengan gelas di tangan dan wajah merah padam karena mabuk. Dia menuangkan cairan merah gelap ke gelas sambil membalas rayuan pria di hadapannya dengan senyuman memabukkan.

Suara musik berdentum keras, cahaya remang-remang, puluhan manusia menggila di ruangan, dan asap rokok yang menyengat tak membuat perempuan itu berhenti menuang wine ke gelas. Tangannya terus bekerja, tak menghiraukan ajakan teman-temannya yang mendekati tamu. Bukan tak mau mendapat segepok uang dari pria-pria kesepian itu, melainkan ia masih punya akal sehat yang terus ia jaga di tengah kegilaan tak berkesudahan itu. Namun risiko pekerjaan juga jika akhirnya ia harus turun tangan. Menemani pria berkantong tebal sepanjang malam, meski ia hanya duduk dan bermain catur atau kartu. Kalau bukan itu, ia pasti menemani sekelompok pria berjudi di lantai dua dan menuangkan minuman ke gelas atau membantu mengatur posisi kartu di atas meja.

Baca juga: Patung Garuda – Cerpen Risda Nur Widiya (Suara Merdeka, 17 November 2019)

Madam Luna, atasannya, mengerti sehingga dia bisa bekerja dengan aman tanpa harus memutus urat malu dan membuang kewarasan. Tak seperti teman-temannya yang sudah terjerumus dalam dunia hitam yang jauh lebih gelap. Ia akan tetap aman selama bertugas tanpa halangan. Dan, perempuan itu berpikir semua tetap akan berjalan sama.

***

Teh dalam cangkir putih tinggal setengah saat telepon di dekatnya bergetar. Ia mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal dan bungkam seribu bahasa saat sebuah suara berat menyapa lembut. Menanyakan kabar perempuan yang kini hanya bisa menahan air mata yang memaksa keluar.

“Pulanglah, Nak. Mau sampai kapan kau lari? Ibu sakit. Tidakkah kau kasihan padanya?” ujar suara di seberang sana.

Perempuan itu membungkam mulut, menahan isak tangis yang tak bisa dia tahan lagi saat sosok itu berkata maaf berulang kali dengan nada penyesalan yang kentara. Akhirnya ia putuskan sambungan telepon dan menangis dalam diam di kursi ruang tamu. Bahunya bergetar hebat dan air matanya mengalir deras bagai Sungai Mahakam.

Sekian lama ia menanti suara itu terdengar lagi di telinganya. Tiga tahun harus ia habiskan tanpa suara yang ia rindukan setengah mati itu. Suara pria yang menjelma tameng kala badai kehidupan menerjang. Dan, sesekali berubah menjadi badut lucu yang membuatnya tertawa sampai sakit perut. Suara yang begitu ia rindukan. Suara Ayah.

Baca juga: Bulu-Bulu Gemetar – Cerpen Aljas Sahni H (Suara Merdeka, 10 November 2019)

Rupanya bukan sekali itu saja Ayah menelepon. Saat gelap menyelimuti kota, ia menelepon dan meminta putrinya pulang. Saat fajar menyingsing pun ia kembali menelepon dan meminta maaf serta meminta dia pulang dan menemani Ibu yang sakit. Hati kecilnya berkata, ia harus pulang, kembali ke keluarga dan kembali hidup normal. Namun rasa sakit dan amarah yang ia pendam selalu membuncah saat telinganya mendengar suara Ayah atau mendengar nama Ibu disebut. Ada luka tak bisa ia hilangkan sejak kali terakhir melihat keduanya tiga tahun lalu. Luka yang selalu ia pendam sejak kecil hingga akhirnya membawanya berkelana ke kota asing dan membuat dia menderita lahirbatin. Luka yang harus membuatnya menangis tiap bulan menghiasi langit sehitam hatinya.

Perempuan itu berjalan ke kamar dan memutuskan beristirahat. Toh hari ini ia tidak perlu bekerja. Jiwa dan raganya butuh waktu beristirahat, melupakan seluruh duka. Lagi-lagi air matanya menetes, dan yang ia lakukan hanya memejamkan mata sampai kesadarannya menghilang.

***

Azan subuh berkumandang, memanggil manusia untuk bersujud memohon ampun pada Tuhan. Seraya berdoa agar kehidupan mereka diberi kemudahan dan kebahagiaan. Perempuan itu sudah duduk di barisan depan dengan mukena putih polos menutupi aurat. Batinnya sedang dilanda badai besar dan ia membutuhkan pertolongan dan tempat mengadu.

Baca juga: Lelaki di Pekuburan – Cerpen Hari B Mardikantoro (Suara Merdeka, 03 November 2019)

Usai shalat, ia tak bergegas pulang dan tidur. Raganya masih duduk manis mendengarkan ceramah ustaz yang mungkin berguna untuk menenangkan badai yang berkecamuk dalam dirinya. Awalnya perempuan itu bergeming, matanya bahkan merem-melek saat kantuk menyerang. Namun saat ustaz di balik tirai pemisah menyebut kata “orang tua”, matanya terbuka lebar. Dia mempertajam telinga.

Pintu hatinya terketuk selama pria bersuara merdu itu menyampaikan ceramah tentang kehidupan, dunia, dan orang tua. Selama itu pula ia merasa benar-benar merindukan Ayah dan Ibu di rumah. Tempat seharusnya ia tinggal dan menikmati masa indah bersama keluarga. Tanpa sadar air matanya menetes, membasahi wajah putih tanpa polesan make up sedikit pun. Kerinduan yang selama ini bersarang membuncah dan tak bisa ia kendalikan.

Seorang wanita tua mendekati dan menanyakan kenapa dia menangis. Namun perempuan itu hanya bisa berbohong. Tak perlu orang lain tahu dia atau kehidupannya. Wanita itu hanya bisa diam sambil menenangkan. Satu hal pasti, detik itu juga ia ingin mendekap Ayah da Ibu yang sudah ia buat kecewa selama ini.

Berbekal gaji dari pekerjaan dan uang saku pemberian Madam Luna, perempuan itu kini berjalan membawa tas hitam besar. Dia memasuki bus yang akan mengantar pulang. Seharian berpikir dan merenung, ia memutuskan berdamai dengan masa lalu dan pulang ke pelukan orang tuanya.

Baca juga: Lipstik Plastik – Cerpen Dul Abdul Rahman (Suara Merdeka, 27 Oktober 2019)

Mungkin sudah saatnya ia pulang, kembali ke rumah dan hidup normal selayaknya perempuan seusianya. Mencari suami dan mengurus rumah dengan bayi cantik. Sudah cukup ia menderita di bawah bayang-bayang kelabu masa lalu yang mencekik perlahan.  Kini, Tuhan beri ia kesempatan berubah. Melepas semua kesedihan dan beban yang ia pikul di pundak selama tiga tahun tanpa siapa pun di sisinya.

Perempuan itu tersenyum kecil sambil membayangkan raut wajah orang tuanya. Akan ia ceritakan pahit-manis hidup di kota dan pekerjaan yang membuatnya mampu bertahan. Takkan ada yang marah, karena ia tahu akan diampuni. Dan, ia sudah berjanji akan berubah.

Semua akan berjalan seperti ia harapkan. Pulang dan hidup bahagia seperti akhir kisah putri kerajaan dalam dongeng yang dulu Ibu bacakan. Namun perempuan itu tak tahu dia akan menemui sesosok tubuh tanpa nyawa yang terbujur kaku di kasur dengan kain kafan melekat di tubuh wanita yang sudah terlalu lemah itu. Serta seorang pria duduk berlinang air mata di sisi istrinya yang telah pergi. Meninggalkan sejuta kenangan dan luka di hati perempuan yang akan menangis dan mungkin akan kembali hidup dalam penderitaan tak bertepi itu. Seakan menghukum dia atas segala dosa selama tiga tahun, menyadarkan dia bahwa seluruh penyesalannya hanya berakhir dengan air mata dan duka. (28)

 

Alvina Briantiningsih, lahir di Purbalingga, 2 Juni 2003, mencintai dunia menulis sejak kecil dan menekuni hobi itu sampai saat ini. Ia pernah jadi juara III lomba cerpen tingkat kabupaten saat duduk di bangku SMP.