Cerpen Holy Adib (Padang Ekspres, 01 Desember 2019)

Kehendak Ayah ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Kehendak Ayah ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

Ponselku berdering. Ada panggilan telepon dari ayah. Aku enggan menjawabnya. Sejak ayah menghubungiku beberapa hari yang lalu, aku agak malas berbicara dengannya. Padahal, selama ini mengobrol dengan beliau begitu menyenangkan.

Beberapa hari yang lalu ayah memintaku menikah dengan lelaki pilihannya. Beliau memang sudah lama menyuruhku menikah, tetapi baru kali ini menyuruhku menikah sambil menawarkan calon suami.

Ayah sangat ingin aku cepat menikah. Alasan pertama, ia pusing mendengar pertanyaan orang-orang mengenai kapan aku menikah. Ia bahkan sampai malas keluar rumah karena selalu ditanya tentang itu. Alasan kedua, usiaku sudah sangat matang—Juli tahun depan usiaku sudah kepala tiga. Usia ini berhubungan dengan mitos di kampungku: perempuan yang tak menikah di atas umur 30 tahun tak akan menikah selamanya. Aku tak percaya mitos itu karena tak masuk akal. Lagi pula, di kota besar seperti Jakarta ini, banyak perempuan yang menikah di atas usia 30 tahun. Mereka mendahulukan karier daripada berkeluarga.

Akan tetapi, betapa pun aku tak percaya mitos itu, di kampungku memang banyak perempuan yang berusia di atas 30 tahun yang tak menikah. Tak ada yang tahu apa penyebabnya. Yang jelas, mayoritas orang di kampungku, termasuk ayah, mempercayai mitos tersebut.

Karena ingin aku cepat menikah, sedangkan aku belum juga memperlihatkan tanda-tanda akan menikah dalam waktu dekat, ayah pernah mengancamku, “Kalau tak juga menikah tahun ini, kunikahkan kau dengan anak ula.” Anak ula adalah sebutan anak bagan, awak kapal pencari ikan, di kampungku. Menikah dengan anak ula merupakan kiasan nasib buruk karena kehidupan anak ula susah.

Baca juga: Pulang Malam – Cerpen Nermi Silaban (Padang Ekspres, 24 November 2019)

Masalahnya bukannya aku belum siap menikah, melainkan karena aku belum menemukan lelaki yang tepat yang sesuai dengan kriteriaku. Pertama, seiman. Selain seiman denganku, lelaki itu juga mesti tahu dengan agama walaupun tak terlalu saleh agar bisa menuntunku ke jalan yang benar. Kedua, penyayang dan tak kasar. Aku sering mendengar cerita tentang perlakuan kasar suami kepada istri. Betapa mengerikan melewati hari-hari dengan orang yang ringan tangan. Ketiga, bertanggung jawab. Aku tak sudi menikah dengan lelaki yang tak bertanggung jawab, misalnya lelaki yang mengalihkan tanggung jawab mencari nafkah kepada istrinya. Bagiku, pria harus memiliki pekerjaan yang jelas dan penghasilan tetap walau jumlahnya tak besar. Keempat, menyangangi ibuku. Mantan kekasihku pernah berkata bahwa ia tak mau serumah dengan mertua jika kami menikah. Kalau begitu, siapa yang mengurus ibuku pada hari tuanya nanti jika bukan anak dan menantunya? Padahal, anak ibuku hanya aku. Kelima, tinggi. Tinggiku 170 cm. Akan tampak aneh jika berjalan dengan suami yang lebih pendek daripada aku. Kalau tak lebih tinggi, suamiku setidaknya sama tinggi denganku. Keenam, pandai berdandan. Sebagai wanita karier yang sangat memperhatikan penampilan, aku mau punya suami yang bisa mengimbangi penampilanku. Itu berarti aku menyukai lelaki yang rapi, bersih, wangi, dan tentu saja tampan, serta tak suka dengan orang yang penampilannya berantakan.

Semua kriteria calon suami yang kucari itu pernah kuceritakan kepada temanku, dan ia mentertawaiku, “Lelaki yang memenuhi semua kriteria itu tak pernah ada.”

***

Ayah bukanlah ayah kandungku. Lelaki yang kupanggil ayah ini merupakan suami kakak perempuan ibuku. Mereka tak punya anak dan menganggapku sebagai anaknya. Kami semua—ayah, bibi, ibu, dan aku—tinggal dalam satu rumah di sebuah kampung nelayan di Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Baca juga: Kota Aneh Tempat Ingatan Muncul – Cerpen Hendy Pratama (Padang Ekspres, 17 November 2019)

Ia kusebut “ayah” karena aku memanggilnya begitu sejak kecil. Hanya dari dirinya aku mengenal sosok ayah sebab aku tak pernah bertemu dengan ayah kandungku. Ibu bercerita bahwa ayah biologisku meninggalkan kami saat aku berusia delapan bulan. Suatu pagi ibu mencuci jaketnya dan menemukan fotonya bersama seorang perempuan dan tiga anak. Ayah akhirnya mengakui bahwa ia punya keluarga di Jawa. Setelah itu, ayah pergi berlayar dengan kapalnya dan tak pernah kembali. Ia tak meninggalkan apa-apa kecuali namaku: Galuh Larasati, nama Jawa yang begitu asing di kampungku. Mungkin karena sejarah ayah kandungku ini ayah mengancam akan menikahkanku dengan anak ula: orang yang bekerja di kapal dan dikhawatirkan berperangai seperti ayahku itu. Padahal, tak semua orang kapal berperilaku seperti itu.

Setelah ayah kandungku pergi, ibu tak menikah lagi. Kekosongan sosok ayah dalam hidupku diisi oleh lelaki yang kupanggil ayah selama ini. Kepadanya kutumpahkan segala suka dukaku. Kepadanya kuceritakan semuanya, termasuk masalah pribadiku, misalnya tentang pacar-pacarku. Kalau putus cinta, aku menangis di hadapannya, dan ia menghiburku sambil menasihatiku. Begitulah kami: dekat sekali sebagaimana ayah dan anak sungguhan. Itulah sebabnya aku tak berani melawan kepadanya, bahkan sekadar membantah katakatanya.

Kini ayah yang kucintai dan kuhormati itu memintaku menikah dengan lelaki pilihannya, dan itu permintaan pertamanya. Selama ini ia tak pernah meminta apa pun kepadaku. Di satu sisi aku tak sampai hati menolak permintaannya. Di sisi lain aku tak mau menikah dengan lelaki pilihannya.

***

Aku mengenalnya sejak kecil. Ia lebih tua setahun daripada aku. Ia tinggal di kota, sedangkan aku di kampung. Semasa sekolah dulu ia sering berlibur di rumahku. Begitu pula tiap Lebaran hingga kami dewasa seperti sekarang ini. Karena itu, kami akrab sejak dulu.

Baca juga: Segala Sesuatu yang Menggangguku – Cerpen Yetti A. KA (Padang Ekspres, 10 November 2019)

Beberapa bulan yang lalu ia menemui orang tuaku. Ibu bercerita kepadaku bahwa sepupu jauhku itu menyukaiku dan ingin menikahiku. Ayah dan ibuku setuju karena mereka mengenal lelaki itu dan keluarganya dengan baik. Selain itu, lelaki ini sudah mapan, baik secara umur maupun penghasilan.

Di antara kedua orang tuaku, ayahlah yang paling ngotot memintaku menikah dengan lelaki tersebut, sedangkan ibu hanya menyetujui tanpa pernah memaksaku. Bagi ibu, dengan siapa aku menikah, semuanya terserah padaku karena akulah yang akan menjalani kehidupan pernikahan itu. Sementara itu, ayah sangat ingin aku menikah dengan sepupuku itu karena tak ingin aku jatuh ke tangan orang yang salah.

Kini semuanya bergantung padaku. Jika aku setuju, pernikahan kami akan dilakukan dalam tahun ini. Namun, aku tak mau karena aku tak mencintainya. Aku hanya menganggapnya sebagai saudara.

Orang tuaku membujukku agar mau menikah dengan lelaki itu. Soal cinta, menurut mereka, cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Aku tetap menolak karena tak ingin menikah dengan orang yang tak kucintai sejak awal. Lagi pula, tak ada jaminan bahwa cinta bisa muncul setelah menikah. Pasti hambar sekali hidup berumah tangga tanpa cinta.

***

Ayah tak hanya memintaku menikah, tetapi juga menyuruhku pulang dari Jakarta, tempatku merantau selama lima tahun ini.

Sejak dulu ayah tak suka aku merantau karena tak ingin aku jauh dari rumah dan khawatir akan keselamatanku, apalagi di kota besar seperti Jakarta. Namun, aku pergi diam-diam sesudah diwisuda dengan menjual anting dan cincinku. Aku baru memberi tahu ayah setelah tiba di ibu kota. Meskipun awalnya tak suka, ia akhirnya merelakanku merantau dengan syarat harus bisa menjaga diri.

Baca juga: Bulan Separuh di Mata Oliver – Cerpen Iin Farliani (Padang Ekspres, 29 September 2019)

Di Jakarta aku bekerja sebagai tenaga pemasar (sales girl) di sebuah perusahaan mobil. Dari pekerjaan ini aku punya penghasilan lumayan besar, yang dapat memenuhi kebutuhanku lebih daripada cukup, bahkan bisa mengirimi orang tuaku uang.

Berat bagiku untuk meninggalkan Jakarta, bukan karena aku telah mendapatkan pekerjaan dan nyaman tinggal di kota ini, melainkan karena aku tak sanggup hidup di kampung. Aku tak tahan mendengar gunjingan orang di kampung: mereka senang mengurus hidup orang lain, misalnya anak si A masih menganggur setelah tamat kuliah; anak si B belum menikah. Yang digunjing ini termasuk aku. Kalaupun nanti aku menikah, mereka pasti menggunjingku jika kehidupan rumah tanggaku bermasalah, apalagi sampai bercerai. Itulah sebabnya aku tak mau hidup di kampung: telingaku tak cukup tebal untuk menahan gunjingan orang. Jika menikah nanti, aku ingin langsung berangkat ke Jakarta setelah ijab kabul.

Di tengah ketaksukaanku tinggal di kampung, ayah menyuruhku pulang untuk menetap di kampung dan tak boleh kembali lagi ke Jakarta.

***

Ponselku berdering lagi. Ini sudah kali ketiga ayah meneleponku hari ini dan sudah dua kali kutolak karena tahu apa yang akan beliau sampaikan. Aku tak sampai hati menolak panggilannya untuk kali ketiga. Jadi, kuterima saja panggilan telepon ini dengan menebalkan telinga.

Baca juga: Anak Saya Ingin Menjadi Nabi – Cerpen Zainul Muttaqin (Padang Ekspres, 15 September 2019)

“Assalamualaikum, Ayah.”

Ayah meneleponku untuk menegaskan sekali lagi batas waktu untukku: aku harus menikah dalam tahun ini atau paling lambat sebelum ulang tahunku tahun depan. Aku tak tahu harus menjawab apa. Yang pasti, aku tak sanggup melawan kehendaknya, sedangkan aku belum menemukan lelaki yang kucari.

Sementara itu, waktu tak bisa menunggu. Usiaku sebentar lagi 30 tahun dan mitos di kampungku itu mulai terngiang-ngiang di telinga. (*)