Cerpen Luhur Satya Pambudi (Kedaulatan Rakyat, 01 Desember 2019)

Figur Tak Dikenal ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Figur Tak Dikenal ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

TIDAK semestinya lelaki itu mengeluh sekiranya hingga hari ini namanya tidak terkenal dan figurnya pun nyaris tak dikenal ketika berada dalam keramaian. Bukankah hal itu memang kehendaknya sendiri? Bahkan secara terus terang pernah dia ungkapkan kepada seorang gadis yang tengah dekat dengannya sekian tahun lalu.

“Aku tidak mau jadi orang terkenal,” ucap lelaki itu kala bercengkrama berdua dengan gadis bermata cemerlang pujaannya.

“Lho, kenapa tidak mau? Bukankah terkenal itu menyenangkan? Dikagumi banyak orang dan mungkin juga punya banyak uang?” tanya sang gadis.

“Mendapat perhatian banyak orang itu  tidak selamanya menyenangkan.”

“Iya juga, sih. Perhatian orang lain terkadang mengusik hidup kita.”

“Nah, itulah alasanku. Apalagi pada era media sosial belakangan ini, terdapat fenomena yang menurutku dahulu tidak ada. Seingatku, pada masa lalu ketika ada orang terkenal, maka dia hanya memiliki penggemar. Orang yang tidak suka, ya bersikap biasa dan tak peduli saja. Para penggemar lantas sering membentuk komunitas sebagai wujud kesukaan mereka kepada sang idola. Tapi, lihat saja kini. Para pembenci pun merasa penting untuk memiliki eksistensi.”

“Yah, risiko menjadi orang terkenal sekarang memang harus siap memiliki pencinta dan sekaligus pembenci, Bung.”

“Itulah yang membuatku enggan, maka lebih baik aku menjadi orang biasa. Barangkali hanya sedikit pula temanku, tapi aku tak perlu merasa punya musuh.”

Lelaki itu belum mengerti bahwa gadis yang diajaknya bicara sebenarnya memiliki kedua orangtua yang dikenal publik. Ibunya adalah pakar pendidikan anak yang pendapatnya sering dikutip banyak orang, sedangkan ayahnya waktu itu merupakan pejabat yang dekat dengan menteri yang akhirnya menjadi wakil presiden.

Satu dekade telah berlalu. Lelaki itu masih tetap menjadi orang biasa. Biarpun puluhan karya tulisnya telah dimuat di sejumlah media cetak maupun daring, tapi namanya tetap saja tidak kondang. Padahal dia kerap pula menghadiri sejumlah acara literasi, sastra, maupun beraneka rupa kesenian yang begitu kerap digelar di kotanya. Hanya sesekali dia justru menyapa orang-orang kondang yang menjadi kawannya di media sosial.

Oh ya, ada seorang pemuda yang dahulu dikenalnya baru mulai merintis kariernya di dunia kepenulisan. Si pemuda yang ramah kini telah menjadi penulis tenar dan memiliki banyak penggemar. Belum lama ini, lelaki itu dan si penulis tenar secara tak sengaja bertemu di gedung bioskop. Ternyata si pemuda sudah melupakannya sama sekali.  ❑ – g

 

Yogyakarta, 6 September 2019

Luhur Satya Pambudi lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di sejumlah media cetak maupun daring. Kumpulan cerpennya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).