Cerpen Komala Sutha (Bangka Pos, 01 Desember 2019)

Episode dalam Sebuah Angkutan Kota ilustrasi Bangka Pos (1)
Episode dalam Sebuah Angkutan Kota ilustrasi Bangka Pos

TERBURU-BURU Bu Anisa turun dari ojeg. Jarum jam pendek di tangannya menunjuk ke arah angka sebelas. Ia harus tiba pukul duabelas di rumahnya. Mandi, sholat dan menuju masjid tak jauh dari pasar tradisional, untuk mengikuti pengajian rutinan hari Rabu. Ia pun dengan rela mengorbankan tidak makan-makan bersama dengan guru-guru yang menjadi bawahannya di sekolah, karena takut tidak tepat waktu di masjid.

Sampai persimpangan Cibeureum, angkot yang ditunggu tak kunjung tiba. Resah mulai menggelayutinya. Bukannya tidak ada angkutan umun yang bisa membawanya pergi ke daerah tempat tinggalnya, tapi yang lewat hanya bis dan bis juga. Bis tigaperempat, dimana semua orang tahu jalannya tak lebih seperti keong. Akan tiba jam berapa sampai di rumah. Akhirnya, Bu Anisa berusaha sabar menanti.

Setelah limabelas menit dibelai kesabaran, datang juga angkutan umum yang diharapkan. Sebuah angkutan kota warna kuning jurusan Baranangsiang –Cilangkap. Berhenti tepat di depan hidungnya. Ekor mata melirik ke dalam, hanya satu orang saja. Dengan segera naik, lalu dengan leluasa memilih tempat duduk. Nyaman, pikirnya.

Belum tiga menit merasakan kenyamanan dalam angkot yang kosong, tiba-tiba angkot bergerak dengan cepat. Rupanya sebuah angkot dari belakang mengejarnya. Bu Anisa kaget. Jantungnya hampir copot. Setengah berteriak, ia minta berhenti, namun sopir yang tiba-tiba berubah gusar, tak menggubris teriakan histeris sang kepala sekolah. Bu Anisa berpindah tempat duduk, ke arah depan, tepat belakang sopir yang terus menggerutu, entah menggumamkan kata-kata apa. Di depan sebuah warung kecil, angkot berhenti. Penumpang yang duduk tak jauh dari Bu Anisa, hampir meloncat turun, lalu melemparkan uang recehan ke arah sopir, yang menangkap koin  tersebut dengan umpatan kekesalan. Bu Anisa meronta minta berhenti, tapi angkot dengan segera dilarikan. Sopir teriak-teriak seperti kemasukan setan.

“Berhentiiiiiiii!!!’ Bu Anisa teriak lagi.

“Bu… ngga usah lah!” sopir itu akhirnya berusaha bicara pelan. “Ngga akan apa-apa ko, tenang aja…”

“Tapiiiii…”

“Ngga akan terjadi apa-apa….”

“Baiklah,” sahut Bu Anisa, dalam hati. Dibetulkan kacamatanya yang melorot ke bawah hidungnya.

Angkot berubah, bergerak pelan. Bu Anisa tenang. Sopir pun diam. Tapi tak lama…

“Heyyyyyy!!!” angkot yang tadi ketinggalan jauh, menyalip dari sebelah kanan.

“Brengseeeeeeekkkk!!!” sopir angkot yang ditumpangi Bu Anisa teriak tak kalah keras. Dilarikannya angkot, mengejarnya. Tubuh Bu Anisa naik turun ,kadang-kadang terlempar ke bangku sebelahnya.

“Aduuuhhh!!!” jerit Bu Anisa. “Turunkan saya!”

Sopir yang kembali menggerutu dengan mengeluarkan umpatan-umpatan kasar tak memedulikan teriakan Bu Anisa. Ya Tuhan! jerit Bu Anisa dalam hati. Ia sangat menyesal menaiki angkot ini. Tersiksa, sendirian. Bukannya tak ada penumpang. Tadi banyak penumpang yang mengacungkan ibu jari meminta berhenti, tapi sang sopir begitu angkuh, jalan terus. Bu Anisa merintih lirih. Angkot terus saling kejar-kejaran dengan angkot tadi, angkot yang sama warnanya. Kuning. Angkot dengan jurusan yang sama. Baranangsiang-Cililin. Tak jarang, saling menyalip, saling mendahului, saling mengejar. Bu Anisa tak henti-hentinya memegang dada. Tubuhnya terbanting kesana-kemari. Sesekali terjerambab ke tengah, jatuh dan terduduk di lantai angkot. Kacamatanya pecah. Tasnya lepas dari pundaknya.

Tiba-tiba, angkot yang ditumpangi berjalan pelan. Angkot yang tadi tak tahu dimana. Di belakang atau di depan. Bu Anisa tak mau tahu. Yang penting, kini ia merasa tenang lagi. Entah apa mau mereka, pikir ibu kepala sekolah yang rajin mengikuti pengajian ini. Kalau rebutan penumpang, mengapa penumpang yang banyak tadi walaupun anak-anak sekolah, tak dinaikkan?

“Heyyy! Setaaannn!!!” lantang dan keras suara itu memecah jalanan sepi. Bu Anisa berdebar hebat. Dadanya berdegup lagi. Tubuhnya gemetaran. Wajahnya pucat pasi.  Suara si cempreng, sopir angkot itu.

“Aku ngga takut kamu… gilaaaaaa!!!”  sopir angkot yang ditumpangi Bu Anisa, tak mau kalah. “Ayoooooo!”

Heeeeehhhhh…. Bu Anisa tubuhnya menggigil seperti kedinginan. Ya Tuhan! pekiknya. Kenapa lagi? Ia benar-benar menyesal menaiki angkot ini. Kalau tahu akan seperti ini, lebih baik naik bis itu, walaupun lama tapi aman.

Terbanting tubuh Bu Anisa, hampir terjerambab ke luar angkot, kalau saja tangannya tak sigap memegang daun pintu. Hari yang buruk buatnya. Ia melupakan pengajian rutinan hari Rabu yang harus segera dihadirinya. Yang ia pikir, segera sampai dan keluar dari angkot sialan ini.

Di depan alun-alaun Cilangkap, angkot berhenti. Alhamdulillah… Bu Anisa memegang dadanya. Akhirnya, ia sampai dengan selamat. Segera merogoh dompet dari dalam tas hitamnya. Tak ada uang pas, hanya lima ribuan. Ketika mau membayar, sopir itu sudah tak ada di tempat duduknya. Bu Anisa tak menyadari sopir itu keluar. Dari dalam angkot, ia kaget. Sopir itu seperti marah pada penjual mangga, lalu merebut pisau. Bergidik bahu. Ngeri. Sopir itu menuju depan warung nasi yang paling laris. Di sana sopir yang tadi menantang. Mereka berdua adu mulut, tak segan yang membawa pisau mendekatkan pisau ke perut lawan. Bu Anisa menunduk, ngeri kalau sampai manyaksikan peristiwa berdarah.

Namun syukur, mereka berdua bisa juga dipisahkan. Rupanya sopir yang membawa pisau hanya menakuti-nakuti saja. Diserahkan pisau yang tajam itu ke pemiliknya. Ia pun menuju angkot lagi, dimana Bu Anisa masih duduk manis. Segera turun ketika melihat tampang yang masih sangar menakutkan.

Setelah turun, menyerahkan uang lima ribu kepada sopir yang tak ramah itu. Bu Anisa beberapa saat menunggu uang kembaliannya, tapi sopir itu memalingkan muka dengan angkuh. Ah, Bu Anisa tak berani meminta. Takut. Tak mengapa, uang dua ribu direlakan daripada adu mulut. Lagipula, sopir itu tak mendapat uang karena selama perjalanan tadi tak menaikkan penumpang selain Bu Anisa.

Dengan gontai, Bu Anisa melangkah meninggalkan terminal. Dalam hati ia berharap, semoga Tuhan memberi rejeki yang banyak kepada sopir yang telah mengantarnya sampai tujuan. ***

 

Bandung, November 2019

Komala Sutha yang lahir di Bandung, 12 Juli 1974, menulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia. Tulisannya dimuat dalam majalah dan koran  di antaranya Femina, Hadila, Potret, Majalah Anak Cerdas, Beat Chord Music, Mayara, Manglé, Sunda Midang, Kandaga, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Tribun Kaltim, Denpasar Post, Lampung Post, SoloPos, Kedaulatan Rakyat, Merapi, Padang Ekspres, Malang Post, Metrans, Galura, Kabar Priangan, Radar Tasik, Sunda Urang, Warta Sunda, Buletin Selasa, Redaksi Jabar Publisher, dan tulisan lainnya tergabung dalam beberapa buku solo dan puluhan buku antologi cerpen serta puisi.