Cerpen Faris Al Faisal (Republika, 01 Desember 2019)

Cerita Zinnia Gadis Pelantun Shalawat ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
Cerita Zinnia Gadis Pelantun Shalawat ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Zinnia, nama gadis pelantun shalawat itu—bersuara sangat merdu. Ia membawakan syair pujian dan kecintaan kepada Nabi dengan biolanya. Setiap ia menyayat biolanya dan bersenandung, yang mendengarkan akan merasa diaduk-aduk hatinya dan terenyuh perasaannya kepada kecintaan terdalam pada sang Nabi. “Shalli ‘alaih, shalli ‘alaih, shalli ‘alaih,” ucap mereka. Mata berkaca-kaca dan tak sanggup lagi meredakannya agar tak jatuh. Lalu luruh, air mata pun runtuh. Namun, siapa mengira jika ia (maaf) bekas seorang pelacur

Cerita 1

ZINNIA gembira. Pamannya di Amsterdam mengiriminya paket berisi biola. Sudah lama ia menginginkannya. Ia merasa takjub bila melihat seseorang memainkan biola, apalagi jika seseorang itu perempuan. Pernah Zinnia minta kepada mama dan papanya, tapi tidak ditanggapi. Bukan tidak mampu, mereka lebih memikirkan selera sendiri tanpa memberi pilihan pada anak gadisnya itu. Zinnia hanya bisa bercerita kepada pamannya. Kini di ulang tahunnya yang ke-13 tahun, impian itu baru terwujud. Benda artistik dengan warna klasik itu telah merebut hari-harinya. Ia mulai melupakan boneka-boneka—yang menurutnya hanya patung yang tak bisa diajak apa-apa—yang dibelikan papa dan mamanya. Padahal, Zinnia tak pernah memintanya.

“Mulai hari ini kalian tidak tidur di kamarku lagi,” ucap Zinnia sambil meletakkan dan merapikan boneka-boneka yang di jejerkan di lemari kaca mewah. Sebagai gantinya, biola itu diletakkan di sisi pembaringannya. Namun, Zinnia sedih. “Bagaimana cara memainkannya?” Beberapa kali biola itu dimainkan dengan digesek-gesekkan. Beberapa kali itu juga yang terdengar hanya suara seperti orang tercekik.

Mama dan papanya pernah menanyakan tentang boneka-boneka—yang dibeli dari luar negeri—pemberian mereka itu. “Apa kamu bosan? Mama dan Papa bisa membelikan yang lebih bagus lagi. Minggu depan kami mau ke Tiongkok.”

Baca juga: Senyum Ranum Gadis Chrysanthemum – Cerpen Faris Al Faisal (Fajar, 30 Juni 2019)

“Tidak, Ma, Pa, bukan itu,” kata Zinnia.

“Terus?” selidik mama dan papa Zinnia ingin tahu.

“Zinnia ingin belajar biola,” jawabnya singkat.

Cerita 2

SORE itu, lelaki paruh baya telah berdiri di depan Zinnia. Ia tersenyum lalu memperkenalkan diri. “Namaku Zamit.” Zinnia hanya melirik ke tangannya yang membawa tas hitam tempat menyimpan biola. “Apa kau yang akan mengajariku bermain biola?”

Lelaki itu mengangguk. “Papa dan mamamu pernah ke studio musikku dan memintaku untuk memberi latihan bermain biola. Apa kau gadis kecil yang ingin belajar biola itu?”

“Iya,” jawab Zinnia.

Tanpa diketahui siapa yang terlebih dahulu memulai, keduanya kini telah berjabat tangan. Tampak akrab dan tak ada sekat canggung karena perbedaan usia ataupun gender. Zinnia mempersilakan lelaki yang kemudian dipanggil Mas Zamit itu ke ruang di mana ia akan belajar memainkan alat melodius yang konon sangat rumit itu.

Baca juga: Mister Masbuk – Cerpen Zaenal Radar T (Republika, 24 November 2019)

Di ruangan itu, Zinnia menunjukkan biola pemberian pamannya. Kata paman, biola ini dibeli dari Amsterdam. “Apakah biola ini bagus?” Zinnia lalu memberikan biola itu pada Mas Zamit.

Sejenak, Mas Zamit menimang-nimangnya, mengamati lekuk tubuh biola yang entah mengapa kali ini seperti menawan hatinya yang mendadak rawan. Lalu, ia mencium semerbak bau kayu dan catnya yang masih menguarkan bau furnitur. “Kukira selain bagus, biola ini tentu sangat mahal,” ucapnya kagum.

Sayang, sebelum Zinnia memulai belajar memainkan biola, Mas Zamit izin karena belum shalat Ashar. Zinnia bingung karena ia tak pernah melihat mama dan papanya shalat, bahkan tak pernah pula menyuruhnya.

Zinnia tidak tahu. “Tempat shalatnya di mana ya?” tanya Zinnia.

“Di sini pun tak apa,” ucap Mas Zamit seolah mengerti kesulitan gadis kecil itu.

Zinnia hanya bisa memperhatikan Mas Zamit shalat. Sebagai Muslim, ia sebenarnya tahu ada ibadah shalat, puasa, dan ibadah lainnya, namun tak tahu bagaimana melaksanakannya.

Baca juga: Felicia – Cerpen Maya Sandita (Republika, 17 November 2019)

Di rumahnya, papa dan mamanya selalu pulang malam. Sibuk kerja dan berbagai aktivitas kantor yang menyebabkan keduanya sering bepergian ke luar negeri. Zinnia hanya tinggal bersama beberapa pembantunya.

Enam tahun Zinnia belajar biola. Dari yang mula gadis kecil, kini beranjak gadis sungguhan. Pertemuannya dengan Mas Zamit bukan hanya mengenalkannya akan biola, lagu, dan musik. Lebih dari itu, Zinnia belajar menjadi Muslimah yang taat. Meski baru belajar. Ya, baru belajar.

Kini, keduanya berpisah. Zinnia kuliah di Amsterdam.

Cerita 3

Amsterdam, 2015.

TANGANNYA yang bening menyentuh logam di dalam kereta. Zinnia melirik sebuah jam digital yang terbaca pada dinding gerbong. Tepat pukul 21.35. Di luar, udara telah merapatkan keluarga rakun mapache dan ke luarga kelinci di akar-akar pohon rowan. Dalam perjalanan pulang dari sebuah pementasan tunggalnya memainkan biola, Zinnia melantunkan bait-bait dari kasidah “Raqqat Aina” di dalam hatinya.

Baca juga: Menunggu Jumat Pagi – Cerpen Khumaid Akhyat Sulkhan (Republika, 10 November 2019)

“Assalamu ‘alaika ya, ya Rasul Allah”

“Assalamu ‘alaika, ya Habibi, ya Nabi Allah”

“Ya Rasul Allah.”

Begitu dalamnya, air matanya mengalir. Seakan beku malam itu mencair di pelupuknya. Ya, sejak itu Zinnia dikenal sebagai gadis pelantun shalawat.

Akan tetapi, popularitasnya itu telah menghadirkan seseorang yang kemudian merasa iri dan tersaingi. Pagi itu, Arabella menelepon Zinnia dan memintanya datang ke pestanya malam nanti. Zinnia tidak berkenan sebenarnya, tetapi Arabella terus membujuk. “Baiklah, hanya sebentar saja ya,” ucap Zinnia.

“Tak apa, Zinnia. Tak apa. Itu sudah lebih dari cukup. Aku akan bahagia,” jawab Arabella sebelum kemudian menutup teleponnya.

Baca juga: Dia Menyentuh Pipi Orang-Orang – Cerpen Abul Muamar (Republika, 03 November 2019)

Arabella. Ia gadis Amsterdam dan teman kuliah Zinnia. Dalam dadanya telah tumbuh duri-duri yang siap ditusukkan ke daging-daging Zinnia. Kepiawaian Zinnia bermain biola dan melantunkan shalawat telah menyingkirkannya dari kesempatan menyayat dawai-dawai biolanya di depan tamu-tamu kerajaan. Rencana itu kemudian dipersiapkan. Zinnia dijebak. Di dalam pesta itu, Zinnia diperdaya. Beberapa lelaki yang juga teman Arabella telah beramai-ramai mengambil kesuciannya. Zinnia hanya bisa meratapi dan menyesali nasibnya. Ia muak melihat Arabella yang berpura-pura ikut bersedih, padahal di dalam hatinya tersenyum puas.

Cerita 4

PERISTIWA di rumah Arabella telah mengubah segalanya. Zinnia mulai melepas kerudungnya dan membiarkan rambutnya tergerai. Ia merasa kotor dan tak ingin mengotori simbol penutup aurat itu dengan terus melekatkannya di kepalanya. Bahkan, ia pun mulai membuka bagian-bagian yang lainnya. “Percuma saja. Mereka—lelaki suruhan Arabella—bahkan telah menelanjangiku,” ucap Zinnia sinis.

Di Amsterdam (tentu saja tanpa sepengetahuan pamannya), Zinnia telah merasa telanjur. Ia menenggelamkan tubuhnya ke kolam kebebasan. Zinnia bahkan telah mengenal banyak lelaki dan berkubang dengannya. Satu hal yang ingin dilakukannya, Arabella pun mengalami hal yang sama seperti yang telah menimpanya. Karena itulah, ia akan memanfaatkan uang dan lelaki-lelaki itu untuk membalaskan dendamnya. Sekalipun dengan itu, Zinnia telah menjual harga dirinya.

Baca juga: Shalawat Ilalang – Cerpen Alim Musthafa (Republika, 27 Oktober 2019)

Namun demikian, Zinnia tak pernah lupa dengan biolanya. Bahkan, kemampuannya menggesek biola dan bersenandung shalawat makin membuatnya terkenal. Arabella justru menjadi tersiksa karenanya.

Cerita 5

BERITA Zinnia sebagai gadis pelantun shalawat tersiar ke mana-mana. Bahkan, sampai pula ke telinga Mas Zamit. Ia senang mendengarnya, bahkan pernah melihat pementasannya di Youtube. Sebenarnya, telah lama keinginan untuk menghubunginya. Sekadar bertanya kabar pada Zinnia. Namun, entah mengapa baru sore ini ia sempatkan.

“Apa kabar, Zinnia? Ini Mas Zamit. Wah, sudah sukses! Mas ikut berbahagia.” Semua pertanyaan itu belum satu pun terjawab. Mas Zamit bingung.

“Halo, Zinnia! Halo! Halo! Apa kamu dengar?”

“Iya, Mas Zamit. Zinnia dengar.”

“Lantas kenapa tak dijawab. Suaramu terdengar sedih, Zinnia.”

“Zinnia harus menjawab apa, Mas?”

“Ada apa Zinnia? Apa kau baik-baik saja di Amsterdam?”

Baca juga: Shalawat Ilalang – Cerpen Alim Musthafa (Republika, 27 Oktober 2019)

Zinnia lama terdiam. Kemudian terdengar tangis Zinnia. Dengan terbata-bata, ia menceritakan kisah selama ia di Amsterdam tanpa ada yang terlewat atau ditutupi satu pun. Ada penyesalan, dendam, tumpukan dosa yang seakan begitu banyaknya, dan sulit termaafkan. “Aku telah menjadi pendosa,” ucap Zinnia.

Mas Zamit setia mendengarkan sampai akhir cerita.

“Bagaimana menurut Mas Zamit?”

“Apa kau tak ingin kembali kepada fitrah manusia? Kepada kesucian, Zinnia?”

“Mau, Mas.”

“Bertobatlah karena Allah Maha Pengampun dan Mahabijaksana. Tak perlu ada dendam lagi. Allah akan memberi balasan walau sebesar zarah sekalipun.”

“Bahkan, aku sudah rindu untuk menuju jalan-Nya. Rindu pada petunjuk Nabi. Allahumma shalli ‘ala Muhammad.”

Baca juga: Penabur Bunga – Cerpen Maya Sandita (Republika, 20 Oktober 2019)

Shalli ‘alaih. Baiklah, Zinnia, semoga kau bisa istiqamah. Jika telah selesai kuliahmu, segeralah pulang. Papa dan mamamu tentu sudah kangen.”

“Insya Allah, Mas. Terima kasih.”

Sore itu, Zinnia mengambil air wudhu, memakai kembali kerudungnya, dan pakaiannya ia rapikan lagi hingga sempuna menutup aurat. Ia shalat dua rakat dan berdoa agar tak lepas dari hidayah, taufik, dan ampunan.

Selesai itu, Zinnia meraih biolanya. Ia menghadap sebuah cermin besar di apartemennya, memandang tubuhnya berulang kali. Tubuh yang terluka dan kini menjadi sembuh. Ia tersenyum dan mulai menggesek biolanya dengan syahdu dan sayu. Dari mulutnya terdengar nyanyi merdu lantunan shalawat. Shalawat cinta kepada Nabi.

 

Indramayu, 2019

Faris Al Faisal lahir dan tinggal Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Forum Masyarakat Sastra Indramayu (Formasi). Menulis fiksi dan nonfiksi. Karya fiksinya adalah //Novella Bunga Narsis// (Mazaya Publishing House, 2017); //Antologi Puisi Bunga Kata// (Karyapedia Publisher, 2017); kumpulan cerpen //Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek// (Karyapedia Publisher, 2017); novelet //Bingkai Perjalanan// (LovRinz Publishing, 2018); dan antologi puisi //Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian// (Rumah Pustaka, 2018). Karya nonfiksinya yaitu //Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia// (Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017). Penulis dapat dihubungi via //ffarisalffaisal@gmail.com//.