Cerpen Sukron Hadi (Koran Tempo, 30 November-01 Desember 2019)

Tulisan di Pintu Kamar Mandi Nomor Dua ilustrasi Koran TempoW
Tulisan di Pintu Kamar Mandi Nomor Dua ilustrasi Koran Tempo 

Entah siapa yang menulis tiga kata pada daun pintu kamar mandi nomor dua. Karena ulah tangan isengnya, kami semua harus menanggung akibatnya. Tengah malam, kami semua harus berdiri membentuk lima barisan di halaman depan pesantren sampai ada yang memberi tahu siapa pelakunya atau mengakui sendiri perbuatan itu. Sialnya, sudah dua jam tidak ada yang membuka mulut.

Jika hanya berdiri sampai nyaris tiga jam, saya sanggup menanggung kaki pegal ataupun otot-otot kaki dijalari panas. Tapi menghadapi kekecewaan dan amarah Kiai Abdul, siapa pula yang sanggup. Kiai Abdul memang tidak akan memukul ataupun membentak dan melontarkan kata-kata kasar. Beliau tak pernah melakukan itu semua kepada kami. Tapi yang kami rasakan melampaui itu. Dada kami dipenuhi perasaan yang lebih purba dari takut dan lebih mengerikan dari terkena kutukan.

Saya pernah sekali dihukum berdiri tegap di halaman depan pesantren dari habis waktu salat asar berjemaah hingga menjelang waktu magrib. Itu terjadi tiga bulan lalu. Gara-garanya Jumadi—adik kelas saya, yang juga seorang pengurus pesantren bagian keamanan—melihat saya sedang asyik mengisap rokok di warung Mbok Yati saat jam istirahat sekolah kedua bersama beberapa teman sekelas yang bukan santri pesantren.

Saya terpaksa mentraktirnya jajan. Karena ia tidak menolak, saya lega. Saya merasa Jumadi sudah ada di pihak saya, mengesampingkan peraturan pesantren. Apalagi Jumadi begitu lahap memakan bakwan hangat dan gratis hingga kopiah hitamnya ikut bergerak naik-turun seirama gerak rahangnya. Gigi tonggosnya menggasak lima biji bakwan.

Baca juga: Kisah Ganjil tentang Pria Pemadam Kebakaran – Cerpen Tommy Duang (Koran Tempo, 23-24 November 2019)

Jumadi memang sialan. Ia tetap menghukum saya saat di pesantren. Dari sinar matanya, saat ia menyampaikan kesalahan saya di depan Kang Sayuti, sang lurah pesantren, lalu memerintah saya untuk berdiri di halaman, saya menangkap cerlang girang. Seolah-olah ia mendapatkan kemenangan yang lama dinanti.

Saat saya mengakhiri masa tugas sebagai salah satu petugas keamanan pesantren, saya tidak pernah terpikir bahwa salah satu pengganti saya—yang kebetulan beberapa kali pernah saya hukum menguras bak mandi karena telat bangun dan tidak ikut jemaah salat subuh—mengincar dan bernafsu untuk menghukum saya. Baru tiga minggu menjabat, ia berhasil mendapat buruannya.

Sebagian besar santri pernah melakukan pelanggaran ringan itu. Saya juga selama menjabat petugas keamanan pondok beberapa kali melakukan pelanggaran itu dan menjalani hukumannya yang digelar setiap hari Jumat. Karena setiap minggunya banyak yang melakukan pelanggaran itu, sembilan bak kamar mandi pesantren selalu bersih dan pikiran saya bersih dari bayangan akan ada orang seperti Jumadi yang sebegitu nafsunya membalas menghukum saya.

Saya harus berdiri seorang diri membelakangi matahari sore seperti umbul di tengah halaman pesantren. Berkali-kali angin Oktober mengibarkan sarung dan kemeja batik berlengan panjang saya yang longgar.

Baca juga: Harga Sebuah Sepeda – Cerpen Tjak S. Parlan (Koran Tempo, 16-17 November 2019)

Iya, kaki saya pegal dan otot-otot kaki saya pelan-pelan dijalari panas. Tapi kadar perasaan itu tak seberat rasa malu dan rasa bersalah yang saya tanggung. Rasa bersalah dan malu itu bukan kepada 145 teman sesama santri putra, tapi kepada Kiai Abdul.

Biasanya jika Kiai Abdul lewat di depan saya, saya—sebagaimana santri lainnya—akan menyergap telapak tangan kanan beliau untuk bersalaman dan mencium punggung telapak tangan tiga kali. Saat itu saya hanya merundukkan kepala dalam-dalam, saat beliau berjalan dari pintu dalem beliau dan melewati saya untuk sampai ke aula pesantren untuk mengajar ngaji kitab Irsyadul Ibad.

Jangankan menyergap telapak tangan kanan beliau, menatap sandal selop hitam tua beliau yang kulitnya mengelupas di beberapa bagian saja, saya merasa tidak layak. Meskipun saya tidak tahu persis apakah beliau kecewa, tapi saya ditakuti prasangka beliau kecewa. Kekecewaannya terasa lebih mengerikan dari kutukan siapa pun, kecuali kutukan ibu.

Perasaan itu terus memenuhi rongga dada saya selama saya berdiri. Keringat dingin membanjiri tubuh saya. Saya menangis saat mendengar samar-samar suara Kiai Abdul membaca Bab Haji dengan makna dan penjelasannya di hadapan para santri yang duduk berbaris-baris di karpet hijau daun. Saya merasa telah mengkhianati Kiai yang dari wajah, alis, rambut, kumis, jenggot, hingga baju semuanya serba putih itu. Kecuali sorban beliau yang hijau dan kopiah beliau yang hitam, karena ia memang belum pernah ziarah haji.

Baca juga: Selamat Pagi Nona Magpie – Cerpen Bayu Pratama (Koran Tempo, 02-03 November 2019)

Sejak itu, saya tidak pernah lagi melanggar peraturan pesantren. Apalagi berdiri di halaman depan pesantren. Hingga malam ini. Saya harus kembali berdiri lebih dari dua jam bersama seluruh santri dan pengurus di halaman depan pesantren, karena tidak ada seorang pun mengakui perbuatan menuliskan—tepatnya mengerok dengan benda keras hingga cat terkelupas—permukaan luar pintu kamar mandi nomor dua yang bercat hijau tua, hingga membentuk tiga kata berbeda yang sama-sama memiliki makna kelamin perempuan.

Nada bicara beliau memang tidak naik tinggi. Seperti biasa, suaranya terdengar berat tapi empuk di gendang telinga. Tapi saya tahu beliau kecewa dan marah, hingga beliau harus turun tangan menangani kenakalan santri dan harus memerintah kami semua berdiri lama hingga ada yang mengaku. Saya tidak pernah berada dalam kondisi lebih mencekam dari malam ini.

Biasanya semua pelanggaran santri diselesaikan oleh para pengurus pesantren. Tapi karena Kang Sayuti bingung soal hukuman apa yang harus ia berikan kepada penulis tiga kata di kamar mandi nomor dua itu, ia harus menanyakan soal itu kepada Kiai Abdul setelah beliau mengajar kitab jadwal selepas salat isa.

“Karena tidak ada yang mengaku,” beliau bersuara. “Baiklah. Kalian semua dengarkan ini. Saya minta maaf kepada kalian yang tidak bersalah hingga harus menanggung akibat dari perbuatan satu orang. Kalian harus berdiri pada tengah malam begini. Kalian memaafkan saya?”

Baca juga: Nikolaus Pu’u Pau – Cerpen Reinard L. Meo (Koran Tempo, 26-27 Oktober 2019)

“Iya, Kiai,” jawab kami dengan suara sedikit ragu dan tidak kompak.

Saya, mungkin juga semua santri yang tidak bersalah, menjawab ragu lebih karena kami merasa Kiai Abdul tidak melakukan kesalahan. Kami hanya merasa beliau tidak layak meminta maaf. Sungguh saya, mungkin juga semua santri yang tidak bersalah, tidak sanggup menyaksikan Kiai Abdul marah dan kecewa.

“Kalian memaafkan saya?” Kiai Abdul mengulang pertanyaan yang kali ini lebih terdengar meminta.

“Iya, Kiai,” kali ini kami menjawabnya dengan suara lebih mantap.

“Sebelum kalian kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat, saya ingin menyampaikan bahwa ini harus menjadi perhatian bersama. Ini harus terpatri pada pikiran dan hati kalian karena ini soal akhlak, soal budi pekerti, yang sama sangat pentingnya dengan ilmu yang kalian dapatkan di pesantren ataupun sekolah.”

Kiai Abdul memang selalu bicara kepada kami tentang pentingnya akhlak. Tidak hanya saat beliau mengajar kitab Akhlak lil Banin setelah waktu salat isa pada hari Ahad, Selasa, dan Rabu. Tapi juga pada semua kesempatan mengajar kitab-kitab lain. Beliau selalu menyisipkan petuah-petuah akhlak. Karena baginya, di luar pesantren sudah banyak orang yang berilmu agama, namun banyak dari mereka tetap membuat kerusakan di Bumi Indonesia dengan lisannya ataupun perbuatannya, yang menyakiti dan merugikan orang lain.

Baca juga: Kutuk Banaspati; Empat Cerita pada Satu Malam – Cerpen Muhammad Nanda Fauzan (Koran Tempo, 12-13 Oktober 2019)

Keesokan harinya, sepulang sekolah, tiga tulisan di pintu kamar mandi nomor dua itu sudah hilang, tertutup cat warna hijau tua baru. Namun dua hari kemudian, belum juga bau tiner hilang, pagi-pagi pesantren kembali geger. Pintu kamar mandi nomor dua itu kembali berisi tulisan tiga kata berbeda yang bermakna sama, kelamin perempuan.

Jelas, itu adalah gaya tulisan tangan yang serupa dengan sebelumnya. Hanya kali ini tiga kata itu ditulis lebih besar empat kali lipat dari ukuran sebelumnya. Tapi yang membuat makin geger bukan ukuran tulisannya lebih besar, tapi ada banyak tulisan berukuran lebih kecil dari tiga kata itu memadati permukaan luar pintu kamar mandi nomor dua tersebut. Kalimat-kalimat itu bernada ratapan bercampur sumpah serapah terhadap Jumadi. “Jumadi tukang nyempet”, “Jumadi kunyuk cabul”, “Jumadi babi mesum”, “Jumadi predator mesum”, dan kalimat-kalimat lebih kasar dan kotor lainnya.

“Bagaimana menurutmu, Kang?” tanya Kang Sayuti kepada saya saat jam istirahat sekolah.

“Bagaimana apa, Kang?” saya balik bertanya kepada teman satu kelas saya itu.

“Begini amat, ya, jadi lurah pesantren,” ucapnya sambil menundukkan kepala.

“Saya punya enam nama yang saya curigai sebagai pelaku. Mereka semua anak sanawiah, yang saya duga adalah korban dari perilaku cabul Jumadi.”

Baca juga: Dari Tour de France hingga Hemingway – Cerpen Eko Darmoko (Koran Tempo, 05-06 Oktober 2019)

“Siapa?”

“Dodi, Aman, Badar, Anto, Bahrul, dan Komar,” saya menyebut nama-nama anak yang memiliki wajah rupawan dan kulit putih bersih.

“Entahlah. Siapa pun pelakunya, dia itu sudah pasti adalah korban. Dia jelas korban yang tidak berani melapor ke pengurus atas perbuatan kotor Jumadi hanya karena Jumadi bagian dari pengurus.”

“Bisa jadi juga karena dia tidak mau semua orang tahu apa yang dilakukan Jumadi kepadanya, jika ia melapor. Ia menghindari semua santri memandang ia adalah korban perilaku cabul Jumadi.”

“Bisa jadi. Itu sebabnya saya tidak mau permasalahan ini sampai ke telinga Kiai Abdul, tapi cukup diselesaikan pada tingkat pengurus.”

“Bagaimana?”

“Sedang saya pikirkan.”

Baca juga: Sepasang Mata Gagak di Yerusalem – Cerpen Han Gagas (Koran Tempo, 28-29 September 2019)

“Lalu apa yang akan kamu lakukan pada Jumadi, Kang?”

“Dia harus dikeluarkan dari pesantren.”

“Yang berhak mengeluarkan santri itu Kiai Abdul, Kang. Bukan kamu.”

“Iya. Saya akan melaporkan perbuatan Jumadi kepada beliau.”

“Lalu urusan pintu kamar mandi nomor dua bagaimana?”

“Saya harus melindungi korban. Ini tidak perlu sampai ke telinga beliau. Saya tidak tahan dan tidak tega melihat beliau kecewa dan marah lagi seperti malam yang lalu. Mengetahui perbuatan Jumadi saja saya yakin beliau sangat kecewa.”

“Maksudnya?”

Baca juga: Kejadian-kejadian di Meja Operasi – Cerpen Ida Fitri (Koran Tempo, 21-22 September 2019)

“Saya akan mencat pintu itu dan hanya melaporkan perbuatan Jumadi pada beliau. Sepulang sekolah saya musyawarahkan dengan semua pengurus, kecuali Jumadi. Mumpung Kiai Abdul setelah salat asar berangkat ke Semarang.”

“Ada keperluan apa beliau ke Semarang?”

“Menghadiri undangan pengajian akbar Hari Santri bersama guru beliau.”

“Mbah Moen?”

“Iya.”

 

Sukron Hadi, lahir di Brebes, Jawa Tengah, 3 November 1987. Sukron bekerja sebagai penerjemah, editor buku, dan manajer program di Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Indeks).