Cerpen Kartika Catur Pelita (Minggu Pagi No 34 Th 72 Minggu V November 2019)

Hujan Beras ilustrasi Minggu Pagiw
Hujan Beras ilustrasi Minggu Pagi

Miah menelusuri kepala renta Mak Onak, menyisir helai uban rambut perlahan, hati-hati, mata bulatnya mengawasi. Seekor kutu melintas. Cup. Gegas Miah mencomot, memitesnya dengan belah kuku. Tes. “Berasnya kok belum datang, ya, Mak?” gumamnya gamang.

Sore sepulang dari buruh mencabut kacang tanah, Mak Onak, Neneng, Miah dan para tetangga asik petan, mencari kutu, di serambi rumah bambu mereka. Rumah bambu beralas tanah cadas. Pohon petai cina dan jambu air menaungi selembar tikar pandan butut tempat  para pemetan mendudukkan pantat, beraksi, sembari berbincang menukar kabar. Bergosip. Berbagi berita kehidupan sehari-hari. Hari ini sudah jelang akhir bulan, sudah berlama hari mereka  menunggu beras raskin, tapi yang diharap belum seperti yang dimau.

Mbuh, ” sahut Mak Onak acuh. Selembar daun  jambu kering jatuh, sesaat tertiup angin dan hinggap nelangsa pada lembar tikar butut yang pada beberapa bagian bolong.

“Belum ada kabar dari Pak RT, ya, Mak?” kali ini Titin yang asyik dipetani Neneng, menyahut. Nimbrung.

“Padahal sudah mau akhir bulan. Kita sudah tak punya beras lagi,” keluh Mak Onak. Entah pada siapa. Miah semringah. Cup. Tes. Tes. Kali ini ia mendapat  kutu besar lagi gendut. Senangnya, aih.

“Kita makan nasi aking lagi, Mak?” ulik Neneng, gamang. Seekor lingsa menempel keras pada helai rambut Titin. Neneng membiarkannya. Titin menggaruk kepalanya yang gatal. Neneg tersadar, mencari lagi buruan. Kali ini beruntung seekor kor menari pada bilah rambut. Cermat, namun pelan dan pasti Neneng mengambilnya. Kemudian menyerahkan pada Titin. Randa tak beranak itu menimang  anak kutu pada telapak tangan, sebelum memusnahkan si penyebab gatal. Tes.

“Beginilah nasib. Mau bagaimana lagi. Daripada sama sekali tak makan,” gumam Mak Onak kelu.

“Daripada kelaparan, Neng,” usik Titin. “Mending makan nasi aking. Tak ada gizinya. Tapi sekadar pengganjal perut, daripada perut melilit.”

“Mau apalagi, Tin. Untung Mak masih ada simpanan nasi aking. Untung orang-orang kaya itu masih memberikan  sisa nasi, dan Mak menjemurnya.”

Sore menjelang senja, acara petan selesai.  Mereka kembali ke rumah masing-masing, dan beraktivitas. Neneng menyapu halaman rumah dan  mengandangkan ayam. Mak Onak buru-buru mengambil sabit dan karung kecil

“Mau ke mana, Mak?”

“Ke kebun dulu. Mau ambil daun singkong dan kelapa. Kau nanak nasi dulu.”

***

Beras aking dibersihkan dari  kotoran, kemudian dicuci dan  ditiriskan sebentar. Sesudah itu beras aking langsung ditanak di dandang, hingga matang. Neneng berdiang di depan api. Mak Onak beranjak ke dapur. Merebus daun singkong pada tungku belakang. Neneng  memarut kelapa.

Bara api kayu nangka meluap-luap di  bibir tungku tanah. Uap mengepul dari dandang-tanda nasi aking sudah matang. Mak Onak mengentasnya, kemudian menumpahkannya di atas tampah. Mengipas-ngipasinya, hingga nasi tak lagi panas. Saat nasi aking setengah panas, Mak Onak memasukkan parutan kelapa-yang sudah dibubuhi garam, dan mengolehnya hingga merata.

“Ayo kita makan, Min,” Anak beranak sudah berada di ruang tengah. Tikar tergelar. Hidangan terhampar. Nasi aking dalam tampah kecil. Piring kaleng. Rebusan daun singkong menemani.

Mak Onak mengambil piring-piring kaleng, menyendok nasi aking berurap  parutan kelapa berlauk daun singkong rebus. “Ini untukmu, untuk Asep dan Mimin. Ini untuk Mak.”

Mak Onak dan ketiga cucunya makan nasi aking dengan lauk kelapa parut dan rebusan daun singkong. Mereka tampak nikmat.

Diam-diam sebenarnya  Mak Onak  menangisi hidup yang dijalaninya. Seandainya ia memiliki harta dan  cukup berada, ia bisa menyenangkan hati cucu-cucunya. Namun inilah kenyataan hidup.  Semenjak lahir ia ditakdirkan melarat. Memiliki suami melarat.  Bahkan  anak menantu melarat. Ia kini harus membesarkan tiga cucu, setelah  anak  dan menantunya tewas saat bekerja menggali tambang emas di pulau seberang. Tak ada lagi keinginan Mak Onak,  selain membesarkan  cucu-yang sangat disayangi-bahkan melebihi ia menyayangi anak-anaknya dulu.

***

Pak RT muncul membawa kabar. Warga dikumpulkan di lapangan dekat madrasah. Pak RT menebarkan  pengumuman penting. Penuh khidmat mereka mendengar, menyimak.

“Beras raskin jatah bulan kemarin diberikan  awal bulan ini. Kalian yang berhak dan biasa mendapatkannya,  bisa mengambil di kelurahan,  membawa kartu. Selain itu besok ada pembagian uang dari pemerintah  untuk warga miskin. Warga yang  mendapat raskin otomatis akan mendapat uang miskin. Uskin bisa didapatkan di kantor pos!”

“Kantor pos, “ gumam Mak Onak tak mengerti

“Kantor pos berada di kecamatan. Kalian bisa datang berombongan naik colt Juragan Catur. Nanti dipotong ongkos, ” Pak RT memberi anjuran. Warga setuju. Demi mendapat uskin, apa salahnya memberikan sedikit upeti. Mak Onak juga sudah lama tidak naik truk, bahkan belum pernah pergi ke kecamatan.

***

Subuh-subuh, Mak Onak sudah mempersiapkan perbekalan. Ia membawa nasi bungkus daun jati, berlauk kering tempe, sambal, dan lalap daun singkong. Sebotol plastik air putih matang. Kata Yu Jiah,  kecamatan puluhan kilo dari dusun mereka. Pulang pergi naik truk membutuhkan waktu sekitar lima jam.  Belum lagi antre di kantor pos. Jadi mereka harus membawa bekal, daripada jajan  yang akan mengeluarkan uang tambahan.

“Mak, apa tidak lebih baik kalau Neneng yang berangkat?” Neneng  memberi usul. Selain ia kasihan pada Mak, ia juga sebenarnya ingin pergi ke kecamatan. Terakhir ke kecamatan saat kelas empat SD,  lima tahun silam. Kala itu diajak guru melihat karnaval Agustusan. Pasti kecamatan sekarang lebih ramai. Banyak bangunan megah. Jalanan bagus. Punya alun-alun luas yang menggelar tontonan, ombak banyu atau komidi putar.

“Tak perlu. Hari ini Juragan Madun panen singkong. Kowe bisa ikutan buruh.” Mak Onak memutuskan.

“Tapi, Mak…” Neneng masih ngeyel. Siapa tahu Mak Onak berubah pikiran.

“Kalau tak harus pergi ke kecamatan, Mak juga bisa ikutan buruh panen singkong. Kita dapat dua bagian, lumayan. Singkong bisa kita simpan, kita makan kalau tak punya beras.”

“Iya, Mak.” Neneng menurut, tak ingin membantah nenek, yang sudah dianggapnya ibu. Bahkan ia memanggilnya dengan Mak.

“Sudah, Mak sebentar lagi  pergi. Ingat-ingat pesan Mak. Kau urus adik-adikmu. Kau siapkan buku-buku dan bantu pe-ernya. Adik-adikmu pintar, semoga bisa terus sekolah. Semoga hidupnya lebih baik daripada  Mak.”

“Iya, Mak, Neneng ngerti.”

Pada cermin tua di kamar reotnya, Mak Onak dandan, mengenakan jarit dan kebayanya yang paling bagus. Mak Onak tampak semringah. Kemarin  ia sudah mengambil jatah beras raskin sepuluh kilo yang bisa untuk   jatah makan selama sebulan. Kali ini ia  akan mendapat sejumlah uang lumayan banyak. Rencana sebagian  untuk membayar hutang, sisanya disimpan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.  Untuk beli buku cucu. Untuk jajan  sangu cucu.

Selama naik mobil bak terbuka-Mak Onak tersenyum bungah seraya melantunkan  doa.

***

Pada sebuah berita televisi lokal tertayang berita tentang kecelakaan kendaraan yang membawa penduduk miskin hendak mengambil uang di kantor pos kecamatan. Colt  ditabrak truk  fuso pembawa beras. Semua penumpang, termasuk beberapa jompo yang terjepit di antara puluhan orang, tewas tertimbun hujan  beras! ***

 

Kota Ukir, 05 Desember 2018-21 Agustus 2019

Kartika Catur Pelita, karya prosa dan puisi dimuat di media cetak dan daring. Penulis buku fiksi Perjaka, Balada Orang-Orang Tercinta, dan Kentut Presiden. Penggiat komunitas Akademi Menulis Jepara(AMJ).