Cerpen Inung Setyami (Rakyat Sultra, 26 November 2019)

Lelaki dalam Lukisan ilustrasi Istimewaw
Lelaki dalam Lukisan ilustrasi Istimewa 

Tujuh belas tahun silam, aku pernah diciumnya mesra. Dan kini, ia tak ada di dekatku. Membuat aku tak bosan tuk terus mencari. Mencari ujung penantian. Penantian yang hingga kini terus melecutku. Melecutku hingga biru, sebiru rindu yang mengharu. Aku merindukannya. Rindu yang kusembunyikan dalam-dalam. Dan semakin kusembunyikan, rindu itu kian manja dan merayuku tuk terus mengingatnya. Terus mengisi kepalaku dengan bayang-bayang tentangnya juga ciumannya. Aku diburu rindu. Rindu yang melecutku untuk terus mencari. Mencari ujung keinginan. Keinginan yang terus memaksaku. Memaksa tuk menemukannya. Menemukan ciuman itu ataukah penciumnya? Ataukah keduanya? Entahlah.

Senja, di sebuah pameran lukisan ada yang terasa janggal. Aku merasa rindu itu memanggil-manggilku. Rindu itu bersinggungan denganku. Dan aku yakin, aku tidak sedang berimajinasi ataupun bermimpi. Ini sungguh nyata. Rindu itu mendekat. Terasa sangat dekat. Inikah rindu itu? Mungkin. Pada lelaki yang berdiri, hanya punggungnya kulihat namun seluruhnya aku merasakan kehadirannya.

Lelaki itu berdiri mengamati lukisan. Ia serupa magnet yang menyeretku untuk mendekatinya. Membisiki naluriku tuk melirik wajahnya. Namun aku terpenjara oleh ketidakberanian. Aku tak menduga jika wajah lelaki di sampingku sama persis dengan wajah yang selama ini kucari. Wajah rindu!

Lelaki yang berdiri di hadapan lukisanku itu kurang lebih berusia empat puluhan. Ia mengamati lukisan itu dengan saksama, sepertinya ia terhanyut di dalamnya. Dan ketika kulirik sekali lagi wajahnya, owh… sungguh! Wajah lelaki itu tak berbeda dengan wajah seseorang yang simpang siur dalam benakku. Lelaki itu manggut-manggut dan tersenyum mengamati lukisan wajah yang mirip wajahnya. Ia terlalu asyik dengan lukisan di hadapannya sehingga tak menggubris kedatanganku.

Diam-diam, aku tertarik padanya. Pada rambutnya yang sehelai dua helai telah beruban. Pada sedikit kerutan di dahinya yang seimbang dengan sikapnya. Sikap tenang namun cukup menghanyutkan. Rupanya ia mampu membuatku deg-degan. Sungguh, aku terkesima dengan kedewasaan yang tanpa dibuat-buat dalam diri lelaki itu.

“Bapak suka lukisan ini?” Aku membuka percakapan, mungkin sedikit mengagetkannya.

“Sangat!” Jawabnya tegas.

“Apa yang menarik dari lukisan itu?” Tanyaku memancing.

“Saya suka goresan kasarnya namun tetap mampu memberikan kelembutan yang menyentuh. Hmm…Ini memang lukisan wajah, tapi jauh dari gambar yang sekadar diambil dari foto atau cetak.”

“Menyentuh?” Tanyaku pura-pura tak mengerti. Bapak itu menoleh ke arahku, ini yang kuinginkan. Ia memandangiku, membuatku sedikit salah tingkah.

“Anda suka lukisan?” Ia balik bertanya. Aku mengangguk dan tersenyum.

“O iya, siapa nama Anda? Saya Danu Kusuma.” Ucapnya sambil mengajakku jabat tangan.

“Sekarjati.” Jawabku.

“Sekarjati. Hmm…Nama Anda sama dengan nama pelukis wajah ini,” kata lelaki itu.

“Saya memang pelukis wajah itu, Pak.”

“Wow.. Saya tak menyangka sedang berhadapan dengan seorang pelukis muda, cantik, dan hebat.” Sanjungnya

“Bapak jangan terlalu memuji. Saya baru belajar.”

“Saya tertarik dengan lukisan ini. Saya akan membelinya dengan harga tinggi kalau boleh.”

Maka sejak pertemuan yang tak diduga itu dan sejak kami saling menukar nomor ponsel. Aku semakin akrab dengan lelaki bernama Danu itu. Lelaki yang membuatku tidak lagi dihantui kerinduan. Lelaki yang membuatku tidak lelah dan gelisah dalam pencarian. Karena kini aku sudah menemukan yang kucari, mungkin memang ia yang kucari. Lelaki yang wajahnya mirip dengan wajah dalam lukisanku. Lelaki yang wajahnya singgah dalam benakku selama tujuh belas tahun. Kini, wajahnya datang dan pergi dalam ingatanku.

Lelaki itu, menyuguhkan teka-teki yang rumit untuk kupecahkan. Membuat aku terus bertanya namun tak ada satu pun jawaban yang mampu menjelaskan. Tentang lelaki dalam lukisanku, tentang lelaki dalam benakku, tentang lelaki yang kutemui di pameran lukisan itu, masih saja menjadi misteri. Apa hubungannya antara lelaki dalam lukisanku, lelaki dalam benakku, dan lelaki yang kutemui dalam pameran lukisan yang mengaku bernama Danu itu.

***

Aku bimbang, benarkah lelaki bernama Danu adalah lelaki yang selama ini kucari? Jika iya, kenapa sedikit pun ia tak mengenaliku. Tak menggubris tahi lalat di bibirku. Ia malah mengagumi mataku. Ia suka memandangiku lekat-lekat. Mungkinkah kini ada yang berubah padaku? Atau ada yang berubah padanya? Aku tak tahu. Aku hanya tahu aku nyaman di dekatnya, lebih nyaman daripada ketika aku berada di dekat kekasihku.

Senja ini. Hanya aku dan ia, duduk di tepi pantai mendengarkan nyanyian ombak. Kubiarkan saja tangannya menggenggam tanganku. Kubiarkan saja ia merangkulku. Aku merasakan, inilah kehangatan yang kurindukan. Bersama dengan wajah lelaki yang tak pernah hilang dalam benakku.

“Sekar?” Panggilnya lirih.

“Hmmm,” jawabku.

“Saya menyukai kamu, sejak pertama kita bertemu di pameran lukisan itu.”

“Saya juga.”

“Benarkah?” Tanyanya tak percaya.

“Sekar, Maukah kau jadi istriku?” Tiba-tiba ia berkata. Perkataan yang tak kuduga sebelumnya. Aku terdiam. Kata-kataku tercekat di tenggorokan.

“Kenapa diam? Itu artinya mau bukan? Sungguh!” Ucapnya lagi.

“Tidak, Pak.” Kulepaskan genggaman tangannya. Badanku gemetar. Aku berdiri, berlari menjauh dari tempat ia duduk. Ia mengejarku.

“Kenapa, bukankah kau bilang kau juga menyukaiku? Itu artinya kau menerimaku,” katanya.

“Aku memang menyukai Bapak tapi bukan sebagai kekasih.”

“Lalu?”

”Sebagai ayahku.”

“Aku bukan ayahmu, Sekar. Kau kekasihku!” Jawabnya kecewa

“Wajah Bapak adalah wajah ayah saya. Saya tidak bisa mencintai lelaki yang wajahnya wajah ayah saya.”

Sungguh! Sebenarnya aku enggan mengecewakan apalagi melukai lelaki sebaik ia. Bersamanya, aku hanya ingin bermain-main saja. Aku ingin bermain-main dengan ayah seperti dulu waktu aku masih kanak-kanak. Ayah selalu menggendongku tinggi-tinggi dan aku tertawa terbahak-bahak. Ayah selalu mencium pipi dan mencubit hidungku dengan gemas. Ayah selalu membawakanku manisan aneka rupa dan rasa. Aku ingin mencari ayah. Ayah yang wajahnya terlukis dalam benakku. Ayah yang pergi dan tak pernah kembali. Ayah yang kurindu peluk dan ciumnya. Aku tahu, ayah tak ingin meninggalkanku. Itu hanya keinginan ibu. Ibu yang terlanjur kecewa pada ayah. Ibu tak mau memaafkan ayah. Sejak ayah selingkuh dengan teman sekantornya, ibu melarangku untuk berhubungan dengan ayah.

Kami terpisah, tujuh belas tahun lamanya. Aku hanya menemukan sosok ayah pada diri lelaki bernama Danu Kusuma. Lelaki yang wajahnya ada dalam benakku. Lelaki yang memintaku menjadi istrinya, dan aku pun memintanya menjadi ayahku! ***

 

Inung Setyami menyelesaikan Pendidikan S-1 Sastra Indonesia di Fakultas Bahasa dan Seni, UNY. Pendidikan S-2 di Program Pascasarjana Prodi Ilmu Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Lahir di Yogyakarta, tinggal di Tarakan, Kalimantan Utara. Selain jalan-jalan dan menulis cerpen, sebagai dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Borneo Tarakan. Buku antologi cerpennya berjudul Kolak (Garudhawaca, 2014). Penulis buku Bunga Rampai Sastra Lisan Tidung Kalimantan Utara (Pustaka Abadi, 2018) dan Kritik Sastra (Pustaka Abadi, 2018). Ia dapat dihubungi via pos-el: inung.setyami@ yahoo.com. ponsel: 081253712310.