Cerpen Ramli Cibro (Serambi Indonesia, 24 November 2019)

Sang Detektif  ilustrasi Serambi Indonesia (1).jpg
Sang Detektif ilustrasi Serambi Indonesia 

SANG Detektif terbangun. Ia masih merasa sangat pusing setelah pingsan beberapa jam lalu. Ia mendapati seragam polisi yang dikenakannya berlumuran darah sementara tangan kanannya menggenggam pisau. Terlihat bercak darah di pisau tersebut. Detektif menduga bahwa dirinya baru saja berkelahi dengan penjahat. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan mencari penjahat yang mungkin sudah tumbang itu

Keadaan ruangan sangat berantakan. Kursi dan buku-buku berserakan. Sebuah meja kecil miring dan menyisakan dua kaki. Semua yang ada di atas meja meluncur ke bawah dan berserakan di lantai. Komputer; keyboard; mouse; kaleng pensil dan seluruh isinya; buku-buku dan secarik kertas berisi tulisan tangan yang kusut seperti bekas cengkeraman. Dan tentu saja titik-titik darah beredar di mana-mana.

Juga ada bekas tusukan yang menghamburkan kapas bernoda darah dari sofa dekat meja televisi yang juga sudah oleng. Lampu pijar yang menerangi ruang tengah juga berkelip-kelip menunggu detik-detik mati. Di ujung dekat pintu terdengar desis korslet tipis dari saklar yang juga rusak karena terkena lemparan sesuatu. Desis-desis itu diikuti kelap-kelip lampu pijar di ruang tengah yang semakin lama semakin meredup; sepertinya saklar itu terkena lemparan botol keramik karena di bawahnya terdapat pecahan keramik dan beberapa kuntum mawar.

Tapi tunggu dulu! Di sana juga ada bercak darah. Setiap kaca; porselin; monitor; layar TV; alas meja yang terbuat dari kaca; bahkan sebuah telpon genggam tidak luput dari kerusakan. Yang terparah adalah kaca rias seukuran setengah badan orang dewasa yang menggantung di samping lemari hancur terkena lemparan kursi.

Detektif menoleh ke cermin yang pecah. Ia menatap sosok yang ada di sana. Tiba-tiba ia terkejut menyaksikan bayangan itu. Ia merasa seperti pernah mengenal. Dengan gemetar Detektif kemudian meraba kantong celana. Ia merogoh sesuatu. Ia mengeluarkan foto buronan yang baru ditemukan pada hari sebelumnya; ketika ia sedang mengadakan penyelidikan kematian seorang gadis di pinggir kota.

Ketika itu, pertama kali melihat foto tersebut ia memang merasa pernah bertemu dengannya di suatu tempat namun ketika itu ia mengabaikannya. Ia berpikir mungkin saja buronan itu dulunya adalah tahanan yang pernah berurusan dengannya. Sehingga, ia tidak terlalu pusing untuk mencari tahu siapa yang ada di dalam photo.

Pelan-pelan ia mengangkat foto itu di depan cermin. Ia mencoba menguatkan retina karena lampu pijar dalam ruangan itu redup akibat aliran listrik yang lemah. Ditambah lagi daya tubuhnya pelan-pelan melemah dan semakin melemah. Bahkan gumpalan otaknya terasa dingin karena kekurangan oksigen. Samar-samar fragmen-fragmen bayangan yang muncul dari cermin bersatu membentuk sosok. Semakin lama sosok itu semakin nyata dan jelas hingga akhirnya ia sangat terkejut ketika mendapati sosok yang ada di cermin mirip sama dengan yang ada difoto. “Lalu bayangan siapa ini?” Ia bertanya gusar.

Ia menoleh ke belakang; tidak ada siapapun selain dirinya. Ia mencoba menggapai bayangan yang ada di cermin dan bayanganpun melakukan hal yang sama, bayangan itu menggapai dirinya. Ia menempelkan tangannya yang berlumuran darah ke dasar cermin dan bayanganpun melakukan hal yang sama. Ia mengangkat tangannya dari cermin dan menyisakan jejak darah menempel mengotori cermin dan bayangan itu melakukan hal yang sama. Daya otaknya melemah atau juga karena keadaan ruangan yang sangat berantakan; gelap dan dipenuhi ceceran darah di mana-mana. Namun kemudian ia mampu mencerna keadaan.

Pertama ia mengira baru saja berkelahi dengan seorang pembunuh. Namun tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain di tempat itu selain dirinya sendiri. Melihat titik-titik kerusakan yang banyak berhubungan dengan kaca tiba-tiba ia menduga ia baru saja berkelahi dengan hantu yang bisa bersembunyi dalam bayangan cermin atau layar. Ia tertawa merasakan imajinasi liar yang semakin tidak masuk akal yang dulu pernah sukses mengantarkan ia menjadi detektif paling handal saat itu. Lalu kemudian Detektif mencoba menjernihkan pikiran.

“Tidak mungkin aku berkelahi dengan hantu?” Detektif menyanggah.

Ia kembali menoleh kaca rias yang sudah terbelah berbentuk pola jaring laba-laba di mana beberapa lariknya sudah terkelupas. Terlihat kertas kardus kuning mencuat menggantikan posisi kepingan dan berusaha mempertahankan bentuk persegi panjang kaca rias walau kacanya sudah tidak lagi utuh. Detektif melihat ke arah bayangan cermin dan menemukan sosok hitam yang menatapnya dengan seringai pucat.

Pelan-pelan Detektif mulai menyadari. Astaga! Itu adalah bayangannya sendiri. Dan wajah yang ada di fotopun tak lain adalah wajahnya. Ternyata buronan pembunuh berantai yang selama ini diburu adalah dirinya sendiri.

Dengan penuh ketakutan, Detektif berlari ke arah pintu. Ia berharap bisa membuka pintu dan mendapati cahaya yang mungkin bisa menjernihkan kepanikannya walau tentu tidak harus mengurai ketidakwarasan yang mulai ia sadari. Pelan-pelan ia mulai mencerna keanehan-keanehan yang ia alami akhir-akhir ini. Dan untuk sementara, ia berhipotesa bahwa ia mengalami gangguan jiwa.

Kemudian Detektif merasakan sesuatu yang aneh. Perutnya terasa perih; lengket; berat dan basah. Ia menoleh ke bawah dan kali ini ia lebih terkejut lagi. Ia melihat perutnya robek dan mengeluarkan warna merah; kuning dan hijau. Luka sobekan itu terlihat sangat parah dan mengerikan. Ia merasa mual. Dari perutnya yang robek mengalir darah cukup deras.

Detektif cukup lama bergumul dalam dunia detektif. Dari posisi tangan; jenis pisau dan keadaan luka yang terpantul dari cermin dia tahu bahwa dia telah menusuk perutnya sendiri. Tapi mengapa sampai terjadi? Keadaan ini menambah kebingungannya.

Ia kembali mencoba berdiri dengan menjatuhkan pisau dan foto tersangka, yang tak lain adalah dirinya sendiri. Kemudian tangan kanannya menjatuhkan pisau begitu saja ke lantai dan ia memegangi perutnya; mencegah darah keluar lebih banyak. Ia bingung, apakah sekarang ia adalah seorang detektif, atau sebagai buronan atau malah sebagai korban berikutnya dari sang pembunuh?

Akhirnya, sebagai detektif, ia kemudian mengeluarkan gulungan ban plastic police line dan dengan susah payah melingkarkannya di sekeliling ruangan yang berantakan; sebagai tersangka ia memborgol tangan kirinya dan mengikatkan gelang borgol yang satunya pada salah satu kaki meja yang masih utuh dan sebagai korban ia menghubungi 911.

Kemudian, semua terasa melambat ketika sayup-sayup terdengar suara ambulan yang semakin mendekat. Ia pun terkapar lemas kehabisan darah. Pandangannya semakin kabur dan kemudian, gelap. Di tengah perih yang mengoyak isi perut; tiba-tiba ia tersenyum dan merasa lega. Ia menyadari bahwa kematiannya tidak sia-sia. Setidaknya ia membawa seorang penjahat mati bersamanya.

Terakhir sebelum semuanya menjadi gelap ia sadar bahwa ia bukan sedang memakai seragam polisi. Ia mengenakan piyama tidur; dan kamar yang berantakan itu adalah kamarnya sendiri. Dan kejadian itu terjadi tepat jam enam pagi saat keadaan masih gelap dan cuaca terasa dingin.

Pelan-pelan ia mendengar gemericik basah yang jatuh dari dedaunan pohon, menyelusup masuk berbaur dengan genangan air di tanah yang becek. Jatuhan air itu menimbulkan nada tidak biasa namun begitu tenang; dan begitu damai.

“Mungkin semalam hujan,” pikir sang Detektif.

Sesaat kemudian ia menghembuskan nafas terakhir.

 

Ramli Cibro, Dosen STIT Hamzah Fansuri, penulis buku Aksiologi Ma’rifah Hamzah Fansuri.