Cerpen Hartari (Suara Merdeka, 24 November 2019)

Sang Ahli Waris ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdekaw
Sang Ahli Waris ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

Cukup jemur seminggu sekali.

Itu perintah pertama Nyi. J-e-m-u-r. Hah! Seperti ikan asin.

Jangan di bawah sinar matahari langsung.

Itu perintah kedua. Agak membingungkan. Jemur, tetapi tidak di bawah matahari langsung. Apa namanya?

Angin-anginkan saja di luar.

Aku menanti perintah selanjutnya sembari mengingat-ingat.

Senin waktu yang tepat.

Ada tujuh hari seminggu, mengapa harus memilih Senin untuk menjemur?

Jangan lupa asapi dengan ratus.

Apalagi ini? Dia hanya benda mati yang tak butuh wewangian untuk menarik hati siapa pun. Bisa jadi aku mabuk mencium wangi ratus.

Simpan di tempat kering.

Aku bosan mendengar perintah tak masuk akal itu.

Baca juga: Patung Garuda – Cerpen Risda Nur Widiya (Suara Merdeka, 17 November 2019)

Perlakukan dengan baik.

Itu perintah ketujuh.

Ia sangat berharga.

Itu bukan perintah, melainkan pemberitahuan.

Dia dapat merasakan perlakuanmu.

Aku bergidik. Memang apa kehebatannya? Ia tetaplah benda mati.

Kupasrahkan padamu, rawatlah ia.

Perintah kedelapan sekaligus penutup.

***

AKU benci menjadi ahli waris. Jika harta yang diwariskan, tentu aku tak akan mengomel. Sayang, Nyi tidak punya harta berlebih untuk dia bagikan. Beliau tidak mewariskan apa pun, kecuali topeng. Benda bisu yang sangat dia sayangi.

Baca juga: Bulu-Bulu Gemetar – Cerpen Aljas Sahni H (Suara Merdeka, 10 November 2019)

Nyi adalah panggilanku untuk Nenek. Nyi Salimah. Kata orang dan aku pun mengakui, Nyi Salimah adalah penari topeng dan tari topeng adalah Nyi Salimah. Dua sisi yang berkait, tak bisa dipisahkan. Nyi adalah maestro. Tak hanya di dalam negeri, beliau bahkan pernah mencicipi empat musim di negara manca sebagai duta seni. Hidup Nenek untuk menari topeng.

Aku? Sepertinya aku tinitah sebagai ahli waris tari topeng. Darah seni ini mengalir dari Nyi. Seharusnya Ibu yang mewarisi keluwesan berjoget, tetapi ternyata tidak. Tubuh Ibu berotot akibat ditempa kerja berat sejak kecil. Ibu memang bisa menari, tetapi jauh dari kata “luwes”.

“Bagaimana Ibu bisa luwes menari seperti Nyi? Tiap hari harus berjalan jauh mencari air, lalu memikul ember besar. Masih ditambah pekerjaan rumah bertumpuk. Ibu lebih cocok jadi atlet angkat besi daripada menari,” kata Ibu sembari memperlihatkan lengan kekarnya.

Darah seni memang tak terpaut gen. Alunan gending adalah santapan harian sejak aku keluar dari rahim Ibu. Gemulai badan Nyi dan anak-anak asuhnya adalah pemandangan yang sering kulihat. Tak mengherankan jika langkah kaki, lenggok badan, dan gerak tanganku saat masih belia bisa menjadi pertanda kelahiran maestro baru.

Baca juga: Lelaki di Pekuburan – Cerpen Hari B Mardikantoro (Suara Merdeka, 03 November 2019)

Aku bertumbuh bersama tari topeng. Bahkan aku tidak mengawali pementasan pertama di pentas tujuh belasan kampung. Justru di negeri oranglah pertunjukan perdanaku. Sepertinya Nenek memang ingin mengabarkan pada dunia bahwa jejaknya yang segera surut telah tergantikan oleh kelahiran calon penari andal. Cucunya.

Tak ada yang meragukan kepiawaian Nyi. Nyi sangat menjiwai setiap gerakan, selaras dengan topeng yang dia kenakan. Karakter topeng padu dengan olah tubuhnya. Di atas panggung, dia memainkan berbagai peran. Menjadi wanita lembut gemulai atau bahkan angkuh penuh angkara, bergantung pada topeng yang dia pakai.

Tak mengherankan pula pada usia senja Nyi belum tergantikan. Saat tubuh rentanya tak memungkinkan terus menari, dia berharap ada penerus tari topeng. Harapannya terkabul.

“Tapi tak mudah menjadi penari seperti Nenek. Orang bilang apa? Metro?”

“Maestro. Mengapa?”

“Tidak cukup gerak badan. Kau harus memahami jiwa topeng yang kaukenakan.”

“Apakah topeng punya nyawa?”

Baca juga: Lipstik Plastik – Cerpen Dul Abdul Rahman (Suara Merdeka, 27 Oktober 2019)

Nyi geleng-geleng kepala mendengar pertanyaanku. Kata Nyi, topeng-topeng itu peka. Bergidik aku mendengarnya. Berarti mereka hidup.

“Bukan hidup seperti manusia. Angel. Susah menjelaskan,” ujar Nyi sebal.

Aku tetap bebal.

Nyi memperlakukan topeng secara istimewa. Dia angin-anginkan, dia lap, dia teliti setiap lekuk, lalu dia asapi dengan ratus. Saat memandang topeng-topeng, Nyi seperti sedang berbicara dengan benda bisu itu.

Aku tidak tahu mengapa Nyi sangat menyayangi topeng-topeng itu. Mungkin sebagai wujud hormat dan cinta pada gurunya, Sulastri, yang telah mewariskan topeng itu. Itulah topeng-topeng yang Nyi gunakan sebagai modal menari sampai menjadi seterkenal sekarang. Itulah caranya membalas budi.

“Hanya kau satu-satu ahli waris yang mampu melanjutkan kesenian ini. Sayang jika dibiarkan punah.”

“Tapi aku tidak bisa seperti Nyi, melakukan ritual-ritual seram. Aku tidak bisa berbicara dengan benda mati. Mistis. Syirik. Aku hanya bisa menari.”

Baca juga: Insiden di Jalan Kirik – Cerpen Abdul Hadi (Suara Merdeka, 20 Oktober 2019)

Nyi mendelik dikatakan melakukan ritual mistis, syirik, menduakan Yang Kuasa.

“Menari topeng bukan sekadar menggerakkan tubuh mengikuti irama. Tarian kita harus laras dengan topeng yang kita pakai. Topeng ini wujud angkara murka. Topeng ini harus kautarikan dengan kelembutan,” ujar Nyi sambil menunjuk topeng-topeng bisu itu.

Aku mengangguk saja. Biarlah topeng-topeng itu menjadi urusan Nyi. Aku akan menari saja.

“Aku tidak sedang mengajarimu perkara mistis, syirik. Aku hanya ingin topeng ini tetap terawat, terjaga. Itu saja.”

***

KINI, Nyi tinggal kenangan.

“Lakukan saja apa kata Nyi,” kata Ibu, beberapa hari setelah Nyi berpulang.

“Tapi urusan topeng itu aku tak bisa. Ada aura mistis. Aku tak mau.”

“Kau yang menari, mewarisi Nyi. Kau pula yang harus merawat topeng warisan Nyi. Itu juga yang Nyi lakukan,” kata Ibu. “Bagaimana kau bisa memadukan tari dan topeng jika tak merawatnya.”

Baca juga: Menembak Mati Tujuh Orang – Cerpen Ahmad Tohari (Suara Merdeka, 13 Oktober 2019)

Dia bisa merasakan perlakuanmu.

Aku mengingat kembali kata-kata Nyi. Padahal, dibanting pun topeng itu tak bisa marah. Ah, banyak sekali perlakuan untuk topeng-topeng itu. Seketika aku membenci diri sendiri. Benci karena harus menjadi sang ahli waris.

***

PENTAS mulai ramai. Tari topeng tetap berdenyut, meski tanpa Nyi. Tepuk tangan, decak kagum, dan pujian pada setiap pementasan tentu bukan semata-mata milikku. Sebagian besar untuk mengenang Nyi, karena sang pembawa acara berkali-ulang menyebut nama Nyi.

Hari berlalu cepat. Aku teringat pesan Nyi. Beberapa tahun setelah Nyi berpulang, tak pernah sekali pun aku melakukan ritual seperti perintah Nyi. Aku hanya menyimpan topeng-topeng itu dalam kardus dua mi instan di pojok kamar.

Selama ini aku hanya menggunakan satu topeng kesayangan Nyi untuk latihan dan pentas. Topeng yang sama untuk karakter yang berbeda. Aneh. Namun aku tak memedulikan. Cukup topeng itu. Penonton tidak melihat topeng, tetapi menikmati tarian.

Baca juga: Magi – Cerpen Adhitia Armitrianto (Suara Merdeka, 06 Oktober 2019)

“Ada yang tidak laras dalam pertunjukanmu,” kata Ibu suatu hari.

Tidak laras? Aneh maksudnya?

“Topengmu. Itu-itu saja yang kaupakai. Apa itu laras?”

Aku tahu, tetapi enggan peduli.

“Jika ingin sebesar Nyi, kau pun harus sepandai Nyi. Bukankah Nyi telah mengajari bahwa karakter tari harus padu dengan topengnya?”

Mungkin itulah mengapa orang mencibirku. Sang ahli waris yang bodoh. Tidak pernah ganti topeng. Padahal, Nyi mewariskan banyak topeng.

Siapa tidak ingin menjadi maestro seperti Nyi? Aku ingin mengulang kejayaan Nyi. Merambah seluruh Nusantara dan menjamah negara manca dengan menari. Sejak kepergian Nyi, aku hanya berputar dari acara perkawinan ke acara hajatan lain.

“Belajarlah membedakan karakter tari. Menyelaraskan topeng dan gerakan. Lihatlah foto Nyi pada setiap pertujukan. Cermati!”

Baca juga: Sayup Tifa Mengepung Humia – Cerpen Massha Guissen (Suara Merdeka, 29 September 2019)

Meski tak luwes menari, Ibu ternyata pengamat tari yang hebat. Ada benarnya juga kata-kata Ibu. Aku harus belajar memahami topeng, bukan sekadar menari.

Segera kubuka kardus di pojok kamar. Bau apak menguar. Aku terbatuk. Satu topeng kuambil; catnya pudar dan mengelupas sebagian. Pada topeng lain kulihat ada bagian yang berlubang karena ulah kawanan renik.

Kuangkat dua kardus ringan itu ke halaman agar lebih jelas mengamati topeng-topeng Nyi. Bagian kardus di bawah ambrol. Terdengar suara aneh. Kawanan makhluk kecil putih lalu-lalang. Rayap! Makhluk pelahap kayu itu menghancurkan topeng-topeng Nyi. Proses pelapukan dan kawanan rayap mengantarkan benda itu ke jurang kemusnahan.

Wajahku pucat. Ibu yang sejak tadi memperhatikan lirih bersuara. “Ritual yang Nyi lakukan pada topeng-topeng itu bukan perkara mistis.” Ibu sedang menguliti kebodohanku. Ibu menjabarkan satu per satu dari delapan perintah Nyi, mengingatkanku pada wasiat Nyi yang kuabaikan.

“Tidak jemur di bawah terik matahari dan cukup angin-anginkan agar cat topeng tidak cepat rusak. Topeng itu harus diangin-anginkan karena lembap terkena keringat, uap air, dan riasan saat pentas. Jika engkau menjemur hari Minggu, tentulah badanmu lelah setelah malam hari pentas. Maka Nyi meminta kau menjemur hari Senin karena telah cukup istirahat.”

Baca juga: Ular yang Menggigit Ibu – Cerpen Khairul Umam (Suara Merdeka, 21 Juli 2019)

Ibu meneruskan penjelasannya. “Itulah mengapa Nyi minta kausimpan di tempat kering serta kauasapi untuk menjaga kayu itu tetap utuh, tak dimakan hewan kecil atau menunda lapuk termakan usia. Perlakuan Nyi selama ini bukan kesyirikan. Bau wangi ratus itu pun untuk mengusir binatang kecil, mengurangi bau tak sedap.”

Nyi yang buta huruf ternyata wanita cerdas.

“Kau tidak pernah merawat. Abai pada perintah Nyi.”

Ruangan senyap.

“Kini topeng-topeng itu membalas perlakuanmu.” Ibu mendengus, kecewa.

Aku terpaku memandang topeng-topeng yang membisu itu. Menunggu waktu untuk membuang dan tinggal menyisakan kenangan. (28)

 

Semarang, 12 November 2019

Hartari, guru les siswa SD/SMP, pemenang Sayembara Mengarang Cerpen Femina (2016), juara harapan II Penulisan Legenda Daya Tarik Wisata Kabupaten Semarang (2018), satu dari penulis 25 cerpen terbaik #NulisIndonesiana 2019.