Cerpen Nermi Silaban (Padang Ekspres, 24 November 2019)

Pulang Malam ilustrasi Orba - Padang Ekspresw.jpg
Pulang Malam ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

“MEREKA benar, Gul, kita memang tidak pantas hidup.”

“Abaikan suara mereka, En!”

“Tapi bagaimana dengan kejadian ini?”

Gul terenyuh, tak bisa menghela satu kata pun dari lubuk hatinya. Suaranya benar-benar terkunci. Ia menoleh ke samping, ke wajah kawannya, lalu menatap lurus ke depan. Di kejauhan tampak sapuan cahaya lampu di atas hunian urban, papan-papan iklan menjulang tinggi, serta pabrik. Tapi di sekeliling mereka malam hening menyelimuti, teramat sepi sehingga jangkrik begitu nyaring mengerik. Di dekat kaki mereka batu-batu sebesar kepalan tangan berserakan dari keramaian yang sudah berlalu.

Tak lama seekor kunang-kunang berkedip dari balik lalang. Muncul lainnya, satu demi satu sampai tak terkira jumlahnya, menyebar seolah-olah menyambut mereka. Masa kecilnya tiba-tiba terlintas begitu saja, pada suatu malam ia bebas berlarian menangkapi kunang-kunang selagi terkatung-katung di udara, juga yang hinggap di dedaunan, lalu dimasukkannya ke dalam plastik bening.

“Ke mana kita akan pergi, Gul?” tanya kawannya, terdengar lirih.

Lamunannya buyar. Mereka tertegun bersama-sama memerhatikan serangga-serangga itu melayang jauh dan lenyap. Mereka menunggu, meski tak tahu apa yang sebenarnya sedang ditunggu. Barangkali ada seorang pemulung yang akan melintas, atau seorang buruh pabrik sehabis kerja lembur. Sebab jalan itu akses ke jalan raya bagi penduduk dusun pinggiran. Sangat memungkinkan akan bertemu seseorang, pikirnya.

Ia belum juga menyahut kawannya. Pandangannya jatuh ke selokan, berusaha memikirkan sesuatu, tapi tak bisa memusatkan pikirannya mengenai kegetiran itu. Bau lembab menguar dari selokan. Air tergenang berwarna gelap, tak tahu sudah berapa lama arusnya tersumbat. Bulan terpantul di antara sampah plastik, kain rombeng, potongan tulang-tulang sapi dan remah-remah mi rebusan dari gerobak dagangan yang dibuang ke situ, juga kerubungan nyamuk berdenging-denging.

Kawannya berbalik, mengambil jarak, duduk kira-kira dua meter di belakangnya. Kedua kaki sedikit ditekuk seperti huruf A dengan ditopang lengan yang melingkari lutut dan jemari yang tersimpul. Sementara ia masih berdiri di tengah jalan, mengedarkan pandangan. Agak jauh di sebelah kanan, hunian di sana diliputi suasana remang dan kumuh. Bisa diperkirakan masalah apa saja yang menyerang warga di sana. Kalau bukan stres, pasti malaria. Di arah sebaliknya, sederetan kompleks perumahan mewah bertingkat dibentengi dinding kasap, kira-kira melebihi tiga kali tinggi tubuh orang dewasa, dan seakan-akan memunggungi nasib yang ada di seberangnya. Kemungkinan rumah-rumah itu ditinggali hanya sekali sehari, selebihnya dibiarkan kosong berhari-hari.

Merasa tidak enak membiarkan kawannya menyendiri, ia pun menghampiri. Langkahnya agak pelan diayun, sambil mengira-ngira obrolan apa yang menarik. Tapi di benaknya masih membekas kelap-kelip kunang-kunang tadi. Bagaimana kalau soal masa kecil saja, batinnya. Ia berdeham, mencoba membuka percakapan.

Kawannya mengangkat dagu sebentar ke arahnya, dan terpaku lagi ke depan. Ia kemudian bersila persis kawannya yang sedang duduk, mereka sama-sama termangu. Bahkan sewaktu melirik pun mereka berbarengan, seolah ada cermin di antara mereka. Suara jangkrik terus mengalun monoton. Jeda beberapa saat, kawannya membalas, meski kedengaran kurang berselera.

“Memangnya bagaimana masa kecilmu?”

“Melihat kunang-kunang tadi, aku jadi ingat di kampung dulu.” Suaranya terkesan agak ragu.

“Oya?” jawab kawannya datar.

Ia kemudian menceritakan masa kecil yang hampir tak seluruhnya dapat diingatnya. Barangkali cukup seadanya saja, agar tidak berlarut-larut diam, pikirnya. Dalam kata-kata tertentu ia menebak-nebak air muka kawannya, kalau-kalau kisahnya tidak menarik, sehingga bisa dihentikannya saat itu juga.

Nyatanya memang tidak, sedari tadi kawannya termenung ke depan, mengabaikan ceritanya yang bahkan setengahnya pun belum tersampaikan. Ia merasa diri, dan perlahan-lahan memelankan bicaranya hingga senyap. Bunyi jangkrik masih berulang-ulang melatari suasana mereka. Baginya kunang-kunang adalah hal paling menakjubkan saat kecil dulu, tetapi kawannya tidak sama sekali.

Ia jadi terbengong dalam memorinya sendiri, terbayang dirinya sedang menyuruki rimbun lalang di suatu tempat di masa kecilnya. Ia tersenyum-senyum sendiri oleh tingkah kanaknya saat mengangkat tinggi-tinggi plastik berisi butir-butir cahaya itu, sekali-sekali mengguncangnya sambil memandanginya di bawah naungan langit malam. Selagi ia berangan-angan, pertanyaan kawannya membuat ia tersadar.

“Kau kenapa?”

Ia menggeleng, gelagapan.

“Aku tidak tahu apa artinya kunang-kunang buatku. Aku cuma tahu mitosnya saja. Itu pun sewaktu aku merantau di kota ini.” kata kawannya.

“Oya?” jawabnya agak terbata.

“Tapi, dipikir-pikir apa hubungannya dengan keadaan kita sekarang, Gul?”

Pertanyaan itu lagi-lagi membuat ia sangsi. Alih-alih menggumam, ia membuang jauh-jauh pandangan ke arah lain. Ia berharap ada seseorang melintas detik itu juga. Sedari tadi kawannya bermuka kusut, seolah kesan mendalam di raut kawannya itu sangat mendesaknya.

“Kita tunggu sebentar lagi, En.” pintanya.

“Berapa lama, Gul? Aku harus beritahu saudara-saudaraku di asrama…”

“Itu mustahil, En!” ia memotong.

“Apanya yang mustahil?”

“Kau belum mengerti juga? Kalau begitu coba kau gertak tikus di selokan itu? Ayo, lakukan?” suaranya tegas.

Kawannya tertantang tapi tak bergeser sedikit pun dari tempatnya.

“Kau tahu apa yang ada di hadapan kita, bukan?” lanjut Gul.

“Ya, aku tahu. Tapi kapan kita bisa pergi dari sini?”

“Aku mau kita pergi kalau sudah ada yang menemukan kita.”

Meski sikap kawannya sudah melunak bukan berarti karena penjelasan Gul. Kawannya malah memikirkan tantangan dari Gul, dan penasaran dengan tikus-tikus yang berdecit di selokan itu. Tapi itu tidak mungkin, karena kedua mata Gul tak beralih sejengkal pun dari kawannya, sambil meneruskan bicaranya hingga seputar masa kecilnya dulu.

En mendengarkan, antara bunyi gerak-gerik tikus dan ocehan Gul yang terus berputar-putar sebagai anak kecil. Bagaimana kalau ternyata tikus-tikus itu mengetahui keberadaan mereka di situ. Tetapi En mendadak tersentuh oleh pengalaman masa kecil Gul yang menyedihkan karena suatu hal yang nyaris serupa.

Perasaan Gul kian campur aduk disebabkan peristiwa nahas tadi. Di balik kebahagiaan masa kecilnya ternyata terselip hari-hari yang kelabu. Setelah pindah dari sekolah lamanya, hari kelima masuk sekolah, ia diserang teman kelasnya, Jangan dekat dia, dia suka makan daging babi!—Umpatan itu makin sering ia terima dan hampir semua murid jijik melihatnya. Ia mulai dikucilkan, mejanya diludahi dan buku-bukunya dirobek dan dicoret-coreti. Tapi guru mengira itu cuma masalah biasa dari kanak-kanak.

“Kenapa kau tak membalasnya?” kata kawannya.

“Tidak, En, aku tak sempat memikirkan cara itu. Waktu itu keadaannya mirip dengan yang terjadi tadi, lagipula aku cuma seorang diri, belum punya keberanian. Kau pastilah tahu bagaimana harus bersikap di tanah orang.”

“Ya, orang seperti kita selalu menjadi orang yang kalah.”

En terbayang-bayang malam pengungsian bersama keluarganya. Dihelanya napas dalam-dalam, seakan seorang bocah tujuh tahunan tengah mengangkat sebongkah batu besar yang menindih mulut sumur. Perlahan-lahan ia menceritakan malam yang suram itu. Puluhan orang sekonyong-konyong mendatangi rumahnya, menenteng balok-balok kayu. Makian rasis mendesak dari luar. Tak tahu apa pemicunya, pengakuannya. Malam itu, ia menangis lantang saat keadaan makin ingar, kaca jendela lipat tercecer berkeping-keping lantaran dihantam batu dan ujung kayu. Ia dan kedua orang tuanya mendekam di kamar belakang sampai malam benar-benar sepi, dan sembunyi-sembunyi angkat kaki tanpa mengemas persediaan satupun.

Selagi Gul dilingkupi rasa haru, kawannya meneruskan.

“Tak hanya itu, sampai aku tumbuh remaja, orang-orang semena-mena terhadapku.” Ia mengingat-ingat kembali hujatan orang-orang dari masa lalunya. “Kata orang-orang, aku laki-laki urakan, pemabuk, dan dijuluki monyet. Mereka seolah lebih tahu aku ketimbang diriku sendiri. Padahal tidak semuanya kami seperti itu.”

Di akhir kalimatnya, mereka lama terdiam, melamun ke arah dua tubuh laki-laki paruh baya yang terbujur di atas jalan semen itu. Darah sudah berhenti mengucur dari luka menganga di kepala keduanya. Baru kali itu En mau menerangkan masa lalunya yang kelam, karena ia dan Gul masih terhitung seminggu berkawan. Tetapi ia merasa terbebas dari tubuhnya yang malang itu setelah segerombolan berandalan yang kalap memutus napas mereka. Dari gang dusun seekor anjing liar pelan melenggang, berhenti agak dekat dari mereka, berdiri mematung dengan tatapan sedikit menunduk.

“Ini pasti karena aku beda kulit dengan mereka, Gul?”

“Tidak mungkin cuma itu, En. Aku yakin ada sangkut paut yang lain.”

“Apa mungkin soal tanah?”

Ia sejenak menerawang jauh, lalu berkata lirih, “Iya, pasti tentang pembebasan tanah itu, En.”

“Kalau memang itu benar, aku minta maaf, Gul.”

“Kenapa kau bicara begitu?”

“Ya, karena aku, kau jadi ikut menanggungnya.”

 

Palagan, 2019

Nermi Silaban lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 17 Juli 1987. Menulis cerpen dan puisi. Buku puisinya bertajuk Bekal Kunjungan. Kini bekerja dan menetap di Yogyakarta.