Cerpen Suri Kharimah Asdi (Medan Pos, 24 November 2019)

Puan dari Masa Lalu ilustrasi Medan Posw
Puan dari Masa Lalu ilustrasi Medan Pos 

Kala itu, Pak Kardi sudah datang membawa banyak hantaran, isinya bermacam ragam, ada parsel buah dan jajanan ringan. Tak ketinggalan juga dua kotak kecil cantik berwarna merah. Tentu saja semua orang paham apa isinya. Ayana duduk termenung di kursi hiasnya, sedari tadi menatap cermin tak sudah-sudah, terkadang tersenyum, terkadang gelisa, sampai ketukan pintu kamar pun tak terdengar oleh telinganya.

“Apakah Ghani datang?”

Ayana hanya menjawab dengan gelengan kepala.

“Ke mana dia?” Pertanyaan itu tanpa jawaban.

Para sanak saudara sudah berkumpul di ruang tamu, dihadapkan dengan berbagai kudapan yang siap untuk di santap. Tentu saja semua hidangan kudapan itu hasil olahan Ibu Ayana yang tak berhenti bekerja di dapur sedari subuh tadi. Ada lemper berisikan suiran ayam, kemudian jajanan kampung lainnya seperti kue lapis dan bugis, serta kue apem juga sudah tersusun rapi di atas piring. Ditambah lagi hidangan untuk makan siang, gulai ayam ditemani rebusan daun singkong dan sambal terasi sudah siap menggoyang lidah para tamu.

Tiba-tiba, ponselnya berdering.”Ay, maaf aku tak bisa datang, sudah aku utus Bapak dan Ibuku untuk datang ke rumahmu, sebagai perantara maksud dan niatku.”

Pesan singkat itu membuat Ayana menarik napas panjang. Iya semakin ragu dengan tingkah laku Ghani yang tak pernah memprioritaskan dirinya. Bahkan untuk acara sepenting ini pun ia tak datang. Ayana keluar kamar dengan hati yang hampa, senyumnya tak setulus biasanya.

Kedatangan Ayana di ruang tamu menjadi awal pembukaan dari acara yang diselenggarakan di rumah Ayana. Para juru bicara dari kedua belah pihak pun saling menyampaikan maksud dan tujuannya. Ayana hanya diam, ia seperti mimpi, ada rasa yang membuatnya tak bahagia, sebab pemuda berkacamatanya itu tak nampak di sini.

“Nak Ayana, bisa maju ke depan, karena Ibu Ghani ini menyematkan cincin di jari manis Ayana sebagai tanda bahwa Ayana telah dikhitbah oleh Nak Ghani.” Perintah juru bicara dari pihak Ghani.

“Masya Allah, gadis kok ayu tenan, sini mana jari manis Ayana biar Ibu pasangkan cincin pemberian Ghani untukmu, maaf loh ya, Ghani nggak bisa datang, karena ada kerjaan yang nggak bisa ditinggal.” Jelas Ibu Ghani, Ayana hanya mengangguk sembari tersenyum.

Tak lama setelah acara penyematan cincin, para tetamu pun makan siang, menyantap makanan yang sudah disiap oleh Ibu Ayana. Cara khitbah atau lamaran ini memang diadakan sangat sederhana, bahkan pihak keluarga Ayana sengaja tidak memberi tahu ziran tetangga, sebab dalam islam telah menganjurkan ‘sembunyikan khitbah dan umumkan walimahan’.

Setelah selesai makan, tak lama setelah azan asar berkumandang para tamu pun pamit undur diri. Ayana hanya menyalami Ibu Ghani yang semahram dengannya, sementara bapak Ghani Ia menyalaminya dengan beralaskan kerudung panjangnya, sebab ia sadar bahwa bapaknya Ghani belumlah sah menjadi mahramnya. Para tetamu pun pergi meninggalkan rumah Ayana, dan Ayana resmi menjadi calon istri dari seorang Al Ghani Abdillah.

Ghani berlari menjauh, Ia tidak punya nyali untuk tetap berdiri di sana, tiba-tiba kakinya lemas dan jantungnya berdebar sangat kencang, pikirannya kacau, sekujur tubuhnya lemas, dan bibirnya keluh untuk berbicara.

“Antarkan aku ke rumah, aku nggak tahu harus minta tolong dengan siapa, cuma kamu yang aku kenal di sini.” Jelas perempuan cantik berkerudung hitam.

“Aku nggak bisa?”

“Kenapa?” Perempuan itu menarik tangan Ghani yang sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumah, sebab acara pelantikan untuk menaikan jabatannya sebagai seorang guru bersertifikasi telah selesai. Namun beberapa menit kemudian entah angin apa yang membuat Ghani mengangguk dan menyetujui keinginan perempuan tersebut.

Sepanjang perjalanan Ghani hanya terdiam, tak banyak bicara, bibirnya kelu, dan jantungnya tak berhenti berdetak kencang.

“Hai, bagaimana kabarmu Ghani, kamu masih sama seperti dulu, sama tampannya.” Jelas perempuan itu dengan nada lembut. Ghani pun hanya tertawa lepas.

“Jujur aku sudah lupa jalan menuju rumahmu.” Seketika Ghani mengalihkan pembicaraan, dan perempuan itu dengan sigap menunjukkan arah rumahnya.

Sesampainya di rumah, orangtua Nisa sudah menyiapkan teh hangat dan roti manis untuk anaknya, seakan paham betul bahwa anaknya sangat letih dan butuh minuman hangat untuk sekadar menenangkan pikiran.

“Diminum dulu tehnya Nisa, Nak Ghani ini tehnya diminum.” Ujar Ibu Nisa, kemudian duduk menghampiri Nisa dan Ghani yang sedang duduk di teras rumah.

“Jadi Nak Ghani juga ikut pelantikan toh Nis, wah nggak nyangka Ibu kalau kalian bakalan ketemu lagi, udah sama-sama berkarir lagi, sangat cocok.” Ujar Ibu Nisa sembari tersenyum lebar. Mendengar hal tersebut Ghani tercengang, sedangkan Nisa hanya tersenyum manis tanpa merasakan hal aneh. Ghani pun segera berpamitan  pulang, karena hari pun kian sore, dan ia juga tak ingin pembicaraan antara ia dan keluarga Nisa semakin aneh.

Setelah bertemu dengan Nisa, hidup Ghani seakan tak normal, Ia kehilangan konsentrasi dan kerap kali tidak fokus saat diajak bicara, pikirannya terbayang pada satu nama yaitu Nisa.

“Jadi itu yang namanya Ayana Husna, gadis yang rumahnya nggak masuk peta itu?” Ujar Ibu sembari melirik Ghani, yang baru saja merebahkan tubuhnya ke kasur panjang ruang tamu. Namun Ghani tanpa respon apapun, dia masih melamunkan satu gadis yaitu Nisa. ‘Mengapa dia datang disaat yang tidak tepat’.

“Ibu bicara ya dijawab Ghani.” Tiba-tiba lamunan Ghani terpecah.

“Iya Bu, itu Ayana. Oh ya, Bu, kalau sudah dilamar boleh dibatalin nggak?” Tanya Ghani secara spontan.

“Hush! Kamu ngomong apa toh Ghani, jangan menyakiti perempuan, kurang apa lagi Ayana? Jangan menyakiti perempuan yang tidak bersalah hanya karena egoismu, Ghani.” Jelas Ibu padanya.

Malam itu terasa hening, bagi Ghani, rasanya wajah Nisa terus terbayang dalam ingatannya, Ia kembali teringat masa-masa bersama Nisa dahulu.

“Oh Allah, mengapa engkau hadirkan Ia kembali dalam hidupku? Mengapa semua ini datang secara terlambat, mengapa? Dan kamu Nisa? Allahu Robbi, ada apa dengan hatiku, saat ini aku tidak berdaya, bagaimana dengan Ayana? Tidak ini semua belum terlambat, Ayana pernah bilang, cinta haruslah diperjuangkan, baiklah, ini semua belum terlambat.” Batin Ghani dalam hati.

“Sudah aku duga kamu pasti akan datang menemuiku, di tempat biasa kita bertemu dulu, Ghani, kali ini aku janji, aku datang bukan untuk pergi, kita mulai lagi dari awal, bersama-sama.” Nisa mulai meraih tangan Ghani perlahan.

“Baiklah, kita akan memulainya kembali dari awal.” Jawab Ghani dengan santainya. Nisa pun terlihat tersenyum hebat.

“Sudah aku duga kamu masih mencintaiku, Ghani.”

“Yah, kita mulai dari awal, aku dengan Ayana dan kamu dengan pasanganmu, cerita tentang kita telah usai, dan tak akan terulang lagi. Permisi.”

Jelas Ghani kemudian berlalu pergi. Saat itu ia sadar, bahwa ia tak akan memperoleh kebahagian jika dia masih terus berurusan dengan masa lalunya, masa depannya telah menanti. Ya, Ayana gadis manis yang senantiasa setia bersama dengan doa terbaiknya.

 

Suri Kharimah Asdi. Penulis adalah Mahasiswa FKIP UMSU.