Cerpen Mahmuud Hamzawi (Kedaulatan Rakyat, 24 November 2019)

Piramida Hunung Kidul ilustrasi Jos - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Piramida Hunung Kidul ilustrasi Jos/Kedaulatan Rakyat 

DHARMAWAN adalah seorang pegawai local staff Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo, Mesir. Dia hidup bersama istrinya dan dua anak: satu putra bernama Arya Wicaksono dan adik putri bernama Ida Widyawati. Dia berasal dari Desa Semanusari, Kabupaten Gunungkidul. Desa yang masyarakatnya cukup majemuk karena selain suku Jawa terdapat juga komunitas Bali, Tionghoa, Batak, Sunda, dll. Seluruh desa hidup dalam keadaan rukun dan damai. Sejumlah besar penduduk desa itu berpenghasilan dari sektor pertanian.

Pada suatu pagi, Dharmawan terlihat sedih di kantor setelah dapat berita duka via telepon. Ternyata yang meninggal itu adalah seorang Tenaga Kerja Indonesia [TKI] muda namanya Sugiri, yang selama 7 tahun terakhir dia bekerja sebagai teknisi di sebuah pabrik tekstil besar di Kabupaten Al-Ayyat, Provinsi Giza. Sugiri adalah sahabat baik Dharmawan karena sama-sama dari Desa Semanusari. Sugiri sudah menikah dengan seorang wanita Mesir namanya Sunia, seorang guru bahasa Arab honorer di sebuah lembaga kursus bahasa Arab untuk orang asing. Mereka sudah punya satu putra bernama Sukriman yang kini umurnya baru 6 tahun. Sayangnya, Sunia berasal dari sebuah keluarga rakyat jelata di Kecamatan Bulaq, Provinsi Giza. Dharmawan merasa iba dan memutuskan untuk membiayai pendidikan Sukriman sekaligus menjadi ayah asuhnya untuk mengurangi beban dari Ibu Sunia dan keluarganya. Ibu Sunia setuju dan berterima kasih.

Apartemen Pak Dharmawan lebih dekat dengan Sekolah Indonesia Cairo (SIC) di Dokki, Provinsi Giza, dan jaraknya tidak jauh juga dari kediaman keluarga Ibu Sunia yang berada di kecamatan Bulaq. Pada hari-hari libur sekolah, Sukriman menghabiskan libur bersama ibunya di Bulaq.

Selama di keluarga Dharmawan, Sukriman merasa bahagia dan semua cerita Dharmawan tentang kampung halaman di Desa Semanusari, Gunungkidul, membuat Sukriman ingin segera tinggal di sana. Kini Sukriman sudah lulus SMA dari SIC, dan sudah daftar di Fakultas Ekonomi UGM di Yogyakarta. Pada malam perpisahan dengan keluarga Dharmawan dan persiapan untuk perjalanan besoknya ke Yogyakarta, Sukriman berkata,

“Terima kasih banyak atas segala bantuan Pak Dharmawan sekeluarga kepada saya. Sungguh luar biasa jasanya sampai saya tidak tahu apa yang dapat saya lakukan untuk membalasnya di kemudian hari,” ujarnya.

“Adik Sukriman tidak perlu balas apa-apa. Kami memang tulus ikhlas dalam mengurusi pendidikanmu. Semoga kamu sukses nanti. Namun, seandainya hatimu tidak tenang kecuali dengan membuat sesuatu yang layak untuk disebut sebagai balas jasa, maka saya hanya dapat pesan satu hal saja: setelah lulus dari Fakultas Ekonomi UGM, kamu berupaya untuk memajukan ekonomi masyarakat Desa Semanusari.”

“Siap, Pak. Tentu akan saya upayakannya,” tegasnya.

Selama masa studi, dia terbiasa ke Desa Semanusari sebulan sekali untuk bertemu seluruh keluarga besarnya terutama kakeknya Mbah Mulyadi yang setiap pertemuan pasti ada wejangan filsafat Jawa. Setelah dia selesai studi S1, dia pergi untuk tinggal bersama keluarga besarnya di Semanusari. Dia mulai rajin baca iklan lowongan kerja yang ada di koran dan melamar kerja sebagai akuntan. Namun, karena lama upayanya itu belum berhasil, dia semakin gelisah dan tidak nyaman. Dia ingin sukses secepat mungkin, bukan hanya untuk memenuhi keinginannya untuk balas jasa Dharmawan, tetapi juga karena sukseslah yang akan membuat dia berani melamar Ida Widyawati. Tentu keinginan seperti itu hanya berwujud sebagai angan-angan saja dalam hatinya dan tidak ada satupun yang tahu, karena dia sebagai anak asuh tentu merasa minder dan anggap diri sendiri bukan siapa-siapa untuk melamar putri seorang staff KBRI.

Pada suatu pagi di puncak masa kegelisahan itu—saat dia seperti biasanya duduk di depan rumah kakeknya—dia baru mengamati suatu hal yang unik, yaitu bahwa bukit yang ada di tengah persawahan itu adalah bukit tunggal mengerucut serupa dengan piramida Mesir. Dia langsung menangkap kesempatan itu dan memutuskan untuk menjadikan bukit itu sebuah objek wisata kreatif kelas dunia. Nama objek wisata itu nantinya adalah Piramida Gunungkidul [PirGunKid]. Tema piramida itu adalah: perdamaian dunia, filsafat leluhur nusantara, kata mutiara populer dunia, dan aksara jawa.

Setelah dia selesai membuat design yang serba unik itu, dia mulai meyakinkan para pamannya dan para pemilik lahan lainnya untuk menyutujui serta mendukung rencananya. Setelah semua persiapan selesai, terbentuklah PT Piramida Gunungkidul dan proyek dapat beroperasi setelah 10 bulan. Keberhasilan obyek wisata ini menjadi judul utama semua media lokal dan internasional. Dalam waktu singkat proyek ini berhasil memajukan ekonomi seluruh desa Semanusari dan seluruh Gunungkidul. Berkat keberhasilan itu, Sukriman baru berani untuk melamar Ida Widyawati.

Setelah berkeluarga, dia bawa Ibunya untuk hidup bersamanya di Semanusari. Mimpikah ini?  ❑-e

 

Dr. Mahmuud Hamzawi alias Mohan Subhagya warga negara Mesir. Pemerhati Kajian Keindonesiaan mahmududdin@gmail.com