Cerpen AK Basuki (Kompas, 24 November 2019)

Penguburan Tersunyi ilustrasi I Wayan Paramarta - Kompasw
Penguburan Tersunyi ilustrasi I Wayan Paramarta/Kompas 

Ibu kembali dari penebusan dosa ketika genderang takdir telah berderang mengabarkan tentang bagaimana kelak cara kematiannya. Sikapnya masih setabah dahulu, saat meninggalkan aku dan kakakku untuk kali kedua, tapi penyesalan dan rasa rindu yang mendalam tak bisa lagi dia sembunyikan.

“Rasanya tak pernah aku melihatmu sedekat ini, maka teruslah dekat,” bisik Ibu ketika kucium belakang telinganya. Dari kedua matanya bisa kulihat banyak cerita, tapi aku enggan membacanya lebih dalam. Karena aku tahu, setiap cerita mengenai dirinya adalah kesedihan. Dan sekumpulan cerita sedih bukanlah hal yang benar bagi seseorang di fase terminalnya.

Adalah Bapak, sesungguhnya dia adalah kakak kandung ayahku, sosok yang membuat kami tak pernah menuntut kealpaan Ibu, memastikan kami untuk selalu menempatkan dia sebagai sosok agung yang abadi dalam kepala kami, mengajarkan untuk tak pernah membencinya meski bila dia meninggalkan kami untuk berkali-kali lagi.

Dialah yang sengaja memperkenalkan kami sedini mungkin dengan cerita-cerita kesedihan keluarga kami. Ayah meninggal sewaktu aku masih dalam kandungan sementara kakakku baru menginjak tahun kedua di sekolah dasar. Sejak itu Ibu dibantai nasib. Kegagapannya menjadi orang tua tunggal, kelelahan fisik, mental, dan kecemasan karena beban hidup yang sangat berat akhirnya menggugah iblis di balik jiwanya. Dia hantam kepala seorang perempuan penagih utang dengan balok pengganjal pintu berkali-kali hingga tewas.

Baca juga: Rumah Tuhan – Cerpen AK Basuki (Kompas, 10 Maret 2013)

“Ibu kalian pembunuh,” kata Bapak jika akan memulai cerita-cerita kesedihan itu. Mungkin memang begitulah cara dia untuk menguatkan kami. Diberinya kami kalimat awal yang mengerikan, tapi selalu dia lanjutkan dengan kalimat-kalimat penghiburan agar kami tiduk menjadi anak-anak yang membenci atau bahkan jijik terhadap ibu kami selama-lamanya. “Tapi dia adalah seorang pembunuh dengan rasa penyesalan yang sangat besar. Hingga dosa pembunuhannya apabila kini dibandingkan dengan segala penebusan yang telah dilakukannya hanyalah seekor kutu di antara tebalnya bulu seekor domba.”

Atau jika Bapak tengah memarahi kami: “Mengingat ibu kalian adalah seorang pembunuh, aku bisa memaklumi dosa yang kalian bikin. Tapi apa kalian bisa bertobat seperti dia?”

Kami tidak pernah habis piker, bagaimana bisa seorang lelaki lajang penyendiri seperti Bapak mampu membesarkan dua orang keponakan sendirian. Penjelasan yang paling masuk akal selain karena hubungan darah, bertahun-tahun kami percaya jika Bapak berutang budi sangat besar kepada Ibu.

Selama Ibu menghabiskan belasan tahun dalam penjara, tidak pernah sekali pun Bapak membawa kami menemuinya. Belakangan kami tahu, itu semua permintaan Ibu. Dia memang akhirnya mau menemui kami setelah masa hukumannya berakhir, tapi hanya sebentar.

Baca juga: Dua Belas Jam di Hari Sabtu – Cerpen Novka Kuaranita (Kompas, 17 November 2019)

Melihat kehidupan kami yang telah dirasanya baik, aku masih bersekolah di sekolah menengah waktu itu dan kakakku telah bekerja, dia memutuskan pergi, mengabdi kepada seorang petugas lapas wanita yang sangat dipujanya. Perempuan itu hidup sendiri di masa menjelang pensiun dan Ibu menemani sekaligus melayani kebutuhannya sehari-hari. Perempuan itulah yang kemudian membawa Ibu ke rumah kakak saat penyakitnya semakin parah.

“Bertahun-tahun dia tinggal bersama saya, kini saatnya dia pulang. Saya sangat menyayanginya, tapi di saat akhir kehidupannya dia haruslah berada di tengah orang-orang yang dicintainya,” kata perempuan itu sendu ketika mengantarkan Ibu.

Kakakku menerima Ibu dengan kebahagiaan. Rumah kontrakan kecil yang dia tinggali bersama istri dan kedua anaknya serasa menjadi luas seketika. Rasa bahagia itu benar-benar kurasakan dalam getar suaranya melalui telepon ketika menghubungiku di hari kedatangan Ibu.

“Ibu pulang!” begitu katanya. Lalu hanya tangisannya saja yang bisa kudengar. Keesokan harinya langsung kuputuskan berangkat ke rumah kakakku walau jarak terbentang sedemikian jauhnya.

Baca juga: Sastra Setengah Cerita – Cerpen Andre Syahreza (Kompas, 10 November 2019)

Kakakku tidak bercerita tentang kondisi Ibu, tapi ketika melihatnya pertama kali, aku telah bisa merasakan bahwa waktu kami tidak akan lama. Itu yang membuatku kemudian memutuskan mengambil jeda yang panjang dari pekerjaanku.

***

“Aku lega masih bisa berada di tengah-tengah keluargaku,” kata Ibu di suatu malam, beberapa minggu setelah kedatangannya, ketika aku yang tertidur beralaskan tikar pandan di bawah peraduannya mendusin dan memergokinya tengah memandangiku berlama-lama.

“Kupikir kanker ini akan membunuhku dalam kesunyian, mengingat begitu besar dosaku. Kau dan kakakmulah yang membuatku masih berharap tentang pengampunan Tuhan. Kalian adalah anak-anak yang baik. Bukankah anak-anak yang baik akan menolong orang tua mereka melalui doa-doa penyelamat di alam yang kekal?”

Di sela-sela kalimat, napasnya tersengal-sengal, tapi mulutnya selalu mencoba tersenyum.

Baca juga: Mata Dibalas Mata – Cerpen Meutia Swarna Maharani (Kompas, 03 November 2019) 

”Aku mengejar penebusan dosa selama hidupku. Sedikit merasa berhasil karena akhirnya aku bisa tertawa lagi, tapi lalu merasa gagal karena setiap mengingat orang yang mati di tanganku, bagaimana kesedihan dan kehilangan yang dirasakan keluarganya, bagaimana murka Tuhan padaku kelak di hari pembalasan, aku selalu menangis sejadi-jadinya. Maka bagiku penebusan dosa yang kujalan tak akan pernah lengkap seberat apapun caraku untuk menyakiti diriku sendiri. Selama ini aku salah dengan berlari dari orang-orang yang kucintai. Kini aku sadar, justru kalianlah pelengkap penebusan dosaku. Maafkan Ibu.”

Beberapa hari setelah malam itu, nyawa Ibu berangkat ke langit.

Sesunyi kehidupannya, prosesi penguburan Ibu pun sunyi. Hanya satu dua tetangga sekitar dan beberapa kenalan kakakku yang mengiringi hingga jasadnya tenggelam ke dalam tanah. Tidak ada upacara yang berlebihan. Tidak ada doa-doa yang panjang.

Di malam hari, ketika aku dan kakakku berbicara berdua di serambi, barulah terasa betapa lelahnya kami. Beberapa minggu mendampingi Ibu serasa seumur hidup.

“Aku merasa sangat lega,” kata kakakku. “Kau?”

Baca juga: LOP – Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 27 Oktober 2019)

“Sama,” sahutku. Kematian Ibu memang tidak terasa terlalu menyesakkan. Berbeda dengan ketika kami menguburkan Bapak dua tahun sebelumnya. Rasa terhadap Ibu adalah rasa yang muncul dari angan-angan. Kami terikat batin dengannya, tapi dengan Bapak kami terikat rasa di semua sisi kehidupan kami. Itu menurutku, entah kakakku karena tentu dia telah sangat mengenal Ibu ketika kemudian ditinggalkan.

“Aku merasa bersalah justru karena belum bersedih untuknya sampai detik ini. Kau?”

Lampu serambi memang sengaja kami padamkan, tapi dalam remang cahaya yang disebarkan lampu jalanan, kulihat bibirnya tersenyum.

“Tunggu saja, rasa pahit itu belum sampai di tenggorokanmu. Suatu saat nanti kau pasti menangis untuknya.”

Kata-katanya mungkin benar, tapi sama sekali tak terpikirkan olehku tentang kesedihan yang akan bisa membuatku menangis meraung-raung seperti di hari kematian Bapak.

“Sudahlah. Kenapa kita tidak mengobrol hal-hal biasa saja dan bersantai? Beberapa hari lagi kau akan kembali ke kotamu dan entah berapa lama sebelum kita bisa bertemu lagi.”

Baca juga: Rokat Kandung Kembar – Cerpen Muna Masyari (Kompas, 20 Oktober 2019)

Dia lalu menyandarkan tubuhnya dengan santai ke belakang. Sesekali mengisap rokok di sela jari tangannya, tapi kutahu angan-angannya telah terbang entah kemana.

“Kehidupan Ibu pastilah teramat sunyi. Bahkan sampai di hari kematiannya. Sunyi. Aku jadi terpikir untuk meramaikan satu babak saja dalam kehidupan Ibu. Penguburannya,” kataku. Kakakku tidak menanggapi, tapi aku yakin dia mendengarkan dengan saksama. Aku lalu mengambil posisi seperti dirinya, menyandarkan tubuh ke belakang.

“Di kepalaku kini, aku telah kembali pada siang tadi, tepat ketika jenazah Ibu diberangkatkan. Mari lihat dan rasakanlah dalam pikiranmu juga. Kulihat rumahmu yang sekecil sangkar burung ini ramai sekali. Seperti sebuah pesta pelepasan yang megah, semua orang rasa-rasanya hendak menyentuh keranda Ibu jika memang bisa, tapi tidak, karena telah ada beberapa orang termasuk kita berdua yang lebih dulu mendapatkan keranda itu. Lalu di sepanjang jalan menuju kompleks pekuburan, orang-orang mengelu-elukan Ibu. Mulut-mulut mereka tidak henti menggumamkan doa-doa kebaikan. Mereka tahu di dalam keranda itu terbaring seorang pembunuh, tapi pembunuh yang telah berusaha seumur hidup menebus dosanya, yang mengisi tiap harinya dengan doa-doa dan harapan keselamatan bagi orang-orang tercinta yang sengaja dia tinggalkan demi merasakan penderitaan. Mereka pun tahu dengan kesunyian si mayat selama hidup, maka mereka seolah-olah ingin meramaikan prosesi penguburannya. Lalu lihatlah, kembang di sepanjang jalan yang kita lalui bermekaran. Ada mawar merah, bugenvil, anggrek hingga kembang sepatu.”

Baca juga: Celurit di Atas Kuburan – Cerpen Zainul Muttaqin (Kompas, 13 Oktober 2019)

Kudengar kakakku tertawa lirih. Aku tahu dia justru sedang berusaha menahan rasa haru, maka akan kubuat ini menjadi lebih panjang lagi.

“Sayang aku tak tahu apa kembang kesukaan Ibu untuk menambah bobot ceritaku.”

“Kenanga,” jawab kakakku, tapi kulihat matanya tertutup seolah turut larut ke dalam khayalanku.

“Ya, kenanga pun ada, bahkan sangat banyak di sepanjang jalan hingga gerbang kompleks pekuburan!”

“Dan ada yang lebih dahsyat lagi,” balasku makin bersemangat. “Ternyata di dalam kompleks pemakaman itu pun telah menunggu bermacam-macam binatang!”

Saat mataku mulai kupejamkan, gambaran-gambaran yang kubuat itu kini bagaikan sebuah tayangan film kolosal.

Baca juga: Tujuh Puluhan – Cerpen Yanusa Nugroho (Kompas, 06 Oktober 2019)

“Ada burung-burung, juga kupu-kupu beraneka warna. Ada zebra. Ada gajah. Jerapah, harimau, singa, orang utan. Ada pula ribuan ikan melayang-layang di udara. Lalu ketika kumpulan binatang itu tersibak, ada Bapak. Bapak menyambut tubuh Ibu, lalu didekapnya erat-erat seperti tak akan pernah dilepasnya lagi.”

Hanya sampai di situ ceritaku sebelum tenggorokanku tercekat. Baru kusadari semua keikhlasan Bapak memasuki kehidupan kami. Betapa murni pengorbanan Bapak demi perempuan yang dia cintai tapi tak pernah dapat dia miliki seumur hidupnya. Lalu kepercayaan Ibu kepada Bapak untuk membesarkan kedua anaknya, apa lagi alasannya jika bukan karena cinta?

Duh, Ibu. Duh, Bapak.

Benar kata kakakku, rasa pahit itu belum sampai di tenggorokan. Tapi tidak butuh waktu lama, karena sekejap kemudian air mataku bercucuran.

 

AK Basuki, bernama lengkap Aris Kurniawan Basuki, lahir di Cilacap, 28 April 1979. Dua cerpennya pernah terpilih dalam buku kumpulan cerpen Kompas 2013 dan 2015. Tinggal di Desa Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.

I Wayan Paramarta, lahir di Sanur, Bali, pada 22 September 1974. Lulusan Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar (ISI Denpasar) ini tiga kali menggelar pameran tunggal dan setidaknya 68 kali ikut dalam pameran bersama selama kurun waktu 1994-2019, baik di dalam maupun di luar negeri.