Cerpen Harri Boy Manalu (Solo Pos, 24 November 2019)

Pemuda Bernama Luta ilustrasi Hengki Irawan - Solo Posw
Pemuda Bernama Luta ilustrasi Hengki Irawan/Solo Pos 

Rela mengeluarkan uang ratusan juta rupiah demi rumah kecil bercat biru itu. Gang sempit di seberang jalan, tepat di depan rumah menjadi alasanmu untuk membelinya. Kamu terlambat bangun pagi ini. Buru-buru keluar tanpa menyisir rambut. Tak ingin lewatkan ritual pagi yang kamu sukai. Kamu duduk di halte tepat berhadapan dengan gang seberang jalan. Setiap pagi, seorang pemuda muncul dari gang sempit itu.

Pemuda itu tak kunjung keluar. Mungkin ia sudah berangkat kuliah beberapa menit lalu. Kamu mengutuk diri mengapa mengerjakan tugas kantor sampai larut buatmu terlambat bangun. Matamu berpendar. Kedai kopi terletak di sisi kiri gang sudah buka. Beberapa orang pria duduk di sana menikmati secangkir kopi. Jalan sudah ramai. Anak sekolah berjalan tergesa takut terlambat. Pun para pekerja kantor menjejaki trotoar dengan langkah cepat. Masih berharap pemuda itu belum berangkat.

“Luta, tunggu….”

Pemuda yang kamu tunggu muncul juga. Dari dalam gang, seorang ibu berlari mengejar pemuda jangkung memakai kemeja kotakkotak. Jadi, namanya Luta? Si ibu memberikan selembar uang lima ribuan kepada pemuda bernama Luta. Mungkin buat ongkos. Pemuda itu keluar dari gang, lalu berhenti di pinggir jalan. Tanpa sadar, tatapannya tertuju ke halte tempatmu berada. Mata kalian beradu sesaat. Pemuda itu tersenyum kikuk.

Kamu pulang setelah pemuda itu masuk angkutan. Pemuda bernama Luta tersenyum padamu? Segala letih hilang seketika. Kamu melangkah ke dapur. Tiba-tiba handphonemu berdering.

“Selamat pagi, sayang!” ujarmu begitu mengangkat telepon dari Hans, suamimu.

“Berapa lama lagi di sana. Aku rindu makan brownies buatanmu.”

Hatimu diliputi rasa bersalah. Tidak ada tugas kantor mengharuskan kamu pergi keluar kota beberapa bulan. Semua bohong. Kamu melempar handphone ke atas tempat tidur.

***

Intensitas ingin bertemu Luta semakin meningkat. Kamu tak puas hanya melakukan ritual pagi. Beberapa hari ini, memaksa diri pulang kantor lebih awal demi duduk di halte di sore hari. Baru tahu, setelah pulang kuliah, Luta bekerja di kedai kopi terletak sebelah kiri gang. Sore ini, kamu mengunjungi kedai kopi itu, memilih meja paling sudut hindari keramaian. Kamu mengangkat tangan memanggil pelayan.

“Secangkir coffee latte dan sepiring kudapan paling enak di kedai ini.”

Pelayan mencatat pesanan sembari pamit mundur.

“Boleh yang mengantar pesananku nanti pelayan bernama Luta?”

Pesananmu datang setelah menunggu beberapa menit, dibawakan Luta.

“Aku pemilik rumah bercat biru seberang jalan.” ujarmu menutupi rasa gugup.

“Anda yang selalu duduk di halte setiap pagi, bukan?”

Wajahmu merona sembari mengangguk.

“Setelah jam kerjamu habis, boleh menemuiku di halte depan?”

Tatapan Luta langsung berubah. Ini bukan kali pertama seorang wanita mengajaknya ketemuan. Kamu menyadari perubahan di wajah Luta.

“Jangan salah paham. Aku ingin menawarkan pekerjaan buatmu.”

Kamu menepati janji. Rela menunggu kedai hingga tutup. Gerimis mulai turun. Kamu merapatkan jaket mengusir rasa dingin. Jalan tampak sepi. Pemuda itu keluar dari kedai. Ia menyeberang menuju halte, memilih tempat duduk agak jauh darimu. Tak ada suara. Kalian menikmati tetes hujan menari di atas trotoar.

“Ibuku setiap bulan harus dibawa ke dokter. Biaya berobatnya tidak sedikit. Makanya aku bekerja hingga larut.” ucap Luta masih menikmati tetes hujan.

“Aku belum punya tukang kebun. Mau bekerja di rumahku?”

“Ingin sekali menerimanya. Tapi aku tidak punya waktu lagi.”

“Boleh mengerjakannya setiap Minggu.”

“Mengapa Anda baik sekali?”

Kamu menatap Luta sekilas, memilih kata yang tepat untuk diucapkan.

“Melihatmu bekerja dengan giat seperti melihat diri sendiri di masa silam.”

Kamu berbohong. Sejak kecil tak pernah bekerja sekeras itu. Kekayaan orang tuamu cukup membiayai hidupmu.

“Besok hari Minggu. Datanglah untuk bekerja.”

***

Kamu tengah berkutat di ruang dapur. Tanganmu memegang mixer berputar kencang. Lagunya Adele, Rolling in the deep, terdengar dari speaker handphone sengaja diputar dengan volume maksimal. Kakimu mengetuk-ngetuk lantai menyesuaikan irama lagu sambil terus membuat kue.

“Selamat pagi, Tante!”

Luta telah datang. Kamu tertegun melihat sosok Luta. Ia memakai kaus oblong lehernya kedodoran. Celana jeans ketat bagian lututnya sobek. Sobekan itu bukan disengaja. Celana jeansnya sudah terlalu tua. Penampilannya yang sederhana buat Luta terlihat sangat tampan.

“Silahkan sarapan dulu. Aku baru masak brownies.”

“Aku sudah sarapan dari rumah.”

Luta merasa sungkan.

“Aku rasa perutmu masih bisa menampung beberapa iris.”

Kamu tuangkan kopi ke dalam cangkir. Tak kuasa menolak, Luta mengambil satu iris.

“Kuenya enak sekali.”

Luta menghabiskan gigitan terakhir.

“Ibuku sudah lama ingin makan brownies. Tapi belum terwujud.”

Luta melap bibir dengan lengan kausnya.

“Akan kumasak satu loyang lagi untuk kamu bawa pulang.”

“Rela gajiku dipotong untuk kue seenak ini.”

“Senang bisa berikan kue untukmu tanpa bayaran.” ujarmu sembari beranjak dari kursi. Ternyata tidak sulit untuk mendekati Luta.

***

Halaman rumahmu tidak terlalu luas. Di balik pagar besi, berjajar pohon palem setinggi dua meter. Di sudut halaman ada adenium tidak pernah berhenti berbunga. Di kanankiri halaman, ditanami bunga sanseviera.

Setiap Minggu, Luta mengurus halaman itu. Pekerjaannya tidak terlalu berat. Paling memotong rumput dan membuang daun telah cokelat. Lebih sering mengajak Luta membantumu masak kue. Satu bulan bekerja, kamu memberinya gaji lumayan besar. Awalnya, Luta menolak karena tidak sebanding dengan pekerjaannya hanya satu jam per pekan.

“Ini untuk semuanya. Kamu telah membantuku memasak kue dan mengusir rasa bosanku.” ujarmu kala itu.

Di hari pertama bekerja, kamu memberi Luta sekotak kue brownies. Di hari berikutnya, rela menunggu Luta selesai bekerja hingga larut hanya untuk memberi rantang berisi rendang, lalu beberapa potong pakaian baru.

Suara bel bangunkan kamu pagi ini. Selain Luta, tidak seorang pun pernah datang ke rumahmu. Terkejut melihat sosok wanita berdiri di balik pintu.

“Anjani Reina….”

Bibir wanita itu bergetar. Dulu sekali, kamu memanggil wanita itu dengan sebutan bibi. Kalian saling menatap cukup lama. Tanpa suara.

“Pasti bukan kebetulan kamu membeli rumah dekat rumahku. Mengapa tidak pernah menjumpai aku. Pagi ini, aku masak kue untuk majikan Luta karena sudah baik pada Luta. Tidak menyangka bila majikannya itu adalah kamu.” ujar wanita itu.

“Aku tidak punya keberanian untuk bertemu.”

Kamu menghambur memeluk tubuh wanita itu. Pertemuan yang singkat. Kamu menyuruhnya segera pulang dan meminta merahasiakan semuanya dari Luta.

***

Aroma harum menguar di udara memenuhi seluruh sudut dapur. Entah sudah berapa lama Luta berdiri di mulut pintu menontonmu mencampur adonan.

“Mengapa berdiri di situ. Sini, bantuin Tante!” ujarmu saat tahu Luta di sana.

“Anjani…”

Bibir Luta mengucapkan nama itu. Wajahmu langsung pucat. Itu nama masa kecilmu. Luta tersenyum seakan nama ia ucapkan bukan hal berarti.

“Anjani Reina….” ujar Luta sekali lagi.

“Apa ibumu telah menceritakan semua?”

Luta mengangguk. Tak ada kemarahan di wajahnya.

“Kata ibu, dua puluh tahun silam, seorang gadis remaja hamil di luar nikah. Terlambat menggugurkan. Untuk menutupi aib keluarga, ayahnya melarang ia keluar rumah hingga berbulan-bulan. Pihak keluarga mengarang cerita bahwa gadis remaja mereka pergi ke luar negeri untuk berobat. Akhirnya, gadis remaja itu melahirkan. Bayinya diberikan pada seorang pembantu. Terserah bayi itu dibawa ke mana. Setelah sehat, gadis remaja itu kembali sekolah meski harus mengulang satu tahun.” tutur Luta. “Benarkah Anda ibu kandungku?” lanjutnya masih tetap tersenyum.

Kamu mengangguk. Apa yang kamu takutkan tidak terbukti. Luta pemuda yang baik. Ia tidak marah setelah mengetahui semuanya. Kamu mengusap wajah Luta berkali-kali, lalu menangis di dadanya.

“Kamu tidak membenci ibu?”

Luta menggeleng.

“Mulai besok, jangan lagi bekerja di kedai kopi. Tinggallah bersama ibu.”

Kembali Luta menggeleng. Senyum belum juga hilang dari bibirnya.

“Biarlah hubungan kita seperti sediakala. Aku akan tetap bekerja di kedai kopi dan tetap menjadi tukang kebun.” ujar Luta.

“Apa maksudmu, Nak?”

“Boleh aku tetap memanggilmu Tante?”

Pertanyaan macam apa itu! Kamu menatap wajah Luta lekat-lekat. Senyum Luta menjadi begitu menakutkan.

“Aku sudah bahagia dengan hidupku sekarang dan tak akan menukarnya dengan apa pun. Permisi, aku mau memotong rumput dulu, Tante!”

Luta melangkah keluar.

“Jangan perlakukan aku seperti ini. Aku ibu kandungmu, Luta!” ucapmu putus asa. Luta berhenti, lalu menoleh ke arahmu.

“Arti ibu tidak sebatas melahirkan. Bagi Luta, Mina, wanita tua yang tengah digerogoti kanker payudara itu adalah ibuku sesungguhnya. Demi merawatku dari kecil, ia rela tidak menikah hingga kini.”

Senyum Luta hilang. Wajahnya dipenuhi air mata.

 

Harri Boy Manalu. Penulis, lahir di Kota Barus, Sumatra Utara.