Cerpen Aljas Sahni H (Fajar, 24 November 2019)

Konferensi Para Tikus ilustrasi Syahrizal - Fajarw.jpg
Konferensi Para Tikus ilustrasi Syahrizal/Fajar

Tikus-tikus menyerang lumbung dan petani mendengus bengis. Tikus-tikus itu melesat, menyantap padi dengan rakus, bahkan ketika pulang mereka meninggalkan kotoran sebagai jejak. Ah, sungguh anjing tikus itu. Selain mengacaubalaukan berandang itu, mereka juga secara terang-terangan menghina petani dengan jejak kotoran mereka.

“Sialan!” umpat salah satu petani. “Habislah jerih payah kita. kita yang berpeluh, eh, tikus-tikus itu yang meludah.”

Mereka para petani mengacakacak rambutnya penuh penyesalan. Mereka tak habis pikir, tikus-tikus sungguh tega menghancurkan hasil kerja keras mereka. Tikus-tikus itu tanpa ampun dan tanpa tanya-tanya telah menghanguskan hasil panen mereka. Barangkali bila minta baikbaik, para petani akan memberikan tikus-tikus itu beberapa hasil panen.

Tetapi kenyataannya, di malam itu, tatkala bintang-bintang bersanding dengan lampu-lampu rumah, tikus-tikus itu beranjak dari sarangnya. Segerombolan tikus berarakan bak tentara. Mata pisau tikus-tikus itu telah membidik sasaran, yakni lumbung di sudut desa. Tikus-tikus tak lagi bisa bersabar, iler-iler mengalir dari mulut rakus para tikus.

Betapa tergesa-gesa tikus-tikus itu, sehingga satu sama lain mereka bertubrukan. Mereka saling salip-menyalip, menciptakan cicit-cicit agak gaduh, juga baku hantam. Mereka menyelinap—memanfaatkan cela bawah gerbong—dan gundukan karung padi pun tampak di sepasang mata picik mereka.

Tak lagi banyak wacana, tikustikus itu tangkas mengerkah karungkarung hingga bolong. Mereka menyelami padi seolah tenggelam di lautan surga. Makan, makan, dan makan, begitulah yang mereka lakukan semalam suntuk. Mereka mana tahu, ada banyak orang yang dirugikan oleh kerakusan mereka.

Setelah perut kembung terisi padi, mereka pun siap-siap pulang ke sarang. Bahkan ada beberapa di antara mereka belum tuntas melahap padipadi, kendati perut sudah mau meledak. Mereka tak mau merugi, kendati perbuatannyalah yang membuat orang-orang merugi. Yang penting perut sendiri terisi, orang lain siapa peduli, begitulah isi kepala para tikus.

Perihal itulah yang membuat para petani berisiniatif untuk membuat perangkap-perangkap tikus, agar tak lagi jatuh di jurang yang sama, sebab jatuh itu sudah sakit, apalagi harus terulang lagi. Lebih baik mereka bersusah-susah lagi daripada harus menanggung perih yang kedua kali.

Dan mereka pun menyebar perangkap-perangkap di lumbung. Mereka tersenyum kecut penuh harap, seakan pada waktu itu peperangan akan segera dimulai. Perang antara para tikus dan para petani.

Beberapa petani seketika terkekeh, membayangkan bagaimana nasib tikus-tikus itu nantinya. Tikus-tikus itu akan berangkat dengan semangat dan takkan pernah bisa pulang, sebab mereka terjerembap dalam perangkap. Bulu-bulu para tikus akan gemetar, mereka mencicit minta tolong, dan menyesali perbuatannya. Setidaknya itu harapan yang mengisi tempurung kepala para petani.

Tapi kenyataannya, tidak juga. Para tikus abad ke-21 lebih cerdik dan lebih rakus. Mereka waspada akan segala perangkap, dan hanya tikus-tikus bodoh yang mudah masuk ke dalam perangkap. Sementara itu, tikus-tikus negeri ini memang sudah terlatih dan pintar-pintar.

“Sialan!” umpat salah satu petani. Muka mereka benar-benar seperti diludahi oleh para tikus. Dari semua perangkap yang ada di lumbung, tak ada satu pun perangkap yang berhasil menangkap. Tikus itu berhasil menghindar dan berhasil meluluhlantakkan isi lumbung lagi. Tak hanya itu, dari semua perangkap di lumbung, tak ada satu pun perangkap yang tak berisi kotoran tikus.

“Tikus-tikus itu sungguh menantang kita,” sahut petani lain.

“Dan kita tak boleh kalah!”

“Kita harus membuat strategi baru untuk mengalahkan tikus-tikus sombong itu.”

“Aku setuju!”

Mereka pun berunding. Perundingan itu menghasilkan beberapa kucing. Para petani sepakat untuk memungut kucing-kucing jalanan sebagai penjaga lumbung. Kucingkucing itu nantinya yang akan menangkap dan menyantap para tikus. Para petani mempercayakan hal itu pada para kucing. Mereka yakin, kucing-kucing akan melaksanakan tugasnya sebagai kucing. Kira-kira begitu bayangan para petani.

Kenyataannya, kala ayam jantan mewartakan pagi, dan para petani berduyun-duyun memeriksa lumbung, hanya keputusasaan yang mereka dapat. Pemandangan itu sungguh menikam dada para petani, pemandangan yang tak pernah enak dipandang. Kucing-kucing itu lelap dengan perut kekenyangan dan padipadi ludes tiada sisa.

***

“Kita tak bisa makan malam ini,” keluh salah satu tikus. “Mata kucing mengawasi tiap saat.”

Tikus lain tak terima. Tikus itu menyela perkataan tikus satunya, “Tidak bisa! Kita tetap harus mengisi perut kita malam ini.”

“Tapi bagaimana caranya?!”

Bila melihat keadaan sekitar, memang tak ada jalan untuk menyerang. Namun, tikus tetaplah tikus, cerdik dan rakus. Dari kejauhan mereka melihat tak ada peluang, kucing-kucing itu tampak berjagajaga di luar lumbung, lapar dan buas. Akan tetapi, menyelinap dalam tempurung kepala kecil mereka, sebuah ide licik bermunculan.

Para tikus mengumpulkan anakanak tikus, dan seekor perwakilan tikus menghampiri kucing-kucing itu. “Izinkan kami masuk,” ucap tikus itu dengan pongah. Tentu, kucingkucing itu tersentak akan kehadiran tikus pemberani itu. Terlepas dari itu, para kucing sudah mengambil abaaba untuk menerkam.

Sepertinya tikus itu hendak menjemput ajalnya sendiri, pikir salah satu kucing. Sebelum menerkam habis tikus itu, sang kucing ingin bermain-main dulu. “Sungguh sombong kau, Tikus,” sahut sang kucing. “Tapi dengan senang hati akan kupersilahkan kalian masuk. Masuk ke dalam perut kami.” Tawa-tawa para kucing pun memecah keheningan malam.

“Kami ingin membuat dengan kesepakatan dengan kalian para kucing.”

“Kau ini ada-ada saja,” ledek Si Kucing Besar. “Mau mati saja sungguh ribet. Katakanlah, kesepakatan apa yang kalian minta?”

“Dengan senang hati kami berikan anak-anak kami untuk kalian makan. Tapi semua ada harganya. Kalian makan anak-anak kami, tapi izinkan juga kami menyantap padipadi yang kalian jaga.”

Kesepakatan itu pun terjadi. Tikus-tikus rakus itu rela mengorbankan tikus-tikus lain demi kerakusan yang telah beranak pinak di kepala kecilnya. (*)

 

Aljas Sahni H, lahir di Sumenep, Madura. Kini bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta. Anggota literasi IYAKA. Serta salah satu pendiri Sanggar Becak.