Cerpen Tommy Duang (Koran Tempo, 23-24 November 2019)

Kisah Ganjil tentang Pria Pemadam Kebakaran ilustrasi Istimewa.png
Kisah Ganjil tentang Pria Pemadam Kebakaran ilustrasi Istimewa

Di Wairpelit, sebuah kampung kecil tujuh kilometer arah barat Kota Maumere, hidup seorang lelaki baik hati bernama Roberto. Kami memanggilnya Dede Eto. Dede Eto berambut keriting, suka memakai baju batik, dan enak dipandang kalau sedang tertawa. Dia petugas pemadam kebakaran dan memiliki seorang putri cantik berumur enam tahun.

Rumahnya tidak jauh dari jembatan Wairpelit yang direnovasi tahun lalu. Tahun-tahun terakhir ini musim kemarau agak panjang, sehingga Dede Eto tidak perlu khawatir Sungai Wairpelit meluap dan rumahnya kebanjiran. Hal itu tidak akan terjadi.

Di rumahnya yang berdinding papan kayu jati, Dede Eto tinggal bertiga dengan istrinya, Tanta Magda, dan putri cantik mereka, Tania. Tanta Magda berumur tiga puluh tiga tahun, bersahaja, dan rajin menanam sayur. Dia berasal dari Maumere Timur.

Dede Eto dan Tanta Magda bertemu delapan tahun lalu ketika Dede Eto dan timnya memadamkan api yang melahap rumah tetangga Tanta Magda.

Keduanya bertemu, jatuh cinta, dan menikah lima bulan kemudian. Saat itu Tanta Magda berumur dua puluh lima tahun dan Dede Eto berusia tiga tahun lebih tua. Setahun kemudian mereka dikaruniai seorang anak. Anak itu diberi nama Tania dan kini berusia enam tahun.

Seperti gadis-gadis Indonesia timur pada umumnya, Tania berkulit sawo matang dan berambut ikal. Dia manis, walaupun bukan yang paling manis di antara teman-teman seusianya.

Baca juga: Tentang Wanita yang Menanti Kebangkitan Luiz Ezpinosa – Cerpen Tommy Duang (Koran Tempo, 27-28 Mei 2017)

Saat berusia lima tahun delapan bulan, Tania pergi ke Sekolah Dasar Katolik (SDK) di Ribang sebagai murid baru. Ribang terletak sekitar sembilan ratus meter arah timur jembatan Wairpelit.

Setiap pagi Tania berjalan kaki, berdua dengan Resti, tetangga dan kakak kelasnya di sekolah. Karena dia murid kelas satu, siang hari Tania pulang sekolah sendirian. Dia pulang jam sebelas siang bersama murid kelas satu yang lain, sedangkan Resti pulang jam satu.

Sebagai anak tunggal, Tania amat disayangi oleh Dede Eto dan Tanta Magda. Mereka pastikan setiap hari anak itu bahagia dan tak kurang satu apa pun. Walaupun begitu, Tania tidak diajarkan untuk manja. Bagi Dede Eto dan Tanta Magda, menunjukkan kasih sayang berbeda dengan memanjakan.

Suatu siang, ketika pulang sekolah Tania merasa kurang enak badan. Dia langsung tidur dan lupa makan siang. Siang itu Tanta Magda tidak ada di rumah dan Dede Eto sedang pergi kerja. Dia bersama petugas pemadam kebakaran lain sedang sibuk memadamkan api yang membakar hutan jauh di bagian timur kampung mereka.

Menjelang malam, dia pulang dan mendapati istrinya menangis di bibir tempat tidur. Sedangkan Tania berbaring lemah, muka pucat, dan seluruh badannya panas. Anak itu baru selesai memuntahkan seluruh isi perutnya dalam baskom di dekat kaki Tanta Magda.

Baca juga: Harga Sebuah Sepeda – Cerpen Tjak S. Parlan (Koran Tempo, 16-17 November 2019)

Tanpa pikir panjang, Dede Eto mengantar anaknya ke rumah sakit di kota dengan meminta bantuan ayah Resti. Ayah Resti memiliki oto pikap, dan mereka tiba di rumah sakit dua puluh lima menit kemudian. Tania dirawat di rumah sakit selama seminggu.

Seminggu di rumah sakit, Tania tidak sembuh-sembuh. Berhubung biaya rumah sakit sangat mahal dan Dede Eto tidak memiliki kartu BPJS, dia memutuskan untuk memulangkan Tania dan merawatnya di rumah.

Berbagai jenis ramuan obat tradisional diberikan dan dukun-dukun dari berbagai aliran dipanggil untuk mengobati, tapi Tania tidak kunjung sembuh.

“Ada setan yang mendiami tubuh anak ini. Setan ini lebih kuat dari saya. Saya kalah,” kata seorang dukun senior di kampung itu.

Dukun yang lain lagi berkata, “Ini akibat kalian tidak perhatikan kubur nenek moyang. Mereka marah dan menyerang anak ini. Dan saya tidak berani melawan nenek moyang.”

Dalam hati, Dede Eto dan Tanta Magda dongkol karena dua kali sebulan mereka membersihkan kubur nenek moyang dan selalu mengingat mereka dalam doa-doa sebelum tidur malam.

Baca juga: Selamat Pagi Nona Magpie – Cerpen Bayu Pratama (Koran Tempo, 02-03 November 2019)

“Ini cobaan Tuhan. Kita harus tabah dan menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus di salib,” kata seorang Pastor suatu sore. “Mungkin saja Tania dirasuki roh jahat. Ada jenis roh jahat yang tidak bisa diusir, kecuali dengan doa.” Pastor itu menambahkan dengan mengutip kata-kata Kristus dalam Kitab Suci. Kedengarannya hambar karena dia selalu menggunakan kata-kata yang sama setiap kali mengunjungi orang yang sekarat.

Dede Eto dan Tanta Magda putus asa dan hampir menyerah pada nasib.

Suatu malam datanglah seorang dukun dari bagian utara wilayah Ende dan menawarkan diri mengobati Tania. Karena tidak tahu harus mengadu ke mana lagi, Dede Eto menerima tawaran itu dan membayar jasa si dukun dengan uang satu juta rupiah.

Seperti dukun-dukun sebelumnya, orang itu tidak berhasil menyembuhkan Tania. Akan tetapi, paling tidak dia mempunyai satu saran. “Pergilah ke hutan besar di wilayah perbatasan. Petiklah daun pandu kadung sebanyak sepuluh lembar. Bawa pulang dan tumbuk daun itu sampai halus, larutkan dalam air dan berilah itu pada anakmu. Minum ramuan itu dan dia akan sembuh.”

Didorong oleh rasa percaya yang aneh, Dede Eto langsung berangkat malam itu juga. Dan sejak saat itu, dia tidak pernah kembali. Dia hilang bak ditelan bumi. Segala usaha mencari tampaknya sia-sia.

Baca juga: Nikolaus Pu’u Pau – Cerpen Reinard L. Meo (Koran Tempo, 26-27 Oktober 2019)

Seiring dengan itu, Tania pun dengan sendirinya sembuh. Dia kini telah pulih kembali, sehat seperti sediakala. Setiap hari pergi ke sekolah seperti biasa, berdua dengan Resti.

Bertahun-tahun Dede Eto tidak pernah kembali. Tanta Magda dan Tania hanya hidup berdua di rumah mereka di dekat jembatan Wairpelit.

Kini Tania telah tumbuh menjadi seorang perempuan dewasa. Dia berusia dua puluh tujuh tahun, cantik, dan bekerja sebagai guru di salah satu sekolah di Kota Maumere.

Pada umur dua puluh delapan tahun dia menikah dengan rekan kerjanya sesama guru dan meninggalkan ibunya untuk tinggal bersama suaminya itu. Akan tetapi, lima bulan kemudian Tanta Magda meninggal dan sebelum meninggal, sebagai pesan terakhir, Tanta Magda meminta agar Tania dan suaminya tinggal di rumah mereka di jembatan Wairpelit.

“Ini rumah peninggalan ayahmu. Tinggallah di sini sepanjang sisa hidupmu.” Setelah menyampaikan pesan itu, Tanta Magda mengembuskan napas terakhir. Dia dikuburkan di samping rumah.

Setiap malam Tania dan suaminya mendoakan arwah Tanta Magda dan membersihkan kuburnya dua kali sebulan.

Baca juga: Kutuk Banaspati; Empat Cerita pada Satu Malam – Cerpen Muhammad Nanda Fauzan (Koran Tempo, 12-13 Oktober 2019)

Dua tahun setelah pernikahan mereka, Tania dan suaminya dikaruniai seorang bayi perempuan yang cantik. Seperti ibunya, anak itu berkulit sawo matang dan rambutnya ikal. Hanya, kedua bola matanya lebih indah dari milik ibunya. Bola mata indah itu warisan sang ayah. Lelaki itu punya dua bola mata bagus warisan ibunya, nenek dari Fitry-demikian nama anak perempuan Tania dan suaminya.

Dari hari ke hari, Fitry tumbuh menjadi gadis kecil yang manis dan cantik, mengalahkan kecantikan ibunya sendiri. Rambut ikalnya mempertegas pesona yang dipancarkan bola matanya yang indah dengan kulit sawo matangnya yang eksotis.

Kini anak itu berumur enam tahun dan sekolah di sebuah sekolah dasar di Ribang, tempat dulu ibunya menyelesaikan pendidikan dasarnya. Setiap pagi dia berangkat ke sekolah, berjalan kaki dengan teman-temannya. Jam sebelas siang dia pulang ke rumah dan tiba di rumah-rumah berdinding papan kayu jati di dekat jembatan Wairpelit-sepuluh menit kemudian. Hal itu yang dia lakukan setiap hari ketika ayah dan ibunya pergi bekerja.

Suatu hari, waktu Fitry pulang sekolah, tiba-tiba dia merasa ada yang aneh dengan sekujur tubuhnya. Dia mendadak lemas, pucat, dan kedinginan. Dia kemudian tidur sebelum sempat makan siang. Waktu itu ayah dan ibunya belum pulang ke rumah.

Baca juga: Dari Tour de France hingga Hemingway – Cerpen Eko Darmoko (Koran Tempo, 05-06 Oktober 2019)

Sekitar jam tiga sore, Tania dan suaminya pulang ke rumah dan mendapati anak mereka sekarat. Mereka menelepon ambulans, dan ketika ambulans itu datang, mereka mengantar Fitry ke rumah sakit.

Satu minggu di rumah sakit, kesehatan Fitry tidak ada tanda-tanda membaik. Berhubung biaya rumah sakit sangat mahal dan suami Tania tidak memiliki kartu BPJS, mereka memutuskan untuk memulangkan Fitry dan merawatnya di rumah.

Karena zaman sudah berubah menjadi sedikit lebih maju, Tania dan suaminya memutuskan tidak memanggil dukun untuk mengobati Fitry. Mereka hanya membeli beberapa jenis obat di apotek di kota dan memberikannya kepada Fitry. Namun obat-obat kimia itu membuat kondisi kesehatan anak tersebut memburuk.

Tania dan suaminya hampir putus asa dan menyerah pada nasib. Tiada hentinya, siang dan malam mereka berdoa memohon kepada Tuhan agar anak mereka disembuhkan. Namun rupanya Tuhan punya kesibukan lain-mungkin Dia lebih suka mendengar puji-pujian yang menggema dari biara-biara di dekat rumah Tania-sehingga Dia tidak punya waktu memperhatikan air mata Tania dan suaminya.

Suatu sore, seorang pastor Katolik datang. Pastor itu sudah tua dan dialah yang dulu datang berkunjung saat Tania sekarat di usia enam tahun. Pastor tua tersebut mengelus-elus kepala Fitry dan menguatkan anak kecil itu. Sore itu dia menjadi satu-satunya tamu dan duduk menemani keluarga itu sampai jam sepuluh malam.

Baca juga: Sepasang Mata Gagak di Yerusalem – Cerpen Han Gagas (Koran Tempo, 28-29 September 2019)

Jam sepuluh malam pastor tua tersebut pamit dan berbisik ke telinga Tania dan suaminya.

“Kuatkan hatimu dan jangan lupa berdoa. Tadi siang saya bermimpi bahwa ada satu jenis dedaunan yang bisa menyembuhkan sakit anakmu ini. Daun pandu kadung. Daun itu hanya terdapat di hutan di perbatasan. Pergilah ke sana dan petiklah daun itu sebanyak sepuluh helai. Bawa pulang dan tumbuk sampai halus, larutkan dalam air dan berilah itu pada anakmu. Minum itu dan dia akan sembuh.” Kemudian pastor itu pergi.

Suami Tania berencana pergi malam itu juga ke hutan di perbatasan. Namun Tania melarang keras. Ia ingat dengan sangat baik, bahwa di malam ini, sekitar tiga puluh tahun lalu ayahnya pergi ke hutan yang sama dan tidak pernah kembali. Walaupun suaminya bersikeras untuk pergi, Tania bergeming.

“Pokoknya malam ini tidak ada yang keluar rumah. Titik.”

Menjelang jam dua belas tengah malam, seseorang mengetuk pintu. Tania membuka pintu, dan dari tengah kegelapan muncullah seorang lelaki tua.

“Itu pasti kakek,” Fitry berteriak dari dalam kamar.

Baca juga: Kejadian-kejadian di Meja Operasi – Cerpen Ida Fitri (Koran Tempo, 21-22 September 2019)

Dan memang benar. Dede Eto berdiri di pintu, dengan tubuh berbau asap. Orang tua itu menggenggam sepuluh lembar daun pandu kadung. Ia masuk ke rumah, langsung menuju dapur, menumbuk daun pandu kadung itu dan menghaluskannya. Kemudian dimasukkannya bubuk pandu kadung itu ke dalam segelas air, mendiamkannya sejenak lalu menuju kamar tidur dan memberikannya pada Fitry.

Anak itu meminumnya dan langsung sembuh seketika itu juga. Ia memeluk kakeknya dan mengucapkan terima kasih.

“Maaf, aku sedikit terlambat,” kata Dede Eto. “Terjadi kebakaran hutan besar-besaran di perbatasan. Hutan perbatasan itu sebagian besar sudah dilahap api. Aku bersama petugas pemadam kebakaran lain bekerja keras memadamkan api besar itu, sehingga terlambat pulang. Maaf. Sudah agak membaik, kan?”

Fitry mengangguk sambil tersenyum. 

 

Tommy Duang, mahasiswa semester VII Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero-Maumere. Tommy lahir di Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 26 Januari 1995. Dia tinggal di Ledalero dan bergiat dalam Komunitas Arung Sastra Ledalero. Beberapa cerpennya tersebar di media lokal di NTT.