Cerpen M Ikhwanus S (Minggu Pagi No 33 Th 72 Minggu IV November 2019)

Lelaki yang Menikahi Sepi ilustrasi Minggu Pagiw.jpg
Lelaki yang Menikahi Sepi ilustrasi Minggu Pagi 

Lelaki bertubuh ceking itu sudah jarang terlihat sembahyang di langgarnya Wak Salim. Biasanya, lima waktu tak pernah luput. Dengan memakai sarung lusuh, kemeja batik usang yang nyaris bertahun-tahun tak pernah ia ganti, bersama balutan songkok hitam berdebu, menutupi kepalanya yang plontos licin.

Siang itu, adalah Dhuhur kesekian kali ia tak terlihat di langgar. Wak Salim si pemangku agama, mulai keheranan. Ke mana pemuda dewasa itu pergi? Tumben-tumbennya tak pernah berjamaah lagi?

Penasaran merambati batin Wak Salim. Akhirnya, ia mendatangi rumah Mahrus setelah menabuh bedug dan kentongan sebagai penanda waktu solat.

Jarak antara memukul kentongan dengan azan, sekira lima belas menit. Dan jarak antara azan dengan takbiratul ihram, sekira lima belas menit lagi. Itu hanya adat masyarakat Andong. Kebanyakan penduduknya para peladang. Bermaksud memberi jeda. Apabila kentongan bertabuh, artinya cangkul kudu segera dilempar, arit segera disisihkan. Bergegas mandi, lantas ikut bergabung bersama Wak Salim menyembah Tuhan.

Wak Salim mengetuk pintu rumah si Mahrus. Satu ketukan. Dua ketukan. Tiga ketukan. Ditambahi panggilan senada teriakan. “Rus! Mahrus! Buka pintunya!”

Lima menit, tidak ada tanda-tanda suara manusia dari dalam rumah setengah reyot itu.

Wak Salim tak berputus niat, demi mengobati penasarannya, ia mengelilingi rumah Mahrus. Barangkali, ada celah yang bisa ia intip. Namun percuma. Walau dinding berkayu, Mahrus sangatlah cakap. Seolah tak mengizinkan satu senti pandangan pun mencuri keadaan ruangan di dalamnya.

Mahrus menjadi misterius. Ia memang terkenal pendiam. Tetapi, akhir-akhir ini sifat pendiamnya berubah makin tidak normal. Ketika berpapasan dengan orang lain, ia sedikit pun tak mau merautkan ucapan sapa.

Satu kecoak menjungkalkan tubuh gemol Wak Salim. Terhengkang-hengkang tersebab saking gelinya dirambati beberapa ekor serupa ukuran anak tikus. Otomatis, membuat lelaki bersorban putih itu segera balik ke langgar.

Kembali ke Mahrus. Pemuda itu terakhir kali diketahui muncul bintil-bintil kecil di jidatnya. Membuatnya ketika bersujud, tak bisa menempelkan kening ke dasar lantai secara sempurna. Bintil-bintil baru itu tampak ranum, ada sekira sepuluh bintil. Berisikan nanah kuning berkomposisikan merah darah. Sedikit saja lupa menaruh biji-biji matang itu ke lantai, bisa saja pecah, lalu lantai suci langgar akan ternodai oleh najis yang ia bawa sendiri.

Barangkali itu alasan Mahrus tak pernah ikut jamaah. Takut jika bintil-bintil di keningnya, membawa malapetaka. Konon, Mahrus menjadi sangat membenci jidatnya. Yang kudunya kening bisa ia jadikan kebanggaan. Tetapi lain, jidat menurutnya adalah kutukan.

***

Ini adalah Dhuhur ke sekian kali tanpa aroma apek bergabung dengan para jamaah. Istrinya Wak Salim cukup lega, ia membawa masuk setampah nasi jagung ke tengah-tengah.

“Selamatan apa, Bu Kaji?”

“Ei, ini. Kenduren kecil-kecilan. Selamatan habis beli motor baru.”

“Oala, banyak duitnya nih Bu Kaji.”

“Alhamdulillah, Buk. He he.”

“Jangan lupa, disiram air kembang loh Buk motornya, biar selamat!” saran seseorang.

“Oh, iya, Buk. Sudah tadi. He he.”

Kenduren dimulai. Bacaan sederhana. Tidak panjang-panjang. Diikuti jamaah lelaki dan perempuan. Surat al-Fatihah satu kali. Surat al-Ikhlas tiga kali. Surat al-Falaq satu kali, dan diakhiri surat an-Nas satu kali. Dipungkas dengan doa selamat dari bibir komat-kamit Wak Salim.

Para jamaah dengan lahapnya menyantap nasi kenduri. Tanpa adanya Mahrus, mereka bebas menikmati kemurnian rasa. Coba jika ada si lelaki kurus botak itu, si lelaki berbau kecut, yang konon kata orang-orang; saat Mahrus berkeringat, bau badannya setipe air kencing tikus. Dan bau kain sarungnya, seolah menembus dinding-dinding hidung hingga meresap ke otak. Sejenis bau-bauan kain serbet yang berminggu-minggu lamanya tidak dicuci. Sungguh, betapa kemprohnya si Mahrus, gerutu orang-orang.

Mahrus hidup sebatang kara. Sebetulnya, ia punya budhe. Kakak dari ibunya yang sudah meninggal sepuluh tahunan lalu. Namun, budhenya repot mengurusi toko sembakonya. Anaknya juga banyak. Nyaris Mahrus tidak kebagian perhatian walau hanya sebatas manusia.

“Kasian juga yah si Mahrus. Harusnya dia itu mau bantu-bantu budhenya ngurus toko. Atau mending kerja apa gitu di kota. Daripada hidupnya tambah nggak jelas.” Seperti biasa, obrolan ibu-ibu di antara amisnya lapak ikan di gardu pojok.

“Masalahnya, dia itu jorok, Mbak Yu. Anaknya itu juga dari dulu pendiam kayak orang bisu saja. Kayak nggak mau kenal gitu sama orang-orang. Ah, sudahlah Mbak Yu, nggak usah kita ngurusi hidup orang lain, yah. Hidup kita sendiri aja masih susah!”

***

Setelah kemunculan beberapa ekor kecoak seukuran anak tikus merambati kaki Wak Salim, kini keheranan warga tergetak kembali oleh ketidakmunculan beberapa ekor kucing yang biasa mencuri ikan warga. Begitu pula kucing piaraan Mia. Sepupu Mahrus itu. Tidak tanggung-tanggung, tiga ekor kucing persia berbandrol jutaan rupiah, kandas. Lenyap entah ke mana. Tiba-tiba saja, dua hari kucing kesayangan Mia itu tidak pulang. Sontak, Mia meraung-raung. Setengah gila menangisi tiga hewan kesayangannya lenyap.

Warga mulai curiga pada Mahrus. Jangan-jangan, dialah pencurinya. Siapa lagi yang pantas dituduh selain dirinya. Di kampung hanya tersisa satu orang itu yang kini makin dianggap tidak waras. Pernah pada suatu malam, terdengar teriakan mengerikan dari dalam rumah Mahrus. Lelaki berbadan tanpa lemak itu seperti perang dengan jin. Berteriak kencang di pusat malam. Persis serigala melolong di bawah pendar gerhana.

Waktu bertambah, Mahrus makin jarang memperlihatkan batang hidungnya bahkan ke udara. Ia hanya sekilas menyelinap, mengangsu air di keran belakang rumahnya, sebelum para petani berangkat ke ladang. Alias pagi masih belum bertunas. Setelah itu, ia memenuhi segentong besar, kemudian seumbul asap melenggang melingkari atap dapurnya yang menghitam. Dari bumbung asap seperti menyerbakkan aroma gurih tak biasa. Sempat terendus budhenya. “He, Mahrus! Masak apa kamu?! Nikah saja loh kamu, Mahrus! Warasno sintingmu itu! Biar laku kamu itu! Kawin sana sama wedok!!!” Omelan si budhe seperti biasanya.

Budhenya beberapa kali memberinya uang sebagai titipan warisan dari adiknya. Tetapi, uang itu tidak pernah ada wujud di tangan Mahrus. Harusnya, bisa Mahrus buat simpanan atau pegangan. Pernah suatu ketika Mahrus malah berhutang satu juta rupiah ke budhenya, tetapi tak serupiah pun mau menolong.

“Sudahlah, Rus! Saya kapok sama kamu!” Tolakan bersama umpatan. Semenjak itu pula Mahrus tak pernah lagi menyapa budhenya. Dan menganggap budhenya tidak pernah ada.

Usut punya usut, tabungan Mahrus ludes. Ia ditipu oleh seseorang. Modal beberapa juta yang ia kumpulkan ke seseorang itu, tak pernah berbunga. Beralasan usaha mengalami gulung tikar. Otomatis, modal dari Mahrus tidak bisa dikembalikan. Spontan, ia begitu terpukul. Ia bisa apa? Menagih pun percuma.

***

Begitulah sekilas riwayat Mahrus. Kini, kisahnya telah purna. Hampir satu bulan ia tak pernah menongol. Rumahnya tergembok rapi. Kesabaran warga berbatas. Bersama perangkat desa, mereka mendobrak pintu rumah kayu itu. Disaksikan si budhe, Mia yang curiga bahwa Mahrus adalah pencuri kucing importnya, dan satu orang lagi penipu si Mahrus yang tak lain dan tak bukan adalah Wak Salim sendiri.

Pintu berhasil didobrak. Semua jendela dan pintu, ternyata dipalang dari dalam oleh si Mahrus. Bau busuk tersedot indra penciuman. Beberapa ekor kecoak raksasa, menyambut. Berjingkraklah orang-orang dalam kegelian masing-masing. Hidung-hidung mereka sumpali rapat. Apa kiranya yang terjadi di dalam? Rumah penuh sawang dan debu. Aroma kulit tikus lantas menghiasi sudut-sudutnya.

Satu teriakan hebat dari seseorang yang berhasil sampai lebih dulu di dapur Mahrus, mengabarkan sebuah mayat tengah menggantung. Seonggok bangkai manusia berselaput baju lusuh berlendir. Kepala si mayat meleleh serupa bola dengan beberapa biji rambut saja. Dari bagian kaki, menetes cairan kental kehitaman. Bau busuk membuat semua orang mengaduk-ngaduk isi lambungnya. Memuntah ludah. Seisi kotoran dalam usus para pembau, seolah ikut menanjak bersama seisi lambung, lalu memuncrat bersama, mirip bubur tiada rupa.

Mayat itu sepertinya sudah lama bertali di bawah rangka atap. Mukanya nyaris hancur oleh proses pembusukan. Dan tak jauh dari mayat menggantung itu, ditemukan bekas kerangka kucing di sebuah piring seng. Juga toples-toples berisikan kecoak raksasa.

Ada selembar kertas di meja, menggidikkan orang-orang semua. Sebuah nada ancaman:

Aku tunggu kalian semua di neraka! Kalian bukan manusia beriman, membiarkan diriku kelaparan dan mati dalam sepi!!!

 

M Ikhwanus S, lahir di Pasuruan, 14 September 1989. Kini tinggal di Surabaya. Menggemari sastra sejak remaja. Pernah melahirkan novel bertajuk Palestina. Selain sibuk mengarang cerpen dan membaca buku, ia bekerja sebagai customer service di sebuah perusahaan swasta.