Cerpen Khairun Nisa (Analisa, 20 November 2019)

Alya ilustrasi Alwie - Analisaw.jpg
Alya ilustrasi Alwie/Analisa 

LANGKAH kakiku terasa begitu berat, menyeret dedaunan gersang yang senantiasa menghujaniku kala itu. Sepi, hanya deru angin kencang yang menerbangkan helai demi helai dedaunan yang terserak berantakan. Aku tak tahu berada dimana diriku saat ini. Hatiku begitu hancur, ingin berteriak sekeras yang kubisa dan menangis sepuas-puasnya.

Terkadang aku marah pada Tuhan. Mengapa ia memberiku kehidupan jika akhirnya ia membuatku berada dalam keterpurukan ini? Rasanya aku ingin mati saja. Sungguh, aku lelah menopang semua beban yang kubawa dikedua bahuku selama ini. Ayahku seorang lelaki kasar yang selalu menghabiskan waktunya dengan minuman-minuman keras, ibuku seorang wanita pekerja keras yang tak peduli dengan kondisi apapun kecuali uangnya, sementara kakakku wanita yang begitu baik hati terhadap semua orang, bahkan ia begitu menyayangiku. Namun sayangnya aku tidak begitu suka mengobrol dengannya karena syndrom otak yang dialaminya sejak lahir.

“Aa… aa…” panggil seseorang dari belakang yang sepertinya kukenali suara itu.

“Kakak?” heranku ketika menoleh ke arahnya, “Kakak ngapai ada di sini? Pergi Kak, pergi!” suruhku, namun ia tak mau pergi juga.

Ternyata sejak tadi ia mengikutiku. Aku sendiri pun baru ingat, jika sepulang sekolah tadi aku kembali ke rumah, namun baru saja berhenti di depan pintu utama aku mendengar pertengkaran hebat antara ayah dan ibuku yang hampir setiap harinya aku dengar. Pagi, siang, sore, petang, bahkan tengah malam sekali pun hal itu selalu terdengar jelas di indra pendengaranku. Aku muak! Aku tak ingin mendengarnya lagi, hingga akhirnya aku berlari hingga membawaku ke tempat ini. Sebuah taman yang dipenuhi dengan pepohonan.

“Adik, ayo pulang.” ajak kakakku dengan bahasa yang tidak jelas, bahkan aku sendiri tak mengerti apa yang ia katakan. Bisa dibayangkan bagaimana seorang wanita autis berumur 23 tahun berbicara? Yah, begitulah. Air liurnya mengalir membasahi leher hingga bajunya yang berwarna putih, namun begitu kotor terkena sisa makanan, tangannya pun penuh dengan bekas cokelat dan roti selai strawberry favoritnya.

“Ih Kakak. Jorok banget, sih!” marahku sembari menghapus kotoran di wajah serta tangannya dengan sapu tangan milikku, “Lain kali kalau makan tuh yang benar dong,” kataku lagi namun ia hanya tertawa-tawa melihatiku.

“Ibu…” katanya sembari menunjuk ke arah yang aku tak mengerti dimana.

“Apa?”

“Ibu… dipukul Ayah…” katanya dengan bahasa tangan yang tetap saja aku tak mengerti, “Di sana…”

“Dipukul? Siapa?”

“Aa.. aa…” Ia terus menarik tanganku menuju tempat yang ia tunjuk sejak tadi.

Jujur saja, ia adalah satu-satunya teman yang aku miliki di dunia ini. Walaupun aku tak begitu suka mengobrol dengannya, tapi sungguh sebenarnya aku sa­ngat sayang padanya. Hanya saja ia tidak bisa berkomunikasi dengan baik terhadap siapa pun, hingga aku pun selalu dibuat kesal olehnya. Maka itu lebih baik aku tak mengajaknya untuk mengobrol, karena percuma saja orang seperti ia tidak akan mengerti. Sesekali aku mengajaknya mengobrol hanya untuk menyuruhnya makan, mandi, istirahat dan sekedar hal kecil lainnya. Selebihnya aku lebih memilih untuk diam tak berbicara walaupun ia terus sibuk mengajakku bermain bersama.

Setelah berjalan hampir sekitar lima belas menit lamanya, aku dan kakakku pun sampai ke tempat yang ia tunjuk sejak tadi. Ternyata rumahku sendiri. Aku terdiam sebentar. Kenapa kakakku malah menunjuk rumah diiringi dengan kata ‘pukul’ sepanjang jalan? Lagi-lagi aku menatap lekat kakakku yang masih terus mengatakan hal yang sama seperti tadi.

“Ibu dipukul Ayah?” kagetku baru tersadar dengan maksudnya. “Ibu!” kataku langsung menuju ke dalam rumah untuk melihat kondisi Ibu.

Aku melihat wajah sembab di mata Ibu, sepertinya ia baru saja menangis. Bukan hanya itu saja, aku juga melihat luka memar di sudut bibir kanannya. Sepertinya ayah benar-benar memukul ibu. Astaga! Masalah apa lagi ini.

“Ibu kenapa? Ayah mukul ibu lagi?” tanyaku pada ibu yang hanya diam membereskan dokumen-dokumen berantakan di atas meja kerjanya, “Ibu jawab Alya, Bu. Ibu kenapa?”

“Kamu gak perlu tahu masalah antara ibu dan ayah,” jawabnya begitu jutek.

“Tapi ayah udah keterlaluan, Bu. Alya gak bisa biarin hal ini terjadi lagi sama Ibu. Alya harus bicara sama ayah,” kataku ingin beranjak, namun secepat kilat ibu menarik lenganku.

“Ibu udah bilang berkali-kali, kamu gak perlu tahu masalah ibu dan ayah!”

“Engga, Bu. Alya harus bicara sama ayah!”

“Alya!” tampar ibu tepat di pipi kananku hingga membuatku terdiam menatapnya, “Ibu mohon, jangan tambah kekacauan keluarga kita lagi.” katanya yang kulihat penuh dengan rasa sedih.

“Apapun masalah kalian, aku benci kalian semua!” kataku beranjak pergi sembari memegangi pipiku yang terasa sakit, bahkan aku tak bisa menahan air mataku. Ibu selalu begitu padaku, ia tak pernah menyayangi aku seperti ia menyayangi kakak.

Aku pergi menuju atap perpustakaan sekolah. Setiap harinya, tempat itulah yang menjadi tempat favoritku ketika aku sedang berada dalam keadaan hati yang kacau dan berantakan. Karena sekolahku terbuka setiap hari dan setiap saat, di sanalah biasanya aku menangis sembari melihati indahnya langit yang seketika dapat menenangkanku. Saat itu juga, aku menangis dan berteriak sekeras-kerasnya “Aku benci kalian semua, aku benci!” Tangisku semakin pecah.

Tak terasa hampir kurang lebih tiga jam aku berada di sana, namun aku tak juga bosan. Aku sedikit melirik arlojiku, hari semakin petang. Sudah waktunya aku pulang walaupun sebenarnya aku sangat malas untuk kembali ke rumah itu lagi. Namun aku memikirkan bagaimana dengan kakakku. Pasti ia kelaparan, kedinginan, dan kesepian. Aku harus pulang segera. Begitu pikirku setelah keadaan hatiku sudah mulai sedikit membaik. Aku harap, ketika aku pulang nanti tidak ada teriakan, tangisan, kekerasan, dan perteng­karan lagi di antara kedua orangtuaku. Sungguh, aku sangat berharap hal itu.

“Kakak? Alya pulang,” kataku setelah sampai di rumah.

“Aa… aa… Ibu belum pulang,” katanya lagi-lagi dengan bahasa yang tak ku mengerti.

“Apa?”

“Ibu…”

“Ibu?” tanyaku meyakinkan bahwa apa yang ku dengar itu benar, “Ibu hari ini gak pulang, Kak. Dia pergi ke Bandung untuk kerjaannya.”

“Aa.. Kakak belum makan,” katanya yang kali ini diiringi dengan bahasa tangan.

“Kakak lapar? Alya masak mie instan, yah?” tanyaku yang dijawabnya dengan anggukan “Setelah itu kakak istirahat.”

***

Pagi pun datang kembali. Aku membuka jendela kamarku untuk menghirup sedikit hawa dingin dihari libur minggu ini, sungguh nikmat rasanya. Terlebih ketika melihat terik matahari yang seolah tersenyum mengarahku, menyuruhku untuk ikut bersemangat di awal hari ini. Kicauan burung senantiasa terdengar seperti menyanyikan lagu bertema keceriaan. Lagi-lagi aku berharap suatu hal yang sama seperti biasanya.

“Ya Tuhan, kumohon. Jangan biarkan hariku yang cerah terbasahi hujan deras dan juga guntur yang keras. Jangan biarkan kedua orang tuaku memulai hari dengan pertengkaran lagi, kumohon…”

Belum sempat sedetik aku bermohon pada Tuhan, aku mendengar suara pecahan kaca berasal dari arah ruang utama. Ayah dan ibu bertengkar lagi? Aku mendecak frustasi sembari memukul-mukul kepalaku, kemudian menghampiri mereka berniat untuk menghentikan semuanya. Namun usahaku gagal, ayah malah semakin marah pada ibu dan juga aku.

“Ayah! Berhenti, Yah! Cukup!” jeritku terus menarik tangan ayah agar berhenti menghancurkan semua barang yang ada di ruang utama.

“Kamu jangan ikut-ikutan! Pergi kamu dari sini,” bentak Ayah padaku.

“Kamu jangan bentak Alya, ini semua salah kamu!” sambar ibu.

“Salah aku? Terus gimana dengan keluarga kamu?”

“Kok kamu jadi nyalahi keluarga aku?”

“Ayah! Ibu! Aku mohon!” kataku disela pertengkaran mereka.

“Kamu yang menciptakan semua masalah ini!” kata ibu yang terus menyalahkan ayah.

“Diam kamu!” secepat kilat tangan ayah menuju wajah ibu, namun aku pun menghalang berdiri di depan ayah, hingga pukulan itu malah mengenaiku. Tubuhku yang kecil seketika terhempas hingga kepalaku terbentur keras ujung meja kaca, setelah itu pandanganku begitu gelap dan aku tak sadarkan diri.

“Alya!” kata ayah mulai menghampiriku dan langsung menggendongku membawaku ke rumah sakit.

“Aa.. aa..” Kakakku pun menangis melihat keadaanku saat itu.

Selama empat jam lamanya aku terbaring lemah tak berdaya di atas brankar putih rumah sakit, luka di ujung keningku terlihat begitu jelas dibalut dengan perban. Tubuhku terasa begitu lemah kala itu, aku merasakan kedinginan yang amat sangat mendalam merasuk tubuhku.

Saat itu juga, aku merasa bukan hanya membenci keluargaku saja, namun aku juga membenci Tuhan.

Kenapa ia menulis takdir buruk ini untukku? Jika begini, lebih baik aku mati saja. Benar! Aku ingin mati saja.

Samar-samar aku terdengar isakan seorang wanita. Sepertinya ia begitu merasakan kesedihan. Bukan hanya itu, aku juga sedikit merasakan genggaman tangan seseorang membalut telapak tanganku yang terasa begitu dingin tadinya, hingga aku merasakan kehangatan. Mataku pelan-pelan terbuka, napasku pun sedikit demi sedikit ku atur lebih baik. Aku menoleh kearah orang itu.

“Ibu…” kataku begitu pelan bahkan menyerupai bisikan tak terdengar.

Ternyata tangan hangat yang membalut tanganku itu adalah tangan Ibu. Jujur saja, ini pertama kalinya ibu menggenggam tanganku setelah 17 tahun aku hidup di dunia ini. Air mataku menetes, entah karena sedih atau pun bahagia, namun kuyakini kedua perasaan itu beradu menjadi satu.

“Ibu…” kataku lagi yang kali ini lebih terdengar jelas, bahkan isak tangisku juga.

“Alya? Kamu udah sadar, sayang? Alhamdulillah,” ibu langsung memelukku begitu bahagia rasanya. Aku bukan hanya melihat ibu, namun ayah, dan juga kakak ikut menangis setelah kesadaranku. Apa mereka semua menungguku? Apa benar begitu?

“Maafkan Ibu, Alya. Maafkan Ibu,” ucap ibu sembari menangis.

“Ayah juga minta maaf sama kamu, ini semua salah Ayah,” sambar ayah.

“Engga, Yah, Bu. Ini bukan salah kalian. Tapi, Alya harus tahu apa yang membuat kalian selalu bertengkar.”

Ibu melirik ayah dahulu sebelum memulai penjelasan, “Maaf selama ini Ibu dan Ayah menyembunyikan hal ini dari kamu. Sebenarnya kamu itu, bukan anak kandung Ibu,” kata ibu seketika membuatku terdiam kaget, “Kamu adalah anak selingkuhan Ayah 18 tahun yang lalu.”

Ayah menyambung cerita ibu, “Orangtua ibu, tidak setuju jika ayah menikah de­ngannya, terlebih lagi ketika kami melahirkan anak yang tidak normal seperti Rara. Setelah ayah mendapat segala macam hinaan dari keluarga mereka, ayah memutuskan untuk menikah lagi tanpa sepengetahuan ibu dan melahirkan kamu, tapi setelah melahirkan kamu, bunda kamu meninggal, Nak. Itu sebabnya ayah kembali lagi dengan ibu dan meminta ibu agar merawat kamu karena ayah tidak memiliki siapa pun lagi, tapi ibu menolak karena ayah pun tahu bagaimana kemarahan Ibu saat itu.”

“Ayah…” tangisku semakin pecah.

“Maafkan Ibu, Alya. Ibu sadar, ternyata Ibu juga sayang sama kamu. Tapi karena keegoisan dan kemarahan Ibu yang membuat Ibu seolah membenci kamu. Ibu sayang sama kamu, Nak,” memelukku begitu erat beserta ayah dan kakakku.

“Alya sayang kalian semua,” kataku akhirnya berterima kasih pada keluargaku dan juga Tuhan. Ternyata Tuhan malah menulis takdir terbaik untukku, Tuhan juga sayang padaku. ***