Cerpen Haryo Pamungkas (Rakyat Sultra, 18 November 2019)

Mawar, Hujan, dan Kereta ilustrasi Istimewa.jpg
Mawar, Hujan, dan Kereta ilustrasi Istimewa

Lelaki tua itu baru saja akan menutup toko bunganya di pojok stasiun sebelum seorang wanita tiba-tiba berdiri di depan pintu dan berjalan masuk menuju sudut dekat jendela. Di sana, di dalam pot di atas meja memekar setangkai mawar. Tegak dan merah; dan begitu mencolok di antara bunga-bunga lain. Wanita itu pun menatap dalam setangkai mawar itu, tanpa berkata apa-apa. Bahkan ia tak menoleh ke arah lelaki tua sama sekali. Lelaki tua, dari tempatnya kemudian berpikir, barangkali, wanita muda ini berniat membeli bungaku. Sontak matanya berbinar; dadanya seolah-olah memekar, mantap ia berjalan ke arah si wanita berdiri menatap satu-satunya mawar di tokonya, hendak menjelaskan.

Baru beberapa petak ia melangkah, tiba-tiba ia mendengar sebuah gumaman. Pelan saja dan lirih, keluar dari mulut si wanita: “Ma … war …” seperti mengeja. Kemudian ia berhenti. Wanita itu menoleh; beralih menatapnya, seakan mengerti.

“Ma … war.” Wanita itu mengulangi.

Ia sempat terheran-heran. Semacam mendapati sesuatu yang janggal.

Benar, Nona, itu memang mawar. Bukankah semua orang juga mengerti?

“Mawar!” Tapi wanita itu tetap mengulangi, seakan-akan tak hirau. Tangannya menunjuk setangkai mawar dalam pot.

“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” demikian ia coba bertanya. Seraut keheranan masih terlihat pada wajahnya. Meskipun begitu ia berusaha tetap tersenyum ramah.

Di luar, titik-titik hujan tiba-tiba jatuh. Ia sempat mendengar bunyi tik tik tik yang pelan dari atas genting. Sekelibat ia membayangkan kepulangan yang terlambat. Senja yang basah dan jalanan yang tergenang bukanlah hal bagus, pikirnya. Kemudian ia coba mengingat apakah ada payung di toko bunga ini. Tapi lamunan itu segera pecah, seiring wanita itu menjawab.

“Hu … jan,” jawab wanita itu. Datar, dingin, dan tetap lirih. Dan tak berhubungan dengan pertanyaannya.

“Ahh, ya, Anda benar, Nona, hujan mulai turun!” ia mencoba mengikuti perkataan wanita itu, masih ramah, meski juga semakin terheran-terheran—tak mengerti benar. Apa yang dibutuhkan wanita ini sebenarnya?

Tetapi wanita itu justru beralih menatap ke luar jendela. Menatap rintik-rintik hujan dan para pengendara yang meneduh di seberang.

Beberapa saat mereka hanya terdiam. Seperti patung, seperti sama-sama sedang merenungi hujan di luar sana. Suara hujan di genting semakin memburu, titik-titik yang cepat dan banyak. Jalanan sudah basah, udara dingin masuk dari pintu yang terbuka, membawa aroma tanah yang basah; aroma petrikor yang menyejukkan.

Dalam waktu yang singkat itu ia kembali mengingat-ingat: ah, sampai mana tadi? Payung, benar, hmm, apakah payung itu masih pada tempatnya? Selanjutnya, ia justru semakin berandai-andai, kali ini tentang makan malam. Ia membayangkan betapa seharusnya ia sudah berada di rumah bersama sup ayam panas, kopi pekat tanpa gula, musik klasik … dan cerita-cerita Budi Darma di atas ranjang tuanya. Betapa …

Tiba-tiba saja suara kereta terdengar dari utara. Memekik panjang, di antara suara rintik hujan.

“Ke … reta …” wanita itu kembali bergumam. Tetap datar, pelan, dan semakin lirih. Dan segala lamunannya tentang makan malam hilang sepenuhnya.

Ia kini tak menjawab, hanya mengembuskan napas panjang. Saat kereta semakin mendekat, suara dan getarannya semakin terasa.

“Kereta!” Ulang wanita itu. Mimik mukanya semacam mendapati sesuatu, entah apa.

Tapi akhirnya ia menyerah. “Benar, Nona, itu kereta,” sahutnya. Nada suaranya sedikit berubah meski senyum masih tersungging di bibirnya yang tua.

Di luar, hujan semakin meletup-letup …

“Mawar,” wanita itu kembali mengalihkan tatapan pada setangkai mawar, kemudian melanjutkan.

“Hujan,” katanya, segera matanya beralih ke luar jendela.

“Dan kereta,” lagi-lagi ia mengulang apa yang diucapkannya beberapa detik lalu.

“Mawar, hujan, dan kereta …” wanita itu terus mengulangi.

“Mawar … hujan … dan kereta …”

“Mawar.”

“Hujan.”

“Dan kereta.”

“Mawar, hujan, dan kereta!”

Ia hanya berdiri mematung di depan wanita itu. Kepalanya kesulitan memastikan maksud si wanita. Apakah wanita ini sinting? Ia sempat mengira, tapi kemudian tanpa ia sangka, wanita itu melangkah ke pintu keluar, begitu cepat, kemudian berlari ke tengah jalan.

Ia masih berdiri di tempatnya semula, bibirnya melongo, kepalanya berkutat keras. Mencoba menerka-nerka.

Wanita itu melenggang begitu saja; keluar menuju jalanan. Di bawah hujan di jalanan itu ia berdiri, mendongakkan wajahnya ke atas; seperti menyambut titik-titik hujan kemudian perlahan memutar tubuhnya, 360 derajat. Tubuhnya berputar, berputar, dan berputar. Seperti seorang balerina. Titik-titik hujan jatuh di rambutnya yang legam, di sekujur tubuhnya, dan bajunya mulai basah.

Kemudian ia berhenti. Wajahnya terlihat seperti membayangkan sesuatu. Sesuatu yang entah. Kemudian ia kembali berputar, semakin cepat, cepat, dan cepat, sambil bergumam, “mawar, hujan, dan kereta,” berulang-ulang.

Aneh, para pengendara yang semula berteduh justru berbondong; berjalan ke arah wanita itu. Mereka tak menghiraukan hujan dan basah. Satu pengendara, disusul pengendara lain, disusul yang lain, hingga para penumpang yang baru turun dari kereta dan pegawai stasiun ikut berkumpul bersama wanita itu, di bawah hujan yang semakin menderas.

Mereka kompak membuat lingkaran dan wanita itu tepat berada di tengahnya. Orang-orang tak berhenti berdatangan; hingga jalanan di depan toko bunga nyaris penuh. Satu orang yang mengenakan baju pegawai stasiun kemudian berteriak keras, ”Nyalakan!” kemudian disusul yang lain, semacam estafet suara. “Nyalakan …!” “Nyalakan!”

Suara kereta meraung keras. Nada keberangkatan kereta terdengar dari arah stasiun. Meski seharusnya tak secepat ini kereta berangkat.

Orang-orang di kerumunan berputar; ikut menari selayaknya wanita itu. Kompak seluruhnya. Di bawah hujan, badan yang basah dan suara kereta terus meraung-raung. Kereta tak kunjung berangkat. Atau barangkali kereta itu hanya ingin …

“Mawar, hujan, dan kereta,” wanita itu memulai.

Kemudian orang-orang yang membentuk lingkaran itu menirukan. “Mawar, hujan, dan kereta!” mula-mula beberapa orang saja, kemudian dengan cepat, yang lain menyahut. Saling sahut-menyahut kemudian serempak berkata, “Mawar, hujan, dan kereta!”

“Mawar …” “Hujan …” “Dan kereta …”

Lelaki tua pemilik toko bunga itu masih melongo di tempatnya. Seakan-akan tak percaya, setelah sekian lama hidup, pikirnya, baru kali ini melihat kejadian semacam itu. Apakah orang-orang itu mengenal si wanita? Ah, siapakah dia sebetulnya? Keras ia coba berpikir. Matanya lurus menatap putaran besar; lingkaran orang-orang yang berbutar serempak. Suara mawar, hujan, dan kereta tak henti-henti terdengar. Seperti suara dukungan suporter bola.

Hujan semakin menderas. Suara gemerisik di atas genting beradu bersamaan suara kereta yang tak henti meraung dan suara-suara dari jalanan.

Hanya kemudian, mereka tiba-tiba berhenti. Segala gerakan memusingkan itu berhenti. Kerumunan yang tepat berada di depan pintu toko bunga tiba-tiba menyisih, semacam membuat jalan, seperti laut menyilakan Musa. Mereka terus menyisih hingga wanita itu terlihat dari tempatnya berdiri; ia masih menari.

Seseorang, entah dari mana, berteriak keras. “Bawa bunganya, Tuan!” Kemudian orang lain menyahut, “Bawakan bunganya!” Disahut lagi, “Bunganya! Bunga mawarnya, Tuan!”

Seolah-olah semua orang beralih menatapnya, termasuk si wanita yang berada di tengah jauh. Menatap sambil menari. Ia merasa mereka menginginkannya berjalan ke tengah, menuju ke tempat si wanita, membawa setangkai mawar di sudut dekat jendela itu.

Sesuatu, seperti mendorongnya. Entah apa. Ia seperti tersihir. Tanpa berpikir ia melangkah ke tempat mawar, mengambilnya, kemudian berjalan keluar. Ia merasa seperti pahlawan yang disambut, rintik hujan jatuh di atas rambut yang putih. Tapi bahkan ia tak hirau. Rintik hujan terasa seperti air hangat yang menenangkan.

Ia berjalan, menuju tempat si wanita menari …

Mawar, hujan, dan kereta … mawar, hujan, dan kereta … mawar, hujan, dan kereta…

Kata-kata itu masih keluar dari wanita itu, sambil terus memutar tubuhnya, menari.

***

Di satu sore, seorang lelaki tua memutar-mutar tubuhnya; menari di bawah hujan di jalanan di depan toko bunganya. Menari seorang diri, di tangannya, mekar setangkai mawar dalam pot. Ikut berputar dalam irama yang cepat.

Hujan, tapi ia tetap menari sambil membayangkan: toko bunga, pernah adalah segalanya.

Ia bahkan tetap menari, ketika orang-orang yang meneduh memperingatkan. Dan ia terus saja membayangkan: pernah satu masa, mawar adalah cinta itu sendiri. Mawar, dan sepasang lansia yang duduk di taman pada satu senja. Mawar, dan seorang lelaki yang memainkan biola untuk kekasihnya. Selalu mawar, ketika seorang pria menyatakan cinta pada sore yang gerimis di tepi Jembatan Kembar. Dan tetap mawar, yang diletakkan seorang lelaki tua di atas pusara istrinya setiap hari. Bahkan, bukankah ia juga pernah memberi seorang wanita setangkai mawar yang ia taruh sembunyi-sembunyi di atas bukunya pada satu sore di perpustakaan; bersama satu surat yang ia tulis gemetaran sedemikian lamanya?

Kemudian hujan, ia membayangkan, dan seorang wanita berjalan masuk ke stasiun. Membawa buku yang sama dan mawar yang telah kering. Menoleh sesaat, kemudian kembali berjalan. Dan bukankah kereta, dan seorang wanita yang meninggalkan dirinya pada satu waktu di mana mawar, hujan, dan kereta adalah ingatan paling nadir setelahnya, hingga ia tua. (*)

 

 Haryo Pamungkas, lahir di Jember, Jawa Timur, 9 Maret 1998. Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jember. Sejak 2017, karyanya berupa cerpen, opini, esai, dan puisi terpercik di media cetak dan daring. Buku antologi cerpen pertamanya berjudul Senja di Jembatan Kembar (Jejakpubsliher, 2018). Penulis dapat dihubungi via pos-el: pakujatuh@gmail.com, Facebook: Haryo Pamungkas; @haryokpam(Ig, twitter).