Cerpen Inas Pramoda (Radar Malang, 17 November 2019)

Tenung ilustrasi Radar Malangw.jpg
Tenung ilustrasi Radar Malang

Semalam sebuah bola api memancar di langit. Ia terbang menjauh keluar desa bak bintang jatuh. Zuhayati tak sengaja melihatnya dari balik jeruji jendela di kamar. Bayinya yang baru tujuh bulan merengek dan memaksa Zuhayati terjaga malam-malam buta. Sambil menimang dan menyusui oroknya, ia berdiri dan menghampiri bingkai jendela. Temaram bulan purnama memikat Zuhayati untuk menengoknya lebih dekat. Lalu bola api yang entah dari mana asalnya lewat tanpa isyarat. Zuhayati tiba-tiba terlonjak. Padahal belum lewat seminggu sejak penampakannya terakhir kali di langit desa. Zuhayati meski gentar, namun bersyukur sempat melihat laju bola api itu. Seketika tatkala wujudnya diketahui, bola api itu lenyap seperti lilin tertiup angin. Tenung yang berupa bola api, telah lama dipercaya akan runtuh saat ada seseorang yang memergokinya terbang.

“Mas, Mas, bangun…”

Suaminya melenguh enggan tergugah. “Ada apa toh, Dek?” gumamnya sembari tetap terpejam.

“Bola api, Mas, ini kelakuan Mbah Anom mesti ya.”

“Owalah… sudah hilang kan? Sini tidur lagi,” ujarnya sambil menepuk-nepuk sisi ranjang yang kosong.

“Mas ini loh… anakmu masih netek kok disuruh tidur.”

“Hmm…” Slamet sempurna terbius mimpi.

Esok paginya, gerobak sayur Sardi ramai dikepung ibu-ibu. Apalagi sebabnya kalau bukan cerita bola api semalam. Sardi harus rela lapak rezekinya digunakan sebagai tempat nimbrung mereka. Matanya awas, khawatir ada yang sudah membungkus sayur tapi lupa membayar. Zuhayati sambil menggendong anaknya berkisah menggebu-gebu. Ibu-ibu lain jadi pembanding.

“Bocah lanangku ini loh yang jadi saksi,” Zuhayati menepuk-nepuk bayinya yang melongo.

“E…e… aku lihat kemarin pak Misrawi mampir ke rumah Mbah Anom,” Fitri menanggapi.

“Oh iya… dengar-dengar kampung sebelah memang lagi masa pemilihan kades loh,” saut Saniah.

“Walah, pas toh kalau begitu. Pak Misrawi kan nyalon jadi kades,” sambut Rohana.

“Mesti saja, wah… coba kalau bu Yati tidak lihat bola api semalam. Pasti pak Sukri sudah mati hari ini.” Saniah menggebrak gerobak sayur Sardi. Beberapa tomat terjungkal. Sardi langsung sambat. Akhirnya Saniah minta maaf sambil memunguti tomat-tomat yang tergeletak di tanah.

Sardi menelan ludah dan serasa napasnya tercekik, pupil matanya bergetar melihat sosok Mbah Anom yang berjalan hanya beberapa langkah dari lapaknya. Sardi berdehem memberi isyarat kepada ibu-ibu agar segera membungkus obrolan, dan enyah. Mbah Anom kian dekat. Mungkin hawa keberadaannya mengelus tengkuk ibu-ibu yang masih bergumul. Mereka langsung sadar sedang berhadapan dengan kengerian. Bayi Zuhayati sontak menangis, meronta-ronta. Sang ibu masih kalut, beserta perempuan yang lain. Tanpa perintah, mereka segera meringkas belanjaan pagi itu, dan membubarkan diri. Tinggal Sardi dan gerobak sayurnya yang terpaku. Ia bahkan tak sadar Rohana dan Saniah belum membayar.

Mbah Anom tak berkata-kata. Selalu begitu tiap hari. Tak ada seorang di desa yang ingin berbagi suara dengannya. Mbah Anom sudah sepuh, kakinya digerogoti penyakit gula darah sejak bertahun-tahun. Di beberapa bagian kulitnya sudah mengelam hitam. Rambutnya gondrong bergelombang, terurai melewati bahu, dan putih-putih helainya. Dengan kumis beruban yang tak terawat, juga pakaian berwarna suram, seakan aura jahat keluar dari pori-porinya. Mbah Anom terkenal di desa sebagai tukang tenung. Dukun adiluhung. Ia tak mencari nama baik, dan nama baik tak pernah tersemat kepadanya.

Meski warga meyakini seluruh kejadian buruk yang terjadi di desa, atau kampung-kampung tetangga, adalah kelakuan Mbah Anom, mereka tak pernah berani mengambil sikap. Sekadar lewat di depan gubuknya pun segan. Mereka memilih tak ikut campur, jauh-jauh, dan berharap ia segera mampus saja. Di desa itu, ada dua orang yang dianggap hanya serupa sampah. Selain Mbah Anom, seorang lagi ialah lelaki paruh baya yang menghabiskan sisa umurnya dengan menenggak arak dan berjudi. Parman namanya, ia mengepul sampah dan menjualnya ke tengkulak. Parman seperti tak bisa lagi hidup lebih berarti. Dan tiap ada berita warga kecolongan radio atau tv, sudah barang pasti nama Parman yang kesebut.

Selang berapa hari, kabar pak Misrawi mati tersebar sampai ke desa Temurejo. Menurut cerita dari mulut ke mulut, perutnya membuncit seperti sedang hamil tua, kedua lubang telinganya mengeluarkan nanah dan belatung, dan semalaman pak Misrawi muntah darah juga paku. Akhir yang tragis. Terang saja, gara-gara ia mati, pak Sukri yang terpilih jadi Kepala Desa Kesilir.

“Ngeri Bu… amit-amit deh, nauzubillah.” Rohana mengelus tengkuknya. Gerobak sayur Sardi ramai seperti lalu-lalu.

“Kok jadi pak Misrawi ya yang mati?” Zuhayati keheranan.

“Dukunnya pak Sukri ampuh berarti Bu,” tukas Saniah.

“Mbah Anom kalah sakti dong ya?” Zuhayati kembali bertanya.

“Ya gara-gara kamu itu, tenungnya Mbah Anom jadi gugur.” Telunjuk Fitri menuding hidung Zuhayati. “E…e… sudah tiga hari kok aku tidak lihat Mbah Anom ya?” gantian ia bertanya. Ibu-ibu yang lain saling berpandangan. Sardi ikut penasaran. Dari roman wajah mereka, semua tampak bersepakat bahwa Mbah Anom tak pernah muncul tiga hari ini.

“Kalau muncul pada kabur. Begitu hilang dicariin. Sudah, pokoknya jangan lupa bayar semua, ayo dihitung habis berapa ibu-ibu.” Sardi menutup percakapan sebelum mereka pura-pura lupa membayar.

Bermula dari aduan seorang warga yang mengeluh tentang bau busuk di sekitar gubuk Mbah Anom, kepala desa akhirnya turun tangan. Ini sudah empat hari sejak Mbah Anom menghilang. Orang-orang di desa segera menyebar desas-desus. Semua was-was dengan apa yang terjadi di gubuk sang tukang tenung. Mereka berkerumun di sekitar gubuk sambil saling berbisik. Pak Suwarno selaku pimpinan di desa lalu memberanikan diri untuk masuk.

Pintu gubuk yang terbuat dari jalinan bambu tak terkunci. Pak Suwarno harus membekap hidungnya dengan selendang sebab aroma busuk yang tak ternyana. Sudah diikat erat, masih saja ingin muntah rasanya. Pak Suwarno bolak-balik menahan isi perutnya agar tak tumpah. Ia lalu menuju dapur, sumber dari segala bau yang nista itu. Matanya terbelalak begitu melihat jasad terkulai di tanah. Pak Suwarno tak sanggup lagi menahan dorongan di perutnya. Ususnya terasa melilit, membelit. Lalu muntahan tumpah ruah mengotori selendang yang dipakainya.

Tubuh Mbah Anom tergeletak di depan tungku perapian. Matanya melotot tanpa pupil, hanya tertinggal warna putih dengan saraf-saraf merah. Mulutnya menganga. Dari hidung dan telinganya mengucur darah bercampur nanah. Belatung-belatung merayap di sekujur muka. Kulitnya seperti arang. Mbah Anom terlihat masih memakai surjan. Entah kutukan macam apa yang ditiup ke ubun-ubunnya. Miris. Pak Suwarno keluar gubuk sambil terhuyung. Orang-orang terperanjat sambil melayangkan sukur ke hadirat Ilahi, sebab doa-doa mereka agar Mbah Anom mati terkabul.

Malam hari warga berkumpul di balai desa. Mereka merebus opini tentang jasad Mbah Anom yang sudah bobrok.

“Mayat itu harus segera disingkirkan Pak, lama-lama bangkainya bisa mengganggu dan bikin penyakit,” ujar Slamet yang diamini warga lain.

“Iya saya paham. Tapi bagaimana? Harus dibuang ke mana?” tanya pak Suwarno. Orang-orang hening. Beberapa ada yang batuk secara tidak alami. Mereka yang sudah melihat rupa jasad Mbah Anom, pasti tak sanggup memandangnya kembali.

“Dibakar saja,” lanjut Slamet, “Kita bakar sekaligus gubuk laknatnya.”

Bola mata pak Suwarno dan segenap warga yang hadir tiba-tiba terpantik sinarnya. Mendengar usulan Slamet, mereka seakan disiram hujan setelah kemarau bermusim-musim. Tanpa banyak komentar, pertemuan malam itu ditutup dengan pulang ke rumah masing-masing. Namun luput dari perhatian mereka, sesosok lelaki ikut menyimak dari kejauhan. Parman dengan botol araknya yang kosong diam termangu.

***

Desa Temurejo pagi itu lebih dingin dan kaku dari biasa. Gerobak sayur Sardi tetap meniti jalan-jalan desa. Namun Sardi harus meringkas dagangannya lebih awal. Warga desa telah sepakat berkumpul di gubuk Mbah Anom pukul delapan. Pak Suwarno menggenggam obor di tangan. Sementara beberapa orang menyiapkan drum-drum berisi minyak tanah. Mereka siap membakar tukang tenung itu bersama peraduannya. Slamet dan Sardi tampak semangat menyiram dinding-dinding anyaman dengan minyak tanah. Para istri berdiri mengambil jarak dari gubuk Mbah Anom.

“Bapak-bapak, ibu-ibu, hari ini desa Temurejo akan bebas dari jerat perdukunan, yang telah lama meresahkan warga. Dukun laknat di dalam sana sudah menerima ajal yang hina. Dan pagi ini, kita semua akan membersihkan sisa-sisa ilmu hitam yang terkutuk. Bapak-bapak dan ibu-ibu siap?” seru pak Suwarno bergelora.

“Siap!” serentak orang-orang menjawab, sambil beberapa mengepalkan tangan ke atas. Lalu terdengar seloroh kasar saling bersahutan. Pak Suwarno siap dengan obor di tangannya. Sebelum api menjilat minyak tanah di gubuk reyot itu, seorang lelaki menerobos kerumunan.

“Berhenti! Berhenti!” Parman terengah-engah menenangkan teriakan warga. Orang-orang menyorotnya dengan pandangan benci dan emosi. “Apa benar kalian ingin membakar jasad Mbah Anom?”

“He, mau apa kamu?!” bentak kepala desa.

“Pergi sana! Pergi!” orang-orang menyahuti dari belakang.

“Maaf, bapak-bapak, ibu-ibu…” Parman mengangkat sebelah tangan. “Apa tega membakar gubuk ini? Yang di dalam itu jasad manusia, bukan kayu bakar.”

“Tukang mabuk berani-beraninya nasihatin kami, mau dibakar sekalian?” Slamet menyerobot.

“Tunggu… mohon tunggu. Biar saya yang mengubur Mbah Anom dengan layak. Kalian boleh bakar gubuknya setelah itu. Tolong…” pinta Parman.

“Bakar! Bakar!” terdengar teriakan susul-menyusul. Suara Parman ditelan gelombang kekesalan. Kata-katanya tenggelam. Parman sempurna dicampakkan. Pak Suwarno melempar obor ke gubuk, kemudian api menyambar seluruh persendiannya. Bunyi meretih terdengar ramai, bergema. Asap membumbung hitam. Orang-orang bersorak-sorai. Di tengah kecamuk kemenangan warga, Parman menendang pintu tanpa dihiraukan. Ia merangsek masuk ke dalam gubuk sambil terbatuk-batuk dan mual. Diseretnya jenazah Mbah Anom yang sudah bejat. Parman dilumuri bau anyir darah dan nanah. Tatkala berhasil keluar dan menghirup udara yang lebih lega, warga sudah mulai sepi. Beberapa yang masih tersisa lari tunggang-langgang melihat mayat Mbah Anom yang tak keruan.

Parman membopong jenazah tukang tenung itu ke tanah kosong di pinggir desa. Di sana, semalaman tadi Parman mengeruk tanah jadi liang lahat. Dengan kondisi carut-marut, ia menghantarkan jenazah Mbah Anom di peristirahatan terakhirnya.

“Semoga tenang Mbah. Orang-orang itu selalu memikirkan kebahagiaannya sendiri.” Parman pulang ke gubuknya setelah membasuh badan di aliran sungai. Tak ada yang menunggu di rumah. Istri dan anaknya yang masih dalam kandungan telah lama mati, sebab kiriman tenung dari entah siapa.

***

Gerobak sayur Sardi ramai seperti lalu-lalu. “E…e… sudah seminggu kok aku tidak lihat Parman ya?” celetuk Fitri. Ibu-ibu yang lain saling berpandangan. Sardi ikut penasaran. Dari roman wajah mereka, semua tampak bersepakat bahwa Parman tak pernah muncul seminggu terakhir.

Kepala desa turun tangan setelah mendapatkan laporan dari warga. Parman tak terlihat beranjak dari gubuknya selama berhari-hari, namun tak tercium bau busuk dan anyir dari dalam. Pak Suwarno akhirnya masuk memeriksa. Begitu membuka pintu, aroma melati yang kuat mengusik rongga hidungnya. Lalu semerbak bau segar menyelinap di udara. Pak Suwarno segera menuju kamar, sumber dari segala wangi tak ternyana itu. Matanya terbelalak begitu melihat jasad terbaring tenang di ranjang. Wajah Parman putih bersih dan terlihat lebih gemuk. Bibirnya tersenyum rupawan. Kedua tangannya mendekap di perut seperti orang sedang salat.

Malam hari warga berkumpul di balai desa. Mereka saling berebut untuk menguburkan jenazah Parman.

 

Fes, 2017

Inas Pramoda, seorang Homo Jakartensis. Mondok di Singosari sejak 2008-2014. Sekarang sedang menyelesaikan studi Master di Casablanca, Maroko. Bisa dihubungi via surel: inaspramoda@gmail.com