Cerpen Alif Febriyantoro (Banjarmasin Post, 17 November 2019)

Suatu Hari dalam Kehidupan Wanita Bertato ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Postw.jpg
Suatu Hari dalam Kehidupan Wanita Bertato ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post 

Ketika udara di luar cukup untuk membuat beberapa gelandangan menggigil, wanita bertato itu masih tertidur di dalam selimut, di atas ranjang losmen pinggiran. Hanya wajahnya yang menyembul ke luar. Matanya tertutup. Bibirnya sedikit mengaga. Tapi walau dalam posisi bibir yang menganga dan sedikit mendengkur, bibir itu masih terlihat manis dengan sisa gincu merah muda yang menggoda. Seakan-akan menunggu kecupan hangat dari seorang pria yang berada di sampingnya, yang mendengkur lebih keras, yang mulutnya mengeluarkan bau sisa bir dan rokok, yang membuat wanita itu tiba-tiba membuka mata.

Wanita itu pun bangkit dari ranjang. Perlahan-lahan menyingkirkan selimut yang menjaganya sepanjang sepertiga malam. Dan kini tubuhnya benar-benar telanjang. Di hadapannya tampak cermin memantulkan bayangan dirinya. Tato-tato itu terlihat jelas, memenuhi seluruh tubuhnya, depan dan belakang, kiri dan kanan, semua tato itu dapat dilihat dari segala sudut pandang. Seperti memakai baju ketat dengan corak berwarna-warni, dan seperti menutupi ketelanjangannya yang murni. Ia lihat pada bagian perut. Tato mawar merah yang mekar dengan sempurna menindih pusarnya. Lantas ia mengalami lamunan. Mengingat awal mula tato pertama itu muncul, tepat lima tahun yang lalu ketika keperawanannya direnggut enam orang preman pasar. Dan ketika mengingat kejadian buruk itu, entah kenapa waktu dengan cepat bergerak mundur, ia seperti dipulangkan menjadi gadis kecil yang sangat lucu, yang dulu sering naik ke pundak ayahnya untuk menyentuh sulur beringin. Atau ketika ia selalu mengajak ibunya pergi ke taman untuk melihat bunga-bunga.

“Aku ingin petik bunga itu.”

“Yang mana?”

“Itu yang warna merah. Itu apa namanya?”

“Itu mawar, Sayang. Jangan dipetik. Nanti tanganmu bisa berdarah.”

“Ah, Ibu cuma bisa melarang terus.”

Dengan wajahnya yang lugu, ia seperti ingin marah kepada ibunya. Tapi kemudian ia menjadi riang kembali. Ia berlari-lari. Berputar-putar mirip seorang penari. Mengibas-ibaskan rambutnya yang hitam seperti malam. Kemudian ia menuju kolam di tengah taman. Ia pun melihat wajahnya sendiri di permukaan kolam. Sangat dekat, sehingga ujung hidungnya menyentuh air.

“Kau makin cantik saja ketika bangun tidur.” Suara berat pria menggema ke dalam lamunan Raina, wanita bertato itu.

“Sudah jam berapa ini? Tampaknya aku telat masuk kerja,” lanjut pria itu.

“Bolos satu hari saja tidak bisa ya?”

“Bukan begitu, ini semua kan demi masa depan kita.”

“Masa depan?”

“Tentu saja.” Pria itu menguap sambil mengangkat kedua tangannya.

“Lalu kapan kau akan menceraikan istrimu itu?”

“Sabarlah. Mengurus perceraian tak segampang tidur denganmu.”

“Sialan! Untung aku mencintaimu. Kalau tidak, aku sudah membunuhmu!”

“Untung juga aku mencintiamu. Kalau tidak….”

“Kalau tidak, kau tidak akan menceraikan istrimu, begitu?”

Pria itu hanya tersenyum. Tapi logikanya memang sudah benar. Mana ada seseorang yang akan menceraikan pasangannya jika tidak ada permasalahan yang jelas? Cinta memang sebuah masalah. Dan Raina sepertinya sangat mencintai pria itu. Atau apakah cinta memang seperti tato yang susah untuk dihilangkan?

“Kau tak ingin menambah tato lagi?” Mendadak pria itu bertanya.

“Ketika aku sudah resmi menikah denganmu, akan kupersembahkan tato terakhir yang akan tertempel di jari manis, tempat biasanya cincin pernikahan berada.”

“Bentuknya apa?”

“Kau akan segera tahu ketika kau dengan segera pula menceraikan istrimu itu!”

Dan, lagi-lagi pembahasan mengarah ke arah yang rawan. Ah, wanita memang selalu butuh kepastian.

Di kamar rahasia itu, Raina kembali mengalami lamunan. Sudah berkali-kali ia gagal untuk merekatkan cincin pernikahan di jari manisnya. Ia memang sudah tidak perawan, tapi ia masih perawan dalam hal pernikahan. Pernah suatu ketika, Raina dilamar oleh bosnya, yang memiliki sebuah bar di mana Raina bekerja. Bos itu sudah memiliki istri. Namun pria gondrong dengan perut buncit yang saat ini tergambar di lengan kiri Raina itu, dengan mudahnya mengatakan kepada istrinya bahwa ia akan menikah lagi. Dan sang istri dengan terpaksa mengikuti keinginan suaminya.

Namun ketika pria gondrong itu melamar Raina secara resmi di sebuah restoran megah, kejadian yang tak diinginkan terjadi. Tepat ketika pria berperut buncit itu akan memasangkan sebuah cincin yang berwarna seperti bulan dengan cahaya keperak-perakannya, lantas ia kejang-kejang dan cincin itu jatuh ke lantai bersama tubuh besarnya. Pria itu mati mendadak. Serangan jantung. Mungkin memang kebetulan. Atau mungkin juga atas bantuan doa dari sesorang yang tidak setuju jika ia menikah dengan Raina.

Semua bisa terjadi. Kemungkinan lain pun masih ada di hadapan Raina. Setelah peristiwa magis itu, akhirnya muncul pria kedua. Seorang pejabat.

“Aku ingin menikahimu.”

“Adakah alasan?”

“Tidak ada alasan lain selain karena cinta.”

“Istrimu bagaimana?”

“Tenang. Sudah kuceraikan.”

“Oh, baiklah.”

Ceritanya tetap sama. Pria kedua juga mati. Singkatnya, pria itu mati dibunuh istrinya sendiri. Maaf, maksudnya mantan istri. Sebuah pembunuhan yang tentu saja melibatkan kepolisian. Dan Raina ditahan sebagai tuduhan merebut suami orang. Tapi kemudian mantan istrinya itu ternyata diduga mengalami kelainan jiwa. Memang terkadang cinta segitiga akan membuat orang menjadi gila. Dari kejadian itu, di belahan dada Raina muncul tato wanita bersayap yang memegang sebilah pisau. Dan di bawah gambar itu tertulis: “ISTRI GILA”.

“Aku tidak akan mati, kan?” Mengingat silsilah tato di tubuh Raina, pria yang sejak tadi duduk di sampingnya itu tiba-tiba bertanya.

“Kenapa wajahmu? Kau takut?”

“Bukan takut, tapi….”

“Tapi apa?”

“Tapi… ya takutlah. Gimana kalau….”

“Sudahlah, lebih baik kita mandi, kemudian pulang. Sudah hampir siang. Aku harus masuk kerja.”

“Tidak bisakah kau bolos satu hari saja?”

Mereka berdua tertawa. Kemudian mereka saling berciuman. Mesra sekali. Dan detik demi detik berlalu. Menit pun begitu. Dan tak terasa siang pun lewat. Senja datang. Tiba-tiba pintu kamar digedor. Sang pemilik mengingatkan bahwa sudah waktunya untuk check out. Hari itu berlalu bersama janji si pria bahwa lusa akan segera mengurus penceraian dengan istrinya.

***

Keesokan harinya. Pria itu pun memantapkan niat untuk menjelaskan kepada istrinya. Di dalam kamar yang telah mereka tiduri sehingga menciptakan tiga anak, pria itu pelan-pelan mulai berbicara kepada istrinya. Hari sudah larut, anak-anaknya pun sudah tidur dan telah menjumpai mimpinya masing-masing.

“Romila, ada yang ingin kusampaikan.”

Sang istri tersenyum. Seperti cepat-cepat ingin mendengar kabar yang membahagiakan, karena ia tahu bahwa hari ini adalah hari jadi pernikahan mereka yang ke lima. Dan sang istri diam-diam juga telah mempersiapkan hadiah untuk suaminya. Oh, tapi sesedih apakah wanita itu ketika tiba-tiba mendengar penjelasan suaminya yang ingin menceraikannya?

“Cepatlah katakan apa yang ingin kau sampaikan, Sayang.”

“Aku ingin cerai!”

Pyaar! Ketika mengatakan kalimat itu, sang suami seperti mendengar ada yang pecah di dalam hati istrinya. Namun di luar dugaan, sang istri malah tertawa.

“Dasar! Kau masih seperti dulu. Suka bercanda. Kepura-puraanmu ini sudah picisan. Apakah tidak ada cara lain untuk merayakan hari jadi pernikahan kita?”

Pria itu terkejut, seperti kebingungan. Ia sungguh lupa dengan hari jadi pernikahannya sendiri. Ia pun mendadak lupa cara berbicara.

“Sebentar,” lanjut sang istri, “aku punya sesuatu untukmu.” Ia berjalan ke arah lemari. Mengambil sebuah kado yang sudah ia persiapkan dengan rapi.

“Ini untukmu. Bukalah!”

Pria itu benar-benar kebingungan. Ia tak tahu harus berbuat apa. Maka ia hanya bisa pura-pura tersenyum di hadapan istrinya, kemudian dengan perlahan membuka kado itu.

Pyaar! Kali ini giliran pria itu yang merasakan ada sesuatu yang pecah di dalam hatinya sendiri. Bau amis darah mulai tercium dari dalam kado itu, yang kemudian bisa dilihat dengan jelas selembar kulit manusia dengan tato wanita bersayap yang memegang sebilah pisau, yang di bawah gambar itu tertulis: “ISTRI GILA”.

“Raina, dia cantik, Sayang.”

Sang istri kembali tersenyum. Selanjutnya, keheningan seperti telah dipersiapkan. Lampu mendadak mati. Kemudian gelap. Benar-benar gelap. (*)

 

Alif Febriyantoro, kelahiran Situbondo, 23 Februari 1996. Buku kumpulan cerpen terbarunya, Romila dan Kutukan Ingatan (2019).