Cerpen Risda Nur Widiya (Suara Merdeka, 17 November 2019)

Patung Garuda ilustrasi Hangga - Suara Merdekaw.jpg
Patung Garuda ilustrasi Hangga/Suara Merdeka 

Cuaca tampak berduka. Mendung yang teraduk rata dengan desir angin dan kilat petir seakan menggenapkan sebuah kehilangan. Setiap dada penduduk kota bagai berlubang dikoyak anak panah keputusasaan. Semua menjadi lesu dan kehilangan gairah hidup.

Orang-orang berlalu tanpa harapan hanya karena sesosok patung garuda yang melambangkan kehormatan, kewibawaan, dan kejujuran raib entah ke mana. Patung garuda yang menjadi simbol jati diri penduduk pergi tanpa meninggalkan sejumput harapan bagi masyarakat kota.

Patung garuda itu sangat berarti bagi penduduk kota. Dapat dikatakan denyut jantung penduduk kota itu hanya satu: patung garuda. Orang-orang dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa lelah dan mengeluh karena semangat yang dikibarkan oleh patung garuda itu.

Namun dua minggu belakang ini semua geliat warga kota yang penuh api semangat meredup. Enyahnya patung garuda kebanggaan penduduk berdampak sangat kentara pada setiap penduduk. Orang-orang menjadi malas melakukan apa pun. Di kantor-kantor tidak ada pekerjaan yang selesai dengan baik. Para pedagang yang biasanya penuh gairah menjajakan barang jualan di taman tempat patung garuda itu singgah, sepi dan lungkrah. Arus di jalan-jalan semula selalu macet karena geliat kendaraan yang akan berangkat kerja. Kini, jalanan itu menjadi lengang. Ada penduduk yang memilih pindah tempat, mencari sesosok kebanggaan lain. Dan, memang betapa berarti sebuah lambang kebanggaan bagi penduduk kota. Tanpa lambanglambang itu, penduduk seperti kehilangan identitas dan jati diri.

Baca juga: Ziarah Laut Selatan – Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 12 Mei 2019)

“Tak ada harapan lagi!” Keluh seorang penduduk kota di sebuah kedai minuman. “Bahkan satusatunya kebanggaan kita telah pergi.”

“Betul!” sahut yang lain. “Pertanda apa ini?”

Hilangnya patung garuda itu juga meninggalkan seribu pertanyaan tanpa jawab. Setiap hari selalu lahir persepsipersepsi dari rahim pikiran penduduk yang putus asa. Ada yang mengait-ngaitkan hilangnya lambang kebanggaan itu karena sudah malu atas kelakuan warga kota yang perlahan berubah.

Memang, akhir-akhir ini, kebanggaan yang berlebihan membuat moralitas penduduk menurun. Orang-orang di kota menjadi lupa diri dan buta nurani dengan menggilas kebahagiaan kota lain, atau merenggut kebebasan suatu kota agar dapat mempertahankan lambang dan identias diri kota sebagai tempat unggulan.

Pun penduduk kota itu yang seakan mabuk oleh panji-panji rasa hormat; kebutuhan untuk disegani penduduk kota lain sebagai satu hal yang sangat membanggakan. Dan, tentu, lambang garuda sebagai kebanggaan kota selalu mereka kibarkan setiap mencapai keberhasilan.

Baca juga: Bulu-Bulu Gemetar – Cerpen Aljas Sahni H (Suara Merdeka, 10 November 2019)

“Kota kami adalah kota orang-orang terhormat!” kata Wali Kota setelah berhasil memperluas wilayah kota dengan menggusur sebuah permukiman kumuh di luar batas kota. “Sepasang sayap garuda ini akan terus berkibar!”

Akan tetapi kini wajah-wajah yang semula giat dan penuh gelora untuk meningkatkan kewibawaan kota, lenyap seketika. Hilangnya lambang kebanggaan itu membuat gairah hidup penduduk kota menghilang. Dan, kini, setiap orang terpuruk pada rasa putus asa karena tidak ada sesuatu yang dapat mereka banggakan.

***

Lambang kebanggaan kota yang hilang seperti menjadi pertanda penurunan berbagai sisi kehidupan. Selain geliat hidup yang menurun, kini moralitas kota itu memburuk. Dahulu mereka mengerjakan segala sesuatu dengan rapi dan penuh perhitungan. Setelah lambang kembang kota hilang, mereka melakukan segala sesuatu tanpa berpikir panjang. Penduduk kota hidup sebagai barbar. Pembunuhan, penjarahan, dan pemerkosaan menjadi sesuatu yang lazim setiap hari.

Orang-orang di kota seolah hidup dalam lingkar kehancuran. Hidup menjadi tak bermakna karena lambang kehormatan yang hilang. Ekonomi kota turun drastis. Banyak terjadi pemberhentian para pekerja. Perusahaanperusahaan bangkrut. Sistem keuangan kacau.

Baca juga: Lelaki di Pekuburan – Cerpen Hari B Mardikantoro (Suara Merdeka, 03 November 2019)

Menyadari dampak begitu mengerikan, pemerintah akhirnya mencoba memulihkan stabilitas kota dengan membuat panji-panji kebanggaan lain. Para petinggi kota memang sudah habis akal mencari sosok garuda kebanggaan kota. Tidak ada yang tahu ke mana sosok garuda itu pergi.

Pernah pemimpin kota mengerahkan intelijen untuk menyelidiki hilangnya patung garuda. Semua tempat mereka jelajahi. Semua pasar gelap mereka singgahi. Namun mereka tak dapat menemukan ke mana lambang kebanggaan kota itu pergi. Kini, satu-satunya cara mengembalikan ketenangan penduduk dengan membuat sebuah patung garuda sebagai lambang kebanggaan baru.

“Kini saatnya kita bangkit dari kegelapan,” kata pemimpin kota itu. “Mungkin hilangnya patung garuda itu hanyalah tanda bagi kita agar bekerja lebih keras. Kita akan membangun sosok baru sebagai lambang kebanggaan kita di kota. Kita akan memulai segalanya dengan yang baru, dan melupakan sejarah yang lama.”

Baca juga: Lipstik Plastik – Cerpen Dul Abdul Rahman (Suara Merdeka, 27 Oktober 2019)

Mendengar pidato itu sebagai penduduk bersorak girang. Akan hadir sosok kebanggaan baru bagi penduduk kota. Namun ada juga penduduk kota yang tetap saja menghadapi hilangnya patung garuda sebagai pertanda kemerosotan hidup. Yang terpenting bagi mereka, lambang kehormatan itu begitu sulit tergantikan, karena sudah memiliki makna dalam bagi sebagian penduduk yang telah menghabiskan sisa hidup di kota.

***

Semua bahan terbaik dari penjuru negeri dikumpulkan untuk membangun lambang kebanggaan kota. Seiring waktu orang-orang bergairah untuk kembali hidup. Aspek-aspek kehidupan yang semula menurun memulih. Penduduk bekerja dengan giat; para pedagang penuh semangat menjajakan barang jualan. Hidup menjadi berarti karena pembangunan lambang kebanggaan baru penduduk kota. Bahkan karena tidak sabar melihat kegagahan patung garuda baru yang dibangun pemerintah, setiap pulang kerja penduduk kota selalu meluangkan diri melihat proses pembangunan.

Tidak segan beberapa merelakan waktu dan energi untuk ikut membangun patung garuda baru. Orang-orang itu bekerja dengan ikhlas. Mereka tidak mau dibayar sepeser pun. Memang begitu berarti sebuah lambang bagi penduduk kota. Setiap orang seolah membutuhkan monumen kebanggaan diri sebagai identitas.

Baca juga: Insiden di Jalan Kirik – Cerpen Abdul Hadi (Suara Merdeka, 20 Oktober 2019)

Begitulah. Berminggu-minggu dan berbulan-bulan kemudian patung itu selesai dikerjakan.

“Sebuah pencapaian memang harus diabadikan!”

“Kau benar! Tanpa monumen, kita akan hidup tanpa arti di dunia ini!”

Hidup memang sudah menjadi seperti sedia kala setelah pembangunan patung garuda baru itu. Kebanggaan dan cita-cita penduduk pulih kembali. Kota semakin maju. Teknologi dan penemuan-penemuan baru terus bermunculan. Tentu pembangunan-pembangunan baru dari segala aspek kehidupan berjalan sangat baik. Monumen itu memberikan gairah hidup lebih bagi penduduk kota. Setiap orang terpacu ingin memberikan yang terbaik, lantas menambah kehormatan patung itu demi kebanggaan kota.

Demikianlah, beberapa tahun kemudian tanpa disadari patung garuda itu retak. Bahkan tidak begitu lama sayap patung garuda itu patah. Penduduk kota pun terkejut melihat kejadian itu. Sekali lagi penduduk kota menafsir kejadian itu sebagi sesuatu yang buruk. Tdak sampai di situ saja, tiga hari kemudian patung kebanggaan setiap orang itu rusak karena terpaan cuaca. Penduduk kota seketika panik melihat kejadian itu.

Baca juga: Menembak Mati Tujuh Orang – Cerpen Ahmad Tohari (Suara Merdeka, 13 Oktober 2019)

“Pasti ini pertanda buruk!”

“Kita akan mengalami bencana besar!”

Memang tidak begitu lama, kota kembali hidup dalam zaman yang gelap. Penduduk sudah benar-benar kehilangan kehormatan setelah patung garuda itu hancur. Mereka menggeliat seperti kaum barbar yang tak memiliki hati. Menghancurkan apa saja. Merusak segalanya. Orangorang kota pun bertingkah kalap seperti tak memiliki hati.

***

Jauh di antara kehancuran dan kemerosotan moral penduduk kota, tiada yang tahu penyebab kehancuran patung garuda yang baru — simbol kebanggaan dan kehormatan kota. Bahkan jauh di tengah kota yang kini sedang tak menentu dan di tengah geliat hidup yang makin kekurangan, seorang penduduk — Tarno, pria 36 tahun — yang dahulu ikut membangun patung kebanggaan baru yang telah runtuh itu, berkelekar di serambi rumahnya yang reyot. Ia sudah tahu mengapa patung itu cepat hancur! Bahan-bahan untuk membuat patung itu, yang dahulu dikatakan sebagai kualitas terbaik, adalah bahan-bahan buruk yang didatangkan untuk menekan biaya pembangunan. Pemimpin kota itu membodohi rakyat untuk memperkaya diri di tengah kekacauan yang sedang melanda.

Baca juga: Magi – Cerpen Adhitia Armitrianto (Suara Merdeka, 06 Oktober 2019)

“Sudah tamat riwayat kota ini,” kata Tarno malas. “Tahi kucing dengan simbol kebanggaan. Bagi rakyat kecil, yang penting perut terisi!”

Demikianlah, tanpa banyak penduduk sadari sesosok bayangan terbang gagah hingga membuat langit seketika mendung. Pun tak ada yang menyadari sesosok makhluk besar terbang di atas kota. Mahkluk hitam yang terbuat dari batu. Sesosok garuda yang terbang gagah tanpa melirik ke bawah. (28)

 

Risda Nur Widia, buku kumpulan cerpen tunggalnya Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia seperti Mersault (2016), sedangkan novelnya Igor: Sebuah Kisah Cinta yang Anjing.