Cerpen Komala Sutha (Malang Post, 17 November 2019)

Merah Delima ilustrasi Istimewa.jpg
Merah Delima ilustrasi Istimewa 

Langkahku terhenti ketika telinga menangkap perbincangan di depan warung Yahya. Beberapa orang lelaki—penduduk sekitar yang hampir setiap pagi menghabiskan waktu di warung itu, tengah membahas topik yang lagi hangat. Sebenarnya menurutku sudah tak hangat. Sudah usang. Cerita lawas.  Soal merah delima. Tapi pagi ini mendadak aku ingin mendengar perbincangan mereka.

“Kalo saja benar merah delima yang akan diperlihatkan tamu  itu, keasliannya bisa meyakinkan kita, maka aku akan segera melapor sama Bos, biar dia mau membeli benda itu…” ucap seorang lelaki berperawakan gemuk, yang dikenal sebagai tukang pukul salah seorang anggota legislatif di kabupaten ini.

“Setahuku…” lelaki ceking berusia tigapuluh lima tahun, giliran membuka mulut untuk berkomentar. “Merah delima asli itu jika dicek, dimasukkan  ke dalam gelas berisi air putih, maka air itu akan berubah menjadi merah menyala warnanya…”

“Ah… jangan dulu percaya. Kata temenku yang pernah menyaksikan majikannya untuk membeli batu itu… sekarang banyak merah delima yang palsu. Waktu dimasukkan ke dalam air dan air berubah merah, bisa saja orang itu memberi campuran pewarna yang dibaluri di sekujur batu itu,” jelas lelaki muda yang kelihatan sok intelek.

“Jadi… gimana nih kesimpulan soal tamu yang menginap di rumah Pak RW itu.. apa kita jangan dulu percaya soal batu yang dibawanya… yang sudah diproklamirkan depan banyak warga kampung, kalau tamu itu bukan orang sembarangan!” temannya lelaki muda sok intelek yang sama-sama merasa paling berpendidikan di kampung, menyapu pandang pada semua orang yang duduk di bangku kayu depan warung Yahya.

Tak kutunggu kelanjutan perbincangan mereka. Kakiku kuseret menjauh, menuju rumah di ujung gang. Rumah kayu sederhana. Baru dua bulan ini aku, suami dan  anak laki-lakiku yang sudah berusia empat belas tahun tinggal di sini. Sebelumnya kami tinggal di tempat lain. Karena suamiku mendapat pekerjaan sesuai dengan pendidikan dan keahliannya, sampailah kami bertiga di kota kecil ini, tepatnya di daerah pinggiran. Suamiku belum mampu mengontrak rumah layak sesuai keinginan, karena dana yang dimiliki tak mencukupi. Rumah kami di tanah kelahiran tak begitu besar, jadi saat ada yang langsung mengontrak juga, uangnya hanya cukup untuk membeli perabotan seadanya demi melengkapi rumah kontrakan baru di sini. Memang, dalam dua tahun terakhir suamiku nyaris tak memiliki pekerjaan setelah kecelakaan jatuh dari motor yang berakibat kaki kirinya  tak bisa berjalan dengan normal. Untunglah Tuhan  mendengar doa kami, tiga bulan lalu, sebuah perusahaan yang sedang berkembang membutuhkan keahlian yang dimiliki suami. Ia seorang  sarjana teknik.

“Aku berangkat dulu ya, Lin…” suamiku dengan kaki kirinya yang sedikit pincang melirikku. Aku mengangguk. Anak semata wayangku mencium lenganku. Ia sudah rapih dengan seragam putih biru sebagai murid baru di sebuah SMP swasta tak jauh dari tempat kami tinggal.

Setelah beres-beres rumah, aku menyelonjorkan kaki di atas karpet. Sendirian. Televisi kumatikan beberapa menit yang lalu.  Pikiranku jadi terkuras memikirkan perbincangan orang-orang di warung itu. Bukan yang pertama. Kemarin dan kemarinnya, perbincangan itu masih dengan tema yang sama yaitu tentang tamu yang ada di rumah Pak RW beserta merah delimanya yang dibangga-banggakan anak-anak penguasa kampung ini.

Merah delima atau mirah delima. Bukan berita baru. Sudah sering dua kata itu lewat telingaku sejak belasan tahun lalu bahkan lebih. Sudah sering pula kudengar banyak orang yang menginginkan benda bertuah itu. Melintas dalam benakku, sebuah benda berbentuk agak pipih  berwarna merah menyala. Beberapa versi kudengar akan bentuknya. Bukan hanya itu, juga khasiatnya. Juga soal orang yang memilikinya. Konon, tak semua orang bisa memiliki benda itu, hanya orang-orang pilihan saja. Banyak juga yang tak pernah menyaksikan bagaimana hebatnya benda itu. Hanya berita di koran atau di televisi saja yang bisa mereka saksikan. Bukan dalam kenyataan.

Ingatanku melayang pada masa kecilku. Saat itu usiaku baru sembilan tahun. Ayah yang sudah lima tahun bercerai dari ibuku, mengajakku ke tempat dimana dirinya tinggal. Desa kecil di perbatasan dua kota yang terletak di Jawa Tengah. Antara Banjarnegara dan Wonosobo.

Ketika mobil ayahku yang membawa kami memasuki perkampungan yang bersih, mulai dari pintu masuk, orang-orang yang berpapasan di jalan, baik yang berjalan kaki atau pun mengendarai motor, menganggukkan kepala. Begitu hormatnya mereka pada ayahku. Aku terkagum-kagum. Di setiap tikungan, dipasang plang kecil berbentuk persegi panjang, digantung di atas tiang, bertuliskan nama ayahku. Tentunya dengan tanda panah, sebagai petunjuk menuju kediaman ayahku.

Sampailah di rumah Ayah. Bukan bangunan bagus, seperti rumah-rumah yang ada di Garut, kota asalku. Rumah ini  berpapan saja, bahkan banyak ruangan yang hanya beralas tanah. Hanya ukuran rumahnya terlampau besar, lebih besar dari rumah orang paling kaya di kampungku.

“Gimanaa… luasan mana rumah Ayah dengan rumah ibumu di Garut?” senyum Ayah terkembang di antara rasa bangga dan ingin menghina rumah ibuku. Saat itu aku memasuki liburan catur wulan. Sudah menjadi tradisi, setiap kali liburan, aku menghabiskan waktu bersama Ayah. Tentu atas keinginan Ibu.  Bisa di beberapa kota yang ada di Jawa barat, di kampung atau di kota. Dan di Jawa Tengah, ini untuk pertama kalinya. Menurut cerita kakek sebelum aku ke sini, ayahku jatuh cinta pada kota-kota di Jateng sehingga ia berencana untuk menetap dan mengangap dirinya keturunan suku Jawa. Kakek tersenyum pahit waktu  mengatakan itu. Beliau tampak memahami betul watak anak sulungnya yang hobi mengembara.

“Heemmmm…” aku tak menjawab.

“Luas mana?” Ayah terus mencandaiku. Aku sedikit sebal dengan pertanyaannya, hingga terpaksa kujawab juga, sesuai realita.  “Luas rumah Ayah…”

“Yang benar, ini rumahmu…” jelasnya lalu membelai lembut rambutku yang keriting. Ia menatapku. “Ini rumahmu, sayang. Kamu mau kan tinggal di sini bersama Ayah?”

Aku menggeleng. “Aku mau sama Ibu.”

Tatapan Ayah berubah sedih. Aku sedikit merasa berdosa lalu menghambur ke dalam pelukannya.

Setiap pagi di halaman rumah yang luas para pedagang makanan mulai menjajakan dagangannya. Pasen-pasen mulai berdatangan, memenuhi ruang tunggu yang seluas lapangan bulu tangkis. Ayah membuka praktik pengobatan. Mulai dari yang terkena penyakit biasa hingga berbahaya. Mulai dari yang hanya batuk, sakit kepala, sakit pinggang, amandel, maag, bahkan hingga yang lumpuh, Ayah mampu mengobatinya. Tiga pembantu perempuan yang setiap hari menemaniku di tengah-tengah kesibukan Ayah bersama pasen-pasennya, sering bercerita. Menurut mereka, ayahku bisa mengobati berbagai penyakit.

Aku yang walau baru berusia sembilan tahun, sangat percaya karena terbukti setiap hari pasen berduyun-duyun. Beberapa pegawai yang digaji, membantu praktik Ayah. Setiap amplop berisi uang lalu Ayah berikan padaku. Sehari mendapat uang hampir satu kaleng biskuit yang besar. Berjubel. Ayah menyuruhku membuka. Aku sangat senang sekali. Baru pertama kali merasakan menghitung uang yang banyak. Ibuku tak penah punya uang sebanyak itu. Kukumpulkna lalu kusimpan dalam lemari di kamar. Katanya semua uang itu boleh kubawa jika pulang ke Garut.

Ayah tak sedang memiliki istri. Beberapa perempuan muda dan cantik sempat mengunjungi dan menyelipkan beberapa lembar uang yang bisa kubelikan sepeda, pakaian dan mainan banyak. Katanya, mereka ingin diperistri ayahku.

Setelah dua minggu di samping Ayah, aku merasakan kegembiraan yang luar biasa. Semua keinginan nyaris terpenuhi.

“Berapa lama lagi kamu libur sayang?” Ayah mendaratkan ciuman ringan di keningku.

“Dua minggu lagi, Ayah…” jawabku setelah menghitung uang yang kukeluarkan dari amplop-amlop pemberian para pasen yang semakin bertambah tiap hari. Kusimpulkan, Ayah orang paling kaya di desa itu. Namun setiap malam aku terbiasa tidur di kamar dimana di dalamnya ada sebuah makam yang sekitarnya dikelilingi kain putih.

“Ada yang ingin Ayah berikan sama kamu,” Ayah mengeluarkan dari bungkusan kain putih. Mataku tak berkedip pada benda yang diperlihatkannya. Benda kecil, ukurannya sebesar kelereng berbentuk  agak pipih dan warnanya membuat mataku silau. Merah yang sangat menawan. Berkilauan ditimpa sinar mentari siang yang menerobos lewat jendela kamar yang sedikit terbuka. Disimpannya di atas telapak tanganku yang terbuka. Namanya merah delima atau mirah delima, Ayah mulai menjelaskan. Tak sembarang orang yang bisa memiliki. Langit menurunkan empat puluh batu itu di permukaan bumi, dan hanya empat saja yang jatuh di Nusantara, salah satunya ke tangan Ayah. Kutatap lelaki di hadapanku. Muncul kekaguman. Bukan tak mungkin Ayah itu benar-benar orang pilihan. Buktinya, mampu mengobati berbagai macam penyakit.

“Sekarang batu itu milikmu,” ucapnya bersungguh-sungguh. Mataku terbelalak, tak percaya namun Ayah terus meyakinkanku. Disuruhnya aku membungkus kembali batu itu dalam kain putih, dan segera memasukkan ke dalam lemari lalu menguncinya. Agar tak hilang, tegas Ayah.

Liburan tinggal dua hari lagi. Kubuka kunci lemari. Kunci yang kusembunyikan dalam lipatan bajuku di rak lain. Namun aneh, batu indah itu tak ada di tempat semula. Kutanya Ayah, ia hanya tersenyum lalu mengatakan kalau batu itu kembali pada pemilik aslinya yaitu dirinya. Kembali? Suaraku meninggi. Iya, jawabnya santai. Ayah mengambilnya? tanyaku lagi. Tidak, jelas Ayah. Batu itu sendiri yang kembali, tegasnya.

Bertahun-tahun hingga aku remaja aku percaya kalau ayahku orang sakti. Beberapa kenalan yang dekat dengan Ayah, pernah bercerita padaku kalau mereka pernah juga diberi batu itu oleh ayahku, namun selalu saja kembali pada Ayah walaupun disembunyikan di tempat rapat dan tak diketahuinya.

Usiaku kini empatpuluh satu tahun. Sudah hampir duapuluh tahun tak bertemu dengan ayahku.

Ada yang mengetuk pintu rumahku. Aku segera beranjak.

“Ada yang ingin bertemu denganmu,” ucap Pak RT, ketika kubuka pintu.  Aku mengamati orang yang berdiri di sampingnya. Dadaku terkesiap. Seorang lelaki tampan yang kelihatannya masih sangat muda tengah menatapku. Aku tak lupa, ia adalah satu-satunya orang yang pernah memberikan merah delima yang tak pernah kembali lagi padaku. ***

 

Bandung Barat, 28 Mei 2014

Komala Sutha yang lahir di Bandung, 12 Juli 1974, menulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia. Tulisannya dimuat dalam majalah dan koran di berbagai media di antaranya Femina, Hadila, Potret, Beat Chord Music, Mayara, Majalah Anak Cerdas, Manglé, Sunda Midang, Kandaga, Pikiran Rakyat. Tribun Jabar, Tribun Kaltim, Denpasar Post, SoloPos, Kedaulatan Rakyat, Padang Ekspress, Merapi, Lampung Post, Metrans, Galura, Kabar Priangan, Radar Tasik, Sunda Urang, Warta Sunda, Buletin Selasa, Redaksi Jabar Publisher, dan tulisan lainnya tergabung dalam beberapa buku solo dan puluhan buku antologi cerpen serta puisi.