Cerpen Hendy Pratama (Padang Ekspres, 17 November 2019)

Kota Aneh Tempat Ingatan Muncul ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Kota Aneh Tempat Ingatan Muncul ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

TEMPO hari, saya tertidur di gerbong kereta yang tengah melaju. Bising roda dan ingar bingar penumpang mendorong saya mengenakan earphone. Alunan psikedelik begitu membuai dan tanpa sadar, kepala saya jatuh di bantalan kursi. Buku Dawuk telungkup di paha, botol air mineral terjerembap ke kolong kursi. Tidur siang terasa nyenyak dan ketika bangun, saya merasa berada di kota yang aneh.

Mulanya, saya mengira telah sampai di kota tujuan. Saya belum pernah ke Jakarta, namun gambaran tentang kota itu terbayang dalam kepala; gedung-gedung menggapai langit, jalanan padat merayap, lampu-lampu bagai kunang-kunang yang diternakkan, dan demonstran turun ke ruas jalan membawa tuntutan. Bagaimanapun, itu hanya sekilas lalu gambaran yang sering saya tonton di televisi. Kenyataannya, saya belum pernah ke sana dan ingin sekali bervakansi ke kota itu. Ingatan kelam soal Maya memang harus dibunuh. Untuk itu, kaki saya melangkah ke lorong Stasiun Gambir.

Begitu saya berlalu, tiba-tiba Maya keluar dari pintu salah satu mobil. Sempat saya kira bahwa itu hanyalah halusinasi belaka. Mungkin, selama di perjalanan, saya mabuk dan mata jadi kabur. Orangorang pecah jadi banyak, sebatang tiang listrik terasa beranak jadi dua atau tiga atau juga empat. Tetapi, setelah mengaduk mata, Maya benar-benar tampak nyata. Dan, anehnya, saya mendapati perempuan itu tak hanya satu. Maya lain turun dari motor dan Maya yang lainnya lagi baru keluar dari stasiun. Ada banyak Maya di sini. Apakah semuanya pernah hidup di masa lalu saya?

Saya menghentikan taksi. Meminta supir membawa mobil berlalu ke mana saja. Meskipun si supir pasti akan memacu taksinya mengelilingi Jakarta dan berakhir dengan ongkos mahal, saya tidak peduli. Yang penting, saya mesti menjauh dari Maya!

“Anda belum menyebutkan tempat tujuan,” ucap supir pada saya. Ia melihat dari kaca spion di atas kemudinya.

“Saya tidak tahu soal Jakarta. Sengaja ke sini buat berlibur dan semoga Anda tahu, tempat mana yang mesti saya kunjungi,” balas saya pada supir.

“Apakah Anda punya ingatan tentang masa lalu?”

Saya katakan pada supir bahwa saya sedang tidak ingin curhat. Tubuh ini terasa pegal bagai dihantam benda keras berkali-kali. Jari-jari tangan juga kesemutan, karena tertindih pantat ketika tertidur di kereta. Untung, saya sempat tidur. Bila belum, mungkin keadaan jadi lebih buruk. Dan, saya tidak ingin semakin buruk karena mengorek ingatan tentang Maya. Maka, saya memilih abai terhadap pertanyaan si supir.

“Saya tahu, Anda tidak akan menjawab pertanyaan barusan,” sahut pengendali laju taksi itu. “Tapi, perlu diketahui bahwa kota ini ialah tempat di mana ingatan tentang masa lalu terkumpul. Dan, bakal muncul kapan pun, di mana pun.”

“Anda ini sebenarnya siapa?”

“Seperti yang Anda lihat, saya supir taksi biasa.”

Demi membuat supir menyebalkan itu diam, saya memilih tidur. Saya menyandar pada bantalan kursi sembari membaca novel Dawuk. Earphone saya kenakan dan alunan psikedelik kembali terdengar. Tanpa diduga, akhirnya kantuk itu pun melanda. Sebelum tidur, saya mendengar supir mengoceh. Tidak jelas apa yang ia katakan. Perkataannya terdengar samar dan lambat laun lenyap di telinga.

***

Pukul sembilan petang, saya terbangun. Dan, ketika membuka mata, saya sudah berada di kamar sebuah apartemen. Tidak ingat, awal mula bisa berada di sini. Hanya satu yang teringat: sopir memberhentikan saya di suatu tempat dan saya disuruh masuk ke tempat itu. Setelahnya, kepala terasa berat dan pandangan kabur. Lama kelamaan, apa yang terlihat seperti masuk ke lubang mata. Terserap dan berputar-putar. Lalu, pyaaarr! Saya tidak melihat apa-apa lagi. Putih.

Karena merasa bingung, hal yang biasa orang lakukan ketika bangun tidur ialah membasuh muka. Saya pergi ke toilet yang terletak di dalam kamar. Keran wastafel saya putar dan air keluar. Begitu selesai, saya merasa lebih baik.

Tetapi, kebingungan masih menjangkit. Untuk itu, saya coba perhatikan sekitar kamar. Ranjang berkapasitas dua orang tertata rapi, lampu kamar cantik berada tepat di sisi kanan, lemari cukup besar, cat warna putih, lukisan Mooi Indie terpajang di atas ranjang, buku-buku sastra di meja kecil, dan tirai merah menghalau cahaya bulan. Tirai? Tirai kamar saya sibak. Di bawah, jalanan masih padat. Orang-orang berbaris, lalu lalang di trotoar. Ahh, orang-orang? Tidak. Itu Maya!

Ya. Ada banyak sekali orang berwajah Maya di bawah. Tiba-tiba kepala saya jadi tambah pening. Rasa-rasanya, ada yang memukul kepala ini (entah siapa). Berkali-kali. Hingga, tubuh lama-lama goyah, kehilangan keseimbangan. Pandangan berubah kabur. Dan, seketika saya melompat ke atas ranjang. Mengantisipasi, seandainya saya pingsan, setidaknya, saya tidak terkapar di lantai kamar.

“Arwan, mengapa kamu tidur? Bukannya kamu baru bangun?” suara itu terdengar di samping saya, tepat di sekitar pintu masuk yang terbuka.

Saya tidak kuat untuk berbicara. Sumpah. Kepala ini terasa berat. Karena itu, saya memilih bergeming. Siapapun yang bicara di sana dan mengapa ia datang ke kamar ini, tentu saja saya tidak peduli. Satu hal yang dapat saya lakukan ialah memasukkan kepala ke bawah bantal dan berusaha tidur.

***

Saya datang ke stasiun ini buat bervakansi ke Jakarta. Mengapa? Itu karena ada banyak hal yang dapat saya lakukan di sana. Boleh jadi, saya akan mencoba beberapa wahana permainan di Ancol, bertualang ke Ragunan untuk bertemu beragam binatang lucu, mengunjungi pulau Seribu. Atau, hanya sekadar bersantai di Starbuck. Tentu, dengan berlibur, saya berharap dapat segera melupakan Maya.

Dua jam sebelum berangkat, Maya hadir di depan kereta yang baru berhenti. Dan satu jam setelah kereta melaju, perempuan itu juga hadir di bangku sebelah kiri saya. Tiga puluh menit ketika kereta tiba di Jakarta dan sebelum taksi menghampiri, Maya ada di tiap penjuru Stasiun Gambir. Dan yang parahnya lagi, pada waktu saya berada di kamar apartemen, mantan kekasih saya itu tiba-tiba muncul tepat di samping ranjang.

“Aku tak akan pernah membiarkanmu menjauh,” ucap Maya, tidur dengan posisi menyamping di ranjang kamar.

“Tidak, kamu harus pergi dari kehidupanku!”

“Semakin kamu mencoba pergi dariku, makin aku ada dalam kehidupanmu,” tegas Maya, matanya tajam menatap mata saya. “Tuhan tidak akan membiarkan hambaNya yang berdosa berlalu begitu saja.”

“Aku ingin hidup tenang!”

“Kamu tidak akan pernah tenang.”

“Apa maumu?”

“Menikahlah denganku dan kita besarkan anak ini bersama-sama.”

“Menikah denganmu?”

“Ya.”

“Mana bisa?”

Maya tidak menjawab. Saya tidak lagi mendengar suara yang keluar dari mulutnya setelah pertanyaan itu terucap. Hanya saja, kepala ini tiba-tiba membaik. Pening menguap begitu saja dan katup mata saya terbuka. Dan, entah mengapa, saya merasa tidak sedang berada di kamar sebuah apartemen, melainkan di Stasiun Madiun.

Saya tertidur di bangku peron dengan novel Dawuk di atas perut dan earphone terpasang di kedua kuping. Ketika bangkit, baru saya sadari bahwa jadwal keberangkatan kereta dari Stasiun Madiun ke Stasiun Gambir telah lewat lima jam lalu. Saya pun urung berangkat ke kota impian Maya ketika kami masih pacaran dulu. Tapi, saya bersyukur.

Mungkin, seandainya saya tidak membunuh Maya dan bayi dalam kandungannya petang itu, ia tak akan pernah saya temui di mana-mana; di kota itu, di Stasiun Gambir, dan di dalam kamar sebuah apartemen. Rasa-rasanya, ia hidup dalam kepala saya. *** Madiun—2019

 

Hendy Pratama, lahir pada 3 November 1995 di Madiun. Bergiat di komunitas sastra Langit Malam dan FPM IAIN Ponorogo. Heliofilia adalah buku kumpulan cerpennya yang akan terbit.