Cerpen Nanda Dyani Amilla (Medan Pos, 17 November 2019)

Jangan Sekarang, Aku Sedang Rindu ilustrasi Medan Posw.jpg
Jangan Sekarang, Aku Sedang Rindu ilustrasi Medan Pos 

Sayang, kamu di mana? Beri aku kabar, agar aku tahu cara meminimkan rindu. Beri aku kepastian, kapan datangmu singgah di wajahku. Aku tak sabar, menunaikan rindu di wajah cantikmu. Kau bilang sedang dalam perjalanan. Perjalanan panjang menuju kediamanku. Menuju danau tempat pertama kali kita bertemu. Tempat hati kita bertaut menjadi satu.

Sudah senja ke berapa ini? Aku tak lagi menghitungnya. Pikiranku tersita oleh hal-hal yang membuat rinduku membiru. Kucoba menenangkan hati, memanjangkan sabar atas kedatanganmu. Aku yakin kau tidak ingkar. Barangkali aku saja yang parah, ingin menjumpaimu dengan segera. Padahal kau sedang dalam perjalanan.

Aku ingat, senja ke satu kala kau akan bergegas menemuiku. Kau bilang sedang dalam perjalanan menuju bandara. Girang sekali aku mendengarnya. Liburan kali ini kau memutuskan menemui rinduku di sini. Kita sepakat akan bertemu di danau. Aku masih ingat jelas percakapan kita senja itu. Kuhaturkan doa-doa tanpa sepengetahuanmu. Semoga Tuhan menjaga perjalananmu hingga mata kita bertemu.

Sayang, kenapa rasanya lama sekali kau datang? Rinduku sudah tumpah dari wadahnya. Kadang aku merasa seperti anak kecil. Merengek sendiri sebab kau belum tiba di sini. Bolak balik aku ke danau, tapi kau belum tiba juga. Aku kembali menabahkan hati, barangkali kamu sedang membuat kejutan.

Baca juga: Seseorang yang Kusebut Kekasih – Cerpen Nanda Dyani Amilla (Medan Pos, 03 November 2019)

Hari ini senja kelima, aku masih mengharapkan wajahmu tiba. Orang-orang menatapku iba. Mereka tidak tahu, bahwa aku sedang menunggumu. Suara-suara di udara menggema, mengatakan aku sudah gila. Padahal aku hanya rindu kamu. Mereka tidak tahu bahwa kita sudah saling janji akan berjumpa di sini.

Sayang, bagaimana ini? Mengapa belum juga datang? Aku takut kalau rinduku marah. Dia sudah berontak sejak kemarin. Tidak terima dia kalau kubilang kau sedang dalam perjalanan. Katanya, kamu tak akan datang. Dia ingin menguap saja, menghilang dari dadaku. Padahal dia tahu, bahwa hanya rindulah yang aku punya untukmu.

Aku menatap ke ujung danau. Sebuah memori terputar begitu saja. Masa remaja yang menyenangkan. Bersamamu, aku selalu merasa imbang. Hubungan jarak jauh ternyata serumit itu. Jika rindu, tak bisa langsung bertemu. Setiap hari harus bertarung dengan rasa sepi. Bukankah ini sungguh tidak adil?

Sayang, lihatlah. Masih kutunggu hadirmu di danau ini. Mataku dipenuhi pemandangan dua sejoli yang sedang memadu kasih. Tertawa-tawa seolah mengejekku di sini. Aku sepi. Aku sendiri. Tidakkah kamu bisa lebih cepat menemuiku di sini? Ini senja kesepuluh. Dan kamu belum juga tiba.

Baca juga: Wajah yang Berbeda – Cerpen Rizka Amalia (Medan Pos, 06 Oktober 2019)

Sayang, jangan ingkari janji kita untuk pertama kalinya. Katamu, mengingkari janji yang sudah dibuat bersama, hanya akan menyakitkan hati. Itulah sebab kau dan aku selalu menepati segalanya. Tapi bagaimana dengan saat ini? Bahkan teleponku pun sudah tak lagi kau terima. Sayang, apa kamu sedang marah?

Apa kamu sedang membenciku hari ini? Jangan sekarang, aku sedang rindu. Aku sedang butuh kamu. Aku ingin bercerita bahwa sekarang orang-orang mengasihaniku. Barangkali mereka tahu bahwa aku kini sudah sulit sekali bertemu kamu. Mereka bilang aku gila. Ya, aku gila sebab merindukanmu. Sayang, senja-senja itu telah banyak yang terlewati. Aku hanya melihatnya dengan rasa sedih yang menggerogoti hati. Tidak ada kamu di sini. Tidak ada lagi kamu yang manis. Aku rindu senyummu. Aku juga rindu suara serakmu. Aku rindu mata bulatmu. Dan aku rindu semua tentangmu.

Senja kelima belas dan kamu tak juga tiba. Pulanglah, Sayang. Beri aku kabar meski hanya satu detik. Setidaknya, bisa kudengar hela napasmu walau sedikit. Aku kacau tanpamu. Aku tidak bisa terus-terusan begini. Kenapa kau tidak datang juga? Senja sudah tak cantik lagi seperti dulu. Kamu tak datang, aku jadi membenci senja.

Baca juga: Pantai Keberuntungan – Cerpen Bagus Sulistio (Medan Pos, 29 September 2019)

Biar. Sekarang aku merayakan sepi seorang diri. Apa kamu peduli, Sayang? Apa kamu tahu bahwa aku hancur akan janjimu? Bertahun-tahun bersama, mengapa sekarang kau berani sekali menyakitiku? Janjimu tak tertepati. Kamu membohongiku. Kehadiranmu tidak pernah benar-benar terjadi. Bagaimana ini, aku terlanjur marah padamu. Aku hampir saja membencimu!

Sayang, mengapa kau lakukan ini padaku? Aku rindu dan kamu tak ingin bertemu. Ah, aku tak yakin kau benar-benar melakukan itu. Karena sampai senja kedua puluh ini pun aku belum percaya kau tak datang jua. Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa aku lemah. Aku tak benar-benar sanggup untuk tidak bertemu denganmu. Aku lemah tak bisa lagi melihat wajahmu. Sayang, mengapa kau tak mau menemuiku?

Ini bukan salahmu. Salahku yang membiarkan kamu menemuiku di sini. Harusnya aku saja yang menemuimu di sana. Agar masih bisa kita bertatap muka. Agar sempat kucium aroma shampo dari rambutmu. Agar bisa kulihat bibir mungilmu mengomel lucu. Harusnya aku tak sebodoh itu mengizinkanmu ke sini.

Baca juga: Elegi di Suatu Pagi – Cerpen Nanda Dyani Amilla (Medan Pos, 07 Oktober 2018)

Senja kita telah usai, Sayang. Menghitam bersama kenangan yang kukubur dalam-dalam. Sayang, maafkan aku yang terus menangisimu. Maafkan aku yang belum ikhlas atas ketidakhadiranmu. Ini bukan maumu, dan jelas bukan juga mauku. Ini takdir Tuhan. Takdir yang tak bisa terelakkan.

Sayang, aku mencintaimu. Lebih dalam dari apa yang pernah aku katakan. Lebih hebat dari apa yang pernah kutunjukkan. Doaku, kamu bahagia selalu. Dan bangkai pesawat yang membawa tubuhmu, bisa cepat ketemu.

 

Nanda Dyani Amilla. Penulis adalah ALUMNI FKIP UMSU, Pengajar di SMPN 1 Sunggal dan Editor di Majalah OIF UMSU.