Cerpen Maya Sandita (Republika, 17 November 2019)

Felicia ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
Felicia ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Lindap cahaya masuk lewat pintu depan yang terbuka setengahnya. Pagi muram menyeret matahari dengan senyum yang enggan biaskan salam. Dari halaman, kupu-kupu hitam tersesat masuk. Ia hinggap di tirai yang terjurai hingga lantai. Diam di sana.

Angin mengembus pelan dedaunan yang bertebaran di halaman. Cokelat warnanya. Beberapa terbang hingga beranda, beberapa lainnya berputar-putar di sekitar akar pohon besar.

Kupu-kupu di dalam rumah masih diam tanpa ulah. Padahal, tirai bergerak dengan gelombang dan melambai. Menyelinap daun satu helai. Dua tiga lainnya menyusul masuk sebab angin menari dengan cukup buruk. Pintu terbuka lebih lebar, angin mendobrak seolah kehilangan rasa sabar. Kupu-kupu beranjak. Tidak keluar, tapi berpindah ke kamar. Hinggap kembali ia di sebuah tali, tempat kelambu usang biasa dibentang.

Seseorang di atas dipan dikelilingi kelambu yang ditambal lebih dari delapan. Matanya memaku ke langit-langit yang kelabu karena debu dan sisa asap dari tungku. Masa lalu datang seperti sebilah pedang. Menggantung ia di langit-langit, menunggu sesuatu membuatnya jatuh dan seseorang segera terbunuh. Seseorang itu dipanggil Ibu.

Di masa yang terbentang panjang serta diiringi tebing dan jurang, Ibu menyeret peti mati. Isinya mimpi-mimpi. Ibu merasa tak guna lagi memajangnya di dinding kamar agar bisa ia lihat setiap pagi, atau merasa perlu menyimpannya di lemari. Tapi, Ibu juga enggan membakarnya dengan kasar. Seperti mengubah diari-diari biru miliknya dulu menjadi abu sewaktu bertemu Dendam, suaminya.

Baca juga: Tanya di Sepanjang Sungai, di Rimbun Hutan – Cerpen Maya Sandita (Rakyat Sumbar, 03-04 Februari 2018)

Diseretnya terus peti itu sambil perutnya terus tumbuh dan sesekali tangannya mengelus-elus, tanpa bicara apa-apa.

Di dalam peti, Dendam duduk selonjoran. Bersandar ia sambil tangannya sibuk dengan sebuah mesin canggih. Sesekali berteriak histeris sampai ke langit apabila permainan semakin sengit. Ya, Dendam pernah menjadi mimpi Ibu. Ia bermimpi bahwa lelaki itu mampu mengubah langit-langit rumahnya yang kelabu menjadi putih atau biru. Tapi, Dendam tetaplah sebongkah bara api yang dibutuhkan saat dingin menyerang dan sesekali bisa ia padam menjadi arang. Dendam tak pernah bisa digenggam, kecuali Ibu siap demam dua belas malam. Maka, jadilah Dendam seunggun bara api di tungku selama empat tahun. Kepulan asapnya setiap pagi menghitamkan jaring laba-laba yang tak sempat dibersihkan selama hampir setengah dasawarsa. Langit-langit tak pernah jadi putih atau biru.

Selang seribu langkah dari perjalanan yang hampir membuat kakinya patah, Ibu terduduk di sebuah batu. Perut besarnya seolah akan meledak, sesuatu dari dalamnya mendesak. Den dam sedang tidur. Di tepi jurang yang dalamnya tak terkirakan itu, ia meregang nyawanya dengan napas yang ia hitung satu-satu. Ia merasa sesak dan satu bagian tubuhnya terkoyak.

Kupu-kupu berputar-putar, seolah berusaha membuat lamunannya buyar. Benar sekali, Ibu berdiri, menarik selimut dari diri, dan menghalau kupu-kupu sambil mulutnya mengumpat dan menceracau, “Sialan. Kau pikir aku akan mati? Berani-beraninya masuk ke rumahku. Kabar duka apa rupanya yang akan ada di sini selain kematianku?”

Baca juga: Menunggu Jumat Pagi – Cerpen Khumaid Akhyat Sulkhan (Republika, 10 November 2019)

Kupu-kupu hitam terbang kelabakan ke kiri dan kanan. Dikepakkan sayapnya sekuat tenaga menuju pintu yang ternganga. Lalu, ia hilang entah ke mana. Ibu masih sibuk dengan ceracau yang kacau.

Sekejap kemudian sadar perempuan itu, ia di depan pintu. Tubuhnya—dengan usia yang uzur—tengah menghadap ke timur. Ia dapati matahari bersembunyi di balik kabut yang tebal sekali. “Kenapa masih ketemu pagi? Apa masih banyak lagi pagi-pagi lainnya? Apa tidak bisa ini jadi pagi terakhir saja? Surya itu tidak ada, harapan tidak pernah ada. Omong kosong semuanya. Felicia juga tidak pernah ada.” Tiba-tiba jatuh satu per satu bulir air dari pelupuk matanya yang cekung itu.

Nama Felicia jadi igau setiap kali ia lena dalam tidurnya yang galau. Kehilangan putri semata wayang seolah disantet cenayang. Berkali-kali ia menikam diri dengan belati, tapi agaknya nyawa Ibu lebih dari seribu. Entah belati yang tak tajam lagi, atau memang tikaman belati tak mengenai urat nadi. Tapi, yang jelas Tuhan masih tidak mengizinkan perempuan itu mati.

Akhirnya ia pasrah pada hari-hari hingga lelah. Ditutupnya mata seolah buta, pada setiap malam yang sejatinya sudah kelam. Ketika mata itu terbuka, tetap ia bersikap seperti buta. Langit-langit menjadi satu pandang yang ia tuju. Kemudian, pikirannya membawa bola mata itu jauh pada kenang yang selalunya berulang.

Baca juga: Dia Menyentuh Pipi Orang-Orang – Cerpen Abul Muamar (Republika, 03 November 2019)

Jalan mendaki dan terjal dengan tebing dan jurang di kanan kiri. Pepohonan mati jadi pemandangan yang menyeramkan. Sementara itu, peti mati terus diseret sampai telapak tangannya lecet. Dendam dan Felicia kini di dalamnya. Semakin berat beban yang ditanggung seorang perempuan yang nyaris sekarat.

Dendam menggendong Felicia seolah sebuah permata yang tak ternilai harganya. “Hasil karya Papa,” soraknya.

Berhenti Ibu ketika langit tak lagi biru. Kemudian, jingga yang sebentar berubah warna. Menjadi hitam yang bersanding seram. Terdengar nyanyian burung hantu di sebuah pohon besar di balik rumpun bambu. Ibu melepas kain panjang yang sebelumnya diikat di pinggang. Lalu, jadilah sehelai selimut yang membalut. Cepat ia tertidur pulas di atas tanah tanpa alas. Sementara itu, Dendam dan Felicia nyaman di dalam peti dengan berselimut mimpi-mimpi.

Lewat tengah malam menjelang dini hari, Felicia menangis keras sekali. Ibu tahu ia lapar dan butuh susu. Beranjak Ibu dari selimutnya, lalu berjalan menuju anaknya. Diambilnya Felicia dari dalam peti dan disusui. Dendam sedang berenang dalam liur yang tergenang di sudut mulut.

Baca juga: Shalawat Ilalang – Cerpen Alim Musthafa (Republika, 27 Oktober 2019)

Pagi jadi sesuatu yang tak dinanti Ibu. Ia berharap malam suka berlama-lama untuk membiarkan tidurnya lena. Na mun, bumi berputar, cahaya mata hari sudah harus berpendar. Ibu berjalan lagi. Mendaki.

Sesekali dilihatnya ke kaki bukit. Sesekali hatinya merasa amat sakit. Sebuah rumah megah dengan atap merah berdiri di tengah sawah. Itu rumah orang tuanya. Rumah masa kecil yang menjadi saksi pertumbuhan diri. Kini mesti ia tinggalkan jauh sekali. Semua karena cintanya pada Dendam. Cinta pada seorang lelaki yang sudah lama dipendamnya dalam-dalam. Ketika ia berani mengungkapkan hati, Dendam si sialan rupanya bukan seseorang yang patut didambakan.

Dendam bertopeng, menyembunyikan wajahnya yang bopeng, perangainya yang celeng, dan kulitnya yang koreng. Ibu muda yang lugu, namun kaya raya jadi mangsa. Kebetulan saja Ibu cinta, dan akhirnya Ibu paham juga kenapa cinta dibilang buta. Sebab itu, Ibu menyerahkan semuanya tanpa paksaan. Sampai akhirnya kejadian itu tak terelakkan. Ibu ketahuan hamil delapan bulan. Siapa lagi pelakunya kalau bukan si Dendam sialan.

Dendam pasang badan, siap atas apa pun yang akan mereka putuskan. Namun, Ibu enggan. Perangai Dendam sudah mulai terbaca, tapi terlambat untuk membuang perasaannya. Rasa itu sudah berubah menjadi sebentuk daging dalam rahim Ibu.

Baca juga: Penabur Bunga – Cerpen Maya Sandita (Republika, 20 Oktober 2019)

Keputusan didapat keesokan pagi. Ibu dan Dendam mesti angkat kaki. Maka, jadilah saat itu juga hutan terbelah. Terus ke puncak bukit bersama sekujur tubuh dan hati yang sakit.

Pelan perjalanan. Badai dan topan menjadi alasan langkah mendadak dihentikan. Ibu yang berjalan. Sementara itu, Dendam duduk tenang dan merasa menang. Sejak saat itu juga Ibu ingin mati saja. Namun, entakan kaki bayi dalam perut berkali-kali membuatnya mengurung niat tadi.

“Felicia…,” sebuah suara dari luar rumahnya menyambangi di suatu pagi.

Felicia keluar dengan riang. Itu suara Dendam, papanya.

“Papa pulang!” soraknya. Lalu, minta digendong segera.

“Kesayangan Papa,” sebuah kecup mendarat di pipi putih Felicia.

Ibu di dapur. Sibuk dengan tungku, asap yang mengepul, dan pisau yang masih saja tumpul. Tidak ada sesuatu apa pun yang akan dimasak, bahkan sepotong cempedak.

Baca juga: Jejak Cinta Asmarandana – Cerpen Ahla Jennan (Republika, 13 Oktober 2019)

“Kau bawa apa?” tanya Ibu pada Dendam.

Masam mukanya seketika. Diturun kannya Felicia. Lalu, bentakan menghantam telinga. “Bini macam apa kau? Laki pulang mestinya kau tanya mau minum apa? Bukan bawa apa!”

“Aku tidak perlu tanya. Karena, yang ada hanya air putih saja. Kau bisa ambil sendiri dari teko tua. Gelasnya ada di meja,” balas Ibu tanpa menoleh barang sedikit jua.

“Kau belum masak dari tadi? Buat apa saja sejak pagi? Lalu, Felicia kau kasih makan angin tau apa?”

“Kau lihat tidak ada apa-apa di dapur. Atau kau mau kumasakkan batu kapur?”

Terdengar pintu kayu dipukul keras oleh tangan Dendam si pemalas. “Semakin kurang ajar kau!”

“Bang, kalau kau punya perasaan, mestinya kau pulang bawa makanan atau sesuatu yang bisa kumasakkan.”

“Aku punya perasaan. Tapi, bukan untukmu kutempatkan. Siapa bilang aku sayang? Menerimamu saat itu sebab orang tuamu punya uang. Sudah sadar kau sekarang?”

Baca juga: Pedas Manis – Cerpen Daud Farma (Republika, 06 Oktober 2019)

Api di tungku semakin menggebu. Air mendidih dan tumpah keluar dandang menyiram abu di tepi tungku itu. Ibu tak beranjak dari tempat duduk kayunya yang tak bercorak.

Kemudian, didengarnya langkah kaki menjauh. Semakin jauh.

Langit tiba-tiba bergemuruh.

Suara Felicia juga tiba-tiba jadi jauh.

“Ibu…!”

Gegas ia berdiri dan mencoba berlari. Dilihatnya Dendam berjalan dengan cepat sekali. Ingin ia mengejar, tapi kakinya sudah diakari urat-urat besar. Dapat sekadar berjalan barang kali sudah jadi sebuah nikmat yang masih diberi Tuhan.

Terduduk Ibu di depan pintu. Sambil nama anaknya disebut dengan perasaan kalut. Awan menggantung sangat berat, warnanya kelabu pekat, hujan deras yang seketika turun itu akan selalu ia ingat.

Sepanjang sisa hidupnya kemudian, Ibu berdoa semoga anaknya kembali dan tak peduli apakah suaminya hidup atau sudah mati. Tapi, sampai hari ini Felicia tak pernah terlihat lagi. Padahal, musim panas dan hujan sudah puluhan kali berganti.

Baca juga: Air Mata Jingga – Cerpen Azwim Zulliandri (Republika, 29 September 2019)

Ibu insaf. Pagi ini ia masih sendiri. Felicia belum kembali dan hujan akan turun lagi, pagi hari. Ia memilih ke kamarnya yang tadi. Menghindari dingin yang menusuk dan kupu-kupu hitam agar tak berulang tersesat masuk.

Dibaringkan tubuhnya di dipan. Kedua tangannya didekapkan di dada. Ia tidak ingin tidur sebenarnya, tapi kedua kelopak matanya begitu berat terasa. Pagi itu debar jantungnya tak seperti biasa. Ia merasa sesuatu mengalir dari ujung kaki menuju dada yang kurus sekali. Terus ke tenggorokkan dan menggenang sebentar di dalam mulut di balik pipi yang tirus. Seuntai kalimat terucap bersama apa dari tubuhnya yang baru saja diangkat, “La..ila…ha..ilallah…”

Kupu-kupu hinggap di gagang pintu. Diam di situ.

“Ibu…,” terdengar sayup suara dari jauh. *

 

Padang, 31 Juli 2019

Maya Sandita lahir di Pekanbaru pada 02 Mei 1994. Alumnus prodi seni teater ISI Padangpanjang (2019). Tahun ini Maya berdomisili di kabupaten Tanah Datar, Desa Atar Padangganting, Batusangkar (Sumatra Barat)—setelah merantau ke kota Batam, Pekanbaru, dan Padang. Maya tergabung dalam FPL (Forum Pegiat Literasi) Padangpanjang dan sejumlah komunitas pegiat seni. Beberapa karyanya pernah diterbitkan menjadi antologi cerpen: “Lentera” dalam Antologi Cerpen Perahu Tulis – Balai Bahasa Padang (2012), “Heldes” dalam Antologi Cerpen Menunggumu – DivaPress (2013), dan “Batu Godang Putaran Toluak” dalam Antologi Cerita Rakyat Berbahasa Minangkabau – Balai Bahasa Padang (2018). Beberapa cerpennya juga dimuat di sejumlah media massa lokal dan nasional.