Cerpen Novka Kuaranita (Kompas, 17 November 2019)

Dua Belas Jam di Hari Sabtu ilustrasi Alit Ambara - Kompasw.jpg
Dua Belas Jam di Hari Sabtu ilustrasi Alit Ambara/Kompas 

Saya bangun pukul enam hari Sabtu. Kepala saya masih berat. Dengan gerakan lamban, saya tarik pintu kulkas dan saya ambil segenggam buncis di dalam plastik bening, lalu daging giling dari lemari pembeku.

Saya bergeser ke meja dapur dengan kaki diseret. Tangan saya sempat menyambar segumpal bawang putih dalam keranjang, tapi lantas saya letakkan lagi cepat-cepat. Kesadaran saya masih belum penuh, jadi apa-apa saya kerjakan dalam setelan otomatis. Begitu tangan saya menyentuh bawang putih, barulah alarm dalam kepala saya menyentak dan menarik kembali kesadaran saya. Saya tidak pernah membayangkan bakal menemui kerepotan semacam ini, memasak untuk kekasih yang menjauhi bawang putih.

“Baunya aku tak tahan. Sedikit saja bikin mual,” kata perempuan penghindar bawang putih itu. Dona namanya, tentang bumbu yang belakangan ini mengganggunya.

Tanpa bawang putih, saya hanya pakai bawang bombai, cabai merah besar yang diiris menyerong, dan merica untuk cah buncis daging giling kesukaan Dona. Ia gemar menyantapnya dengan perkedel—sudah saya buat kemarin. Perkedel itu jadi kurang gurih tanpa bawang putih. Tapi soal selera saya bisa mengalah. Masalah yang lebih rumit ketimbang berpantang bawang putih adalah pacar saya bunting dan bukan dengan saya.

Baca juga: Cara-cara Klise Berumah Tangga – Cerpen Novka Kuaranita (Kompas, 09 September 2018)

“Benar-benar cuma sekali,” kata Dona tentang kejadian satu setengah bulan lalu yang membuat perutnya kini samar-samar mengembang dan mengencang. Ia hanya pulang agak larut selepas reuni SMA malam itu, diantar seorang teman lelaki yang kebetulan rumahnya satu arah dengan kontrakan kami di Pancoran. Perkara terjadi sesuatu yang lain, saya baru tahu tiga minggu setelahnya, ketika Dona menyampaikan kabar yang tidak bisa saya antisipasi itu.

“Kita mesti menyelamatkan dia mumpung masih sempat.” Itu yang dikatakan Dona sesudah menjelas-jelaskan kepada saya tentang kecelakaan itu. Dona yang ceroboh. Ceroboh dan dingin. Dia yang Dona maksud adalah bakal bayi yang sekarang menyarang dalam peranakannya—ia bahkan terlalu risi menyebutnya janin. (‘Bunting’ kata lain yang membuatnya geli). Dan menyelamatkan berarti, “Jangan sampai dia tumbuh semakin besar, lalu betul-betul lahir di bumi yang kurang menguntungkan ini.” Saya bangun pukul enam hari ini. Hari yang Dona sebut hari penyelamatan. Sabtu adalah waktu yang baik untuk aktivitas yang bakal membutuhkan istirahat. Ia tidak perlu berangkat ke kantor asuransi jiwa tempatnya bekerja dan masih punya Minggu untuk berbaring seharian. Jika belum cukup, mengambil cuti atau beralasan sakit pada hari Senin masih memungkinkan. Sementara saya sudah mcmbatalkan kursus piano seorang anak binaan saya hari ini. Maaf, saya tidak enak badan, saya tukar jadwalnya minggu depan, ya, begitu saya bilang kepada orangtua anak itu tadi malam.

Baca juga: Sastra Setengah Cerita – Cerpen Andre Syahreza (Kompas, 10 November 2019)

Saya sedang memasukkan buncis ke dalam wajan ketika terdengar suara gagang pintu ditekan dan Dona keluar dari kamar. Aroma segar buncis dan daging yang baru matang, juga perkedel yang saya goreng di sisi kompor yang lain, menebar sampai ke ruang tengah.

Thanks, Ay. Sarapan enak bisa agak menghibur,” Dona mendekat. Ia rengkuh pinggang saya dari belakang dan ia lekatkan mukanya di tengkuk saya. Badannya hangat. Di punggung saya, saya bisa rasakan perutnya yang biasanya rata itu kini mengganjal dan lebih padat.

Kami makan pukul tujuh lewat sedikit. Masih terlalu pagi untuk sarapan. Tapi ia harus memasukkan sesuatu ke lambungnya sebelum pil-pil itu. Begitu yang kami pelajari dari artikel-artikel di internet. Empat tablet diletakkan di bawah lidah, diulang tiga kali setiap tiga jam. Peluruhan biasanya dimulai tiga sampai empat jam setelahnya. Paling cepat butuh duabelas jam sampai ini tuntas. Gambaran kamar mandi yang merah mengganggu saya.

Baca juga: Mata Dibalas Mata – Cerpen Meutia Swarna Maharani (Kompas, 03 November 2019) 

Dona melucuti empat butir pil dari kemasannya. Pil-pil yang saya beli beberapa hari lalu di apotek kecil berjarak kira-kira tiga puiuh menit perjalanan dari kontrakan kami. Itu obat pereda nyeri sendi sebetulnya, tetapi kandungan tertentunya menyebabkan kontraksi pada perempuan hamil. Harus dibeli dengan resep dokter. Untunglah ada sebuah situs web yang menyertakan petunjuk berguna, “Anda dapat berpura-pura bahwa nenek Anda sedang berkunjung dan sedang kesakitan karena mengalami kelainan persendian yang sangat parah dan beliau lupa membawa obatnya.” Maka itulah yang saya katakan kepada pegawai apotek.

“Nenek saya sedang berkunjung. Semalaman ia kesakitan karena semua persendiannya ngilu. Masa Mbak sampai hati membiarkan ia terus begitu.” Lalu saya dapat satu pak, dua puluh butir isinya.

Sebentar-sebentar saya tengok jam di dinding. Jarumnya bergerak lebih lambat hari ini. Andai ada pilihan untuk melompati waktu—semacam tersesat di dimensi lain dan kembali tanpa sadar bahwa waktu telah lewat sehari—saya mau begitu saja. Lalu bangun seperti biasa pada hari Minggu yang normal. Tanpa tablet-tablet. Tanpa jabang bayi yang bertumbuh di tubuh kekasih saya.

Baca juga: LOP – Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 27 Oktober 2019)

Saya pandangi Dona yang sekarang sedang mengecat kuku. Kepalanya menunduk. Lembar-lembar rambutnya yang lurus sebahu menutupi pipi tirusnya Tangan kanannya bergerak pelan tapi penuh perhitungan, memulas satu-satu ujung jari kiri yang direnggangkannya mendatar pada permukaan meja makan. Dalam hal ini ia sangat telaten dan taktis. Ia bubuhkan setitik cat pada bagian tengah bawah setiap kuku, dilanjutkan satu sapuan vertikal dengan kuas di tengah-tengah, lalu masing-masing satu sapuan lagi untuk kedua sisinya. Merah pekat warnanya.

“Aku suka bau kuteks,” katanya. Bagus, batin saya sinis, setahu saya zat kimia yang menimbulkan bau menyengat pada cat kuku itu cukup bahaya untuk janin.

“Oh iya, menurut artikel itu, berapa persen kemungkinan gagal untuk usia tujuh minggu?”

“Nol koma lima,” saya menyahut.

“Oke. Ini mestinya berakhir baik.”

Baca juga: Rokat Kandung Kembar – Cerpen Muna Masyari (Kompas, 20 Oktober 2019)

Apa yang baik dan tidak, saya tak begitu pasti lagi. Saya butuh melonggarkan pikiran. Saya jalan ke arah Yamaha Arius di dekat jendela yang menghadap timur. Ini pukul sembilan dan angin dingin dari musim hujan yang datang terlambat menyusup lewat celah sempit daun jendela yang dibuka sedikit. Jemari saya menekan ruas-ruas papan nada. Instrumen sederhana yang lembut, cocok dipentaskan dalam pertunjukan kecil yang intim.

“Aku selalu lupa judulnya. Padahal, sering kamu mainkan, ya,” kata Dona.

“Traumerei.”

“Mozart?”

“Schumann.”

“Dengar, ia sedang memainkannya untukmu.”

“Ya ampun, kau bicara begitu sama si jabang bayi? Bisa-bisanya….”

Baca juga: Celurit di Atas Kuburan – Cerpen Zainul Muttaqin (Kompas, 13 Oktober 2019)

Saya melantangkan suara piano. Saya tidak sedang bermain untuk Dona atau janinnya. Saya sendirilah yang ternyata butuh dihibur. Sepuluh jari saya maraton membunyikan melodi-melodi yang melintas di kepala. “Moonlight Sonata”, “G Minor Bach”, “Clair de Lime”, “Songs My Mother Taught Me”, “La Vie en Rose” (Dona bersenandung kecil ketika saya mainkan yang ini).

“Menjadi pianis memang cita-citamu, ya?” Ia menarik satu majalah dari rak dan pindah duduk ke sofa.

Saya melirihkan volume, “Saya menikmatinya”

“Mengajar piano, apa menariknya?”

Banyak. Misalnya, ada satu murid perempuan berumur 16 tahun yang parasnya manis. Jari-jarinya luwes dan cekatan. Wangi rambutnya seperti buah beri. Tapi cerita semacam ini lebih baik disimpan untuk diri sendiri saja. Lalu kata saya, “Dilihat dari dorongannya, ada anak-anak yang belajar piano sebab disuruh orangtuanya dan yang ikut kursus karena memang berminat. Yang kedua bisa dibilang lebih pakai perasaan ketika berhadapan dengan piano. Lebih menyenangkan kalau melatih murid seperti ini.”

Baca juga: Tujuh Puluhan – Cerpen Yanusa Nugroho (Kompas, 06 Oktober 2019)

“Dulu kamu pasti tergolong kelompok kedua,” timpal Dona.

“Waktu saya kanak-kanak, ibu membelikan saya kaset berisi instrumen-instrumen pengantar tidur. Musik klasik. Bukannya saya terus lebih gampang tidur, yang terjadi malah sebaliknya. Setiap kaset diputar, telinga saya seperti selalu terjaga. Ibu menyisihkan uang, termasuk dengan menghentikan langganan majalah yang selalu ia tunggu-tunggu setiap minggu, untuk membiayai saya kursus piano paket paling murah.”

“Dia ibu yang baik; ibumu. Dan gurumu orang yang beruntung.”

“Saya baru enam tahun. Minat saya tinggi, tapi kemampuan motorik halus belum. Guru tidak serta-merta mengajari saya bermain piano. Ia minta saya latihan dulu mewarnai buku yang sudah digarisinya. Saya menggoresinya dengan pensil warna. Tidak boleh keluar garis, begitu aturannya. Makin lama ruang yang dibuatnya di antara garis makin tipis. Saya makin mampu mencapai presisi saat menekan tuts-tuts. Sekarang saya meniru caranya ketika mengajar. Anak-anak itu menyukainya.”

“Kamu suka anak-anak.” Saya tidak menanggapi. “Kamu tabu, andaikan kita ingin punya anak, kesempatan kita mungkin cuma satu kali ini saja.”

Itu juga pernyataan yang tidak perlu dikomentari.

Baca juga: Jemput Aku di Bawah Pohon Gatep – Cerpen Gde Aryantha Soethama (Kompas, 29 September 2019)

“Apa aku ini jahat?”

“Siapa bisa menghakimi, Dona.”

“Kamu terdengar kayak habis baca kitab suci.”

“Terakhir waktu seorang teman menikah. Tiga tahun lalu.”

Saya mengecek waktu lagi. Dalam tiga puluh menit Dona mesti mengisap empat pil yang kedua. Saya gugup. Saya ingin membunyikan piano keras-keras seperti tadi. Lebih keras. Tapi itu juga tak akan mempan mengalihkan rasa tak nyaman yang makin mengusik. Saya sedang berpikir untuk masak sesuatu yang lain saja demi menyibukkan diri ketika tiba-tiba perut saya terasa seperti diremas- remas. Celana dalam saya basah dan hangat. Saya bergegas ke ruang tidur, masuk kamar mandi, lalu mengambil asam mefenamat dari kotak obat di atas kulkas.

“Kamu haid,” kata Dona, “mudah-mudahan yang ini tidak senyeri biasanya.”

Baca juga: Pegasus Jatuh – Cerpen Dewi Ria Utari (Kompas, 22 September 2019)

Lalu ia berucap lagi. “Apa nanti akan sakit sekali?” Kali ini ia bicara tentang dirinya.

“Mungkin lebih nyeri daripada menstruasi,” itu yang saya baca dari sebuah blog.

“Dan dia, akankah merasa sakit?”

Saya tidak tahu. Pinggul saya pegal dan perut saya mulas sekarang. Saya duduk di sebelah kanan Dona. Ia melingkarkan lengan di pinggang saya dan menyandarkan kepala di bahu saya. Ada yang basah dan hangat, menjalar pelan pada bagian pundak kaus tipis saya. Ini belum jam sebelas. Saya ingin mengakhiri hari ini lekas-lekas.

 

Novka Kuaranita bernama lengkap Fellycia Novka Kuaranita, lahir di Jakarta, 19 November 1988. Menyelesaikan studi di Ilmu Komunikasi, Universitas Atmajaya, Yogyakarta. Ia mengikuti Kelas Cerpen Kompas 2018, Menulis dan Berpikir Kreatif Sallihara 2014, dan Creative Writing Media Nusantara 2016. Cerpennya “Cara-cara Klise Berumah Tangga” termuat dalam Cerpen Pilihan Kompas 2017.

Alit Ambara, lahir di Singaraja (Bali), tahun 1971. Menempuh pendidikan seni patung di Institut Kesenian Jakarta tahun 1989, kemudian meneruskan studi Art History di Savannah College of Art and Design, Savannah, Georgia, Amerika. Menerima Tempo Award untuk pematung terbaik tahun 1993, Awarded Morris Sheer Felloship by Savannah College of Art and Design tahun 1995.