Cerpen Reni Asih Widiyastuti (Medan Pos, 17 November 2019)

Calon Menantu ilustrasi Medan Posw.jpg
Calon Menantu ilustrasi Medan Pos 

Menikah di usia dua puluh lima tahun. Itulah keinginan bapak yang selalu membuatku ingin muntah. Mengeluarkan isi perut hingga menguarkan bau amis karena saking tidak ada lagi yang sanggup kukeluarkan, selain air kuning pekat semacam obat yang digerus.

Beberapa hari terakhir bapak menyodorkan foto-foto wanita. Mulai dari anak sahabat bapak, tetangga sebelah rumah yang jarang pulang karena harus menempuh pendidikan di Amerika, sampai seorang guru mengaji yang sangat cantik dan santun.

Awalnya aku membiarkan bapak melakukan perjodohan itu, sambil mengulur-ulur waktu dan mencari alasan. Tapi lama-kelamaan beliau pun curiga, hingga bilang bahwa aku tidak doyan dengan perempuan. Ah, opini macam apa itu? Aku hanya tak ingin buru-buru menikah atas dasar keinginan beliau saja.

Menikah bukan hanya soal dua insan manusia dengan cinta dan kasih sayang, melainkan adalah bertemunya komitmen, rasa saling percaya dan pengertian. Malam ini, bapak mampu menangkis pikiran jelekku, yaitu perpisahan.

“Mau jadi kepala rumah tangga macam apa kau? Belum apa-apa sudah berpikiran jelek!”

“Tapi aku tidak suka mereka, Pak.”

“Tidak suka apanya? Suka bisa dipupuk, cinta juga lama-lama akan tumbuh!”

“Tapi tetap saja aku tidak suka, Pak.”

“Alah … paling-paling kau hanya butuh mereka mencintaimu. Toh nyatanya selama ini kau tak pernah jatuh cinta!”

Baca juga: Jangan Sekarang, Aku Sedang Rindu – Cerpen Nanda Dyani Amilla (Medan Pos, 17 November 2019)

Cetas!

Korek dinyalakan bapak. Rokok disulutnya. Asap mengepul di udara, bergerombol, lalu segera menghilang. Kopi hitam pun telah tandas sejak lima menit yang lalu. Bapak berlalu begitu saja. Tapi beliau memang benar, aku tak pernah jatuh cinta. Jatuh cinta itu membuat kau tak enak melakukan aktivitas apa pun, sebab wajah orang yang kaucintai akan menjadi bayang-bayang. Terkadang kau tertawa sendiri laiknya orang gila. Jantung mendadak berdebar kencang hanya karena orang lain menyebut namanya. Aku tahu semua itu saat tanpa sengaja mendengar percakapan beberapa kawan, bukan karena pernah merasakannya.

Dua puluh tahun yang lalu, aku masih ingat. Perihal jatuh cinta itu tak melulu kepada lawan jenis. Ibu yang mengatakannya. Beliau jatuh cinta pada Bunga Aster. Menurutnya, bunga itu sangat cantik. Mirip dengan Bunga Dandelion. Tapi beliau tetap lebih suka Bunga Aster. Terutama karena warnanya bermacam-macam. Setiap hari, beliau selalu datang ke toko bunga langganan. Membelinya seikat, lalu diletakkan di meja kamar hingga layu. Entah apa maksudnya. Mungkin seperti itu jatuh cinta universal versi beliau. Aku pun meniru, menyelisik kesukaanku terhadap sesuatu. Tapi hasilnya nihil. Aku tetap tak menemu rasa suka pada apa pun.

Baca juga: Seseorang yang Kusebut Kekasih – Cerpen Nanda Dyani Amilla (Medan Pos, 03 November 2019)

Sebab itu, ibu mulai memberikan pelajaran-pelajaran baru. Setiap weekend—pagi-pagi benar, beliau membawaku duduk bersantai di padang rumput belakang rumah. Jarinya menunjuk segala sesuatu yang terpampang di sana. Beberapa pohon, tanah, semut, cacing, juga termasuk titik-titik embun di dedaunan.

Sesekali beliau bertanya, “Apa ada yang kausukai?”

“Tidak ada, Bu,” jawabku pendek sambil memainkan ujung rumput yang basah.

“Ya sudah, besok kita belajar yang lain saja.”

Hanya anggukan sebagai pengganti jawabanku pada ibu. Itulah bedanya. Ibu sangat sabar, tak seperti bapak. Lalu beliau beralih dan menatap matahari yang mulai nampak. Bercerita pelan-pelan, tentang jaraknya yang sangat jauh, namun panasnya tetap terasa. Tentang kapan ia akan tenggelam.

“Seharusnya begitulah rasa suka. Seperti matahari. Dia tetap mampu memberikan kehangatan, meski jauh. Dia tak pernah egois, berbagi tempat dengan yang lain. Kau sudah paham?”

Baca juga: Wajah yang Berbeda – Cerpen Rizka Amalia (Medan Pos, 06 Oktober 2019)

Aku diam. Tak mengangguk atau pun menggeleng. Wajahku mulai berkeringat karena matahari kian menyengat. Ibu segera menarik tanganku untuk meninggalkan padang rumput dan melangkah lebih cepat. Aku tahu mengapa ibu melakukannya. Pasti beliau cemas jika bapak sudah bangun dari tidurnya dan mendapati kami tak ada di rumah. Lebih-lebih kalau ibu belum menyiapkan secangkir kopi panas untuknya, pasti akan marah besar. Meski terlampau mudah marah, ibu sangat menyayangi bapak dan memaklumi sifatnya.

Dua hari kemudian, ibu benar-benar memberikan pelajaran baru. Beliau membawaku ke kebun milik bapak. Tak terlalu luas, hanya 2 petak atau sekitar 4.000 m2 dan ditanami jagung. Bapak memang sangat suka dengan biji-bijian. Sayang sekali, saat itu belum tiba masa panen. Mungkin harus menunggu sekitar dua bulan lagi. Berarti, kami belum bisa makan jagung dari hasil tanaman sendiri. Sementara itu, ibu mulai melesak ke dalam kebun setelah melepas sandal jepitnya. Ketika aku hendak menirunya, beliau melarang. Katanya, nanti kakiku bisa berdarah karena kemasukan sesuatu.

Maklumlah, waktu itu aku belum pernah ke kebun. Sebenarnya bapak tak pernah melarang untuk menanam, mencangkul dan sebagainya. Itu membuktikan bahwa kau lelaki sejati, katanya. Tapi lagi-lagi ibu yang menghalangi. Mengomel tidak karuan. Takut jika terjadi ini dan itu.

Baca juga: Pantai Keberuntungan – Cerpen Bagus Sulistio (Medan Pos, 29 September 2019)

“Duduklah!” kata ibu setelah kami sampai di sebuah bangunan mirip rumah kecil, yang kini kutahu bernama saung.

Aku duduk di sebelah ibu. Dadanya naik turun—mengatur napas karena kelelahan berjalan. Aku bertanya padanya akan belajar apa kita hari ini. Dan cerita itu pun dimulai. Katanya, dulu, sebelum bapak berniat melamar ibu, kebun ini masih milik Pak Warto. Pak Warto adalah orang terkaya di desa ini. Sawahnya berhektar-hektar, punya pabrik di mana-mana, rumahnya pun banyak, hampir di setiap kota ada. Jadi, tak perlu mencari tempat penginapan kalau beliau ada tugas di luar kota.

Setelahnya, aku bertanya pada ibu, apakah cerita itu ada hubungannya dengan rasa suka. Lalu ibu memperbaiki posisi duduknya. Sebentar kemudian matanya menatap ke depan. Tempat di mana jagung-jagung sebentar lagi akan siap dipanen. Seolah-olah, cerita tentang rasa suka itu ada di sana. Tiba-tiba telunjuk ibu mengarah pada sebuah tembok yang separuhnya tertutup rumput. Jika kuingat-ingat, tingginya sekitar lima meter. Lalu, ada sebuah tangga kayu yang sengaja dibiarkan tersandar di sampingnya.

Bapak biasa memanjat dengan tangga itu untuk mengantar makanan. Entah siapa yang dituju, tapi selalu bertepatan saat ibu melewatinya. Kebetulan, di balik tembok itu adalah jalan pulang ke rumah. Setiap hari, ibu mengurus sapi-sapi Pak Warto. Memberi makan, memandikan, membersihkan kandang, sampai memerah susu. Kadang-kadang, ibu juga mengantar susu perahan itu pada pembeli.

Baca juga: Renjana Rindu Datang Memburu – Cerpen Miftachur Rozak (Medan Pos, 25 Agustus 2019)

“Dari mana ibu tahu kalau itu bapak?”

“Ibu pernah memergoki bapakmu, suatu kali diberi tugas oleh Pak Warto menjaga kebun ini,” ucap ibu dengan tersenyum.

Aku tak lagi bertanya, selebihnya menatap ibu dengan saksama selama beliau bercerita. Tentang Pak Warto yang tiba-tiba jatuh sakit, lalu meninggal dunia. Pak Warto pun menitipkan ibu pada bapak. Ternyata Pak Warto diam-diam mengetahui jika bapak juga suka dengan ibu. Memang seperti disengaja, tapi itulah takdir. Tuhan sudah mengaturnya dengan baik.

Sejak hari itu, aku selalu mengingat pelajaran dari ibu. Aku pun berhasil memiliki rasa suka pada lawan jenis. Tanpa berlama-lama, kumantapkan hati untuk meminang gadis itu. Sore yang dingin ini, aku bertekad hendak mengenalkannya pada bapak. Aku yakin, beliau akan senang sekali. Sebab calonku itu cantik, sehari-hari memakai kerudung dan orangnya santun. Hanya saja, dia sangat pendiam. Masa bodoh jika orang-orang bilang kalau dia bisu. Tetap saja aku suka. Tetap saja aku mencintainya.

Baca juga: Andai Wajah Ibu Kota Seperti Ibu Nita – Cerpen Faris Al Faisal (Medan Pos, 14 Oktober 2018)

Kulangkahkan kaki dengan mantap dan penuh rasa percaya diri—menuju kamar bapak. Sesampainya di depan pintu kamar, aku menarik napas dalam-dalam seraya menatap kekasihku. Kuelus kepalanya dengan lembut dan mengecup keningnya.

Tok-tok-tok.

Aku mengetuk pintu kamar perlahan dan menunggu, tapi bapak tak membukanya. Kuketuk lagi, beliau belum juga membuka pintu. Hingga ketiga kali, akhirnya kuputuskan untuk langsung masuk ke kamar.

“Bapak, coba lihat! Aku membawa calon menantu impian bapak!”

Seketika mata bapak langsung tertuju pada gadisku. Sesaat kemudian, ekspresi beliau berubah. Kali ini matanya mendelik, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Aku begitu bangga, beliau seperti itu pasti karena terlampau bahagia.

Tapi ternyata dugaanku salah. Setelah melakukan diskusi sejenak, bapak bilang kalau calon pendampingku keras seperti batu. Aku sungguh tak mengerti, padahal dia cantik dan berkulit putih layaknya orang chinese. Setidaknya, dengan kriteria seperti itu, harusnya bapak terpesona. Aku terduduk lemas di samping tempat tidur bapak. Seketika air mataku bergulir dan berubah menjadi bah di wajahku.

Kupandang lekat wajah kekasihku, berharap dia mau memperjuangkan cinta ini bersama-sama. Tapi yang ada hanya geming dan langit-langit mulutku semakin ngilu seiring hatiku yang telah hancur disayat-sayat sembilu.

 

Semarang,  Juni 2017-Oktober2019

Reni Asih Widiyastuti ialah penulis asal Semarang, Alumnus SMK Muhammadiyah 1 Semarang. Menulis cerpen, cerma, cernak, resensi, dan novel. Salah satu bukunya telah terbit, yaitu Pagi untuk Sam. Karya-karyanya terbit di berbagai media lokal. Penulis bisa dihubungi melalui email; reniasih17@gmail.com