Cerpen T. Sandi Situmorang (Analisa, 17 November 2019)

Akhirnya Aku Pulang ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisaw.jpg
Akhirnya Aku Pulang ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa 

Sedari dulu kusadari posisiku di rumah ini. Andai mereka memiliki pembantu, aku masih berada di bawah pembantu itu. Setidaknya kehadiran pembantu karena memang dibutuhkan. Sedang aku tidak. Misal ada pilihan, tentu mereka menginginkan aku tidak berada di rumah ini.

Kukerjakan pekerjaan pembantu, tanpa gaji. Bahkan aku yang mengerjakan hal-hal yang seharusnya bisa dilakukan Todo dan Miska. Semua kukerjakan dengan ikhlas. Sedari dulu aku tidak bisa diam. Berlama-lama tidak melakukan apa pun justru membuat badanku pegal.

Dari halaman depan sampai halaman belakang dapat kukendalikan. Kutata halaman depan dengan rimbunan bunga-bunga indah. Menghalau debu dari dalam rumah, mengolah makanan, hingga tampak lezat di atas meja makan. Menyiapkan pakaian bersih dan harum untuk mereka, hingga menggarap kebun kecil di belakang rumah. Di sana kutanam beberapa jenis sayur seperti daun ubi, bayam, kacang panjang, dan terong. Juga cabai, tomat, dan bawang merah.

Sayangnya, tidak bisa kutahan waktu. Saat tenggelam dengan pekerjaan, diam-diam waktu mengambil sedikit demi sedikit kekuatan tubuhku. Selain membuat rambutku memutih dan kulitku berkerut, waktu pun membuatku tidak setangkas dulu.

Punggungku pegal bila berlama-lama melakukan pekerjaan. Bersebab lupa beberapa kali aku hanya tidur-tiduran padahal seharusnya melakukan sesuatu yang penting. Aku sering melupakan pesan-pesan yang dititip kepadaku.

Aku merasa bersalah. Terlebih di belakang pundakku mereka mengeluh. Aku bertekad tidak mengulanginya lagi. Justru lebih sering terjadi.

***

Namaku Sarmauli. Aku tinggal di rumah Ester. Ester satu-satunya adikku setelah kebakaran rumah membawa pergi dua adikku dan kedua orang tua kami beberapa puluh tahun lalu. Beda usiaku dan Ester hanya tujuh tahun, namun wajah kami lebih menyerupai anak dan ibunya, atau mungkin seperti cucu dan neneknya.

Ah, bukan. Lebih menyerupai majikan dan pembantu tuanya. Tidak banyak teman-teman Ester mengetahui kami kakak-adik. Aku tidak pernah terlihat setiap teman-temannya berkunjung ke rumah. Ester tidak meminta begitu.

A sangat mengenalnya. Ester setuju dengan keputusanku itu. Setiap temannya datang, dia memintaku menyiapkan makanan ringan serta minuman kemudian dia yang menghidangkan.

Ester bekerja di sebuah rumah sakit besar di Medan. Kurasa posisinya lumayan hebat di sana. Aku tidak tahu pasti. Kami tidak pernah bercakap-cakap selayaknya adik dan kakak.

Suami Ester bernama Parlin. Seorang polisi. Aku juga tidak tahu pangkatnya. Aku yakin pangkatnya tinggi sebab tidak jarang polisi yang berkunjung ke sini selalu menghormat padanya. Tidak seperti Ester, beberapa kali Parlin berkata kepada teman-temannya bahwa aku kakak iparnya. Bukannya senang, aku selalu risih melihat tatapan teman-temannya itu. Bisa kutahu mereka nyaris tidak percaya.

Dua anak Ester dan Parlin, sekarang sudah sarjana. Paling besar bernama Todo. Tidak lama lagi dia akan menikahi seorang dokter, sama seperti dirinya yang juga dokter. Sementara Miska, sejak tamat kuliah sekitar setahun lalu, tidak pernah melamar pekerjaan ke kantor-kantor. Dia memilih berjualan di mal.  Miska sering bepergian ke luar kota dan sesekali ke luar negeri, jualannya di mal itu dijaga beberapa pegawainya.

Pada awalnya, aku bahagia tinggal di rumah ini, sebab aku sangat dibutuhkan di sini. Sekarang, ketika anak-anak sudah besar dan aku semakin tua, bagi mereka aku hanyalah beban. Setiap Miska maupun Ester mengeluh tidak puas dengan hasil pekerjaanku, Parlin mengusulkan sebaiknya mereka menghadirkan pembantu saja. Ester yang paling tegas menolak. Katanya, kalau begitu, apa fungsiku di rumah ini.

Kalau begitu, jangan mengeluh. Kerjakan apa yang bisa kalian kerjakan? Begitu kata Parlin.

***

Aku duduk di tepi tempat tidur. Meski hatiku pecah, tidak ada air mata mengintip dari ujung mataku. Sedari remaja hidupku memang keras, aku tidak terbiasa dengan air mata.

Belum satu jam yang lalu ruang tamu pecah. Lelaki yang mencoba mendekati Miska datang berkunjung. Aku tidak masalah ketika lelaki itu memanggilku ‘Bik’. Justru Parlin yang menjelaskan, aku bukan pembantu. Aku kakak kandung ibu Miska.

Setelah lelaki itu pamit, Miska marah pada ayahnya. Parlin menampar Miska. Kemudian Ester datang, dia meminta penjelasan apa yang terjadi. Begitu tahu perkaranya, Ester marah padaku.  Bukan masalah besar Ester marah padaku. Ini bukan kejadian pertama. Ucapannya yang membuatku sakit hati. Katanya, “Dasar perawan tua genit!”

Parlin membentak istrinya. Diam-diam aku beringsut dalam kamar tidurku. Kini, aku masih duduk di tepi tempat tidur. Sedari tadi mataku menatap lemari pakaian juga koper kecil di atasnya. Koper itu seperti merayu memintaku memasukkan pakaian-pakaianku ke dalamnya. Lelah merayu, lemari itu mengejekku, bahwa aku hanya semacam duri dalam daging di rumah ini.

Tiba-tiba aku rindu rumah kami di tepi Danau Toba. Sudah berapa lama rumah itu kutinggalkan?

***

Selain aku, hanya ada tiga penumpang lain. Satu duduk di sebelah sopir, dua yang lain—kutebak suami-istri—duduk di kursi belakang sopir. Sementara aku duduk sendiri di belakang. Aku dan penumpang di depanku hanya terpisah sebaris kursi kosong, namun aku merasa sangat kesepian serta sendirian.

Dari jendela yang terbuka kubiarkan angin menampar wajah tuaku. Pandanganku terlempar keluar, sementara ingatanku terlempar puluhan tahun ke belakang. Seperti baru tiga hari yang lalu kuantar Ester ke Medan untuk mendaftar ulang di Fakultas Kedokteran USU. Rasanya seperti dua hari yang lalu kubiarkan air mataku tumpah dalam perjalanan menghadiri wisudanya. Seperti baru kemarin, Parlin memintaku tinggal bersama mereka di Medan.

Ya, rasanya belum terlalu lama kulintasi jalan ini. Menaiki minibus jurusan yang sama. Semua kulakukan demi Ester. Aku rela hancur demi mewujudkan cita-citanya. Semua kuberi padanya. Bahkan, aku menerima perlakuannya menikah diam-diam di Medan karena dia malu hanya memiliki keluarga sepertiku.

Selama Ester kuliah, hidupku keras. Aku bekerja keras di ladang, menenun ulos, bahkan terkadang membantu katering pesta. Semua kulakukan supaya kuliah Ester tidak terhambat. Sampai kulupakan batang usiaku menjulang, kuacuhkan ajakan satu-dua lelaki yang berniat kepadaku.

Bagiku tak masalah. Ester yang paling penting. Ketika Ester sudah bekerja kemudian menikah diam-diam, barulah kusadari, seharusnya kusisihkan waktu untuk diriku sendiri. Semestinya kubuka  sedikit saja pintu hatiku untuk lelaki, namun sudah terlambat. Tidak ada lagi laki-laki yang berhasrat padaku. Memang ketika itu usiaku masih 35 tahun, tapi hidup yang keras membuat wajahku memar. Jauh lebih tua dari semestinya.

Kucoba melesapkan masalah lalu itu di dasar ingatan dengan sebuah embusan napas keras. Tatapanku beralih ke luar. Aku tidak lagi mengenal jalan-jalan ini, membuatku bertanya-tanya, kapan terakhir aku pulang kampung?

Setiap Ester bersama keluarganya pulang kampung, aku selalu diminta tinggal menjaga rumah. Aku hanya mendengar cerita-cerita Todo dan Miska sewaktu mereka masih kecil. Mereka, berkunjung ke makam orang tua kami sebentar, berdiri di luar rumah kami, kemudian menghabiskan waktu yang banyak untuk berjalan-jalan dan tidur di hotel.

Sekarang aku menggigil. Membayangkan berdiri di depan rumah kami, mengunjungi makam orang tua dan saudaraku. Seharusnya sejak dulu kulakukan ini. Tidak harus menunggu sakit hatiku menumpuk pada Ester.

***

Minibus yang kutumpangi berhenti di depan rumah. Tanganku bergetar menggenggam anak kunci. Menatap ilalang tinggi di samping rumah serta semak di halaman depan. Mau tidak mau melemparkan ingatanku pada rumah Ester. Di sana, tidak kuizinkan sebatang rumput tak berguna menumpang di halamannya. Sementara di sini, rumah kami nyaris tenggelam disemaki ilalang. Padahal, semestinya di sinilah aku tinggal.

Dua remaja menatapku dari  halaman rumah sebelah. Kuberi mereka senyuman serta anggukan kepala. Aku tidak tahu siapa mereka, tapi pasti anak dari orang yang sangat aku kenal. Nanti, aku akan berkunjung ke sana.

Sebaiknya aku masuk saja. Tubuhku sangat lelah. Aku harus membenahi beberapa tempat supaya tidurku nyaman malam ini. Beruntung juga kuizinkan beberapa keluarga menempati rumah ini sebelum akhirnya benar-benar kosong sejak setahun lalu. Setidaknya dia masih layak untuk kutempati sekarang.

Dengan susah payah kutapaki anak tangga. Daun pintu berderit saat kudorong pelan.

“Akhirnya, kau pulang juga, Inang. Sudah terlalu lama kami menunggumu.”

Aku nyaris mundur, namun senyuman ibu berhasil menahan kakiku.

Tangan ibu merentang di hadapanku. Kulemparkan tubuhku dalam dekapannya. Rupanya belum kulupa bagaimana hangat dan nyamannya dalam dekapan ibu. Kulihat ayah serta dua saudara laki-lakiku berjalan dari dapur.

Senyum mereka hangat. Wajah mereka, serta wajah ibuku, masih sama mudanya sebelum api membakar rumah dan melenyapkan tubuh mereka, beberapa puluh tahun yang lalu.

Sekarang, mengapa mereka berada di rumah ini?

 

Binjai, 20 Oktober 2019