Cerpen Tjak S. Parlan (Koran Tempo, 16-17 November 2019)

Harga Sebuah Sepeda ilustrasi Koran Tempow.jpg
Harga Sebuah Sepeda ilustrasi Koran Tempo

Bangkai anjing itu membengkak. Begitu bengkaknya hingga seolah-olah akan meledak. Mungkin dibutuhkan sebuah benda yang sedikit runcing-sejenis duri atau ranting kering-dan keisengan seorang gelandangan setengah mabuk agar bangkai anjing itu meledak secepatnya. Dusss! Seperti itulah bunyinya. Bunyi itu diikuti oleh cairan berwarna keruh; merembes perlahan-lahan dari selangkangan atau perut bangkai anjing gemuk itu. Lalu disusul bau yang busuk. Teramat busuk dan menyengat dalam udara siang yang kerontang.

“Anjing!” umpat Fahmi Idris. “Anjing bengkak sialan!”

Nyatanya, bangkai anjing itu benar-benar pecah terlindas oleh roda belakang sepeda Fahmi Idris. Sebenarnya dia sudah mengarahkan roda depan sepedanya sedemikian rupa untuk menghindar. Namun tindakan itu hanya membuat sekerumunan lalat hijau terkaget sebentar, terbang rendah, lalu kembali berkerumun di tempatnya semula.

Merasa ada yang tidak beres, Fahmi Idris berhenti untuk memeriksa sepedanya. Dia mengendus roda belakang sepeda kayuh itu dan merasakan sesuatu yang busuk-menyengat melekat di ujung hidungnya. Tidak tahan, dia segera menyumbat hidungnya dengan jemari tangan kirinya. Matanya menyelidik ke sekitar berharap menemukan sesuatu untuk membersihkan roda sepedanya. Namun tampaknya dia berada di tempat yang salah. Jalan setapak itu lurus mengikuti sebuah saluran air yang mati. Entah sudah berapa lama got kecil di belakang reruntuhan gudang tua itu tidak digenangi air. Sampah plastik, sampah rumah tangga-bungkus rokok, bungkus kondom, bekas minuman kaleng, popok, pembalut wanita, kutang, dan celana dalam kedaluwarsa-berserakan di sejumlah titik.

Baca juga: Selamat Pagi Nona Magpie – Cerpen Bayu Pratama (Koran Tempo, 02-03 November 2019)

Dia tidak benar-benar asing dengan pemandangan semacam itu. Pada saat-saat tertentu dia terpaksa memilih jalan setapak yang tersembunyi itu untuk memintas jarak. Andai saja hari itu dia bangun lebih awal, pasti tidak akan terhalang kemacetan. Pasti dia akan dengan senang hati mengayuh sepedanya melewati jalanan aspal yang mulus membentang dari utara ke selatan di kawasan perkantoran pemerintah. Namun sudah tiga hari berturut-turut jalanan itu selalu penuh dengan orang-orang. Orang-orang itu-anak-anak muda juga orang-orang dari sejumlah kalangan-membentangkan spanduk, mengusung poster-poster, membagikan selebaran-selebaran, dan berteriak-teriak menuntut banyak hal. Negara sedang Tidak Baik-baik Saja, Keadaan Semakin Sulit, Saatnya Bergerak dan Melawan, Mahasiswa dan Buruh Bersama Rakyat, dan banyak lagi kalimat dengan nada serupa mengiang-ngiang di telinganya beberapa hari itu. Orang-orang biasanya mengucapkannya dengan berapi-api. Bahkan seorang pemuda belia tetangga dekatnya pernah mengucapkannya dengan tangan mengepal, tepat di depan hidungnya.

Saat dia mencoba menggosok-gosokkan roda sepedanya di tanah kering berdebu, ponselnya bergetar. Dia segera menghentikan aktivitasnya dan mulai memeriksa ponsel tuanya. Sebuah pesan pendek masuk: saya pergi dulu, nanti Hasan yang mengurus. Itu pesan pendek dari Bachtiar Tamrin, seorang kenalan lamanya yang sehari-harinya terlihat di pasar loak dan gemar membagikan kartu nama ke setiap orang seolah-olah mereka semua akan menjual atau membeli sepeda bekas. Sehari sebelumnya dia menghubungi Bachtiar Tamrin untuk menanyakan harga sebuah sepeda kayuh bekas. Setelah dia memberikan sejumlah perincian yang berkaitan dengan sepedanya, Bachtiar Tamrin langsung menaksir harganya. Selanjutnya, dia akan bertemu juragan sepeda bekas itu di pasar loak.

Baca juga: Nikolaus Pu’u Pau – Cerpen Reinard L. Meo (Koran Tempo, 26-27 Oktober 2019)

Fahmi Idris tidak bisa membalas pesan pendek itu. Tidak ada pulsa nol rupiah pun! Pilihan yang paling memungkinkan adalah bergegas dan membiarkan bercak-bercak bangkai anjing itu tetap menempel di roda belakang sepedanya. Sesaat sebelum kembali mengayuh sepeda, dia menatap sekali lagi bangkai anjing itu. Bekas lindasan roda sepedanya terlihat jelas, membuat bangkai anjing itu penyok sedemikian rupa. Dalam jarak yang cukup dekat, dia bisa melihat belatung-belatung menggeliat-geliat keluar dari dalam bangkai perut anjing yang pecah itu. Sebelum isi perutnya naik ke tenggorokan dan menambah jenis kejorokan yang lain, Fahmi Idris pun bergegas.

***

Tangan kanan Hasan Sanusi memegang roda sepeda dan memutar-mutarnya beberapa saat. Dia perhatikan segala sesuatunya. Roda sepeda itu bisa berputar dengan baik. Namun ada sesuatu yang aneh saat dia mulai memperhatikan telapak tangannya yang terasa basah. Dia dekatkan tangan yang basah itu ke ujung hidungnya. Sontak dia pun mengumpat.

“Bangsat! Busuk sekali. Kamu habis menabrak apa tadi?”

“Mana saya tahu!” jawab Fahmi Idris seolah-olah tidak peduli.

Sejurus kemudian, Hasan Sanusi meludahkan cairan kuning kental dari mulutnya. Dia tampak jijik, tapi mencoba mengendus tangannya sekali lagi. Lalu dia mengeluarkan sebuah sapu tangan dari dalam tas pinggangnya dan berusaha membersihkan tangannya.

Baca juga: Kutuk Banaspati; Empat Cerita pada Satu Malam – Cerpen Muhammad Nanda Fauzan (Koran Tempo, 12-13 Oktober 2019)

“Empat ratus!” ujar Hasan Sanusi seraya menyusupkan sapu tangan ke dalam saku celananya.

Dahi Fahmi Idris berkerut-kerut. Angka itu melenceng jauh dari perkiraannya semula. Bahkan-seingatnya-Bachtiar Tamrin telah menaksir harga yang lebih pantas. Sayangnya, Bachtiar Tamrin sedang tidak berada di tempat. Bachtiar Tamrin justru menyerahkan urusan pembelian sepeda itu kepada Hasan Sanusi.

“Harga dari saya ini persis dengan harga yang disampaikan Bachtiar. Saya hanya meneruskan saja apa pesannya.”

Fahmi Idris bergeming. Dia mencoba mengingat-ingat, kapan dan di mana pernah bertemu dengan Hasan Sanusi. Dia memang jarang pergi ke pasar loak, sehingga tidak bisa mengingat orang satu per satu. Namun dia merasa pernah bertemu dengan sosok tinggi-besar itu. Tapi kapan dan di mana, dia tidak berhasil mengingatnya.

“Itu terlalu rendah,” tanggapnya kemudian. “Sebelumnya, Bachtiar sudah bilang kepada saya, kisaran harganya segini.”

“Tujuh ratus lima puluh? Gila! Itu harga jual paling tinggi di sini,” bantah Hasan Sanusi.

“Ayolah! Kamu lihat sendiri. Barangnya masih bagus.”

“Di toko sebelah itu malah lebih bagus lagi, Bos!”

Baca juga: Dari Tour de France hingga Hemingway – Cerpen Eko Darmoko (Koran Tempo, 05-06 Oktober 2019)

Mereka berdua sama-sama bergeming untuk beberapa saat. Hasan Sanusi membakar sebatang rokok yang sedari tadi terselip di telinga kirinya. Sekepul asap pun segera meluncur dari bibir berkerut makelar sepeda bekas itu.

“Di mana Bachtiar?”

Hasan Sanusi masih memain-mainkan asap rokok dengan bibirnya. Dia senang membuat bulatan-bulatan kecil layaknya remaja belasan tahun yang baru saja belajar mengisap rokok. Bulatan-bulatan kecil itu melayang-layang, susul-menyusul pecah di udara.

“Dia sedang sibuk. Coba saja kamu hubungi!”

Fahmi Idris merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel dan berusaha menghubungi Bachtiar Tamrin. Tapi tentu saja itu sebuah tindakan yang sia-sia. Menangkap gelagat semacam itu, Hasan Sanusi-dengan gerak-gerik seorang pemalas-menyodorkan ponsel miliknya. Tanpa basa-basi, Fahmi Idris menyambar ponsel itu dan langsung menghubungi Bachtiar Tamrin.

“Halo… Ya, halo!” suara Bactiar Tamrin terdengar menyusup dari tempat yang jauh.

“Kamu di mana? Berisik sekali. Ini saya, Fahmi!”

Baca juga: Sepasang Mata Gagak di Yerusalem – Cerpen Han Gagas (Koran Tempo, 28-29 September 2019)

Lalu mereka terlibat dalam obrolan jarak jauh. Nada suara Fahmi Idris meninggi dalam beberapa saat. Selama berbicara dia terus-menerus menggerakkan tangannya. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Komunikasi terputus. Fahmi Idris mencoba menghubungi lagi. Tidak tersambung. Mungkin baterai ponsel Bachtiar Tamrin habis. Mungkin juragan sepeda bekas itu sengaja mematikan ponselnya.

“Lima ratus ribu kata Bachtiar. Uangnya sudah dititipkan padamu,” ujar Fahmi Idris seraya menyodorkan ponsel kepada Hasan Sanusi.

Hasan Sanusi masih tampak seperti seorang pemalas. Dia menyandarkan tubuhnya pada dinding toko tua yang sudah banyak mengelupas seraya bermain-main dengan asap rokoknya.

“Lima ratus ribu? Saya tak dapat uang rokok sama sekali. Bagaimana sih, Bactiar ini? Bangsat sekali!”

Fahmi Idris malas menanggapi gerutuan Hasan Sanusi. Kecamuk dalam dirinya kian bertambah. Dia sepertinya belum rela melepas sepeda satu-satunya miliknya itu. Bagaimanapun sepeda kayuh itu sudah berjasa dalam hidupnya. Dia membeli sepeda itu satu tahun sebelumnya; kontan dan dalam kondisi serba baru dari sebuah toko sepeda tepercaya. Dia membelinya setelah menyisihkan uang hasil menjual sepeda motor satu-satunya peninggalan orang tuanya. Dia melakukannya untuk sebuah alasan klise: bertahan hidup! Dan kini, dia terpaksa menjual sepeda itu untuk alasan yang sama.

Baca juga: Kejadian-kejadian di Meja Operasi – Cerpen Ida Fitri (Koran Tempo, 21-22 September 2019)

“Baik. Ini uangnya!” ujar Hasan Sanusi. “Tapi tolong, beri saya dua puluh! Anggap saja sebagai ongkos mencuci sepedamu yang baunya busuk ini.”

Dengan malas, Fahmi Idris menerima uang itu. Dia menghitung kembali lembar demi lembar uang yang kumal dan lecek itu. Jumlahnya lima ratus ribu rupiah. Namun sial. Tidak ada pecahan dua puluh ribuan. Dia pun memeriksa kantong celananya dan menemukan dua lembar lima ribuan-kumal dan lengket. Sepertinya uang itu pernah terendam dalam bak cucian. “Hanya sisa ini,” ujar Fahmi Idris seraya menyodorkan uang itu.

Hasan Sanusi tampak kurang suka. Dia membuang puntung rokok dan meludahkan cairan kuning kental dari dalam mulutnya. Lalu dia berdiri. Tampak ragu, ditatapnya uang dalam genggaman tangan Fahmi Idris itu.

“Kamu ambil atau tidak?” Fahmi Idris mengulurkan uang itu sekali lagi.

Hasan Sanusi segera menyambarnya. Seraya menggerutu, dia menuntun sepeda itu menjauh dari Fahmi Idris. Namun sebelum dia pergi terlalu jauh, Fahmi Idris menyusulnya dan menepuk pundaknya. “Sebenarnya Bachtiar pergi ke mana?”

“Astaga!” Hasan Sanusi bersungut-sungut. “Kamu belum tahu juga rupanya. Dia sedang ikut aksi bersama buruh dan mahasiswa. Semua orang juga tahu!”

Baca juga: Boston: Ketika Ponsel Berdering (Cerpen F. Ilham Satrio (Koran Tempo, 14-15 September 2019)

Kening Fahmi Idris berkerut-kerut kembali. “Hebat! Bactiar seorang buruh. Ya, ya, ya… Dia bergabung bersama mahasiswa?”

Hasan Sanusi masih bersungut-sungut. Tanpa menanggapi Fahmi Idris, dia mengeloyor ke sisi lain pasar loak itu. “Busuk sekali sepeda ini!” gerutunya berulang-ulang.

Fahmi Idris kembali menatap sejumlah uang dalam genggaman tangannya. Kerut keningnya berlipat-berlipat lebih dari sebelumnya. Dia tahu hal yang harus dilakukannya kemudian; membeli sesuatu untuk anak dan istrinya, lalu segera pulang.

***

Fahmi Idris turun dari angkot dan bergegas menyusuri jalan yang akan menghubungkannya dengan sebuah gang kecil menuju rumah kontrakannya. Jalan itu ditutup untuk umum karena sedang ada aksi massa besar-besaran. Tapi Fahmi Idris bisa menjelaskan kepada polisi yang sedang berjaga-jaga di perempatan, bahwa rumahnya memang tidak jauh dari areal Gedung Dewan dan jalur itulah harapan satu-satunya agar cepat sampai di rumah. Lagi pula dia berjalan kaki. Dia bisa melompati selokan di pinggir jalan dan meneruskan perjalanannya melalui pematang sawah-sedikit yang tersisa di kota itu.

Aksi massa masih berlangsung. Fahmi Idris mendengar suara-suara riuh dari lautan manusia di kejauhan. Dia tidak begitu memikirkannya. Dalam pikirannya hanya satu: segera sampai rumah. Saat jaraknya semakin dekat dengan areal Gedung Dewan, suara-suara riuh itu semakin jelas. Seseorang berteriak melalui megafon disusul teriakan-teriakan lainnya dari kerumunan. Suara orang-orang itu berbaur dengan suara sirine, gemuruh-yang entah apa-lalu suara-suara tembakan. Orang-orang berlarian-entah mahasiswa atau buruh-dan melompati selokan menghindari amuk yang terjadi di sejumlah titik. Tiba-tiba saja dia telah berada di antara gelombang manusia itu, terbawa arus, terimpit di antara tubuh orang-orang yang sedang terdesak dan melarikan diri. Dia bisa menguasai diri untuk beberapa saat. Tetapi sebuah benturan keras membuatnya hilang keseimbangan hingga dia tidak bisa merasakan apa-apa selain ketiadaan dan gelap yang melingkupinya.

Baca juga: Upacara Tabur Bunga (Cerpen Badrul Munir Chair (Koran Tempo, 07-08 September 2019)

Saat terbangun, Fahmi Idris mencium bau anyir sekaligus apak. Rupanya dia tertelungkup di dalam sebuah parit yang lembap dan kotor. Dia merasa cukup beruntung karena tidak mendapati dirinya terbangun di sebuah rumah sakit atau puskesmas karena hal itu justru akan menjauhkannya dari rumah. Seluruh tubuhnya terasa lungkrah. Dia berusaha bangkit dan berjalan. Tidak ada halangan berarti selain kepalanya terasa pusing dan dadanya terasa sedikit sesak. Mungkin seseorang-secara tak sengaja-telah menabraknya sedemikian keras. Dia berusaha menenangkan diri dan mengingat-ingat sesuatu: sebuah tas kresek yang di dalamnya penuh dengan barang belanjaan. Dia menyelidik ke sekitar. Sebungkus rokok, beberapa bungkus mi instan, sebungkus biskuit, sabun cuci kemasan ekonomis, dan sebungkus susu formula ukuran besar, berserakan di suatu tempat dalam kondisi ringsek. Fahmi Idris mengumpulkannya kembali, mengemasinya, dan memasukannya ke dalam tas kresek. Dia merasa sedikit beruntung karena beberapa di antaranya masih bisa diselamatkan-terutama susu formula untuk anaknya di rumah. Saat sedang memeriksa kembali keadaan sekitar, ponselnya berdering dan dia segera mengangkatnya.

“Sepedanya sudah laku. Sebentar lagi saya sampai rumah,” ujar Fahmi Idris menjawab kekhawatiran istrinya.

Ponsel kembali dimasukkan ke saku celananya. Lalu dia bergegas. Dari kejauhan masih terdengar suara-suara, orang-orang yang berteriak-teriak. 

 

Ampenan, 8 Oktober 2019

Tjak S. Parlan lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, 10 November 1975. Cerpen dan puisinya dimuat di berbagai media dan antologi. Buku kumpulan cerpennya Kota yang Berumur Panjang (Basabasi, 2017). Selain menulis, sehari-hari ia mengerjakan “perwajahan” untuk sejumlah buku dan penerbitan. Bermukim di Ampenan, Nusa Tenggara Barat.