Cerpen Bagus Sulistio (Minggu Pagi No 32 Th 72 Minggu III November 2019)

Dua Laki-laki ilustrasi Minggu Pagiw
Dua Laki-laki ilustrasi Minggu Pagi 

Menjadi orang tua memang menyebalkan. Anak-anakmu, tetanggamu bahkan pasanganmu sendiri akan menganggapmu seperti anak kecil. Kamu akan dianggap menjadi orang yang tidak dewasa lagi. Tepatnya menjadi anak-anak lagi, dengan sifat egois yang melekat. Padahal mereka saja yang tidak mengerti apa yang terjadi. Umur tua berarti pengalaman yang dialami lebih banyak. Jadi antara aku selaku perwakilan orang yang sudah tua dengan mereka yang lebih muda, jelas pengetahuanku yang lebih banyak. Mereka terus saja berkeras kepala. Menganggap keputusannya yang paling benar.

“Ayah lebih baik tinggal di panti jompo saja. Disana pasti ada yang mengurus.”

Siapa orangnya yang mau tinggal di panti jompo? Walaupun hidupnya sudah dilayani tapi tetap lebih enak tinggal di rumah sendiri. mereka hanya anak-anakku dan ini rumahku. Rumah yang aku buat dengan keringat dan jerih payahku saat mereka masih ingusan. mereka tidak berhak mengusirku dari rumahku sendiri. Apakah mereka tidak ingat siapa yang membesarkan dan membuat sukses seperti hari ini? Sudah barang tentu aku yang membuat mereka seperti ini. Tidak habis pikir aku dengan mereka. Jika aku punya kekuatan seperti ibunya Malin Kundang, akan kukutuk mereka menjadi batu. Biar mereka tidak cerewet lagi.

“Ayolah Yah. Ini kan demi kebaikan Ayah juga. Kalau Ayah disini terus siapa yang menjaga Ayah? Sedangkan kami selalu sibuk dan akan selalu sibuk.”

“Pokoknya kalau tidak iya tidak!” bentakkku kepada mereka. Aku tidak suka diremehkan dan diperintah begitu saja. Apalagi yang memerintah seseorang yang aku rawat dan besarkan. Sangat tidak punya adab namanya jika seperti itu. Aku tidak suka seseorang yang tidak punya adab. Bagi kami, orang Indonesia adab adalah ciri khas orang Indonesia itu sendiri. Tanpa adab ia bukan orang Indonesia.

Berbicara tentang Indonesia, aku adalah pensiunan tentara Indonesia. Dulu aku sering perang melawan penjajah untuk kemerdekaan Indonesia. Dan sekarang terbukti Indonesia sudah merdeka tanpa dijajah oleh negara lain. Aku merasa jasaku terhadap Indonesia sangat besar. Seharusnya ada penghargaan yang diberikan kepadaku. Akan tetapi saat ini tidak ada yang memberiku penghargaan atau menghargaiku. Anakku sendiri saja tidak menghargaiku. Sia-sia rasanya telah berjuang mati-matian tapi balasannya seperti ini.

“Baiklah kalau itu mau Ayah. Kami akan selalu berusaha menjaga Ayah dengan sekuat tenaga,” ucap anakku.

“Memang seharusnya begitu. Itu sebagai salah satu cara pembalasan jasa yang telah Ayah berikan kepada kalian.”

***

Mana ada seorang anak yang mau dengan sukarela mengirim orang tuanya ke panti jompo. Sebagai anak yang baik tentu tidak ada sekelebatan pikiran seperti itu. Seorang anak pasti ingin selalu menghabiskan waktunya untuk orang tua. Membahagiakannya dengan menemaninya setiap saat.

Siapa yang tidak ingin melihat orang tuanya bahagia? Hanya anak durhaka melakukan seperti itu. Sebenarnya aku ingin sekali menemani Ayah. Umurnya yang tua ditambah beberapa penyakit diidapnya membuat aku semakin iba. Akan tetapi, aku adalah seorang yang sibuk. Pekerjaan kantor menumpuk terkadang membuat semangat hidup semakin lapuk. Saking sibuknya, tidak sempat aku mengurus Ayah yang semakin tua dan pesakitan.

Adik-adikku pun sama sepertiku, mempunyai kesibukannya masing-masing. Jika seperti ini terus, aku semakin khawatir dengan keadaan Ayah. Aku sempat bingung mencari solusi untuk hal ini. Hingga adikku menyarankan untuk mengirimkan Ayah ke panti jompo. Disana banyak perawat yang sigap merawat manula-manula. “Jadi tidak usah khawatir tentang sakit Ayah yang tiba-tiba kambuh karena ada yang sikap menolongnya,” ujar adikku.

Pagi itu sebelum aku berangkat kerja kudekati Ayah yang sedang duduk santai di kursi goyangnya. Koran yang dibaca dan teh hangat di sisinya menampakkan hidup penuh ketenangan. Padahal hidup Ayah jauh dikatakan tenang, mungkin itu salah satu cara Ayah menenangkan diri.

Aku agak ragu untuk menghampirinya. Tapi akan kucoba berusaha mengungkapkan, “Ayah lebih baik tinggal di panti jompo saja. Disana pasti ada yang mengurus.” Tidak sama sekali perkataanku direspon olehnya. Ia hanya terfokus pada korannya.

“Ayolah Yah. Ini kan demi kebaikan Ayah juga. Kalau Ayah disini terus siapa yang menjaga Ayah? Sedangkan kami selalu sibuk dan akan selalu sibuk,” ujarku kembali. Kali ini Ayah mulai merespon perkataanku. Ia menaruh korannya dan memutar badan menghadapku.

“Pokoknya kalau tidak iya tidak!” Satu bentakan memekakkan telinga. Aku terdiam dan tidak memberani diri berbicara lagi. Aku mundur dari hadapan Ayah dan kembali menata niat untuk bekerja. Bentakan tadi berusaha kulupakan begitu saja. Mungkin ini salahku juga telah menyinggung perasaannya.

Setelah sampai kantor pikiran tentang Ayah perlahan surut. Aku lebih fokus terhadap tugas-tugas kantor yang kemarin sempat tertunda. Berkas-berkas yang menggunung harus segera kugarap tuntas. Berjam-jam aku berkutat dengan tugas kantor membuatku lupa akan waktu. Makan siangku pun terlewatkan. Aku tak menyangka jika langit sudah gelap saja.

Aku kembali ke rumah membawa rasa lelah. Ingin rasanya cepat-cepat merebahkan tubuh tapi jalanan yang macet membuatku harus lebih bersabar lagi menjalani hidup. Semangat hidup mungkin bisa hilang jika tidak mempuinyai seorang motivator. Motivator terbaik selain istriku ialah ayahku.

Ketika kulihat foto keluarga yang terdapat ayah disana, aku ingin cepat-cepat pulang. Foto itu terpampang di dekat kaca depan. Selalu kupandang ketika macet mengganggu kesabaran. Tapi aku harus tetap bersabar. Saking sabarnya diriku, hampir tengah malam baru sampai rumah.

Semula tidak ada yang berbeda. Jalanan cukup sepi dan misterius hanya lampu jalan dan tukang nasi goreng pinggir jalan sedikit meramaikan malam. Aku teringat ayah jika melihat nasi goreng, ia sangat menyukai nasi goreng. Kuparkirkan mobil untuk membeli nasi goreng.

Apa yang kuinginkan sudah didapatkan. Aku kembali menancapkan gas melanjutkan perjalanan rumah. Hingga aku melihat jalan sekitar rumah ramai penuh tetangga dan kerabat.  Mobil kuparkirkan sembarang dan bergegas menghampiri pusat keramaian dan kebetulan berpusat di rumahku. Sebuah bendera kertas kuning terikat di pohon pepaya halaman rumah. Hati bertanya kepada sendiri, ada apa gerangan? Ada orang meninggalkah?

***

Pagi itu anakku berangkat begitu saja. Tanpa rasa bersalah atau pamit, ia menghilang dari pandanganku. Ia tidak tahu jika ucapannya tadi malam sangat membuatku sakit hati. Perihal niatannya untuk membuangku ke panti jompo sulit untuk langsung memaafkannya. Walaupun ia satu-satunya anakku yang sudah berbaik hati mau tinggal bersamaku tapi tidak mudah mengobati hati yang ia lukai.

Untuk melupakan kejadian itu, aku berusaha menyibukkan diri dengan membereskan perabot rumah. Memang terbukti kesibukan melupakan segalanya. Tapi setelah melakukan itu semua badanku terasa sangat letih. Nafasku mulai sulit diatur. Tidak kuat lagi untuk berdiri.

Aku sandarkan tubuh yang ringkih ini ke kursi goyang favorit. Begitu damai rasanya. Hingga aku tidak sadar bahwa mataku sudah terpejam saja.