Cerpen Dul Abdul Rahman (Rakyat Sultra, 11 November 2019)

Anak Laut ilustrasi Istimewaw
La Asidi Anak Laut ilustrasi Istimewa 

Perahu kecil ayahnya merapat kembali di bibir pantai Kendari. La Asidi bergegas naik ke daratan sambil membawa ikan tangkapan mereka. Meski hasil tangkapan tidak seberapa banyak, tetapi ia menenteng ikan bak seorang nelayan ulung yang tiada takut dengan ombak yang bergulung-gulung. Ataukah ia serupa lanun yang berhasil membajak kapal laut atau perahu nelayan tanpa ampun.

Setiba di daratan, ia tak peduli ketika angin pagi memiuh-miuh dan menantangnya. Bahkan menampar-nampar wajahnya. Pun ia tak khawatir masuk angin. Embusan angin pagi itu begitu nakal memereteli sebagian kancing bajunya. Ia tak peduli. Ia biarkan saja bajunya melambai-lambai berterima kasih kepada laut. Lambaian bajunya pun serupa sambutan kemenangan. Sambutan daratan buat lautan. Bagi anak-anak nelayan, angin dan hujan, atau bahkan sengatan mentari adalah sahabat-sahabat sejati. Mereka tumbuh dan bersahabat dengan laut.

Setelah menambatkan perahunya, ayahnya pun bergegas naik ke daratan. Angin daratan langsung menyambutnya. Ia tak peduli. Wajah kisutnya setiap subuh dibelai oleh angin pagi yang diam-diam menusuk pori-pori. Lalu mereka berdua pun berjalan beriringan menuju pinggir jalan. Di pinggir jalan itulah mereka selalu menjual ikan-ikan hasil tangkapan.

La Asidi serupa penjual ikan profesional meletakkan ikan di sebuah bangku panjang yang mulai lapuk. Selain La Asidi dan ayahnya, ada juga nelayan kecil lainnya menjajakan ikan hasil tangkapan mereka. Sebenarnya bisa saja mereka cepat pulang ke rumah dengan menjual langsung semua hasil tangkapan kepada para pengepul, tetapi mereka ingin mendapatkan sedikit uang lebih. Pengepul hanya mau menghargai ikan mereka terlalu murah. Padahal mereka menangkapnya dengan lelah. Bahkan mereka harus berkelahi dengan angin dan ombak yang terkadang pongah.

Baca juga: Kupanggil Dia Wesa – Cerpen Uniawati (Rakyat Sultra, 21 Oktober 2019)

Tetapi subuh itu rupanya dewi fortuna kurang bersahabat dengan La Asidi dan ayahnya. Sudah sejam mereka menjajakan ikan, tapi tak ada seorang pun yang singgah membelinya. Hanyalah penjual ikan di samping mereka yang kedatangan pembeli, itupun sekira dua orang saja.

“Ikan murah.”

“Ikan segar.”

La Asidi dan ayahnya bergantian menyapa setiap orang yang lewat.

Setelah matahari keluar dari persembunyiannya, dan tampak tersenyum di kaki langit. Lalu cahayanya membentuk siluet dan mengirimkan pesan pada mereka. Seolah ia ingin berkata kepada mereka, hari baru bersama harapan baru telah datang. Tetapi tetap saja belum ada pembeli yang menghampiri lapak mereka.

Setelah berpeluh karena berteriak-teriak mempromosikan ikan-ikan mereka. Akhirnya seseorang pembeli mendekat.

“Wah! Ikannya mahal sekali, tidak segar pula,” pembeli itu menawar dengan kalimat yang meneror.

Baca juga: Inaku – Cerpen Tissha Said (Rakyat Sultra, 14 Oktober 2019)

Setelah pembeli itu menawar berkali-kali, ayah La Asidi lalu memberi harga terendah.

“Bapak tidak bisa lagi mendapatkan ikan begini di bawah harga yang saya berikan.”

Pembeli itu mengambil ikan yang disodorkan oleh ayah La Asidi, lalu membayarnya dengan senyum kemenangan. Ia pun bergegas menuju mobil pribadinya yang terparkir di ujung jalan.

Kemudian seorang pembeli datang dengan motor meraung-raung.

“Nak La Asidi tidak pergi ke sekolah?” ujar pembeli itu yang ternyata guru matematika La Asidi di salah satu sekolah dasar di Kendari.

“Sebentar lagi ia akan berangkat ke sekolah, Pak Guru,” ayahnya cepat menjawab pertanyaan sang guru. Ayahnya juga sibuk memilihkan ikan buat gurunya tersebut. Setelah ia menyodorkan uang sesuai dengan kesepakatan harga. Bahkan ia hanya mendengarkan ayah dan gurunya sekali saja saling menawar lalu saling deal dan tersenyum. Gurunya dengan motor vespa bututnya pun kembali meraung-raung meninggalkan mereka. Raungan vespa butut sang guru mungkin sebagai raungan nasibnya yang konon katanya bertahun-tahun jadi guru honorer. Tetapi mereka tetap mengantarnya dengan tatapan berbinar-binar hingga vespa butut itu menghilang ditelan mobil-mobil pribadi milik orang-orang berduit.

“Benar kata orang, hanyalah orang-orang kecil yang tahu nasib orang kecil,” ayah La Asidi menggumam setelah vespa butut guru anaknya benar-benar menghilang. La Asidi tidak begitu mengerti maksud pernyataan ayahnya. Tetapi tatapan mata ayahnya seolah mengirimkan doa semoga sang guru selamat sampai tujuan.

Baca juga: Payung Merah – Cerpen Adinda Febriana Putri Pangerang (Rakyat Sultra, 09 Oktober 2019)

Matahari sudah merangkak naik. Air sungai kecil yang tak jauh dari tempatnya pun kian berkilau-kilau dan tersenyum manis serupa perempuan belia yang kasmaran karena terus ditatap oleh sang pangeran matahari. La Asidi dan ayahnya pun menatap setiap orang yang lalu lalang dan berharap mereka singgah membeli ikan-ikan mereka. La Asidi sibuk memercik ikan-ikan mereka dengan air tawar agar nampak semakin segar dan tidak mengantuk.

“Nak! Cukuplah ayah saja yang menjajakan ikan di sini. Engkau bergegaslah pulang ke rumah mengganti pakaianmu lalu berangkat ke sekolah,” ujar ayahnya ketika ia melihat iring-iringan murid sekolah dasar menuju sekolah.

La Asidi tak menghiraukan kalimat ayahnya. Hari itu memang ia berniat untuk tidak pergi bersekolah. Ia ingin menemani ayahnya melaut dan menjual ikan. Ia tak bercita-cita muluk-muluk. Cukuplah kelak ia bisa seperti ayahnya, melaut.

“Lihatlah teman-teman sekolahmu, Nak! Mereka sudah berangkat ke sekolah,” ayahnya mengulangi lagi kalimatnya setelah melihat La Asidi hanya terpaku pada ikan-ikan mereka.

Baca juga: Segelas Air yang Mirip Perasan Lemon – Cerpen Priyo Handoko (Rakyat Sultra, 16 September 2019)

Melihat La Asidi tidak begitu bersemangat, sang ayah langsung menasihatinya bahwa pendidikan adalah segalanya. Mata ayahnya berkaca-kaca. Di matanya seperti tersimpan berjuta-juta penyesalan. La Asidi memang pernah mendengar cerita bahwa sesungguhnya dulu kakeknya adalah orang berada di daerah pinggiran Kota Kendari itu. Tempo itu ayahnya tidak berkehendak sekolah karena ia merasa tanpa bersekolah pun mereka bisa hidup layak. Bahkan ia hidup berfoya-foya karena merasa sangat bergelimang harta. Tetapi setelah usaha bisnis kakeknya bangkrut karena terbelit masalah utang sehingga kekayaan kakeknya melewati titik nol dan berada di titik minus dengan utang yang bertumpuk, barulah ayahnya menyadari betapa pentingnnya sekolah untuk mengadu nasib di kota. Nasib telah menjadi bubur, masa depan ayahnya menjadi kabur.

Mengingat semua keterpurukan kakeknya tempo dulu yang berimbas pada ayahnya yang semasa kecil menganggap sekolah tidak penting. Pun ia bisa menangkap makna dari pesan ayahnya bahwa manusia hendaknya mengutamakan pendidikan agar tidak kesulitan dalam hidup, harta yang bertumpuk tidak akan menyelesaikan persoalan dunia. Maka ia pun bergegas.

“Aku harus pergi ke sekolah,” ujar La Asidi sambil berlari menuju rumahnya di pinggiran sungai kecil itu. Ia masih sempat menengok sesaat pada ayahnya. Ayahnya tersenyum melihat kesungguhannya. Senyumnya masih seperti dulu. Tetapi tetap ada bias penyesalan. Ayahnya menyesal mengapa ia tidak bersekolah sewaktu muda dulu dan sewaktu kakeknya belum bangkrut.

Baca juga: Ustaz Abidin dan Corong Masjid – Cerpen Yudik W (Rakyat Sultra, 26 Agustus 2019)

Dan yang paling membuat La Asidi bangga pada ayahnya. Karena ia masih sempat mendengar seorang penjual ikan berujar pada ayahnya, “La Bau! Anak-anakku juga harus bersekolah seperti Asidi.” Ayahnya hanya tersenyum kepada penjual ikan itu. Lalu ayahnya pun masih sempat berujar kepadanya, “Cepat ke sekolah Anakku.”

Ketika melihat mata ayahnya berkaca-kaca, La Asidi terus berlari menuju rumahnya yang reot. Air mata ayahnya adalah air mata penyesalan karena dulu tidak bersungguh-sungguh sekolah. Pun air mata ayahnya adalah air mata doa dan harapan buatnya untuk menggapai pendidikan.

La Asidi kian berlari sekencang-kencangnya di bibir sungai. Tetapi celakanya kakinya terpeleset dan ia jatuh terguling-guling hingga tercebur ke dalam sungai. Untungnya sungai tersebut tidaklah dalam dan ia biasa bermain-main di pinggir sungai itu bersama teman-temannya.

Melihat La Asidi terjatuh, ayahnya dan para penjual ikan hanya bertepuk tangan. Ayahnya bahkan mengacungkan tangan. La Asidi tahu mereka memberinya semangat. Bahkan kebiasaan ayahnya mengacungkan tangan kuat-kuat, selalu dimaknainya, “Anakku La Asidi! Engkau harus kuat, engkau anak hebat, engkau anak laut.”

Baca juga: Ustaz Abidin dan Corong Masjid – Cerpen Yudik W (Rakyat Sultra, 26 Agustus 2019)

Sebenarnya La Asidi sedikit meringis karena jari-jari kakinya tertusuk kulit kerang. Tetapi ketika ia melihat murid-murid sekolah dasar lewat yang umumnya perempuan menutup mulutnya dengan kedua belah tangan, mungkin mereka menahan ketawa karena melihatnya terjatuh berguling-guling di sungai, maka ia pun bergegas merangkak naik ke bibir sungai. Lalu kembali ia berlari sekencang-kencangnya menuju rumahnya. Air sungai kecil yang mengalir menuju Laut Kendari juga seolah mengejarnya, bahkan ia seperti mendengar bisikan sungai kecil itu, “Duhai lelaki kecil Pantai Kendari! Berlarilah terus meraih impian dan cita-citamu! Jatuh bangun adalah hal biasa. Engkau harus bisa!”

Akhirnya La Asidi tiba di rumahnya dengan napas yang tak sempurna. Seluruh kancing bajunya lepas satu-satu. Tapi ia tak peduli. Dan yang paling membuatnya kian bersemangat, pagi itu seolah ia mendengar lagi bisikan, tapi kali itu bisikan dari Laut Kendari, “Hari ini dan hari-hari selanjutnya, engkau harus pergi ke sekolah walaupun badanmu bau ikan. Engkau memang anak nelayan!”

 

Matabubu, Konawe Selatan 2018-2019

Dul Abdul Rahman. Lahir di Tibona, Bulukumba. Saat ini sudah menulis 15 buku sastra. Di antaranya: Pohon-pohon Rindu (Diva Press Yogyakarta 2009), Terbunuhnya Sang Nabi (Kakilangit Jakarta 2017), Pada Sebuah Perpustakaan di Surga (Penerbit Ombak Yogyakarta 2018). Ia dapat dihubungi melalui pos-el: dulabdul@gmail.com